Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga bar
*BAB 24
Langit masih berwarna abu-abu pucat ketika Nayla keluar dari tenda. Embun belum sepenuhnya menguap.
Udara pagi menempel di kulit nya seperti kain lembap. Ia menarik cepat resleting jaket lapangannya lebih rapat hingga ke leher. Napasnya membentuk uap tipis setiap kali ia menghembuskannya.
Di genggaman tangannya, ponsel sudah tiga kali ia nyalakan dan matikan sejak subuh. Bukan karena ada notifikasi yang masuk. Hanya karena kebiasaan manusia yang menunggu sesuatu yang waktunya tidak pasti.
Dari kejauhan, pos jaga tampak seperti bayangan gelap di antara kabut tipis. Dan di sana, terlihat sosok itu sudah berdiri.
Raditya.
Seragam lapangan lengkap. Di tangan kirinya, sebuah senter kecil yang sudah padam. Matanya bergerak ke arah Nayla tepat ketika ia muncul dari balik tenda—bukan tatapan terkejut, melainkan tatapan seseorang yang memang sudah menunggunya.
Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya berbalik, lalu melangkah. Gerakannya efisien, tanpa gerakan yang sia-sia. Seperti biasa. Seperti yang selalu ia lakukan.
Nayla berjalan mengikuti di belakangnya.
Jalan menuju bukit timur hanya sepanjang dua kilometer lebih sedikit. Secara jarak, tidak jauh. Namun medan di Karang Wilis tidak pernah mengenal kata "rata". Akar pohon menyembul dari tanah seperti jebakan yang sengaja diletakkan. Dan tanah yang semalam diguyur hujan kini berubah menjadi licin dengan cara yang tidak dapat diprediksi.
Raditya berjalan di depan—seperti biasa, seperti selalu. Namun kali ini jarak antara mereka tidak sejauh biasanya. Tidak terlalu jauh hingga Nayla harus berlari kecil untuk menyusulnya, namun juga tidak terlalu dekat hingga membuatnya merasa terkurung. Jarak yang cukup untuk Nayla melihat ke mana ia harus meletakkan kakinya.
Setengah perjalanan, di tikungan berbatu yang menanjak tajam, kaki Nayla hampir terpeleset. Refleksnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Tangannya terulur mencari pegangan, dan tanpa ia sadari, yang ia raih adalah lengan Raditya yang sudah terentang setengah detik sebelumnya.
Kontak itu hanya berlangsung dua detik. Cukup untuk Nayla menstabilkan keseimbangannya. Cukup untuk ia merasakan kekar otot di balik kain seragam yang dingin karena embun. Begitu kakinya kokoh kembali, ia segera melepaskan genggamannya.
"mmmaap pak gak segaja". ucapnya. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara angin yang berembus.
Raditya tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan langkah, ritmenya tidak berubah. Namun Nayla menyadari satu hal: jarak di antara mereka kini sedikit lebih dekat daripada sebelumnya. Tidak banyak. Hanya setengah langkah. Namun bagi seorang perwira yang menjaga batas sejauh satu meter pun, setengah langkah itu adalah pernyataan.
Bukit itu tidak tinggi. Tidak ada tebing curam, tidak ada pemandangan yang memotong napas seperti di kartu pos wisata. Hanya tanah yang naik perlahan, lalu berhenti di sebuah dataran kecil yang diapit oleh dua pohon jati tua. Batang pohon itu besar, diameternya melebihi rentangan pelukan satu orang dewasa.
Raditya berhenti di sana. Ia mengangkat senternya sekilas, menyorot ke arah timur, lalu mematikannya. Cahaya di langit sudah berubah. Bukan terang yang menyilaukan, melainkan terang yang merambat perlahan dari balik bukit, seperti seseorang yang masuk ke dalam ruangan tanpa ingin mengganggu siapapun yang masih terlelap.
"Di sini," ucap Raditya singkat. Satu kata. Lokasi. Tanpa embel-embel.
Nayla segera mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Jari-jarinya terasa kaku karena dingin. Ia mengangkat ponsel tinggi-tinggi, memutarnya perlahan.
Dua bar.
Lalu tiga.
Sebuah peningkatan yang kecil, namun bagi Nayla, tiga bar di tempat ini setara dengan keajaiban. Tangannya bergetar halus ketika ia menekan nama "Rian" di daftar kontak. Nada sambung pertama terdengar. Kedua.
