NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Kegelisahan Gatra

Sesuai dengan yang di tentukan kalau mereka akan bertemu di jam makan siang di salah satu restoran yang tak jauh dari tempat Nayra bekerja, tapi tanpa pria itu tahu kalau sebelumnya restoran itu salah satu bisnis yang Nayra punya.

Gatra memilih tempat duduk di lantai dua, yang biasanya menjadi pilihan kedua karna kebanyakan orang lebih suka di lantai pertama agar lebih cepat memesan makanan.

Setelah beberapa menit menunggu setelah membalas chat yang di kirim Gatra, Nayra memutuskan untuk keluar dari ruangan kerjanya dan menghampiri pria yang kembali memainkan ponsel setelah menolak memesan makanan pada pelayan karna ingin menunggu seseorang lebih dulu.

"Maaf udah bikin Mas Gatra nunggu lama," kata Nayra setalah duduk di kursi tepat di depan Gatra dengan ekspresi di buat-buat merasa bersalah.

"Santai saja, saya ngga ada kesibukan jadi ngga masalah harus nunggu lama." Gatra meletakkan ponsel di atas meja lalu memandang wanita di depannya selama beberapa detik sebelum mengalihkan matanya pada bangunan restoran. "Dari dulu warna cream selalu cocok di sandingkan dengan warna apa pun."

"Muji penampilanku atau restorannya nih?" Tanya Nayra dengan berani. Tentu saja, di usia sudah kepala tiga, apa lagi yang harus di malu kan? Apa lagi saat ini ia sudah bisa di katakan bisa membeli semua yang di inginkannya.

"Restorannya," ungkap Gatra apa adanya sambil mengalihkan pandangan pada Nayra yang baru di sadarinya sedang mengenakan blouse berwarna cream. "Tapi kamu juga cocok pakai baju itu."

Nayra tersenyum penuh rasa percaya diri. "Kenapa ngga langsung pesan makan? Saya ngga masalah kalau Mas makan duluan."

"Belum lapar," balas Gatra membalas tersenyum. "Sebenarnya saya juga ngga papa harus nunggu lebih lama. Apa lagi kalau ternyata pekerjaanmu belum selesai."

"Udah kok," balas Nayra tanpa sadar memuji kebaikan Gatra dalam hatinya. Pantas saja Rayyan di buat suka dengan pria di depannya ini pikirnya. "Tapi sesibuk apapun itu saya ngga mungkin biarin orang nunggu lama."

"Ngga masalah karna dari dulu saya lebih suka nunggu sampai orang yang janjian sama saya datang dari pada saya membuat orang lain nunggu."

"Serius? Bikin bosan ngga sih, Mas?"

Gatra menggeleng. "Saya ngga punya kegiatan lain selama libur kerja jadi suka datang lebih cepat."

Naya mengangguk lalu memanggil pelayan yang kebetulan lewat. Ia memesan makanan yang di sukainya begitu juga dengan Gatra tanpa rasa curiga.

Beberapa saat setelah pelayan pergi, Nayra membuka ponselnya. Mengecek pesan atau apapun selama Gatra melakukan hal yang sama juga untuk membunuh rasa canggung.

Kalau saja makan siang ini untuk pekerjaan maka Nayra tak akan membiarkan waktunya terbuang percuma. Ia akan jadi pihak yang banyak tanya supaya pertemuan itu cepat terselesaikan dengan hasil yang di inginkannya.

Namun nyatanya saat ini beda, orang yang mengajaknya makan siang adalah sosok yang di sukai putranya. Hampir setiap hari Rayyan membicarakan Gatra dan ingin menjadikannya sebagai ayah sambungnya hingga membuat Nayra bosan, tapi untuk melarang ia tidak menemukan alasan yang tepat karna sampai saat ini Gatra masih memperlakukan putranya dengan baik.

"Pintar bangat Rayyan," kata Gatra membuka obrolan. "Ngga pemalu sama orang baru di kenal. Terus sadar kamera juga."

Nayra terseyum merendah karna anaknya di puji. "Padahal dia benci bangat di video atau di foto, tapi anehnya dia malah sadar bangat kalau sedang di sorot kamera."

Gatra mengangguk sambil menahan senyum karna setiap membahas Rayyan mata Nayra akan berbinar-binar. "Pantas saja kemarin dia agak beda ke saya, tapi ngga marah cuma diam aja."

"Dia kalau marah gitu, Mas. Irit bangat ngomongnya, tapi tenang aja biasanya Rayyan kayak gitu cuma satu hari saja. Nanti dia pasti baikkan kok."

"Selain konten kreator, apa lagi kerjaannya, Nay?" Tanya Gatra tiba-tiba saja ingin tahu lebih banyak tentang wanita itu yang membuatnya tertawa. "Nggak nyambung banget ya? Tapi saya udah penasaran di tambah lagi Rayyan... saya ngga maksud lancang karna enggak pernah nanya, tapi anak itu banyak bocorin rahasia Mamanya."

