NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balasan untuk Fiona

Malam itu, pukul 02.00.

Alessandra tidak bisa tidur. Bukan karena kegelisahan karena dia tidak pernah gelisah. Tapi karena ada urusan yang belum selesai. Fiona mengirim preman untuk menangkapnya. Fiona berencana melenyapkannya. Dan Fiona masih berjalan bebas di sekolah, tersenyum manis, berpura-pura menjadi siswi baik-baik.

Tidak.

Valeria Alessandra bukan orang yang suka mencari masalah. Jika orang lain meninggalkannya sendirian, dia akan membalas dengan meninggalkan mereka sendirian. Tapi jika seseorang sengaja menciptakan masalah untuknya, maka dia akan membersihkan masalah itu. Dengan cara yang paling efektif. Dan paling berkesan.

Fiona harus belajar. Bukan dengan kematian karena itu terlalu mudah. Tapi dengan ketakutan. Dengan trauma. Dengan sesuatu yang akan membuatnya terjaga setiap malam, memikirkan apakah bayangan di sudut kamarnya akan bergerak.

Alessandra berdiri dari ranjang.

Kaus hitam dan celana olahraga abu-abu sudah melekat di tubuhnya. Pita merah tetap di rambut yang masih tersimpan jarum beracun di balik lipatan kain. Kacamata rimless dengan rantai emas? Tidak perlu. Malam ini dia tidak akan berpura-pura menjadi manusia biasa.

Dia berjalan ke sudut kamar yang paling gelap.

Dan melebur ke dalam bayangan.

Rumah Fiona berada di perumahan elite Clover Hills sama seperti rumah Sunjaya, tapi lebih besar. Satu lahan dengan tiga bangunan: rumah utama, kolam renang, dan paviliun kecil untuk tamu. Pagar besi setinggi tiga meter dengan sensor gerak. Kamera CCTV di setiap sudut. Dua penjaga keamanan yang berjaga setiap malam.

Lumayan, pikir Alessandra. Untuk ukuran manusia biasa.

Tapi bagi pemilik sepuluh bintang dengan elemen kegelapan murni, semua itu tidak berarti.

Dia muncul dari bayangan pohon di halaman belakang. Tubuhnya menyatu dengan gelap malam sehingga tidak ada kamera yang bisa menangkap. Sensor gerak? Tidak akan mendeteksi sesuatu yang tidak berbentuk padat. Penjaga keamanan? Mereka sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.

Alessandra berjalan melewati halaman, melewati kolam renang, melewati paviliun, hingga sampai di belakang rumah utama. Kamar Fiona ada di lantai dua, jendela menghadap ke timur yang mudah diakses dari balkon kecil di bawahnya.

Dia melompat.

Tidak butuh tenaga super. Hanya lompatan biasa dengan sedikit bantuan kegelapan yang mengangkat tubuhnya. Dalam dua detik, dia sudah berdiri di balkon kamar Fiona.

Jendela terkunci. Tidak masalah.

Kegelapan mengalir dari ujung jarinya, menyusup ke celah-celah jendela, membuka kunci dari dalam dengan suara sehalus bisikan.

Jendela terbuka.

Alessandra masuk.

Kamar Fiona luas. Dua kali ukuran kamar Allegra. Ranjang ukuran king dengan seprai sutra berwarna krem. Lemari pakaian besar dengan cermin seukuran tubuh. Meja rias penuh dengan produk perawatan kulit mahal. Lampu tidur menyala redup karena Fiona takut gelap. Ironis.

Fiona sedang tidur.

Posisi miring ke kanan, tangan di bawah bantal, rambut panjangnya terurai di atas sarung bantal sutra. Wajahnya yang di sekolah selalu penuh dengan senyum manis dan tatapan percaya diri kini tampak biasa. Hampir polos.

Hampir.

Tapi Alessandra tahu apa yang tersembunyi di balik wajah itu.

Dia berdiri di samping ranjang, menatap Fiona dari atas. Tidak bergerak. Tidak bersuara.

Hanya menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Empat belas menit.

Fiona mulai gelisah dalam tidurnya. Mungkin secara naluriah, dia merasakan kehadiran asing. Mungkin aura dingin Alessandra begitu pekat sehingga bahkan manusia biasa bisa merasakannya.

Matanya bergerak di balik kelopak. Napasnya sedikit memburu.

Dan akhirnya dia membuka mata.

Langsung.

Langsung melihat sosok hitam berdiri di samping ranjangnya.

"AAAA—"

Teriakan Fiona tertahan di tenggorokan.

