Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Aduh!" pekik Nadine begitu Arga mendekati ia seolah-olah menjadi wanita yang teraniaya. "Mas, aku didorong si gendut!"
Arga menatap Nadine dan Kartini dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tentu malu kepada tamu karena ulah dua wanita itu acara makan malam menjadi kacau.
"Itu tidak benar bos, saya refleks menahan nyeri karena kaki saya diinjak Nadine, ketika saya tarik kencang dia jatuh," Kartini menjelaskan sebelum Arga menyalahkan dirinya.
"Itu bohong!' bantah Nadine cukup keras, dalam posisi duduk di lantai keramik berharap Arga segera membangunkan dirinya. Gaun malam mewahnya yang berwarna merah menyala terlihat berantakan, membuatnya tampak sangat konyol di tengah kerumunan.
Menjadi tontonan beberapa tamu yang berdiri di dekatnya. Suasana yang tadinya ramai seketika menjadi hening sejenak. Wajah Nadine merah padam, karena amarah dan rasa dipermalukan oleh Kartini di depan umum.
"Bapak Ibu dan semua, maaf, ini hanya salah paham. Biar saya yang tangani tolong lanjut makan," Arga membubarkan kerumunan walau masih ada juga beberapa yang tetap menonton karena penasaran.
Kartini yang masih memegang piring menahan tawa. Walau kejadian jatuhnya Nadine tidak ia sengaja tapi seperti ada kekuatan lain yang membantu hingga sakit hatinya atas hinaan Nadine terbayar sudah. Bukannya balas dendam tapi wanita seperti Nadine harus diberi pelajaran agar tidak seenaknya kepada orang lain. Namun demikian, Kartini bukan wanita jahat justru mengulurkan tangan hendak membantu Nadine berdiri.
Plak!
Tangan Kartini justru ditepis kencang hingga terdengar nyaring.
"Jangan sok menjadi wanita baik. Kamu sengaja Kan?!" bentak Nadine menatap tajam ke arah Kartini, tangannya meraba punggungnya yang baru saja terbentur kursi.
Kartini tidak lagi menjawab mencoba menenangkan diri. Ketika hendak kembali ke tujuan awal, muncul Ibu Hana diikuti Prabu suaminya.
"Ada apa Kartini?" Tanya Hana lembut.
"Emmm... Non Nadine salah paham Nyonya, tapi masalahnya sudah selesai," jawab Kartini menutupi padahal tatapan mata Nadine seperti menghujam. Tini tidak memanggil Ibu seperti biasanya karena tidak ingin statusnya diketahui orang lain.
Ibu Hana memandangi Nadine, kemudian beralih ke wajah Arga dengan tatapan tajam.
Melihat ekspresi ibunya, Arga menunduk, tapi tangannya ditarik menjauh oleh Hana. "Arga, jadi selama ini kamu masih berhubungan dengan Nadine? Dan menduakan Kartini?!" Tandas bu Hana. Wanita paruh baya itu kecewa, ternyata Arga bukan hanya menyakiti Kartini tapi juga tidak mendengarkan keluarga.
Arga hendak menjawab sesuatu tapi Prabu angkat bicara. "Arga, sebaiknya Nadine kamu suruh pulang sebelum Kakek kamu melihatnya."
"Iya, Yah."
Tidak ada bantahan, Arga mendekati Nadine hendak membantunya berdiri. Tapi kekasihnya itu sudah terlanjur kecewa. Dia awalnya tidak mau dibantu Aknes berdiri, tapi saat ini menerimanya.
Nadine membersihkan bokongnya setelah berdiri sambil menatap Kartini penuh dendam. "Lihat saja nanti," geramnya memandangi tubuh Kartini yang sedang ambil makanan dari belakang.
"Nadine," Arga akhirnya mengait tangan Nadine mengajaknya ke tempat yang jauh dari tamu.
"Bodo, kamu kejam!" Nadine merajuk. "Kamu lihat kondisi aku begini tapi diam saja!" Ketus Nadine melengos cepat.
"Pelankan suara kamu Din," Arga menarik napas dalam-dalam, mengatur emosinya untuk tidak menimpali Nadine dengan keras pula dan akhirnya bertengkar.
"Biar saja, semua orang tahu. Hup!" Nadine seketika diam ketika mulutnya dibungkam Arga dengan telapak tangan.
"Sebaiknya kamu pulang ya, nanti selesai acara aku datang ke rumah kamu, ada yang ingin aku bicarakan," lirih Arga khawatir didengar orang lain.
"Kamu mengusir aku Mas?!" Nadine tidak percaya jika Arga akan tega menyuruhnya pergi, padahal berharap Arga merayunya dan mengajak makan malam bersama.
"Mbak, tolong ajak Nadine pulang dulu ya," titah Arga kepada Aknes yang belum pernah Arga kenal.
"Baik, Bang," Aknes mengangguk lalu mengait tangan sahabatnya.
