Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Peti Rahasia dan Mesin Dua Dunia
Beberapa jam telah berlalu sejak mereka memutuskan untuk beristirahat di Perpustakaan Kuno. Energi mereka kini terisi kembali, tetapi pikiran Aura masih dipenuhi dengan kegelisahan. Meskipun ia telah membaca puluhan judul dan mengambil gambar ratusan halaman, tidak ada satu pun yang secara eksplisit menyebutkan Pangeran Asaarmata atau memberikan petunjuk konkret tentang mengapa makam ini begitu tersembunyi.
“Aku harus akui, ini perpustakaan yang aneh,” komentar Jack, menyampirkan tas ranselnya yang terasa lebih ringan. “Banyak puisi, banyak filosofi. Tapi tidak ada ‘Diari Harian Raja’ atau ‘Rencana Perang Asaarmata’.”
Mereka kembali menyusuri lorong yang sama, berjalan melewati rak-rak buku yang menjulang tinggi. Bau kertas tua dan tinta masih menusuk hidung mereka. Bagi Falix dan Jack, ruangan ini adalah tempat yang membosankan. Bagi Aura, ini adalah perpustakaan yang gagal memenuhi janjinya.
“Tidak ada yang menarik, sungguh,” keluh Aura, menyentuh sampul buku terakhir sebelum mereka mencapai pintu keluar. “Hanya ilmu pengetahuan yang terlalu umum dan kebijaksanaan yang terlalu idealis untuk seorang raja yang dijuluki ‘bodoh’.”
Mereka akhirnya meninggalkan perpustakaan, memasuki lorong batu yang sempit dan gelap, jauh lebih kusam daripada lorong harta karun sebelumnya. Obor Jack memancarkan cahaya oranye yang bergetar.
Kemudian, cahaya obor itu menyentuh sesuatu yang berkilauan di kejauhan. Kilauan itu bukan kilauan kaca atau batu basah ini adalah kilauan logam mulia.
Saat mereka mendekat, pandangan mereka terbentur pada pemandangan yang membuat napas mereka tercekat. Lorong di depan mereka dipenuhi, bahkan hampir tersumbat, oleh gundukan raksasa.
Emas. Koin-koin kuno bertumpuk seperti bukit kecil. Berlian sebesar ibu jari berkilauan memantulkan cahaya obor. Permata merah delima dan biru safir tertanam di antara tumpukan kepingan giok hijau pucat, tongkat upacara berlapis perak, dan artefak berharga lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Itu adalah penimbunan kekayaan yang gila, mungkin seluruh hasil penjarahan atau pajak puluhan tahun.
“Ya Tuhan…” Falix berbisik, matanya berkaca-kaca. Ia berlutut secara otomatis, tangannya gemetar, seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat menuju lautan emas itu. “Kekayaan sebanyak ini… Aku tidak pernah membayangkan…”
Bahkan Aura, yang fokusnya selalu pada informasi, merasakan tarikan yang kuat. Rasa serakah yang asing menyentuh hatinya. Ia membayangkan bagaimana semua kekayaan ini bisa mengubah hidupnya, hidup keluarganya. Bagaimana ia bisa mendanai semua penelitiannya tanpa batas.
Ia melangkah maju, tangannya hampir menyentuh tumpukan koin perak yang dingin.
“Aura!” seru Kieran, suaranya tajam, memutus hipnosis kekayaan itu.
Aura tersentak, menarik tangannya mundur seolah koin itu adalah api. Ia menggelengkan kepalanya, menghalau bisikan serakah.
“Aku tahu,” katanya, suaranya kembali datar dan tegas. “Ini bukan milik kita. Ini adalah jebakan.”
Jack, yang terlihat menahan diri dengan susah payah, segera mengangguk. “Itu benar. Ini terlalu banyak, terlalu mudah. Ini ujian, sebuah godaan.”
“Tetapi…” Falix masih berjuang, air mata putus asa membasahi pipinya. “Kita hanya perlu mengambil satu permata saja, Jack. Hanya satu! Itu sudah cukup untuk seumur hidup!”
