Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Aula utama Mansion Mahendra kini terasa seperti pengadilan umum di mana hakimnya adalah para sosialita yang haus akan skandal. Narasi "anak panti asuhan yang tidak tahu berterima kasih" yang dibangun Nyonya Siska telah meracuni udara. Melihat momentum itu, Clarissa menyadari bahwa inilah saatnya ia melakukan serangan penghancuran terakhir untuk mengunci simpati publik selamanya.
Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh drama, Clarissa melepaskan pegangannya pada gaun ibunya. Ia melangkah maju, terseok-seok seolah kakinya sudah tidak kuat menahan beban kesedihan. Di tengah aula, tepat di depan Adelard, Clarissa menjatuhkan dirinya ke lantai.
*Brukk.*
Suara lutut Clarissa yang menghantam marmer terdengar jelas di tengah kesunyian. Ia berlutut di depan Adel, menundukkan kepala hingga rambut indahnya menutupi wajahnya yang sembap.
"Adel..." suara Clarissa terdengar parau, tercekik oleh isak tangis yang tertahan. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf."
Adel mundur satu langkah, matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Apa yang kau lakukan, Clarissa? Bangunlah."
"Tidak, biarkan aku seperti ini," isak Clarissa semakin keras. Ia mendongak, menatap Adel dengan mata yang memerah dan basah, sebuah tatapan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun yang tidak tahu betapa busuk hatinya. "Aku baru sadar... betapa menderitanya kau selama ini. Aku mengerti sekarang kenapa kau begitu marah. Kau merasa dunia ini tidak adil, bukan? Kau adalah darah asli Mahendra, tapi aku yang menikmati semua kemewahan ini selama tujuh belas tahun."
"Clarissa, hentikan sandiwara ini," desis Adel dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
Namun Clarissa justru semakin menaikkan volume suaranya agar tertangkap oleh mikrofon yang masih menyala di dekat podium. "Aku rela menyerahkan semuanya, Adel! Jika kau ingin kamar itu, ambil. Jika kau ingin perhiasan ini, ambillah! Aku akan pergi dari rumah ini malam ini juga. Aku akan kembali ke panti asuhan tempatmu dulu tinggal. Aku rela hidup susah, asalkan kau berhenti membenci Ayah dan Ibu. Tolong, jangan paksa mereka memilih antara aku dan kau."
Siska menutup mulutnya dengan tangan, terisak melihat "pengorbanan" putri kesayangannya. "Oh, Clarissa... anakku yang malang."
Para tamu undangan mulai berbisik dengan nada yang sangat menyudutkan Adel.
"Lihatlah, Clarissa sampai berlutut meminta maaf, padahal dia juga korban."
"Adel benar-benar haus kekuasaan. Dia ingin mengusir saudaranya sendiri demi harta."
"Gadis itu tidak punya perasaan sama sekali. Lihat wajahnya, tetap dingin meski kakaknya sudah memohon-mohon."
Clarissa merangkak sedikit lebih dekat, mencoba memegang tangan Adel, namun Adel segera menarik tangannya dengan jijik.
"Jangan sentuh aku," ucap Adel tajam.
"Adel, kumohon..." Clarissa meratap, air matanya membasahi lantai marmer. "Mungkin kau merasa posisiku sebagai anak tunggal selama ini adalah pencurian terhadap hakmu. Aku minta maaf karena aku 'tidak sengaja' mengambil tempatmu. Tapi apakah kau harus sekejam ini? Apakah kau harus mempermalukan Ayah di depan seluruh kolega bisnisnya hanya untuk membuktikan bahwa kau adalah 'pemenang'?"
"Aku tidak ingin menjadi pemenang, Clarissa. Aku hanya ingin kebenaran yang tidak kau tutupi dengan pisau!" balas Adel, suaranya mulai naik karena rasa frustrasi yang memuncak.
"Pisau itu..." Clarissa menggelengkan kepalanya dengan histeris. "Aku hanya sangat ketakutan! Kau terus-menerus mengancamku di sekolah, kau bilang kau akan membuatku menjadi gelandangan! Aku kehilangan akal sehatku karena aku tidak sanggup kehilangan orang tuaku! Aku lebih baik mati daripada harus melihat Ayah dan Ibu membenciku karena statusku!"
