NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

“Ularnya gede banget… gede parah…” gumam Bang Zain. Mukanya campur aduk antara takut dan excited.

“Jelasin lebih detail!” bentak Kapten Andi memotong.

Bang Zain tarik napas dalam-dalam buat tenangin diri. “Badannya setebal pinggang saya, perutnya bengkak parah sampe kayak nggak bisa gerak. Dia lagi tidur miring di lereng bukit, keliatan kayak batang pohon gede.”

“Oh iya!” Bang Zain tiba-tiba inget lagi. “Itu mirip ular tikus raja!”

Semua muka langsung muram.

“Yakin nggak salah liat?” tanya Kapten Andi ragu.

“Yakin banget! saya pernah nangkep yang gini dulu,” jawab Bang Zain kesel.

Budi tahu betul ular tikus raja. Waktu kecil di kampung sama orang tua, sering liat. Panjangnya biasa 2–3 meter, tebalnya segede lengan orang dewasa. Mustahil bisa segede yang digambarin Bang Zain.

Tapi Budi agak lega. Lawan hewan nggak beracun lebih gampang daripada yang beracun.

“Kita cuma punya satu kesempatan. Ular yang kekenyangan nggak bakal nyerang. Selama kita nggak provokasi, kita bisa lewat aman. Terus kita tarik senjata, tembak kepalanya, lalu kabur. Paham?” tanya Kapten Andi serius.

“Paham!”

“Semua cek senjata lagi. Bang Zain, kasih pistolnya Mas Aji ke Budi. Kamu bisa pake kan? Safety-nya mati, tinggal tarik pelatuk aja!” perintah Kapten Andi setelah mikir bentar. Lebih aman kalau lebih banyak yang bawa senjata. Soal Mas Aji, biarin aja dia rebahan di situ dulu. Angkat dia sekarang cuma bakal bangunin ular.

Budi pegang pistol di tangan. Pertama kali megang senjata api. Mungkin karena situasi tegang, dia nggak excited kayak yang dibayangin. Dia cek senjata kayak yang lain. Pistol Mas Aji masih full isi dia nggak nembak sepanjang jalan.

“Yah… ayo sekarang!” kata Kapten Andi dengan suara berat setelah ragu sebentar.

Tiba-tiba jantung Budi berdegup kenceng. Kakinya kayak melayang. Dia ngerasa powerless banget. Tapi anehnya, dia tetep ikut tim maju. Dia nggak paling belakang diikuti rapet sama Mbak Jeni yang pegang ujung kemeja Budi. Tangan Mbak Jeni gemetar, Budi bisa ngerasain getarannya.

Budi sadar dia nggak seberani yang dikira. Pas takutnya udah melewati batas, emosi cuma takut doang. Kalau hewan lain mungkin dia lebih berani. Tapi sejak SD waktu temen iseng taro ular air di punggungnya, dia trauma sama hewan berdarah dingin.

Bau amis ikan busuk samar-samar tercium dari lereng bukit. Menjijikkan.

Mereka semua lewatin Mas Aji yang masih rebahan, lalu pelan-pelan melambat.

“Mulai sekarang diem. Cuma liat isyarat tangan aku sebelum gerak!” bisik Kapten Andi pelan. Lalu dia nyebrang lereng bukit sambil melambai tangan. Bang Zain ikut tanpa ragu.

Budi tarik napas dalam, ikut maju. Begitu naik lereng, dia langsung liat ular raksasa yang rebahan di sana.

Meski udah siap mental, tulang punggungnya langsung dingin pas liat beneran.

Ular itu panjangnya lebih dari 10 meter, badannya gede dihiasi sisik mengkilap kayak logam. Budi ragu peluru bisa nembus sisik itu. Sisiknya memantul sinar matahari, bikin lingkaran cahaya pelangi. Perutnya bengkak parah, seluruh badannya kayak pohon raksasa. Makhluk yang bisa bikin orang takut dari jauh aja.

Daerah sekitar sepi banget. Napas berat rombongan jadi satu-satunya suara.

Di zaman modern damai kayak sekarang, hampir nggak ada orang yang bisa tenang liat makhluk gini. Pendidikan bikin orang pintar, tapi badan lemah. Bikin banyak orang bijak, tapi kurang pemberani. Siapa pun yang bisa tahan nggak jerit di situasi gini, pasti punya mental kuat.

Kapten Andi nengok mereka, kasih isyarat ikut, lalu mulai merayap ke arah kepala ular.

Tim pelan-pelan keliling badannya, berhenti di jarak 3–4 meter dari kepala.

Mata ular yang kuning keemasan dingin kayak es nggak gerak, pupilnya agak melebar. Kayak lagi tidur. Budi perhatiin garis hitam di atas kepalanya bentuk simbol khas beneran ular tikus raja.

