Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Malam itu, pulau kecil di tengah sungai yang terpencil terasa seperti lembah rodi penderitaan yang nyata bagi Laura dan Amelia. Raga mereka terdampar dan jiwa mereka tercekik, dengan duka yang menggunung dan ketakutan yang mencengkram. Di hadapan mereka, terbaring dua sosok kaku, jenazah Roni dan Ariana, sahabat-sahabat mereka yang kini hanya tinggal nama. Mata mereka hampa, pikiran mereka kalut, mencerna kengerian yang telah terjadi.
Kejadiannya masih segar dalam ingatan mereka, sebuah fragmen horor yang terulang-ulang dalam benak. Kegilaan telah merenggut Roni dan Ariana. Jatuhnya kesadaran dan lalu memuncak menjadi tragedi berdarah.
Kini, kegelapan telah menelan segalanya. Hanya nyala unggun yang bergoyang-goyang, berkedip-kedip, menciptakan bayangan menakutkan di sekeliling mereka. Suara sungai yang sedang pasang mengalir deras, seolah menjadi lagu duka untuk kematian yang keji ini. Laura dan Amelia hanya bisa berpelukan erat, tubuh mereka menggigil, bukan hanya karena dinginnya malam, tapi juga karena kengerian yang tak terperi.
Laura duduk mematung, pandangannya terpaku pada kedua jenazah yang tergeletak tak bernyawa. Di tengah kesunyian mencekam yang hanya dipecah oleh dengung serangga malam dan gemerisik daun yang diterpa angin sepoi, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Sebuah anomali yang tak bisa dijelaskan oleh logika setengah.
Dari sudut matanya, Laura menangkap pergerakan samar. Bukan dari pohon yang bergoyang atau hewan yang melintas, melainkan dari udara itu sendiri. Sebuah gumpalan hitam pekat, seperti asap cair yang terlepas dari kegelapan, perlahan muncul dari balik pepohonan di dekat jasad Roni. Gumpalan itu mulanya tipis, nyaris transparan, namun dengan setiap detik yang berlalu, ia semakin memadat, semakin pekat, mengambil bentuk yang lebih substansial.
Itu bukan asap, bukan kabut. Ia bergerak dengan kesadarannya sendiri, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Gumpalan hitam itu mulai berputar perlahan, membentuk pusaran gelap yang bergerak mengitari jenazah Roni, lalu perlahan merambat ke jenazah Ariana. Putarannya lambat, namun ritmis, seperti tarian kematian yang angker. Setiap partikel kegelapan di dalamnya tampak berputar, menari, membelit kedua tubuh yang terbujur kaku itu.
Laura merasakan jantungnya berdetak kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Napasnya tercekat di tenggorokan, paru-parunya menolak untuk menghirup udara. Ia mencoba berteriak, memanggil Amelia, namun suaranya hanya berupa desisan lemah yang tertahan. Seluruh tubuhnya menegang, otot-ototnya kaku karena teror yang begitu mendalam.
Di sebelahnya, Amelia juga telah menyaksikannya. Mata Amelia terbelalak lebar, memandang bayangan hitam yang berputar itu. Dengan gerakan spontan, Amelia mengangkat tangannya yang dingin dan bergetar, lalu menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha mati-matian menahan pekikan ketakutan yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Bola matanya bergerak cepat, mengikuti setiap putaran bayangan itu, seolah takut jika ia mengalihkan pandangan barang sedetik saja, bayangan itu akan meloncat dan menyelimuti mereka.
Mereka berdua bisa merasakan aura dingin yang menyeruak, bukan dinginnya angin malam, melainkan dingin yang menusuk tulang, dingin yang berasal dari kedalaman bumi, dari alam kematian itu sendiri. Hawa mistis yang begitu pekat menyelimuti mereka, membuat bulu kuduk mereka berdiri tegak, merinding hebat. Rasanya seperti ada tangan-tangan tak terlihat yang merayap di kulit, mengirimkan sensasi geli dan takut yang merinding. Atmosfer di sekitar mereka menjadi berat, udara terasa sesak, seolah semua oksigen telah dihisap habis oleh kehadiran entitas gelap itu. Bayangan yang berputar itu tidak hanya mengamati, tetapi juga menyelimuti, menyerap, atau mungkin...? Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi satu hal yang pasti: kehadiran itu adalah sesuatu yang jahat, sesuatu yang bukan berasal dari dunia mereka.
