Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Peduli
Kalimat Ezra siang tadi benar-benar mengusik pikiran Gallelio sampai saat ini. Di satu sisi, semua ucapan adiknya itu adalah kebenaran yang tidak bisa ia bantah. Namun di sisi lain, ada rasa tidak terima saat Ezra memintanya melepaskan Aurin.
Sebuah rasa asing yang membuat dada Gallelio terasa semakin sesak setiap kali mengingat kalimat itu.
Gallelio menyangkal semuanya. Yang jelas menurutnya, Aurin akan tetap berada di sisinya karena gadis itu sendiri yang masuk ke kehidupannya sejak awal.
"Saya tidak akan melepaskannya begitu saja," gumamnya pelan. "Karena saya masih harus membuatnya menderita."
Kalimat itu terdengar dingin. Sangat dingin.
Namun entah kenapa, bahkan dirinya sendiri tidak benar-benar percaya dengan alasan yang baru saja keluar dari mulutnya.
Gallelio kembali meneguk kopi di gelasnya. Gelas ketujuh setelah ia menghabiskan beberapa gelas sebelumnya. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam, tetapi pria itu masih belum berniat pulang dari ruang kerjanya.
Tatapannya kosong lurus ke arah jendela kantor itu. Di luar sudah sangat gelap.
Jedarrr!
Kilatan petir disertai suara hujan deras yang menghantam kaca mendadak membuat Gallelio tersentak. Untuk sesaat, ingatannya kembali pada malam pertama saat ia bertemu Aurin di jalanan gelap itu.
Gadis kecil dengan tubuh gemetar. Meringkuk ketakutan setiap kali suara petir terdengar.
Dan detik berikutnya, wajah Gallelio langsung berubah. "Shit... dia takut petir?" gumamnya pelan mengambil kesimpulan sendiri.
Pria itu langsung bangkit berdiri. Jasnya disambar cepat dari sandaran kursi sebelum ia keluar terburu-buru dari ruangan tersebut.
Dalam perjalanan panjang di tengah hujan malam, mobil Gallelio melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang basah dan berkilau oleh air hujan. Pikirannya benar-benar tidak bisa lepas dari Aurin dan Geanetta yang ia tinggalkan sendirian di rumah sejak siang tadi.
.
.
"Mami... Anet lapar," ujar Anet pelan, mengguncang baju Aurin yang berada di balik selimut.
Namun Aurin tidak menjawab. Gadis itu seperti tidak mendengar apa pun, bahkan tidak bergerak sejak tadi, padahal sejak siang mereka berdua belum makan karena dikurung di dalam kamar itu.
"Mami... Mami..." panggil Anet lagi, kali ini membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Aurin.
Mata bulat gadis kecil itu membelalak. Tubuh Aurin meringkuk begitu erat di atas kasur. Bibirnya pucat bergetar, sementara kedua tangannya mencengkeram bantal guling yang menutupi seluruh kepalanya seolah sedang berusaha menghilang dari sesuatu yang sangat menakutkan.
"Mami..." suara Anet mulai bergetar. "Mami kenapa? Apa yang terjadi?" tanyanya panik.
Geanetta langsung memeluk tubuh itu, mengguncangnya pelan berkali-kali berharap Aurin sadar dan tenang karena keberadaannya. Namun semuanya sia-sia. Tubuh gadis itu justru semakin gemetar setiap kali suara petir terdengar dari luar.
"Papi... buka pintunya! Buka!!"
Anet turun dari ranjang dengan tergesa. Setelah kembali menyelimuti tubuh Aurin, gadis kecil itu berlari ke arah pintu lalu menggedornya dengan kedua tangan mungilnya. Tangisnya pecah begitu keras dan memilukan di tengah suara hujan malam.
Sebuah mobil mewah melaju membelah jalanan malam itu. Di balik kemudi, seorang pria bertubuh tegap mengemudi dengan tenang. Di sampingnya duduk perempuan cantik dengan senyum hangat, memangku seorang gadis kecil yang terus bercerita tanpa henti.
Papa Dipta dan Mama Kanaya, orang tua Aurin, bersama Aurin kecil yang berusia sekitar tujuh tahun. Malam itu mereka baru pulang dari acara makan malam keluarga salah satu relasi bisnis. Suasana di dalam mobil terasa hangat, dipenuhi tawa kecil dan obrolan sederhana yang membuat Aurin kecil enggan tertidur.
Namun semuanya berubah saat hujan turun semakin deras. Kabut mulai menutupi jalanan. Kilatan petir menyambar langit berkali-kali hingga membuat mobil itu beberapa kali berhenti di pinggir jalan.
"Ayo jalan lagi, sepertinya hujan tidak akan berhenti," ujar Papa Dipta akhirnya kembali menjalankan mobil.
Aurin kecil langsung memeluk tubuh mamanya lebih erat.
Di atas kasur, tubuh Aurin ikut semakin meringkuk. Jemarinya mencengkeram bantal hingga memutih.
Jedarrr!!
Suara petir yang menggelegar membuat tubuh gadis itu kembali bergetar hebat. Hujan malam ini menyeretnya kembali ke malam itu.
"Papa... aku takut..."
"Tidak apa-apa, sayang. Sebentar lagi kita sampai."
Kalimat terakhir. Kalimat terakhir yang Aurin dengar sebelum semuanya berubah.
Brakkk!!!
Tubuh Aurin menegang. Suara benturan keras itu kembali memenuhi kepalanya. Mobil yang dikemudikan Papa Dipta ditabrak dari arah berlawanan oleh kendaraan lain yang melaju terlalu cepat di tengah hujan deras. Semuanya terjadi begitu cepat. Jeritan. Suara kaca pecah. Tubuh Mama Kanaya yang langsung memeluk Aurin kecil erat-erat, melindunginya tanpa peduli tubuhnya sendiri dihantam keras dari depan.
