"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaftaran Dan Gendut Senasib.
Sebulan perjalanan santai ditempuh Lin Ling dengan penuh suka cita. Dia telah menanggalkan jubah merah tuanya dan kini beralih mengenakan baju putih longgar yang senada dengan rambut putihnya yang terurai malas. Gaya berpakaiannya sangat acak-acakan, kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka memperlihatkan dadanya, memberikan kesan seorang pemuda fana yang eksentrik.
Namun, begitu langkah kakinya tiba di batas wilayah Sekte Bangau Abadi, pemandangan di depannya benar-benar mendefinisikan kata megah.
Pegunungan giok raksasa menjulang tinggi menembus lapisan awan tertinggi. Uniknya, sembilan puncak utama gunung tersebut tidak menapak di tanah, melainkan melayang di angkasa akibat susunan formasi kuno tingkat tinggi. Air terjun raksasa mengalir deras dari puncak-puncak melayang itu, jatuh ke lembah bawah dan menciptakan tirai kabut spiritual abadi yang berkilau keemasan diterpa matahari.
Di kaki pegunungan, terdapat alun-alun giok putih seluas kota kecil. Di ujung alun-alun, berdiri sembilan altar megah yang mewakili 9 Fraksi Utama. Di atas setiap altar, duduk seorang Tetua ranah Nascent Soul yang memancarkan tekanan spiritual luar biasa untuk menyaring calon murid.
Di tengah atmosfer yang suci dan tegang itu, Lin Ling justru berdiri santai sambil mengupil tipis.
"Wah, tiang penyangga altarnya dilapisi emas murni. Kalau malam-malam aku congkel satu pakai kekuatan Mahayana-ku, kira-kira formasi sekte ini bakal bunyi tidak ya?" gumam Lin Ling konyol dengan suara pelan.
"Pfft! Hei, Saudara, bicaramu tabu sekali! Kalau didengar Tetua, kita bisa dilempar jadi makanan bangau!"
Lin Ling menoleh. Di sampingnya, berdiri seorang pemuda bertubuh sangat tambun alias gendut. Pemuda itu mengenakan pakaian mewah yang kesempitan hingga perut buncitnya menyembul, tangannya sibuk menyeka keringat dingin di dahinya menggunakan saputangan sutra.
"Kenalkan, namaku Wang Ba. Dari Kota Awan Timur," ujar si gendut sambil mengulurkan tangannya yang gempal. "Melihat jubah putihmu yang robek-robek dan rambut putihmu itu, kau pasti dari klan miskin yang nekat kemari seperti aku, kan?"
Lin Ling menyambut uluran tangan itu dengan cengiran lebar. "Lin Ling. Ya, anggap saja begitu. Aku ke sini hanya ingin mencari pekerjaan yang santai."
"Sama! Bakatku buruk. Targetku tidak muluk-muluk, cukup masuk ke Fraksi ke-9, Fraksi Urusan Luar. Menjadi pelayan logistik setidaknya aman dari perkelahian kultivator suci."
Tiba saatnya giliran mereka berdua diuji di altar batu mistis. Ketika Wang Ba maju, batu mistis menyala kuning redup. "Wang Ba, Akar Spiritual Kelas Rendah! Masuk ke Fraksi Urusan Luar!" teriak petugas pendaftaran. Si gendut langsung bersorak girang seolah baru saja memenangkan lotre langit.
Kini giliran Lin Ling berjalan santai ke depan. Dia meletakkan telapak tangan di atas batu mistis. Batu itu bergetar, lalu menyala hijau terang yang stabil—menunjukkan Akar Spiritual Kelas Menengah dan fluktuasi energi yang sangat tipis di dalam tubuhnya, hasil sisa-sisa penyesuaian tubuh baru.