"Kau dengar itu, Hendra?!" Siska berteriak dari atas podium, menunjuk ke arah Adel yang berdiri kaku. "Anakmu yang 'pintar' ini telah menyiksa batin Clarissa sampai dia ingin bunuh diri! Dia menggunakan fakta DNA itu untuk meneror Clarissa setiap hari! Dia benar-benar monster yang haus kekuasaan!"
Tuan Mahendra melangkah turun dari podium, mendekati Adel dengan wajah yang dipenuhi amarah yang meluap. "Cukup, Adelard! Clarissa sudah berlutut di kakimu! Dia sudah menawarkan untuk pergi! Apa lagi yang kau inginkan? Kau ingin aku sujud di depanmu juga agar kau puas telah menghancurkan martabat keluargaku?"
"Ayah... Ayah tidak lihat bahwa ini semua hanya akting?" Adel menatap ayahnya dengan mata yang kini mulai basah karena rasa pedih yang luar biasa. "Dia mencoba membunuhku beberapa jam yang lalu!"
"Dia melakukannya karena kau yang memulainya dengan ancaman-ancamanmu!" bentak Tuan Mahendra. "Berhentilah bersikap seolah-olah kau adalah korban yang suci. Kau datang ke sini dengan agenda untuk merebut perusahaan, bukan untuk menjadi seorang putri. Sikapmu yang tidak berperasaan ini membuktikan bahwa kau memang tidak pantas menyandang nama Mahendra!"
Clarissa menatap Adel dari posisi berlututnya, dan untuk sepersekian detik, saat orang lain tidak melihat, ia menarik sudut bibirnya—sebuah seringai kemenangan yang sangat tipis sebelum ia kembali menundukkan kepala dan terisak.
"Hadirin..." Clarissa bicara dengan suara yang lemah namun jelas. "Aku memohon pada kalian semua... jangan benci Adel. Dia hanya... dia hanya belum terbiasa dengan cinta. Lingkungan panti asuhannya mungkin membuatnya berpikir bahwa segala sesuatu harus direbut dengan paksa. Aku memaafkannya... aku memaafkan setiap hinaannya padaku, asalkan Ayah tetap menganggapnya sebagai putri."
"Kau terlalu baik, Clarissa!" teriak salah satu tamu undangan. "Anak seperti itu tidak pantas dimaafkan!"
Adel memandang sekeliling aula. Ratusan pasang mata menatapnya dengan rasa jijik. Ia melihat para wartawan yang kini sibuk menulis judul berita: *“Putri Kandung Mahendra yang Haus Kekuasaan Menindas Saudara Angkatnya.”*
"Luar biasa," bisik Adel sambil tertawa getir. Suaranya terdengar hampa. "Kalian semua benar-benar hebat. Clarissa, aku akui... aktingmu jauh lebih mahal daripada gaun yang kau kenakan."
"Adel, kumohon jangan seperti itu lagi..." ratap Clarissa, masih dalam posisi berlutut. "Ambillah takhta ini jika itu yang kau mau. Aku akan pergi sekarang juga. Aku akan pergi hanya dengan baju yang kupakai."
Siska langsung berlari turun dan memeluk Clarissa di lantai. "Tidak! Tidak ada yang pergi! Ibu tidak akan membiarkan mutiara Ibu pergi hanya karena tekanan dari orang yang penuh dendam ini!"
Siska menoleh pada Adel dengan tatapan yang seolah-olah ingin membunuhnya. "Lihat apa yang kau lakukan, Adelard! Kau membuat adikmu yang sudah hancur ini merasa harus pergi dari rumahnya sendiri! Kau benar-benar gadis tanpa perasaan! Tidak punya hati! Kau hanya peduli pada posisi, kekuasaan, dan harta!"
Adel menatap ayahnya, berharap ada satu pembelaan, namun Tuan Mahendra justru memalingkan muka, sibuk menenangkan para investor yang mulai mendekat. Di titik ini, Adel menyadari bahwa di mata semua orang, Clarissa adalah korban yang rela berkorban, sementara ia adalah predator yang kejam.
Sandiwara Clarissa telah berhasil. Ia tidak hanya mempertahankan posisinya, tapi ia juga telah berhasil membuat seluruh dunia membenci pemilik sah dari darah yang ia curi selama tujuh belas tahun.