Arga memandangi Nadine yang menoleh ke arahnya. Agak terpaksa juga Nadine pergi karena tangannya ditarik-tarik oleh Aknes. Begitu agak jauh Nadine tampak memperbaiki gaun yang ia pakai.
Arga sebenarnya tidak tega tapi terpaksa ia lakukan. Jika sampai kakek mendengar keributan ini tentu akan syok.
Arga balik badan hendak kembali ke tempat duduknya, tapi dalam perjalanan Kenzo tertawa meledek.
"Diam loe!" Arga mendelik gusar.
"Abang... Abang! Gue heran sama loe, cari cewek model mak lampir," Kenzo tertawa lagi.
"Diam! Jangan menilai orang lain sebelum loe ngaca, apakah lebih baik dari Nadine?!" Arga pun meninggalkan Kenzo, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia tahu, perang belum berakhir, jika malam nanti bertemu Nadine sudah bisa dipastikan marahnya meledak-ledak.
Arga memindai sekeliling tempat duduknya tampak sepi, tentu saja keluarganya tengah bergabung dengan para tamu makan malam bersama. Hanya tinggal dua orang yang tengah berbincang-bincang akrab. Mereka adalah Kartini bersama Kakek. Arga bingung, padahal baru beberapa menit Kartini berselisih dengan Nadine, tapi di hadapan kakek seolah tidak ada masalah.
Tiba di tempat itu, Arga melihat Kartini sedang menemani kakek makan, tapi entah mengapa kali ini Kartini tidak kalap ketika melihat menu Catering yang bermacam-macam. Memilih makan nasi tumpeng pemberiannya.
"Kamu ambil lauk, tumben makan begitu aja," ucap Arga duduk di kursi semula. Kartini sebenarnya ingin tahu tentang Nadine tapi tidak sekarang karena ada kakek.
"Halah, Bos bicara begitu hanya ingin mentertawakan saya di depan orang banyak kan?" Tanya Kartini manyun.
Kakek terkekeh. Pria itu tampak bahagia ketika Kartini dan Arga saling lempar kata tapi terdengar lucu.
Tidak ada jawaban dari Arga yang sudah duduk tapi tidak fokus mungkin masih memikirkan Nadine.
"Bos nggak makan?" Kartini pun tanya serius menoleh ke kanan, tapi Arga hanya menggeleng saja. Kartini lanjut menyendok nasi tumpeng.
"Kakek... ini apa?" Kartini terkejut, seketika mengangkat sendok menunjukkan kepada kakek. Tampak benda melingkar panjang nyangkut di sendok.
"Jorok sekali, jangan dimakan," kakek hanya menggeleng. "Anak buah kamu pesan Catering di mana Arga?" Kakek kesal karena menurutnya Catering itu jorok sampai ada benda sebesar itu di makanan.
"Tidak jauh dari kantor Kek, kenapa?" Arga yang awalnya bengong pun kaget mendengar kakeknya marah.
"Tunggu-tunggu Kek," Kartini meletakkan piring di pangkuan, karena ada yang aneh memeriksa seksama. Dia ambil tisue lalu membersihkan nasi kuning yang menempel pada benda tersebut.
"Wah, ini mah kalung emas, berikut liontin Kek," Kartini berbinar-binar menunjukkan kalung lucu dan unik.
"Kok aneh," kakek memperhatikan kalung itu menyipit.
"Bos, kalung ini pasti milik karyawan Catering yang jatuh, sebaiknya dikembalikan saja," Kartini memberikan kepada Arga.
Namun, Arga hanya menatap kosong ke arah para tamu yang tengah menikmati hidangan. Arga masih memikirkan Nadine yang seharusnya saat ini makan bersama mereka.
Plak!
"Gembul! Duh. Tanganmu itu seperti besi barbel tahu tidak," Arga mengusap pangkal lengannya ketika digeplak Kartini.
"Lagian diajak ngomong malah ngalamun," Kartini tidak lagi mengulangi pertanyaan, tangannya memilin kalung yang menurutnya sangat indah.
"Kartini nemu kalung di tumpeng tadi, Ar," kakek mengulangi kata-kata Kartini.
Arga kaget mendengarnya tapi tidak lama lalu menjawab. "Kartini kan yang nemu Kek, berarti rezeki dia. Sebaiknya ambil saja, Tin," jawab Arga santai.
"Nggak mau bos, menemukan barang milik orang lain itu harus dikembalikan, bayangkan saja jika kita yang kehilangan."
"Aku tahu kalung emas itu milik siapa," kata Kenzo yang baru tiba sudah selesai makan.
"Punya siapa Tuan?" Kartini tidak sabar.
Kenzo membisikkan sesuatu hanya Kartini yang mendengar. Gadis itu mengernyit tidak percaya. "Masak sih?"
"Sudah-sudah, lupakan kalung itu. Kakek ada kejutan untuk kalian," Kakek mengeluarkan sesuatu dari saku baju.
"Arga, maafkan Kakek karena Kartini selalu sibuk mengurus aku. Minggu depan waktunya kalian berangkat bulan madu ke luar negeri," kakek memberikan tiket.
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