“Jika kita mengambil satu permata, kita akan kehilangan nyawa kita, Falix,” potong Kieran, berdiri tegak dan menghalangi pandangan Falix ke tumpukan emas. “Kita ada di sini untuk mengungkap makam pusat. Abaikan godaan ini.”
Dengan langkah yang berat, yang terasa seperti berjalan di air, mereka melewati gundukan kekayaan itu. Setiap langkah menjauh adalah kemenangan atas naluri manusiawi mereka. Kekayaan itu ditinggalkan, ditinggalkan dalam gelap, sebuah ujian yang berhasil mereka lalui.
Tak lama setelah melewati gundukan harta karun, lorong itu berakhir di sebuah pintu ganda kayu yang diukir dengan relief bunga teratai. Pintu itu terbuka tanpa perlawanan, memperlihatkan sebuah ruangan yang terasa sangat berbeda dari makam dan perpustakaan sebelumnya.
Ini adalah sebuah kamar, terasa seperti tempat tinggal pribadi. Atmosfernya lebih hangat, tidak sedingin dan sesunyi ruang pemakaman.
“Kamar pribadi?” bisik Jack, bingung. “Apakah Raja Asaarmata dimakamkan bersama kamar tidurnya?”
Di tengah ruangan berdiri sebuah ranjang besar terbuat dari kayu mahoni gelap, tampak kokoh meskipun telah berusia ratusan tahun. Di dinding terdapat permadani mahal yang telah pudar. Namun, hal yang paling menarik perhatian adalah potret besar yang tergantung di atas ranjang.
Potret itu adalah Raja Asaarmata bersama dengan istrinya. Raja Asaarmata memiliki mata yang tajam dan wajah yang bijaksana. Di sebelahnya, sang Ratu terlihat cantik dan anggun. Kulitnya berwarna kecoklatan sawo, kontras dengan gaun sutra berwarna keemasan yang ia kenakan. Wajah sang Ratu memancarkan ketenangan yang mendalam.
Aura mendekati potret itu, mengambil beberapa gambar dari sudut berbeda. “Mereka terlihat… bahagia. Bukan seperti gambaran sejarah tentang raja yang bodoh.”
Di sudut ruangan terdapat lemari tinggi dari kayu jati yang dihiasi ukiran naga-naga kecil yang meliuk. Aura, didorong oleh instingnya, segera mendekati dan membukanya.
Lemari itu kosong, kecuali rak bagian bawah. Di sana, tertata rapi, ada tiga peti kayu kecil yang diukir dengan detail yang indah dan berbeda-beda. Mereka semua tampak usang, tetapi disegel dengan hati-hati.
“Tiga peti,” gumam Kieran, melangkah maju. “Ini pasti sesuatu yang penting, sesuatu yang tidak boleh disentuh orang lain.”
Aura mengulurkan tangan. Ia memilih peti yang berada di tengah. Peti itu memiliki ukiran lambang yang samar-samar mirip dengan yang ia lihat di luar makam. Dengan hati-hati, ia menarik peti itu keluar dan meletakkannya di atas meja rias terdekat.
Falix segera mendekat, rasa serakahnya kembali, meskipun kali ini lebih pada rasa penasaran. “Apa isinya, Aura? Emas lagi? Perhiasan Ratu?”
“Aku tidak tahu,” jawab Aura jujur, tangannya gemetar saat ia menyentuh kunci kecil yang sudah berkarat.
Setelah beberapa saat mencoba, peti itu terbuka tanpa bunyi klik yang mencurigakan, tanpa jebakan gas beracun, atau jarum tersembunyi. Di dalamnya, tidak ada perhiasan atau emas. Hanya ada satu gulungan kertas usang yang telah menguning dimakan waktu, diikat dengan pita sutra yang rapuh.
Aura mengambilnya dengan hati-hati, seolah-olah kertas itu akan hancur menjadi debu jika ia terlalu kasar. Ia membuka gulungan itu.
Bukan tulisan tangan. Itu adalah gambar, sebuah rancangan teknis yang sangat aneh dan kompleks. Garis-garis, lingkaran, dan simbol-simbol geometris yang tidak dikenalnya memenuhi gulungan itu. Di bagian tengah, ada sebuah skema mesin besar dengan banyak tuas dan kabel yang mengarah ke sebuah cermin besar.