Nayra menghela nafas kasar, tapi tetap bersabar. "Apa lagi yang anak itu katakan? Pasti yang buruk-buruk tentang saya kan?"

Gatra menggeleng. "Malah sebaliknya, dia kasihan lihat kamu kerja dari pagi sampai malam. Selain itu dia juga..."

Nayra hanya diam mendengar, tapi percaya karna pernah mendengar hal yang sama dari Haviza. Tapi sampai saat ini, Nayra selalu bersikap baik-baik saja di depan sahabatnya atau Gatra. Ia seolah tak terpengaruh karna sudah menebak ujungnya kemana, tapi sebenarnya tidak seperti itu.

Sebagai seorang ibu yang pernah merasakan hal yang sama, tapi bedanya orang tuanya masih ada dan kaya tapi tak pernah memiliki waktu satu hari pun untuk di rumah bersama anak-anaknya.

Dulu Nayra pernah meminta Mamanya untuk berhenti berkerja, tapi wanita yang sudah melahirkannya itu malah membentaknya lalu meninggalkannya bersama adik-adiknya dan pengasuh.

Sementara dirinya yang menjadi orang tua tunggal yang tidak mendapatkan dukungan dari siapapun tak bisa melakukan apa-apa karna kalau tidak berkerja maka mereka tidak akan memiliki penghasilan.

"Saya tahu ini akan membuat kamu makin sedih atau makin bersalah, tapi dia pengen cepat lulus SMA, kuliah sambil jadi atlet terus kerja supaya kamu ngga perlu kerja lagi."

Nayra masih diam, seolah-olah tak ingin menanggapi, tapi sebenarnya posisinya serba salah. Mereka baru kenal kalau ia mengungkapkan sesuatu yang hanya di ketahui oleh orang terdekatnya saja maka terkesan dirinya seperti mengeluhkan kehidupannya.

"Saya punya beberapa bisnis kecil, Mas." Kata Nayra pada akhirnya memilih untuk menganti topik pembahasan. "Kalau Mas Gatra sendiri kegiatannya apa aja?"

"Saya lagi belajar tentang investasi dari Hakim," balasnya mengerti Nayra tak ingin membahas tentang dirinya lebih jauh lagi.

"Bagus tuh buat jangka panjang. Kalau boleh tahu Investasi apa?"

"Belum tahu, baru dua Minggu ini belajarnya dari Hakimnya."

"Mas, Hakim emang yang paling jago masalah investasi. Dulu Haviza pernah cerita kalau Mas Hakim tiba-tiba bawa duit banyak ke rumah padahal dia baru tahun pertama kuliah. Ternyata dia investasikan sebagian besar jajannya selama sekolah terus sekarang tinggal menikmati hasilnya."

Hakim memang hebat, dia bahkan bisa membangun perusahaan sendiri sampai sebesar ini." Gatra mulai menceritakan tentang Hakim, Dirga dan Felix yang tak kalah hebatnya di dalam karir masing-masing berbeda dengan Gatra hanya di situ-situ saja.

Hal itu karna dulu dirinya tak bisa berkuliah sebab enam bulan sebelum lulus SMA bisnis keluarganya jatuh karna ayahnya salah menaruh kepercayaan pada seseorang hingga bisnis mereka perlahan jadi sepi pembeli dan berakhir bangkrut.

"Ah, maaf saya malah curhat." Kata Gatra di tanggapi Nayra dengan senyum kecil.

"Ngga masalah, Mas. Saya juga beruntung karna bisa jadi pembelajaran buat saya kedepannya." Balas Nayra bertepatan dengan makanan mereka datang, membuat pembicaraan mereka berhenti.

Sambil makan Gatra sering mencuri pandang pada Nayra dengan isi kepala yang berkecamuk. Sebenarnya ia sendiri bingung dengan keinginannya dua hari ini, lebih tepatnya setelah bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang sampai beberapa menit yang lalu masih memintanya untuk mencoba menjalani hubungan bersama Nayra.

Pria itu tahu maksud mereka baik dan tak akan memaksanya jika wanita itu bukan orang baik. Mereka juga mengatakan kalau Nayra pasti menerima kekurangannya, tapi ia masih belum percaya diri dan masih tetap dengan keputusannya.

Tapi sahabat-sahabatnya tak menyerah, mereka mengingatkan kalau dekat bukan untuk langsung menikah, tapi saling mengenal lebih dalam karna mereka pikir dengan status teman atau tetangga tidak akan membuat mereka saling nyambung.

Sampai akhirnya tadi pagi Gatra membuat satu keputusan yaitu mengikuti kata hatinya. Ia akan menyampaikan tujuannya mengajak Nayra menjalani komitmen ke arah hubungan serius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!