"shhhh"

Bukan karena dia sengaja berhenti. Tapi karena suaranya tidak keluar. Dia membuka mulut selebar-lebarnya, berusaha berteriak sekencang-kencangnya, tapi tidak ada yang terdengar.

Tidak ada.

Kedap suara, pikir Fiona dalam panik. Kamar ini tiba-tiba kedap suara.

Dia mencoba bangkit. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Bukan terikat karena tidak ada tali, tidak ada rantai. Tapi dia tidak bisa menggerakkan satu pun ototnya. Seperti ada beban tak terlihat yang menekan seluruh tubuhnya ke ranjang.

"S-siapa..."

"Aku."

Suara itu dingin. Datar. Dan sangat familiar.

Fiona mengerjap, matanya berusaha fokus di tengah kegelapan. Sosok hitam itu perlahan mendekat, dan cahaya lampu tidur yang redup mulai menerangi wajahnya.

Kaus hitam. Rambut sebahu terikat pita merah. Mata coklat terang yang dingin seperti es.

"Va—Valeria Allegra?!"

"Valeria Alessandra," balas sosok itu. "Tapi untukmu, cukup Ale."

Fiona tidak mengerti. "A-apa maksudmu? Lo—lo kenapa di sini? Lo bagaimana—"

"Kau mengirim lima preman untuk menangkapku," potong Alessandra. Suaranya tidak naik. Tidak berubah intonasi. Tapi setiap kata terasa seperti paku yang ditanam di kepala Fiona. "Kau memerintahkan mereka untuk membawaku ke tempat sepi. Kau tidak peduli apa yang akan mereka lakukan padaku sebelum kau datang. Kau bahkan tidak peduli jika mereka memperkosaku, selama rencanamu berhasil."

Fiona pucat. "A-aku tidak—"

Valeria langsung mencekik leher Fiona dan jari nya menyentuh pipi Fiona "Jangan berbohong. Aku mendengar semuanya saat kau menelepon bos mereka. Suaramu jelas. Rencanamu jelas."

Diam.

"uhk-uhk" Fiona tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya gemetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya bukan karena menyesal, tapi karena takut.

"A-apa yang akan lo lakukan padaku?" bisiknya yang tercekik.

Alessandra tidak menjawab.

Dia meraih tangan Fiona perlahan, hampir lembut dan membalikkannya sehingga telapak tangan menghadap ke atas. Fiona tidak bisa melawan. Tubuhnya masih lumpuh.

"Tangan yang cantik," ucap Alessandra. "Kau rajin perawatan, ya? Kuku selalu rapi. Tidak pernah kotor."

"A-apa... apa yang lo—"

"Kau tahu, Fiona, ada banyak cara untuk melumpuhkan seseorang tanpa membunuhnya. Aku bisa mematahkan tulang-tulang kecil di tanganmu satu per satu. Tidak fatal. Tapi kau tidak akan bisa menulis lagi. Tidak akan bisa memegang pulpen. Tidak akan bisa bermain ponsel dengan tangan kananmu."

Fiona mulai menangis. Bukan isak tangis pelan, tapi terisak keras yang tidak bisa keluar karena ruangan ini kedap suara.

"TAPI AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN ITU."

Alessandra melepas tangan Fiona.

"Karena kau lebih berharga sebagai boneka daripada sebagai penderita. Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau pergi ke sekolah besok. Aku ingin kau tersenyum pada teman-temanmu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa."

Fiona bingung. "K-kenapa?"

"Karena kematianmu akan membuatmu menjadi martir. Semua orang akan mengingatmu sebagai korban. Tapi jika kau hidup... kau akan terus hidup dalam ketakutan. Setiap kali kau melihat bayangan, kau akan mengingat malam ini. Setiap kali kau sendirian di kamar, kau akan takut aku muncul lagi. Setiap kali kau mendengar suara langkah kaki di belakangmu, kau akan berpikir: ini dia lagi."

Alessandra mendekatkan wajahnya ke wajah Fiona. Jarak hanya beberapa sentimeter.

"Aku tidak akan membunuhmu, Fiona. Tapi aku akan memastikan bahwa kau tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi. Aku akan memastikan bahwa kau selalu waspada, selalu paranoid, selalu merasa bahwa seseorang sedang mengawasimu."

"K-kau tidak bisa..."