Tak lama kemudian, bayangan hitam itu menghilang dalam hitungan detik, bayangan hitam pekat itu benar-benar lenyap. Tidak ada sisa, tidak ada jejak, seolah ia tidak pernah ada.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap memecah keheningan, mengusir bisikan-bisikan halus yang sebelumnya mengisi telinga mereka. Suaranya berat, lambat, dan ritmis, seperti kain tebal yang dihempaskan berulang kali di udara. Laura dan Amelia sontak mengangkat kepala, mata mereka mencari-cari sumber suara di antara kegelapan malam.
Dari sela-sela dedaunan yang rimbun di atas, sebuah siluet besar mulai tampak. Bentuknya menyerupai makhluk bersayap raksasa, melayang rendah di atas kepala mereka, menghalangi cahaya rembulan yang samar. Siluet itu bergerak lambat, seolah sedang mengintai, mengamati. Jantung Laura kembali berdegup, firasat buruk menyelimuti benaknya. Ia tahu, intuisi mengerikan mengatakan bahwa makhluk itu bukan pertanda baik.
Siluet itu kemudian meluncur turun, mendarat dengan bunyi hentakan yang berat tak jauh dari lokasi kedua jenazah. Kegelapan samar-samar menyibak, memperlihatkan bentuknya yang sesungguhnya. Burung bangkai! Seekor burung bangkai berukuran raksasa, dengan bulu hitam legam dan leher botak yang mengerikan. Matanya merah menyala, tajam, memancarkan nafsu makan yang buas, dan paruhnya yang besar, bengkok, terlihat sangat kokoh dan mematikan.
Ia melangkah perlahan, setiap gerakannya indah namun penuh ancaman. Setiap pijakannya menghasilkan suara gesekan cakar di tanah, membuat bulu kuduk Laura dan Amelia berdiri. Burung itu tampak tak terburu-buru, seolah yakin mangsanya tidak akan lari. Ia mengendus udara, kepala botaknya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, mengonfirmasi bau anyir kematian yang memanggilnya. Langkahnya semakin mendekat ke arah jasad Roni dan Ariana. Paruhnya yang tajam dan bengkok itu sudah terbuka sedikit, seolah siap untuk merobek dan mengoyak.
Laura tak bisa tinggal diam. Melihat pemandangan mengerikan itu, dorongan naluriah untuk melindungi sisa-sisa kehormatan sahabat-sahabatnya mengalahkan rasa takut yang selama ini membekapnya.
"Tidak!" jerit Laura, suaranya pecah, tercekat oleh amarah dan keputusasaan yang meluap. Jeritan itu menggema di keheningan malam, menarik perhatian burung bangkai yang seketika menghentikan langkahnya. Matanya yang merah menyala kini menatap Laura dengan tatapan mengancam.
Tanpa berpikir panjang, Laura meraih sebatang kayu lapuk yang tergeletak tak jauh darinya. Kayu itu cukup panjang dan berat, ujungnya sedikit runcing. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang entah datang dari mana, Laura menerjang maju. Ia berteriak histeris, meluapkan segala emosi yang terpendam, dan mengayunkan kayu itu tinggi-tinggi ke arah burung bangkai.
Burung itu terkejut, tidak menyangka akan ada perlawanan. Dengan kepakan sayap yang kuat, menciptakan embusan angin yang menusuk, ia melompat mundur, menghindari ayunan kayu Laura. Sebuah lengkingan tajam keluar dari paruhnya, lengkingan kemarahan karena mangsanya diganggu. Dengan sekali lagi mengepakkan sayapnya lebar-lebar, burung itu melayang ke udara, menghilang ditelan kegelapan malam, hanya menyisakan suara kepakan sayap yang perlahan menjauh.
Laura terhuyung sebab tubuhnya lemas tak bertenaga. Ia menjatuhkan kayu itu, lututnya ambruk ke tanah. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat membanjiri dahinya. Ia berhasil mengusir burung itu, tetapi kemenangan itu terasa hampa. Ketakutannya tidak kunjung hilang. Justru, pemandangan burung bangkai itu semakin memperjelas betapa rapuhnya posisi mereka di pulau ini, betapa mereka hanyalah mangsa yang menunggu waktu untuk disantap oleh alam dan makhluk-makhluknya yang buas.