NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas dan Rahasia Terlarang

Pintu Presidential Suite di lantai empat puluh membuka dengan suara klik lembut yang memecah keheningan seolah menjadi penghukuman terakhir bagi Aara. Sensasi aneh menghunjam telinganya, membawa getaran yang membuat tubuhnya sedikit menegang. Begitu ia menginjakkan kaki ke dalam ruangan, aroma sandalwood yang hangat berpadu dengan jejak maskulinitas yang tajam langsung membanjiri indra penciumannya, seakan menegaskan kekuasaan yang bersemayam di tempat itu. Ruangan tersebut memancarkan keanggunan dan kemewahan yang tak terbantahkan; dinding kaca yang menjulang hingga ke langit-langit menghadirkan panorama luar biasa lampu-lampu kota bersinar di bawah sana, menyusun kilauan gemerlap seperti hamparan permata yang mengintip dari balik bayang-bayang.

Tanpa ragu, Aara bergerak dengan ketenangan yang terlihat mendebarkan, penuh perhitungan namun tetap memancarkan keakraban bohemian seorang wanita penghibur malam. Langkah-langkah kaki kecilnya mengarahkan tubuh ramping itu menuju sudut ruangan di mana bar pribadi berdiri anggun, menyambut. Dengan gerakan ringan seperti embusan angin, ia menyingkirkan sepatu hak tinggi dari kakinya, membiarkannya tergeletak tanpa perhatian lebih di atas karpet Persia berharga mahal—sebuah simbol ketidakteraturan yang disengaja untuk memperkokoh penguasaan aktingnya. Disandingkan dengan sikapnya yang santai dan acuh, ia menegaskan aura pemberontakan yang lihai menggiring kesan bahwa dirinya hanyalah sosok ceroboh yang tak peduli.

Ia berhenti sejenak untuk mencairkan suasana dengan menggumamkan kalimat yang penuh sindiran halus, hampir terdengar seperti bisikan kepada ruangan itu sendiri. “Begitu memikat... tampaknya dunia barang-barang terlarang memang menawarkan hasil yang sangat menggiurkan, bukan begitu, Sayang?” Dengan gerakan anggun, ia menuangkan segelas sampanye dari salah satu botol termahal yang tersusun di sana. Bibirnya menyesap cairan berbuih itu perlahan sebelum melanjutkan niatnya, matanya memancarkan gairah dingin dari dalam diri yang menyelimuti setiap sudut ruangan.

Pandangannya mulai menyisir sisi demi sisi interior suite mewah tersebut sebelum berhenti pada meja kerja pusat rencananya. Meja kayu kokoh yang memiliki aura otoritas itu berdiri mantap di sudut ruangan, dilengkapi dengan laptop terenkripsi dan kemungkinan besar seluruh dokumen penting, termasuk manifes pengiriman barang ilegal untuk minggu mendatang. Ada tujuan di setiap langkah ringan Aara saat ia mendekati meja, seolah melayang tanpa suara di atas karpet mahal di bawahnya.

Ketegangan terasa meningkat ketika jarinya nyaris menyentuh laci meja itu, seolah mendekati sebuah detonator diiringi irama detik-detik penentu. Namun sebelum rencana bisa sepenuhnya berjalan mulus, sebuah suara berat bergetar memenuhi udara, mengguncangkan ruang angkasa kecil yang selama beberapa saat terasa milik eksklusifnya. Suara bariton yang dalam dan bergema muncul tanpa peringatan seperti lonceng akhir pada penggalan waktu penuh kepalsuan, langsung mencekam hatinya dengan rasa takut dan kewaspadaan yang tiba-tiba menyengat tak terkira.

"Kau sangat tidak sabar, Cherry. Mencari minuman, atau mencari sesuatu yang bukan milikmu?"

Kenzo Arkana berdiri di ambang pintu kamar tidur. Ia telah melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam yang kini digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan tato yang tampak lebih mengancam di bawah pencahayaan redup.

Aara berputar dengan cepat, memasang senyum paling centil yang ia miliki. Ia memegang gelas sampanyenya dengan dua tangan, bersandar pada meja kerja itu dengan gaya yang sangat provokatif sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya.