"Halo?"
Suara itu. Suara adiknya yang berusia sembilan tahun, yang masih terlalu kecil untuk menyembunyikan kelegaan di balik satu kata sapaan. Satu kata itu saja sudah membuat sesuatu di dada Nayla yang sejak semalam mengeras, mendadak melunak.
"dek" jawab Nayla. Ia tidak menyadari bahwa tanpa sengaja ia sudah membalikkan tubuh, memunggungi Raditya. Seolah pembicaraan ini terlalu pribadi untuk didengar siapapun, bahkan oleh orang yang menemaninya berjalan dua kilometer di kegelapan. "Ibu bagaimana keadaannya?"
"Semalam agak membaik, Kak. Dokternya bilang tekanan darahnya sudah turun. Masih dirawat inap, tapi sudah tidak di UGD lagi," jawab Rian. Suaranya terdengar sedikit serak, seperti baru bangun tidur, namun lebih jernih daripada yang Nayla takutkan.
Nayla menutup matanya sesaat. Alhamdulillah. Dua kata itu berulang di dalam hatinya, lebih seperti doa daripada ucapan.
"Kak masih di Karang Wilis?" tanya Rian lagi, suaranya menjadi lebih pelan. " kakak kapan pulang kak?"
Nayla membuka matanya. Di kejauhan, garis cakrawala Karang Wilis perlahan berubah warna. Jingga tipis mulai menyusup di antara celah bukit, mengusir sisa kabut yang masih menggantung di atas lembah. Di bawahnya, desa mulai bangun. Atap-atap genteng basah memantulkan cahaya pertama, dan asap tipis dari tungku-tungku dapur mulai naik lurus ke udara sebelum angin membelokkannya.
"gak akan lama lagi dek" jawab Nayla. Itu bukan kebohongan. Tidak sepenuhnya. Namun cukup untuk menenangkan adiknya yang berusia sembilan tahun. Cukup untuk membuat Rian tidur malam ini tanpa mimpi buruk.
"Kak, Ibu kemarin bertanya kabar Kakak," lanjut Rian.
Tenggorokan Nayla mendadak terasa sesak. Ia menelan ludah sebelum menjawab. "Bilang Kakak baik-baik saja di sini. Bilang Kakak minta maaf belum bisa pulang sekarang."
"Iya, Kak." Hening beberapa detik di seberang sana. Hanya suara napas Rian yang terdengar. "Kak, nanti kalau bisa telepon lagi ya. Rian suka dengar suara Kakak."
Nayla menarik napas panjang. Panjang sekali, hingga bahunya naik lalu turun perlahan. Ia menatap langit yang semakin terang, menahan sesuatu yang mengganjal di ujung hidung.
"Iya, dek. Nanti Kakak telepon lagi kalau ada sinyal."
Panggilan berakhir. Layar ponsel kembali ke tampilan utama, lalu perlahan meredup. Nama "Rian" masih terpampang di sana selama beberapa detik sebelum akhirnya hilang.
Nayla berdiri diam. Tidak bergerak. Ponsel masih di tangannya, seperti benda yang tidak ia berani lepaskan karena takut keajaiban tiga bar itu akan lenyap begitu ia menurunkan tangannya.
Di belakangnya, tidak ada suara. Raditya tidak berdehem. Tidak menggeser kakinya. Tidak melakukan apapun yang mengingatkan Nayla bahwa ia tidak sendirian di bukit ini. Ia memberi ruang. Diam-diam, tanpa diminta.
Namun Nayla tahu ia ada di sana.
Ia berbalik perlahan.
Raditya berdiri beberapa meter di belakangnya—memunggunginya, menatap ke arah lembah yang mulai terang. Tangannya berada di belakang punggung, postur yang sama seperti ketika ia memberikan briefing di lapangan. Tegak, disiplin, tidak membuang energi untuk gerakan yang tidak perlu. Namun kali ini tidak ada prajurit yang ia awasi. Tidak ada laporan yang harus ia dengar. Hanya ia, langit, dan desa yang mulai hidup di bawah sana.
Nayla melangkah mendekat. Berhenti satu meter di sebelah kanan Raditya. Tidak terlalu dekat. Menjaga batas yang selama ini mereka sepakati tanpa kata.
