Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
## Sang Penguasa Lantai Sepuluh
**Latisha** menyeringai pada **Rimona** kemudian berkata, "Ini mulai seru. Kamu punya teknik yang sangat berguna untuk dipelajari."
**Rimona** menyudahi jeda pertarungan, melesat, dan mengayunkan satu belati yang tersisa di tangan. Saat ini yang bisa dilakukan **Latisha** hanya berkelit sembari mengikuti pergerakan tangan dan setiap teknik serangan yang dilancarkan **Rimona**. Ia perlu mempelajarinya, meski tindakan itu mengurangi pertahanan sehingga **Rimona** punya kesempatan melukainya, mengiris daging **Latisha** dengan bilah tajam belati.
"Mana kesombonganmu tadi? Sekarang kamu sadar seberapa jauh jarak kemampuan kita?" cibir **Rimona** seraya menjilat darah **Latisha** yang meleleh di permukaan belati.
**Latisha** mengembuskan napas perlahan setelah memahami sedikit cara bertarung **Rimona**. Lantas ia memandangi belati di tangan sebelum akhirnya tersenyum dan melesat untuk mengembalikan setiap serangan musuhnya. Sepasang mata **Rimona** melebar; meski terbilang masih kaku dan tampak asal-asalan, cara **Latisha** menggunakan belati sekilas mirip gaya bertarungnya.
"Bocah ini!"
**Rimona** melompat mundur seiring genggaman pada belati menguat; kegelisahan mulai merayap dari ujung jemarinya. "Pantas saja pertahanannya kurang, ternyata dia fokus mempelajari teknik bertarungku!"
*Hufh...*
Seolah tidak memedulikan sekitarnya, sepasang mata **Latisha** hanya fokus pada **Rimona**. Ia mengembuskan napas dan melesat untuk kembali bertukar serangkaian serangan.
*Ting!*
Dua senjata logam tipis yang menyapa satu sama lain meninggalkan bunyi denting tajam pendek yang tampak terputus-putus sebab terus terulang.
*String! Ukh!*
Pada benturan selanjutnya, senjata mereka melepas bunyi tipis panjang seolah hendak mengiris indra pendengar semua orang.
"Apa-apaan bocah ini?" **Rimona** menjerit dalam hati tatkala **Latisha** makin mahir dalam penggunaan belati. Di beberapa momen, gadis itu nyaris menyelinapkan serangan mematikan ke area vitalnya. Terlambat sedikit saja, **Rimona** yakin akan terkapar dan bersimbah darah, mati dalam hitungan detik.
"Ke mana fokusmu?" **Latisha** bertanya sesaat wajahnya sudah berada di bawah kepala **Rimona** yang agak menunduk.
**Rimona** tak sempat mengelak sementara **Latisha** mengubah posisi belatinya jadi terbalik, lalu menggunakan gagang belati untuk memukul dagu bagian bawah **Rimona**.
"Apa yang dia lakukan? Padahal dia bisa membunuh **Rimona**."
"Dia membuang-buang tenaga."
"Lagi pula anak itu memang tidak pernah membunuh, kan? Dia menghajar kita sampai sekarat saja."
"Bukankah itu lebih mengerikan daripada terbunuh cepat?"
Itulah komentar para tahanan yang menonton di kursi masing-masing. Sementara itu, **Latisha** menunggu **Rimona** untuk berdiri dan kembali mendapatkan fokus dalam pertarungan.
"Apa kamu mengasihaniku?" **Rimona** meludah darah; bagian dalam mulutnya terluka akibat pukulan tadi.
**Latisha** mengerutkan dahi. "Huh? Apa aku sepeduli itu padamu? Aku hanya tidak mau ini berakhir cepat karena masih banyak yang bisa kuamb—"
**Latisha** merapatkan mulut sejenak. Ia berpikir seharusnya tidak memberi tahu alasan sebenarnya, yakni ia ingin bertarung sampai benar-benar lelah setelah mempelajari cara bertarung jarak dekat milik **Rimona** menggunakan belati. Ia akan mendesak wanita itu terus bertarung sampai tidak mampu lagi berdiri. Sudah ada peluang, **Latisha** ingin memanfaatkannya tanpa merugi sedikit pun.
"Ya, aku mengasihanimu karena begitu lemah," **Latisha** memperbaiki alasannya.
Sudut bibir **Rimona** berkedut sementara para tahanan agak geleng-geleng kepala karena sudah tahu tujuan **Latisha** membiarkan **Rimona** tetap berdiri di sana untuk bertarung lewat perkataan yang sempat terputus tadi.
Satu jam kemudian, belati di genggaman **Rimona** terlepas bersamaan dengan tubuh yang limbung tak berdaya dengan sekujur luka sayat memenuhi tubuh. Sementara itu, **Latisha** masih berdiri tegap, tapi raut wajahnya tidak terlalu puas.
"Sial! Sial! Seharusnya aku berhenti sejak awal, tapi dia sengaja memprovokasiku! Seharusnya aku sadar, sejak tadi dia sengaja menahan serangan mematikanku dan terus membiarkanku berdiri di saat bisa membunuhku! Dia memaksaku terus bertarung demi keuntungannya!" **Rimona** meraung di balik ketidakberdayaan oleh rasa sakit yang membekukan seluruh otot tubuhnya. Ia hanya mampu merasakan sensasi menusuk-nusuk dari luka-luka yang tertoreh di tubuhnya.