"Astaga, Kenzo! Kau mengejutkanku," Aara mengerucutkan bibirnya, berjalan mendekat ke arah Kenzo dengan langkah yang sedikit sempoyongan, akting mabuk yang sempurna. "Aku hanya sedang mengagumi seleramu. Meja ini... sangat kokoh. Sama seperti pemiliknya, bukan?"

Ia sampai di depan Kenzo dan langsung melingkarkan satu tangannya di pinggang pria itu, sementara tangan lainnya memainkan kancing kemeja Kenzo yang masih tersisa.

"Kenapa kau lama sekali? Aku hampir mati bosan menunggumu," bisik Aara, mendongak dengan tatapan mata yang sayu dan penuh damba. Ia menggesekkan hidungnya ke leher Kenzo, menghirup aroma pria itu yang memabukkan sekaligus berbahaya.

Kenzo tidak bergerak. Ia membiarkan Aara melakukan sesukanya, namun matanya tetap dingin. "Aku punya urusan yang harus diselesaikan. Urusan yang akan membuat wanita sepertimu menangis ketakutan jika mendengarnya."

Aara tertawa renyah, sebuah tawa yang dibuat-buat namun terdengar sangat manis. "Oh, benarkah? Aku suka pria berbahaya. Itu membuat darahku berdesir." Ia menarik dasi Kenzo yang sudah longgar, memaksa pria itu untuk sedikit menunduk. "Lupakan soal bisnis. Malam ini, kau hanya milikku."

Aara mulai mencium rahang Kenzo, bergerak perlahan menuju telinganya. Sambil melakukan itu, jarinya yang lihai mencoba merasakan apakah ada kunci atau perangkat kecil di saku celana Kenzo.

"Kau sangat berisik," gumam Kenzo. Tiba-tiba, ia mengangkat Aara dan mendudukkannya di atas meja kerja yang tadi ingin digeledah Aara.

Bunyi barang-barang di atas meja yang bergeser membuat Aara sedikit terlonjak. Kenzo mengurung tubuh Aara dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja, mengunci wanita itu di tempatnya.

"Katakan padaku, Cherry... siapa yang mengirimmu?" tanya Kenzo rendah, matanya berkilat penuh intimidasi.

Aara terdiam sejenak, jantungnya berdegup kencang, namun ia segera mengganti ketegangannya dengan tawa manja. "Siapa yang mengirimku? Tentu saja rasa hausku akan kemewahan! Kau adalah orang terkaya dan paling berkuasa yang pernah kutemui. Menurutmu siapa lagi?"

Aara menarik kerah kemeja Kenzo, memaksa pria itu mendekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. "Jangan terlalu curiga, Sayang. Itu akan memberimu kerutan di wajah tampanmu."

Aara kemudian mencium Kenzo dengan penuh tuntutan sebuah ciuman yang dirancang untuk mengalihkan perhatian sepenuhnya. Ia menggunakan lidahnya dengan lincah, mencoba meruntuhkan pertahanan pria yang konon "anti-wanita" ini. Ia merasa tangan Kenzo merayap ke pinggangnya, meremasnya dengan kasar.

Berhasil, pikir Aara di balik ciumannya. Pria tetaplah pria.

Namun, di tengah ciuman panas itu, Kenzo tiba-tiba menarik diri dan tersenyum miring sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Aara berdiri.

"Akting yang bagus," bisik Kenzo tepat di depan bibir Aara. "Tapi lain kali, pastikan kau tidak memakai parfum yang sama dengan agen lapangan yang mencoba meledakkan gudangku dua tahun lalu. *Black Opium dengan sentuhan antiseptik... aroma khas agen FBA."

Darah Aara serasa membeku. Namun sebelum ia sempat bereaksi, Kenzo sudah mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke atas meja.

"Sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik gaun cantik ini, Agen Cherry," desis Kenzo dengan nada yang sangat mematikan.

Aara menyadari satu hal: permainan kucing dan tikus ini baru saja berubah menjadi perang terbuka, dan ia berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan. Di bawah tatapan dingin sang monster, Aara harus memutuskan apakah ia akan tetap pada perannya sebagai wanita penghibur yang tak berdaya, atau menunjukkan taringnya sebagai pemangsa yang sebenarnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!