Seluruh badannya keluarin aura mengerikan yang bisa bekuin darah.

Jantung Budi berdegup kenceng luar biasa. Dia pindahin pistol ke tangan kanan, pegang parang di kiri. Napasnya ditarik dalam-dalam. Mukanya pucet kayak mayat.

Mbak Jeni di belakangnya lebih parah lagi. Badannya kayak jeli, pegang lengan Budi lebih erat, badan lembutnya nempel rapet. Budi nggak sempet nikmatin sensasi dada Mbak Jeni yang kenyal. Mukanya malah tambah gelap.

Dia mikir mungkin mati gara-gara cewek ini pas mulai tembak dan ular ngamuk.

Kapten Andi kasih isyarat serang, arahin pistol ke mata ular.

Budi berjuang sedikit, tapi Mbak Jeni pegang lebih erat. Kecemasan bikin matanya buram, tapi dia tetep arahin pistol ke kepala ular.

Waktu kayak berhenti. Tiap detik terasa tahunan keringat netes ke dahi semua orang, jatuh ke tanah jadi kristal kecil.

“Tembak!”

Hampir bareng, tiga pistol nembak peluru panas satu demi satu. Jarak deket gini nggak mungkin meleset. Bahkan Budi yang baru pertama kali pegang pistol, kena sasaran.

Darh muncrt dari kepala ular raksasa. Mata ambernya meledak, lubang berdrah dalam terbentuk. Ular yang lagi tidur nggak nyangka kena serangan gini.

Sakit bikin dia bangun mendadak, angkat kepala gede. Gerakannya kilat, bayangannya aja yang keliatan. Gerakannya bikin angin kenceng tiba-tiba.

Tapi gerakan itu cuma sebentar kepalanya langsung jatuh lagi ke tanah. Ular sekarat menggeliat keras, mulut terbuka lebar sambil mendesis.

Peluru nggak cuma ngehancurin mata, tapi juga nembus otak. Ular kuat, nggak mati gampang.

Dia hancurkan apa aja di sekitar, ekornya ayun cepet bikin suara sonik. Pohon-pohon di deketnya patah, puing dan pasir beterbangan kayak peluru, bikin titik merah kecil di kulit mereka pas kena.

Budi tarik Mbak Jeni yang masih nggak mau lepas, lari mati-matian ke arah hutan lebat. Dari kejauhan terdengar jeritan ketakutan dia nggak kenal suara siapa.

Dia ngumpat dalam hati. Mbak Jeni jadi beban. Dengan kecepatannya, dia udah aman sekarang. Ada dorongan buat ninggalin dia.

Suara tembakan kayak kembang api terus meledak dari belakang, angin menderu bikin mereka bayangin mati mendadak.

Dia seret Mbak Jeni, energi cepet habis setelah lari pendek. Paru-parunya terbakar, nggak kuat lari lagi. Pas liat pohon besar di depan, dia lari pake sisa tenaga terakhir. Sampai di belakang pohon, sandarkan badan keras ke batangnya, kaki gemetar.

Mbak Jeni nggak puas, malah peluk pinggng Budi lebih erat. Badnnya mulai menggigil.

Budi udah nggak ada tenaga, biarin aja dipeluk.

Dia tutup mata, ngerasain denyut kehidupan di badnnya. Mungkin karena hampir mti, tiba-tiba dia ngerasa pengen hidup banget.

Waktu berlalu, gerakan di sekitar mulai reda.

Budi dorong Mbak Jeni pelan, pengen keluar liat-liat.

“Jangan. Kki aku masih lemes!” Mbak Jeni sembunyiin kepala di dda Budi, peluk lebih erat.

“Duduk aja di sini. Aku liat dulu. Kalau ularnya mati, kita bisa pergi!”

“Oke…” Mbak Jeni lepas pelukan, badannya goyang dan jatuh ke tanah.

Budi ulurin tangan bantu. Dia belum pulih tenaga, akhirnya ikut ditarik jatuh.

Mereka tatap muka, deket banget sampe bisa c1um bau npas satu sama lain. Jantung mereka berdegup kencang. Budi secara naluri pengen berdiri, tapi pas inget hampir mati gara-gara dia, tiba-tiba marah.

Dia mungkin masih hidup, tapi nggak bakal lepasin gitu aja. Dia liat bbir manisnya yang lembut, lalu c1um dendam.

Dia nggak bisa prediksi reaksinya.

Mbak Jeni berontak sebentar, lalu balas c1uman dengan lebih l1ar. Kayak percikan api jatuh ke kayu kering, c1uman itu langsung nggak terkendali.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!