Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 - Laporan Palsu
Laporan DNA itu dibacakan di ruang makan Wiratama seperti surat kemenangan.
Bu Mira meletakkan map putih di depan Nenek Ratih.
"Kami tidak ingin memperpanjang konflik. Tapi kalau semua orang terus meragukan Rania, kami harus menunjukkan bukti."
Rania duduk di sampingnya, wajah pucat, tangan di perut.
Nenek Ratih membuka map.
Arkan berdiri di belakang kursinya. Naya datang karena Raka menjemput dengan alasan Lila ingin mengambil buku yang tertinggal. Begitu masuk, ia tahu itu jebakan.
Di meja panjang, ada keluarga Wiratama, keluarga Pradipta, dua orang pengacara, dan seorang ustaz keluarga yang biasanya dipanggil untuk acara pengajian.
Terlalu lengkap untuk sekadar mengambil buku.
Naya berdiri di dekat pintu.
Rayyan dan Lila tidak ada. Syukurlah.
Pak Surya berdeham. "Hasilnya jelas. Rayyan anak kandung Rania. Maka tidak pantas ada perempuan luar mengganggu hubungan ibu dan anak."
Naya menatap map itu.
Jantungnya berdetak tidak teratur.
Arkan mengambil laporan dari tangan Nenek Ratih.
Ia membacanya sampai selesai.
Lalu bertanya, "Sampel diambil kapan?"
Rania terdiam sebentar. "Waktu Rayyan pemeriksaan rutin."
"Siapa yang mengambil?"
"Perawat."
"Perawat siapa?"
Bu Mira menyela. "Arkan, ini lab resmi."
"Saya tanya perawat siapa."
Pengacara Pradipta mendorong kacamatanya. "Pak Arkan, secara hukum hasil laboratorium..."
"Secara hukum, hasil tanpa rantai sampel yang jelas bisa dipertanyakan."
Naya menatap Arkan.
Ia tidak membela Rania.
Namun ia juga belum membela Naya.
Ia membela bukti.
Dan untuk saat ini, itu cukup untuk membuat Naya tetap berdiri.
Pak Surya menepuk meja. "Kamu mau mempermalukan calon istrimu terus? Rania sedang hamil. Rayyan terbukti anaknya. Apa lagi yang kamu cari?"
"Kebenaran."
"Kebenaran itu ada di depan mata!"
Arkan meletakkan laporan palsu itu di meja.
"Kalau begitu, ulang tes DNA di tiga laboratorium berbeda. Sampel diambil di hadapan notaris, dokter, dan perwakilan kedua keluarga."
Wajah Rania memucat.
Bu Mira cepat berkata, "Rania sedang hamil. Jangan buat dia stres."
Naya akhirnya bicara.
"Waktu saya hamil di penjara, kalian tidak takut saya stres."
Ruangan sunyi.
Bu Mira menatapnya penuh kebencian. "Jaga mulutmu."
"Saya menjaga mulut empat tahun. Hasilnya anak saya hilang."
Pak Surya berdiri. "Cukup! Kamu tidak punya hak bicara di rumah ini."
Nenek Ratih menatapnya. "Surya, duduk."
"Bu..."
"Duduk."
Pak Surya duduk dengan wajah merah.
Nenek Ratih memandang Naya. "Kalau kamu yakin Rayyan anakmu, kamu berani tes?"
Naya menatap perempuan tua itu.
"Saya berani."
Rania langsung berdiri. "Ini penghinaan! Aku ibu Rayyan sejak dia bayi. Aku yang mengurus akta, imunisasi, sekolah..."
"Mengurus dokumen bukan melahirkan," kata Naya.
Rania maju. "Kamu mau ambil semuanya dariku?"
Naya tersenyum tipis. "Saya tidak mengambil. Saya mengambil kembali."
Rania menamparnya.
Suara itu memecah ruangan.
Arkan bergerak cepat, menangkap pergelangan Rania sebelum tamparan kedua jatuh.
"Cukup."
Rania menangis. "Kamu selalu bela dia."
"Karena kamu selalu menyerang."
Bu Mira berdiri. "Kami datang baik-baik. Kalau begini, lebih baik pernikahan dipercepat. Rania butuh status. Rayyan butuh nama ibu yang tidak dipertanyakan. Anak dalam kandungan juga butuh ayah."
Ustaz keluarga yang sejak tadi diam akhirnya berkata hati-hati, "Kalau memang ada kehamilan, sebaiknya semua pihak menjaga aib. Tapi akad nikah tidak boleh dipakai untuk menutup kebohongan."
Bu Mira menatapnya tajam.
Arkan memandang seluruh meja.
"Dengar baik-baik. Saya tidak akan menikahi Rania Pradipta."
Rania seperti kehilangan napas.
Pak Surya berdiri lagi. "Kamu mempermalukan keluarga kami?"
"Keluarga Anda mempermalukan diri sendiri saat memalsukan kasus kecelakaan, mencuri bayi, dan sekarang memakai laporan lab yang tidak jelas."
"Arkan!" Nenek Ratih memperingatkan.
Arkan menoleh pada neneknya. "Nek, saya hormat. Tapi kalau keluarga ini memilih menjaga nama baik dengan mengorbankan anak-anak, saya akan melawan keluarga sendiri."
Naya tidak menyangka kata-kata itu keluar.
Ia menatap Arkan, tetapi cepat memalingkan wajah.
Jangan percaya terlalu cepat.
Jangan luluh hanya karena satu kalimat.