Jack melihat rancangan itu, matanya menyipit karena bingung. “Apa-apaan ini? Apakah pada masa itu sudah ada alat modern? Mesin apa ini? Lihat, itu seperti sebuah… mesin penghubung dua dunia atau dimensi.”
Kieran dan Falix menggeleng. Ini jauh melampaui pengetahuan mereka tentang arkeologi kuno. Mereka hanya tahu pedang dan sihir, bukan fisika teoretis.
“Aku… aku pernah melihat gambar ini,” kata Aura, suaranya tercekat. Matanya melebar penuh kesadaran. “Kata hatiku bilang, gambar ini… sangat mirip dengan sketsa yang kutemukan di laboratorium bawah tanah Asaarmata, si Raja Bodoh itu. Tapi yang itu lebih sederhana.”
Didorong oleh penemuan ini, mereka beralih ke dua peti lainnya.
Falix mengambil peti kecil di sebelah kanan. Ia membukanya dengan paksa. Isinya membuat mereka semua mundur selangkah. Di atas bantalan beludru yang telah lusuh, terbaring seekor serangga yang sangat aneh. Bentuknya seperti lalat, tetapi memiliki perut yang menyerupai kalajengking, dan sepasang sayap yang tampak seperti kaca buram.
“Serangga apa itu?” Jack bergidik, merasa merinding. Bahkan anak buahnya yang paling pemberani pun merasa tidak enak badan melihat makhluk mati itu. Serangga itu memancarkan aura keganjilan yang dingin.
“Ini… pasti jenis yang ada di buku ensiklopedia di perpustakaan tadi,” gumam Aura, mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar serangga yang menakutkan itu. “Mungkin ini bukan hanya ensiklopedia, tapi catatan spesimen penting.”
Kieran, tanpa terpengaruh oleh serangga yang mengerikan itu, membuka peti terakhir di sebelah kiri. Peti itu juga berisi sebuah buku, tetapi sampulnya jauh lebih sederhana: sebuah buku harian bersampul kulit biasa.
Kieran membuka buku itu dan mulai membaca dengan suara rendah, yang lain berkumpul mengelilinginya.
Isi di halaman pertama segera mengejutkan mereka semua.
“Hari ke-21 perjalanan. Aroma laut sudah hilang dari ingatan. Aku telah memasuki wilayah baru, di mana sihir dan pengetahuan kuno bercampur dalam diam. Ayahku, Raja Armaan Ash, selalu berpesan, ‘Kebenaran selalu tertulis di balik kebohongan terbesar.’ Aku harus menemukan makam itu dan membuktikan kebenarannya.”
Kieran mendongak, matanya penuh emosi yang beragam terkejut, ingin tahu, dan sedikit takut.
“Tunggu… Raja Armaan Ash?” ulang Jack, menelan ludah. “Itu ayah dari Raja Asaarmata, bukan? Raja yang bijaksana, Raja yang agung… Jadi, ini adalah diari Asaarmata sendiri?”
“Dan dia sedang dalam perjalanan mencari ‘makam’… makam siapa?” tanya Falix, nadanya kini dipenuhi ketegangan.
Aura menunjuk ke lembaran diari itu. “Lihat. Dia menuliskan berbagai hal yang dia ketahui tentang ayahnya. Ini… ini adalah petunjuk sejarah yang kita cari! Petunjuk dari Asaarmata sendiri!”
Mereka segera membungkuk, mendengarkan Kieran yang terus membaca lembar demi lembar, mengungkap suara hati Raja Asaarmata yang tidak pernah tertulis dalam buku sejarah manapun. Rahasia di balik julukan ‘Raja Bodoh’, hubungan antara makam ini dan rancangan mesin dua dunia, serta kebenaran tentang ayahnya, Raja Armaan Ash semuanya terkunci di dalam buku harian yang usang ini.
Ini bukan sekadar penemuan arkeologis. Ini adalah kunci untuk membuka tabir sejarah yang telah disembunyikan selama berabad-abad.