Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 24 Bertemu Mami Papi Part 1
"Hei! Sudah aku bilang jangan tersenyum!" Arifah menjauh dari Putri.
Asap mengepul mengelilingi Putri dan Tring!
Ia kembali menjadi dirinya sendiri.
Kalau sudah berubah wujud begini Arifah juga bergidik ngeri, jadi kucing oke oke aja sih, tapi senyumnya itu loh, mengerikan!
"Jadi kucing saja, tapi jangan senyum. Aku sangat takut dengan senyummu itu."
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu" Putri menenangkan.
Arifah duduk dipojokan tempat tidur, rasa kantuk yang menyerang pun tiba-tiba hilang seketika. Yang ada sekarang kepalanya terasa pening alias pusing. Ia heran tidak biasanya Putri muncul dadakan seperti ini.
"Ada apa?" tanya Arifah mengernyitkan dahinya.
"Ada kabar bahagia"
"Apa?"
"Aku sudah mendapat izin untuk mempertemukanmu dengan kedua orang tuamu"
"Benarkah?" ucap Arifah, matanya berbinar-binar senang. Sudah sangat lama ia menginginkan ini.
Ia sangat merindukan sosok Mami dan Papi, meskipun jarang sekali bertemu karena kesibukan keduanya. Ia lebih sering bermain, ngobrol, jalan-jalan dan belajar bersama Aska. Keduanya kurang kasih sayang, tapi membuat Aska justru tumbuh menjadi seorang yang mandiri dan paham betul dengan kesibukan orang tuanya, Arifah sangat mengaguminya. Kelak jika dewasa nanti ia ingin seperti Aska, menjadi seorang mandiri dan berkelas tentu juga bisa menjaga tingkah laku dan perbuatan agar tidak menyakiti orang-orang disekelilingnya.
Sejak kecil ia tidak pernah sekali pun bermanja-manja seperti anak-anak seusianya pada umumnya. Ia lebih sering ditinggal keluar kota. Terkadang terbesit rasa iri pada orang lain, ketika ia sedang jalan-jalan bersama Aska menemui anak sesusianya asik bersenda gurau dengan orang tuanya, tertawa bersama, bahagia bersama. Namun, itu semua hanya angan-angan yang tidak akan ia dapatkan, tapi bagaimana pun Mami dan Papi selalu membawa kedamaian didirinya. Ia yakin Mami Papi menyimpan cinta dan kasih yang sangat besar. Ya, ia sangat meyakini itu. Terbukti ia sangat merindukan tatapan mata sendu Mami dan Papi.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Arifah lagi
"He'em"
"Siapa yang mengizikanmu?"
"Kamu mau bertemu tidak?" tanya Putri.
"Tentu saja, mengapa kamu menanyakannya dua kali?" Arifah heran padahal ia hanya menanyakan siapa yang mengizikannya, lalu kenapa Putri jadi sensi gini sih.
"Kalau begitu jangan banyak tanya, aku akan membawa mu kesana nanti malam. Jadi bersiap-siaplah" ucapnya sembari menghilang setelah kepulan asap membungkus tubuhnya.
Datang tiba-tiba pulang pun tiba-tiba, seperti jelangkung saja! gerutu Arifah.
Arifah memilih masuk kekamar mandi membersihkan tubuhnya yang lengket. Guyuran air disekujur tubuhnya membuatnya seolah ingin terus dan terus diguyur air, segar sekali.
Lumayan lama Arifah asyik bermain air, ia pun menyudahi aktifitasnya setelah puas. "Mas Aska sudah pulang belum ya" gumamnya sembari memakai baju lengan pendek dan rok dibawah lutut.
Tok.. Tokk..!!
Ketokan pintu mengagetkannya.
"Siapa?"
"Mas"
Panjang umur baru juga dipikirin, "Masuk!"
Arifah yang baru saja selesai mengenakan baju duduk dimeja rias merapikan rambutnya yang basah.
"Mas kemana saja, aku nungguin Mas" tanyanya setelah melihat Aska melalui cermin duduk dipinggir tempat tidur.
"Maafin Mas" jawabnya, wajahnya terlihat kusut sekali.
Arifah menangkap ada yang aneh dengan Aska, kenapa Mas Aska? Galau? ya Mas Aska galau. Siapa gerangan yang membuatnya seperti ini?
"Mas kenapa?" tanya Arifah yang sudah duduk disamping Aska memperhatikan wajah Aska yang tampan nan mempesona. Arifah yakin, Mas nya ini mampu menghipnotis wanita manapun diseluruh penjuru dunia. Tapi kini wajah tampan nan mempesona itu tertutup kegelisahan yang mengiasinya. Jadi sangat jelek!