"Aku jadi punya banyak luka," komentar **Latisha** sesaat mendapati luka-luka dari sabetan belati **Rimona** di lengan, perut, juga bagian pahanya. Ia menerima cukup banyak, tapi tidak separah lawannya.
Melihat kekacauan di lantai sepuluh yang timbul akibat pertarungan antara **Latisha** dan dua terpidana mati, **Dexter** sama sekali tidak mengkritisi perbuatan salah satu dari mereka. Justru menikmati suasana setelah pertarungan usai, di mana ia mendapati **Latisha** meringkus **Rimona** yang tidak berdaya. Penampilan serupa tampak dari **Latisha**, tapi tidak separah lawan-lawannya.
Kepala **Pedro** retak dan bocor akibat terkena kepala gesper dan tinju **Latisha**. Sementara itu, **Rimona** seperti orang teler yang sekarat. Tubuhnya dipenuhi luka dan noda darah mulai mengering. Borgol rantai kembali dipasangkan sipir kepada **Rimona** dan **Pedro**, kemudian **Latisha** meminta mereka untuk tidak dikeluarkan dari tahanan sampai hari eksekusi tiba.
"Tampaknya kamu bersenang-senang," komentar **Dexter**.
**Latisha** segera mendelik tajam ke arah **Dexter**. Aura yang dipancarkan gadis itu cukup membuat **Dexter** mengerti kemarahannya.
"Bukankah terbalik?" **Latisha** mencibir. "Seharusnya kamu berterima kasih. Bukankah kamu juga menikmatinya?"
**Latisha** menahan decakan karena perkataan **Dexter** tidak sepenuhnya salah. Malas meladeni **Dexter** lagi, **Latisha** berbalik memungut ikat pinggang yang sebelumnya ia pinjam, diserahkan pada pemiliknya. "Terima kasih," ucap **Latisha** pada si sipir, pemilik ikat pinggang itu.
Sipir menerimanya sambil menatap kilauan pada kepala gespernya yang tertutup noda darah. Tampilannya jadi mengerikan.
"Kamu telah menyelamatkan petugas dan mencegah para tahanan yang hendak kabur, hadiah macam apa yang perlu kuberikan?" tanya **Dexter**.
**Latisha** mendengkus. "Bukankah terlalu cepat? Kupikir kamu tidak akan berhenti hanya untuk hari ini."
Senyum **Dexter** tertahan. Tentu saja, iya. Ia akan melepas para tahanan yang akan dieksekusi dalam waktu dekat. Mereka harus dimanfaatkan sebaik mungkin, setidaknya dibuat berguna sebelum kematian menjemput. Sekujur tubuh **Dexter** bergelenyar, membayangkan bagaimana terkejutnya para musuh setelah tahu jika ia sedang melatih seorang monster dari keluarga **Valgard**. Bocah yang mereka jadikan kambing hitam akan berevolusi—tidak, melainkan berubah jadi hewan buas.
"Kalau begitu istirahatlah, akan kupanggilkan tabib untuk mengobati lukamu."
**Latisha** menatap **Dexter** makin datar kemudian memalingkan wajah tanpa minat sembari meminta sipir yang ia pinjam ikat pinggangnya untuk mengantarnya ke ruang tahanan. "Sebaliknya, antar saja makanan ke ruang tahananku. Tidak perlu memanggil tabib, aku harus terbiasa dengan luka-luka ini," jawab **Latisha**.
Di lain sisi, pada salah satu ruang tahanan di lantai lima, wajah **Akta** menempel kuat pada pintu karena tangan gemuk **Nurcelia** mencekal kerah seragamnya melalui *tray slot*.
"Tidak bisakah Anda melepaskan saya dulu?" tanya **Akta**.
**Nurcelia** melepaskan cengkeramannya setelah dibujuk **Agniya** dan **Shena**. "Sebenarnya bocah itu baik-baik saja atau tidak? Kenapa kamu selalu mengatakan dalam waktu dekat akan mempertemukan kami, tapi sudah dua tahun lebih berlalu, kami tidak melihatnya! Apa kalian diam-diam menyiksanya?!"
**Akta** membenarkan kerah seragam lalu berdeham. Sebenarnya itu hanya alasan demi menghindari tiga wanita yang selalu mendesaknya agar dipertemukan **Latisha**.
"Hah, saya juga lelah beralasan. Sebenarnya situasi di lantai sepuluh sangat kacau. Para tahanan terus saja membuat masalah dan kami tidak bisa membawa tahanan kelas bahaya kemari."
"Tapi kamu tahu, kan, jika **Latisha** tidak akan membuat masalah seperti kabur atau sebagainya. Dia pasti akan tenang jika ingin menemui kami," kata **Agniya**.
**Akta** setuju pada perkataan itu. **Latisha** malah sangat senang jika bertemu tiga gurunya. "Benar, tapi masalahnya tidak ada waktu bagi **Latisha** untuk menemui kalian. Lantai sepuluh itu... sekarang berada di dalam kendali **Latisha**. Jika dia tidak ada di sana, situasinya akan runyam."
"Aku benar-benar tidak mengerti maksud bocah ini!" **Shena** memukul pintu, membuat **Akta** yang berada di luar terkejut.
"Lantai sepuluh punya peraturan baru, di mana yang terkuat adalah aturannya. Semacam penguasa di antara para tahanan dan karena itu dia tidak boleh sembarangan meninggalkan lantai sepuluh. Kekosongan kekuasaan bukan hal yang bagus. Kalian mengerti?"
"Jadi maksudmu... **Latisha** yang terkuat di sana?"
**Akta** mengangguk. "Benar."