Rania memegang perutnya dan terhuyung.
Bu Mira langsung memeluknya. "Lihat? Kalian membuat ibu hamil hampir pingsan."
Arkan tidak mendekat.
"Bawa ke dokter. Aku akan kirim dokter perempuan dari rumah sakit. Pemeriksaan lengkap."
Rania membeku.
"Tidak perlu."
"Perlu. Kalau kamu benar hamil, kesehatanmu penting. Kalau tidak, kebohonganmu selesai hari ini."
Rania menatapnya dengan mata basah penuh kebencian.
Di luar rumah, seorang pelayan berlari masuk.
"Pak Arkan, wartawan ada di gerbang. Mereka bilang mendapat kabar hari ini keluarga Wiratama akan mengumumkan pernikahan."
Naya menatap Bu Mira.
Bu Mira tidak terlihat kaget.
Arkan tersenyum dingin.
"Bagus," katanya. "Biarkan mereka menunggu."
Ia mengambil laporan palsu dari meja.
"Yang akan diumumkan hari ini bukan pernikahan."
Rania memucat.
Arkan menatapnya.
"Tapi audit semua dokumen Rayyan sejak lahir."
Di gerbang, wartawan sudah menunggu seperti semut menemukan gula.
Kilatan kamera masuk sampai halaman. Bu Mira mencoba menarik Rania ke kamar, tetapi Arkan justru berjalan ke arah pintu utama.
"Arkan," panggil Nenek Ratih.
Ia berhenti.
"Jangan bicara karena marah."
"Saya bicara karena terlalu lama diam."
Nenek Ratih menatapnya, lalu mengangguk kecil.
Naya berdiri di ruang tengah, tidak tahu harus ikut atau pergi. Ia benci kamera. Kamera pernah membuat wajahnya jadi bahan gosip setelah pesta Rania. Kamera juga bisa mengubah air mata menjadi tontonan.
Arkan seolah tahu.
Ia menoleh pada Raka. "Pastikan Naya tidak masuk frame."
Naya mendengar itu.
Ia tidak mengucapkan terima kasih.
Namun bahunya turun sedikit.
Di depan gerbang, Arkan tidak membuka pintu penuh. Ia berdiri di balik pagar tinggi dengan pengawal di kanan kiri.
"Pak Arkan, benar pernikahan dengan Bu Rania dipercepat?"
"Tidak."
Suara wartawan langsung naik.
"Benar Bu Rania hamil?"
"Silakan tanya langsung pada dokter setelah ada persetujuan pasien."
"Ada isu perempuan bernama Naya mengganggu rumah tangga?"
Mata Arkan menjadi dingin.
"Tidak ada rumah tangga antara saya dan Rania Pradipta."
Kalimat itu seperti batu dilempar ke air.
Di dalam rumah, Rania mendengar dari layar ponsel. Tangannya gemetar.
Arkan melanjutkan, "Keluarga Wiratama akan melakukan audit dokumen kelahiran dan perwalian Rayyan Wiratama. Sampai proses selesai, tidak ada pernyataan tentang pernikahan."
"Apakah ini berarti Bu Rania bukan ibu kandung Rayyan?"
"Saya tidak menjawab spekulasi. Saya mencari fakta."
Ia berbalik sebelum wartawan sempat mengejar.
Naya melihatnya masuk.
"Bapak tahu itu akan membuat Rania menyerang lebih keras."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
"Karena kalau aku terus membiarkan dia memakai status calon istri, dia akan terus memakai status ibu."
Naya terdiam.
Di lantai atas, Bu Mira menutup pintu kamar Rania.
"Berhenti menangis."
"Dia mempermalukan aku di depan semua orang."
"Maka balas dengan sesuatu yang lebih besar."
"Apa?"
Bu Mira melihat laporan palsu yang tertinggal di tas.
"Kalau Arkan menuntut audit dokumen, kita berikan dokumen yang membuat audit itu menuduh Naya."
Rania mengangkat wajah.
Bu Mira berkata pelan, "Kita buat seolah Naya yang sejak awal memalsukan cerita bayi kembar untuk memeras Wiratama."
Rania mengusap air matanya.
Di bawah, Naya tiba-tiba merasa dingin tanpa tahu sebabnya.
Ia belum tahu bahwa perang bukti baru saja dimulai.
Malam itu, Raka membawa salinan laporan ke ahli forensik dokumen.
Hasil awal keluar cepat: nomor registrasi lab memang asli, tetapi format tanda tangan dokter berbeda dari standar bulan berjalan. Cap basah juga terlalu tebal, seperti ditempel ulang dari dokumen lain.
"Palsu?" tanya Arkan.
"Kemungkinan besar hasil yang dimanipulasi, Pak. Tapi untuk membuktikan di polisi, kita perlu dokumen pembanding resmi dari lab."
"Ambil."
"Lab menolak tanpa surat."
"Minta surat."
Raka ragu. "Kalau kita pakai jalur resmi, pihak Pradipta akan tahu."
Arkan menatap laporan itu.
"Biarkan mereka tahu kita datang dari depan. Sementara itu, cari pintu belakangnya."
Di kamar tamu, Naya duduk bersama Lila yang tertidur di pangkuannya. Rayyan mengirim pesan suara dari rumah utama.
`Mama, kalau ada orang bawa kertas jelek, jangan percaya. Kertas bisa bohong. Aku tidak.`
Naya memutar pesan itu tiga kali.
Lalu ia menatap pintu.
Di rumah ini, bahkan kertas pun harus dicurigai.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