Hening.
Angin pagi berembus naik dari lembah, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan sesuatu yang samar seperti kayu bakar dari tungku-tungku dapur warga yang mulai menyalakan api untuk sarapan.
"Ibu saya membaik pak Alhamdulillah," ucap Nayla akhirnya. Suaranya lembut, rendah. Bukan untuk memulai percakapan, melainkan karena kalimat itu terasa perlu dikeluarkan dari dalam dadanya. Seolah jika tidak diucapkan, ia akan meledak menahan lega itu sendirian.
Raditya tidak menoleh. Namun Nayla melihat kepalanya bergerak sedikit ke samping—hanya beberapa derajat. Tanda bahwa ia mendengar. Tanda bahwa ia hadir.
"Alhamdulillah," jawab Raditya. Satu kata. Pelan. Tulus dengan cara yang tidak memerlukan penjelasan panjang.
Nayla menatap ke arah lembah. Asap dari tungku-tungku itu naik lurus beberapa meter ke udara sebelum akhirnya terbelah dan hanyut dibawa angin ke arah barat. Langit di timur kini sudah benar-benar jingga, warna yang tidak pernah ia lihat di Jakarta. Atau mungkin ada, hanya saja selama ini selalu terhalang oleh gedung-gedung tinggi yang memotong pandangan.
"Bapak tahu dari mana sinyal paling kuat di sini pukul enam pagi?" tanya Nayla. Ia tidak menoleh, matanya masih pada desa di bawah.
Raditya terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Saya periksa selama minggu pertama saya di sini."
Nayla menoleh. "Periksa sinyal?"
"Setiap titik di desa ini," jawab Raditya. Matanya masih lurus ke depan, ke arah lembah. "Termasuk area di luar batas desa."
Nayla menatap profilnya. Laki-laki yang minggu pertamanya di Karang Wilis dihabiskan dengan berjalan kaki, memetakan setiap sudut daerah yang bukan kotanya, untuk alasan yang mungkin sudah ia pikirkan jauh sebelum ada seorang dokter kota yang datang dan memintanya mengantar mencari sinyal.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
Kali ini Raditya menoleh. Hanya sebentar. Matanya bertemu dengan mata Nayla selama dua detik—tidak lama, namun cukup untuk membuat Nayla lupa sejenak pada dinginnya pagi.
"Karena di tempat seperti ini," ucap Raditya, suaranya tetap datar, namun kalimatnya tidak, "satu bar sinyal bisa menjadi satu-satunya hal yang memisahkan seseorang dari kabar yang ia tunggu."
Nayla tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa lebih besar dari sekadar penjelasan teknis. Seperti jawaban untuk pertanyaan yang bahkan belum ia ajukan.
Angin berembus lagi. Kali ini lebih hangat, membawa serta aroma sesuatu yang baru dipanggang dari arah dapur warga. Tanda matahari sudah mulai naik, meskipun wujudnya belum terlihat di balik bukit.
"Kita harus kembali," ucap Raditya. Nada suaranya kembali ke nada yang Nayla hafal—datar, terukur, kembali ke mode tugas. "Patroli pagi dimulai pukul tujuh."
"Baik, pak sekali lagi terima kasih" jawab Nayla.
Raditya berbalik dan mulai menuruni bukit dengan langkah yang mantap. Nayla mengikuti. Namun sebelum ia melangkah turun, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah lembah di bawah. Desa yang mulai bangun. Asap yang masih naik. Langit yang sekarang sudah benar-benar terang.
Ibu membaik.
Tiga kata yang semalam terasa seperti mustahil, pagi ini sudah dapat ia pegang dengan kedua tangannya.
Ia menuruni bukit dengan langkah yang berbeda dari semalam. Tidak lebih ringan, namun lebih stabil. Seperti seseorang yang baru saja menemukan pijakan yang ia cari di atas tanah yang tidak pernah benar-benar diam.
Di depannya, Raditya berjalan dengan ritme yang sama seperti selalu.
Namun sekali, hanya sekali, ketika mereka melewati tikungan berbatu yang sama seperti tadi, Raditya menoleh ke belakang. Sekilas. Memastikan Nayla mengikuti dengan hati-hati.
Nayla sudah melangkah lebih waspada.
Ia tidak perlu diberi tahu. Namun Raditya tetap menoleh.