Aska tersenyum kecut, tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Mas baik-baik saja kan? Wanita mana yang sudah membuat Mas jadi jelek begini?" ucap Arifah menangkup wajah Aska. Entah kenapa ia merasa kasihan, seolah ia merasakan apa yang tengah dirasakan Aska saat ini.
"Ngapain melihat Mas seperti itu!" ucap Aska menunjuk kening Arifah pelan.
"Mas galau kan?" selidik Arifah.
"Kamu masih kecil, memang tahu galau itu apaan"
"Maafin gak jemput kamu tadi, kerjaan Mas menumpuk. Kamu pulang naik apa?" Elak Aska, ia tidak ingin sampai Arifah khawatir.
Arifah kaget, mengapa Mas tanya aku pulang sama siapa sih. Kalau aku jawab jujur bisa kacau aku, Mas Aska pasti marah besar. Ia memutar bola matanya mencari-cari alasan.
"Siapa yang antar kamu pulang?" tanya Aska yang sudah terlebih dulu menangkap sesuatu yang janggal pada adiknya.
"Ih Mas, aku tadi pulang naik bus"
"Bohong"
"Beneran" ucap Arifah sembari mengacungkan dua jari didapan Aska.
"Jangan bohong, Mas tahu kamu bohong" celetuk Aska.
Arifah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia enggan mengatakan yang sebenarnya, ia takut kalau Aska akan melibasnya seperti waktu itu.
"Katakan saja, Mas tidak akan marah. Lagipula ini salah Mas"
Arifah tidak punya pilihan lain, ia harus mengatakan yang sejujurnya. Lagipula, ia yakin Aska pasti akan bertanya terus sampai mendapatkan jawaban yang pasti.
"Aku tadi pulang sore Mas, nungguin hujan reda. Dan jam segitu gak ada bus lagi, untungnya ada Tama, dia nawarin aku pulang bareng" ucap Arifah cengar cengir.
Aska mengangguk-angguk.
"Pacar kamu?"
"Bu..bukanlah Mas, dia tuh temen aku. Mana ada pacaran. Dan sebenarnya malas ikut dia, dia itu sangat menyebalkan, tapi aku tidak punya pilihan lain lagi"
Aska tersenyum Arifah tergagap menjawab pertanyaannya.
"Ingat, kamu belum boleh pacaran" ucap Aska pergi meninggalkan kamar Arifah.
Hufhh.. hampir saja, ia mengelus-elus dadanya.
***
"Ayo ikut aku" ucap Putri memberikan tangannya pada Arifah yang tengah sibuk dengan buku-bukunya.
"Sekarang? Bagaimana kalau Mas Aska tiba-tiba mencariku?"
"Baiklah kalau begitu batal!"
"Hei hei heii, itu namanya keputusan sepihak. Ayo, aku ikut" Ia tidak peduli lagi dengan Aska. Ia ingin segera bertemu dengan Mami dan Papi.
"Pegang tanganku erat" ucap Putri.
Pukul 22.00 Arifah dan Putri meninggalkan bumi tempat berpijak. Tubuh Arifah terangkat dan memasuki sebuah lorong berwarna warni seperti sekumpulan pelangi, indah sekali.
Dikejauhan tampak kepulan Asap yang sangat luas seperti sebuah padang asap, semuanya putih bersih tidak ada warna lain. Ia menginjakkan kakinya, tampak asap mengepul dikakinya.
"Kita sudah sampai" ucap Putri mengagetkan lamunannya.
"Kita dimana?" tanya Arifah yang masih terkesima.
Perlahan Putri menuntun Arifah masuk. Seketika asap yang mengelilingi pandangan sedikit menghilang dan menampilkan pemandangan yang luar biasa indah. Ini bukan dunia, ia tidak pernah melihat sesuatu yang begitu indah dan tangan manusia tidak akan mampu membuat ini, cantik sekali, lebih dari kata cantik, susah lah pokoknya kalau diungkap dengan kata.
Sebuah gerbang berwarna emas super luas super tinggi dan pastinya bercahaya yang sangat menyilaukan matanya, namun ia masih bisa melihat jelas. Mungkin jika diperkirakan harganya berkali-kali lipat lebih mahal ketimbang emas 24 karat. Amazing!
Gerbang itu terlihat sangat jauh dari pandangan mata, tapi ternyata hanya beberapa langkah saja sudah didepan mata.
Putri memegang lenganku memberi peringatan berhenti. Seketika kakinya berhenti mengikuti arahan Putri. Matanya masih terpesona dengan apa yang ia lihat. Ia tidak ingin mengedipkan matanya meskipun sekali. Rugi rasanya kalau sampai melewatkan walau hanya satu detik.
Gerbang sedikit demi sedikit terbuka..
.
.
.
Like and vote, jangan lupa 😊
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️