"Aku sudah melakukannya sekarang." Alessandra tersenyum kecil, senyum yang tidak hangat. Senyum yang membuat bulu kuduk Fiona berdiri. "Aku masuk ke rumahmu. Aku melewati semua penjaga mu. Aku masuk ke kamarmu, sementara kau tidur pulas. Dan kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau tidak bisa memanggil penjagamu. Kau tidak bisa berteriak. Kau bahkan tidak bisa bergerak."

Senyum itu menghilang.

"Sekarang bayangkan: aku bisa melakukan ini kapan saja. Malam ini. Besok. Minggu depan. Bulan depan. Setiap kali kau berpikir bahwa semuanya sudah aman... aku akan datang lagi."

Fiona terisak. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Wajahnya yang cantik kini hancur, suaranya yang tercekik dan berusaha mendorong Valeria.

"A-aku minta maaf... aku janji tidak akan mengganggumu lagi... aku akan berhenti... aku—"

"Janji?" Alessandra menarik tangannya dan membersihkan menggunakan sapu tangan "Kau pikir janji seorang pengkhianat berarti?"

"A-aku sungguh..."

"Tidak perlu."

Alessandra berdiri tegak.

"Aku tidak butuh janjimu. Karena aku tidak percaya padamu. Yang aku butuhkan adalah kepastian. Dan kepastian itu hanya bisa datang dari satu hal: rasa takut yang terus-menerus."

Dia berbalik.

Punggungnya menghadap Fiona. Dari bayangan di lantai, kegelapan mulai merayap naik ke tubuhnya, menyelimutinya seperti jubah.

"Besok kau akan pergi ke sekolah. Kau akan tersenyum pada teman-temanmu. Kau akan duduk di kelas dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang malam ini. Karena jika kau memberitahu... mereka tidak akan percaya padamu."

Fiona tidak bisa menjawab.

"Dan jika mereka percaya... aku akan kembali. Bukan ke kamarmu. Tapi ke orang yang kau cintai. Ayahmu. Ibumu. Adikmu, jika kau punya."

"JANGAN—"

"Maka diamlah. Lupakan malam ini. Tapi jangan lupa rasa takut yang kau rasakan saat ini. Karena itu satu-satunya yang akan menjagamu tetap hidup."

Alessandra melebur ke dalam bayangan.

Pelan-pelan.

Pertama kakinya. Lalu pinggang. Lalu dada. Lalu wajah matanya yang dingin adalah yang terakhir menghilang.

Fiona sendirian di kamarnya.

Tiba-tiba, tubuhnya bisa bergerak lagi.

Dia duduk tegak, terengah-engah, memegang dadanya yang berdebar kencang. Ruangan terasa panas. Lampu tidur terasa redup. Bayangan di sudut kamar terasa mengancam.

"A—apa... apa itu tadi..."

Dia tidak tahu. Yang dia tahu, dia tidak akan bisa tidur malam ini. wajahnya menimbulkan luka seperti luka goresan dan juga matanya bergetar ketakutan.

Mungkin tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi.

Alessandra muncul di kamarnya kembali.

Dia berjalan ke ranjang, duduk, lalu menekan cincin di jari kelingkingnya.

"Kinan."

"Nona? Ada apa?"

"Bersihkan rekaman CCTV di rumah Fiona. Semua yang menunjukkan kehadiranku."

"Baik, Nona. Fiona baik-baik saja?"

"Aku tidak menyentuhnya. Hanya... memberinya pelajaran."

"Apakah Nona yakin Fiona tidak akan melapor ke polisi?"

"Lapor apa? sejak kapan seorang Valeria Alessandra melapor ke polisi? Tidak ada sejarah nya seperti itu"

"Nona benar."

Hubungan langsung terputus.

Alessandra merebahkan tubuh di ranjang.

Fiona, pikirnya. Balasan sudah terkirim. Sekarang giliran Saskia.

Tapi tidak sekarang. Sekarang... aku butuh tidur.

Dia menutup mata.

Di rumah Fiona, beberapa kilometer dari sana, seorang gadis masih duduk di ranjangnya, menggigil, matanya menatap bayangan di setiap sudut kamar.

Dia tidak berani mematikan lampu.

Dia tidak berani menutup mata.

Dia tidak berani sendirian.

Tapi dia juga tidak berani memanggil siapa pun.

Dia menggigil ketakutan, kadang menggaruk-garuk wajahnya dan kadang tangannya, yang membuat terluka karena kuku nya.

Karena dia tahu: tidak ada yang bisa melindunginya dari Valeria Allegra.

Malam itu, Fiona tidak tidur.

Dan dia mungkin tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi selama sisa hidupnya.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!