"Papa..."
"Mama..."
"Bangun! Aurin takut!!"
Tangisan Aurin kecil pecah histeris saat melihat darah memenuhi wajah kedua orang tuanya. Mobil itu hancur. Lampu jalan terlihat samar di balik hujan dan kabut. Dan setelah itu... gelap.
*****
Brak!
Pintu kamar terbuka kasar dari luar. Gallelio masuk dengan napas memburu, wajahnya tegang setelah mendengar tangisan Geanetta dari luar tadi. Langkah pria itu terhenti saat melihat putrinya berlutut di dekat pintu sambil menangis.
"Papi... papi tolong Mami..." isak Geanetta memohon sambil menarik celana ayahnya panik. Tangannya menunjuk ke arah ranjang.
Tatapan Gallelio langsung beralih ke sana. Tubuh Aurin masih meringkuk gelisah di atas kasur. Gadis itu terus meracau pelan memanggil Papa dan Mamanya dengan suara gemetar yang membuat dada Gallelio terasa sesak tanpa alasan jelas.
Pria itu segera mendekat.
"Aurin..." panggilnya rendah sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh gadis itu.
Tangannya bergerak cepat melepaskan bantal guling yang menutupi kepala Aurin. Saat melihat wajah pucat dengan air mata yang terus mengalir dari mata terpejam itu, rahang Gallelio langsung mengeras.
Ia naik ke atas ranjang tanpa sadar. Memperhatikan lebih dekat bagaimana tubuh kecil itu bergetar hebat. Bagaimana bibir pucatnya terus meracau ketakutan seperti seseorang yang sedang tenggelam dalam mimpi buruk yang tidak bisa ia hentikan sendiri.
Ingatan Gallelio mendadak kembali pada malam saat pertama kali menemukan Aurin di jalan. Gadis itu juga gemetar seperti ini. Sendirian. Rapuh.
Dan entah kenapa, melihat keadaan Aurin sekarang membuat sesuatu di dalam dada Gallelio terasa semakin tidak nyaman.
"Aku di sini..." ujarnya pelan.
Suara dingin pria itu benar-benar runtuh. Gallelio ikut berbaring di atas kasur, lalu menarik tubuh Aurin ke dalam dekapannya, mengusap punggung gadis itu, dan membiarkan Aurin mencengkeram kemejanya erat di tengah ketakutan yang masih menguasainya.
Setelah napas Aurin mulai tenang di dalam dekapannya, dan suara hujan di luar perlahan mereda, Gallelio melepaskan pelukannya dengan hati-hati. Sangat hati-hati, seperti takut sedikit gerakannya akan kembali membangunkan ketakutan gadis itu.
Pria itu menarik selimut hingga menutupi tubuh Aurin dengan rapi, lalu menatap wajah pucat tersebut beberapa saat dalam diam.
Tidak ada kata-kata.
Namun rahangnya mengeras samar, sementara dadanya dipenuhi rasa bersalah yang sejak tadi tidak bisa ia jelaskan.
Gallelio kemudian duduk di sisi ranjang. Kedua sikunya bertumpu di lutut, tangannya saling bertaut sambil menunduk sebentar. Sebuah rasa bersalah yang nyata, apalagi saat matanya menangkap Geanetta yang masih duduk di lantai.
Gadis kecil itu diam sejak tadi. Wajah mungilnya penuh ketakutan dan kebingungan, menunggu keadaan Aurin membaik tanpa benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Tidur."
Suara Gallelio terdengar berat dan kaku saat akhirnya bicara. Bahkan hanya untuk memberi perintah sederhana pada putrinya sendiri terasa asing baginya.
Geanetta mendongak pelan. Tatapannya ragu-ragu, ingin memastikan ayahnya benar-benar sedang berbicara padanya.
"Lapar..." cicit gadis itu lirih. Nyaris seperti bisikan kecil yang takut dimarahi.
Tatapan Gallelio berubah. Pria itu terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya langsung berdiri dan keluar dari kamar tanpa mengatakan apa pun lagi.
Anet hanya menatap nanar punggung ayahnya yang menjauh. Tangannya mengusap pelan perut kecilnya yang kosong, lalu gadis itu kembali naik ke atas kasur dan duduk diam di dekat Aurin.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar kembali terbuka.
Gallelio masuk sambil membawa nampan makanan di tangannya. Aroma sup hangat langsung memenuhi kamar yang sejak tadi terasa dingin dan pengap oleh hujan.
"Makan sekarang," ujarnya singkat, masih dengan nada kaku yang sama.
Geanetta langsung menoleh cepat, sedikit tidak percaya ayahnya benar-benar kembali membawakan makanan untuknya. Namun gadis kecil itu tidak banyak bicara. Ia segera mendekat lalu mulai makan dengan lahap karena memang sejak siang menahan lapar.
Sedangkan Gallelio kembali duduk di sisi ranjang.
Tatapannya tanpa sadar terus mengarah pada Geanetta. Bagaimana gadis kecil itu meniup sendoknya pelan sebelum makan. Bagaimana pipinya sedikit menggembung saat mengunyah terlalu cepat. Dan bagaimana sesekali anak itu melirik takut-takut ke arah Aurin yang masih tertidur.
Entah kenapa, mungkin ini untuk kali pertamanya sejak Geanetta lahir, Gallelio benar-benar memperhatikan putrinya lebih dekat. Dan malam itu, di tengah kamar yang remang dengan sisa hujan di luar sana, sesuatu yang selama ini membeku di dalam dirinya perlahan mulai retak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...