Melihat kilau hijau yang stabil, beberapa Tetua ranah Nascent Soul di altar atas langsung membuka mata mereka. Bakat kelas menengah adalah bakat umum yang sangat ideal; tidak terlalu rendah hingga menyia-nyiakan sumber daya, dan tidak terlalu tinggi hingga sulit dikendalikan. Murid seperti ini sangat bagus untuk dijadikan pekerja keras di fraksi spesialis.
Tetua Tie Kuang dari Fraksi Penempa Senjata yang bertubuh kekar langsung bersuara dengan lantang, "Bocah rambut putih, fisikmu terlihat cukup proporsional. Masuklah ke Fraksiku, aku akan mengajarimu cara menempa logam magis!"
Belum sempat Lin Ling menjawab, Tetua Mo Li—seorang wanita eksentrik yang memimpin Fraksi Pengendali Binatang—ikut menyela sambil mengelus bangau kecil di bahunya, "Akar kelas menengah sangat cocok untuk melatih kesabaran menjinakkan monster. Ikutlah dengan Fraksiku saja."
Bahkan Tetua Gongsun Zhi dari Fraksi Formasi Array pun mengangguk setuju, bersiap menawarkan tempat.
Melihat seorang pemuda berpakaian berantakan diperebutkan oleh tiga Tetua raksasa, ribuan pendaftar di alun-alun langsung memandang Lin Ling dengan rasa iri yang luar biasa. Wang Ba di kejauhan sampai melongo tak percaya.
Namun, Lin Ling justru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menyunggingkan senyum konyolnya yang khas. Dengan santai, dia membungkuk hormat kepada para Tetua agung tersebut.
"Terima kasih atas kebaikan hati para Tetua yang luar biasa. Tapi... saya ini dasarnya adalah pemuda yang sangat malas dan penakut. Menempa logam terlalu melelahkan bagi otot saya, dan saya juga fobia dengan bulu burung," bohong Lin Ling dengan wajah tanpa dosa. "Jadi, dengan segala hormat, saya menolak tawaran indah ini."
DEG!
Seluruh alun-alun mendadak hening seketika. Para pendaftar mengira telinga mereka salah dengar. Menolak tawaran tiga Tetua Nascent Soul secara terang-terangan? Pemuda ini pasti sudah gila!
Wajah Tetua Tie Kuang langsung menggelap, sementara Tetua Mo Li hanya mendengus dingin, merasa terhina oleh penolakan konyol tersebut.
Sebelum suasana menjadi semakin tegang, Tetua Gao De dari Fraksi Urusan Luar yang sejak tadi bersandar malas akhirnya membuka suara sambil menguap, "Kalau begitu, bocah malas, apakah kau mau masuk ke fraksiku dan menjadi tukang sapu?"
"Ah! Itu dia pekerjaan impian saya! Terima kasih banyak, Tetua Gao De yang bijaksana!" seru Lin Ling riang, langsung memberikan hormat yang paling bersemangat sepanjang hari itu.
Petugas pendaftaran menggelengkan kepala dengan ekspresi jijik saat menulis takdir Lin Ling. "Lin Ling, Masuk ke Fraksi Urusan Luar sebagai tukang sapu!"
Lin Ling segera berlari menghampiri Wang Ba yang masih membatu karena syok. "Luar biasa, Gendut! Kita resmi menjadi rekan satu kerjaan!"
"Kau... kau benar-benar gila, Saudara Lin! Kau baru saja membuang kesempatan emas!" bisik Wang Ba dengan mata melotot.
"Kesempatan emas apa?" Lin Ling terkekeh penuh arti sambil menyampirkan baju putih longgarnya.
Bagi orang lain, dia baru saja melakukan kebodohan terbesar. Namun secara taktis, menjadi tukang sapu berbaju putih di Fraksi ke-9 memberi Lin Ling alasan legal untuk berkeliaran di seluruh penjuru sembilan puncak gunung megah ini tanpa dicurigai siapa pun. Tirai perampokan terbesar di bawah hidung para Tetua Nascent Soul kini resmi dibuka, hanya bermodalkan sebatang sapu lidi.