NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Hari Tanpa Kepastian

Suasana yang tadinya ceria kini berubah menjadi sunyi yang menekan. Cassie menatap piring steak-nya yang tadi terlihat sangat menggoda, namun sekarang selera makannya hilang tak berbekas.

Ia terus menatap ke arah pintu tempat Liam dan Ethan menghilang beberapa saat lalu.

​"Dia akan baik-baik saja, kan?" tanya Cassie pelan, suaranya terdengar bergetar karena cemas.

​Jino, yang biasanya tidak bisa berhenti bercanda, kini memasang ekspresi yang lebih tenang. Ia menyesap minumannya, lalu menaruh gelasnya dengan pelan di meja.

​"Cassie, hey, lihat aku," ujar Jino, mencoba menarik perhatian gadis itu. "Ini bukan pertama kalinya Liam berurusan dengan polisi. Percayalah, pemandangan seperti tadi itu sudah menjadi hal biasa buat dia selama bertahun-tahun."

​"Tapi Ethan terlihat sangat serius kali ini," sahut Cassie lagi.

"Tapi Liam itu lebih cerdik dari yang kau bayangkan. Dia tidak akan masuk ke kandang singa tanpa membawa kunci keluarnya. Surat itu cuma formalitas. Ethan hanya ingin menunjukkan kalau dia masih punya taring, apalagi di depanmu."

​Marco mengangguk singkat, menyetujui ucapan Jino.

"Liam tahu cara menjaga dirinya sendiri, Cassie. Dia tidak akan membiarkan dirinya tertangkap semudah itu, apalagi sekarang dia punya alasan kuat untuk pulang dengan selamat."

​"Alasan kuat?" Cassie mengerutkan dahi.

​"Kau," jawab Marco pendek namun tegas.

​Jino menyambung sambil memotong sisa steak di piringnya,

"Benar. Dulu mungkin dia tidak peduli jika harus menginap satu atau dua malam di sel penjara hanya untuk adu urat saraf dengan Ethan. Tapi sekarang? Dia pasti akan melakukan segala cara agar bisa segera kembali ke sini dan memastikan kau tidak menangis karena memikirkannya."

​Jino kemudian mendorong piring kecil berisi hidangan penutup ke arah Cassie. "Makanlah cokelatnya. Liam akan marah kalau dia kembali dan mendapati berat badan kekasihnya turun satu ons hanya karena khawatir. Serahkan urusan polisi itu pada si Bos Besar, tugasmu sekarang adalah menghabiskan makanan mahal ini agar uang Liam tidak terbuang sia-sia."

​Cassie menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Meskipun ucapan Jino dan Marco sedikit menenangkannya, ia tetap tidak bisa menghilangkan rasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di pelabuhan sampai Ethan harus turun tangan secara pribadi?

***

Hari pertama Cassie masih mencoba tenang.

Hari kedua mulai terasa aneh.

Hari ketiga… rumah itu terasa terlalu sunyi.

Tidak ada suara pintu terbuka larut malam. Tidak ada langkah kaki berat Liam di tangga. Bahkan Jino yang biasanya ribut juga tidak muncul. Marco pun menghilang tanpa kabar. Ponsel Cassie tetap sepi, hanya pesan singkat dari nomor Liam di malam pertama.

Jangan khawatir.

Sejak itu, tidak ada lagi.

Cassie mencoba menyibukkan diri. Membersihkan dapur yang sebenarnya sudah bersih. Melipat pakaian yang tidak perlu dilipat ulang. Membuka buku kuliah tapi tidak membaca satu halaman pun.

Tidak ada yang datang.

Menjelang sore di hari ketiga, kegelisahan itu akhirnya menang. Cassie mengambil jaketnya dan keluar rumah. Ia tidak benar-benar tahu apa yang ingin ia lakukan, hanya tahu bahwa duduk menunggu membuat pikirannya semakin buruk.

Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke kantor polisi.

Ia tidak langsung masuk. Cassie berdiri beberapa menit di seberang jalan, memperhatikan orang-orang keluar masuk gedung itu. Bagian dari dirinya merasa bersalah. Tapi bagian lain hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja.

Ethan menemukannya lebih dulu.

“Cassie?”

Cassie menoleh, sedikit terkejut. Ethan berjalan mendekat dengan ekspresi yang sama seperti dulu. Hangat, tenang, seolah dunia selalu berada dalam kendali.

“Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini,” katanya lembut. “Kau baik-baik saja?”

Cassie mengangguk kecil. “Aku cuma… kebetulan lewat.”

Ethan tidak langsung menanggapi. Ia terlalu terbiasa membaca orang untuk percaya pada kebetulan seperti itu. Tapi ia tidak menekan.

Mereka duduk di bangku kecil di dekat taman depan kantor polisi. Angin sore berembus dingin, membawa bau hujan yang belum turun.

“Aku cuma ingin tahu… apakah dia baik-baik saja?”

Ethan menghela napas pelan, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati.

“Kasus seperti ini biasanya tidak sederhana, Cassie. Ada prosedur yang harus dijalani.”

Ethan menatap lurus ke depan, bukan ke arah Cassie. Nada suaranya tenang, hampir seperti seseorang yang sedang memberi nasihat.

“Kadang, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membiarkan proses berjalan. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cepat, bahkan oleh polisi.”

Cassie menggigit bibirnya pelan. “Jadi… kau tidak bisa melakukan apa-apa?”

Ethan menggeleng. “Bukan tidak mau. Tapi ini bukan wilayahku. Dan kalau aku ikut campur terlalu jauh, justru bisa memperburuk situasinya.”

Kalimatnya terdengar bijak dan masuk akal. Membuat Cassie sedikit lebih tenang, meskipun rasa kosong itu masih ada.

Ethan menoleh padanya sekarang, ekspresinya melembut. “Tapi aku mengerti kenapa kau khawatir.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi… aku bisa mencoba bicara dengan beberapa orang. Menggunakan koneksi yang kumiliki. Setidaknya untuk memastikan Liam tidak diperlakukan tidak adil.”

Cassie mengangkat kepala, sedikit terkejut. “Kau mau melakukan itu?”

Ethan tersenyum kecil. “Aku tidak suka melihat orang yang kukenal berada dalam masalah. Apalagi kalau itu membuatmu cemas.”

Lalu Ethan berdiri, merapikan jaketnya. “Temui aku nanti malam. Ada beberapa hal yang mungkin bisa kuberitahukan setelah aku mencari tahu lebih jauh.”

Cassie ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk.

“Baik.”

Ethan tersenyum lagi, hangat seperti biasa. “Jangan terlalu khawatir dulu.”

Saat Cassie berjalan pergi, langkahnya sedikit lebih ringan. Ia masih percaya Ethan adalah orang baik yang mencoba membantu.

Namun yang tidak ia sadari, dari balik jendela lantai dua kantor polisi, seseorang memperhatikan mereka berbicara cukup lama.

Dan senyum Ethan perlahan menghilang begitu Cassie tidak lagi melihatnya.

***

Setelah sampai di rumah yang terasa begitu luas dan mencekam tanpa suara tawa Jino atau langkah kaki Liam, Cassie terduduk lemas di meja makan. Keheningan itu pecah saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

​"Cassie, ini Jino. Maaf kami belum bisa pulang, sepertinya butuh waktu untuk membereskan kekacauan ini. Liam titip pesan: dia minta maaf karena tidak bisa menjemput atau menemanimu sementara waktu. Dia memintamu jangan terlalu khawatir, dia pasti bisa menyelesaikan semuanya. Tetaplah di rumah dan jaga dirimu."

​Cassie segera menekan tombol panggil ke nomor tersebut dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang, berharap setidaknya bisa mendengar suara Jino atau jika beruntung, suara Liam.

Namun, operator hanya menjawab dengan nada datar bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif.

"Apa Liam tahu betapa menakutkannya menunggu tanpa kepastian di sini?"

​Pandangan Cassie beralih pada kartu nama yang diberikan Ethan di atas meja.

Pesan Liam menyuruhnya jangan khawatir, tapi bagaimana mungkin dia tidak khawatir saat semua orang yang dia kenal seolah ditahan di balik jeruji?

​Hati Cassie bimbang. Di satu sisi, dia tahu harga diri Liam sangat tinggi. Liam pasti akan sangat marah, mungkin benar-benar mengamuk, jika tahu kekasihnya meminta bantuan pada Ethan.

Tapi di sisi lain, Cassie tidak tahan hanya menjadi mahasiswi yang menerima beres. Dia tidak ingin menjadi beban yang hanya bisa bersembunyi di balik punggung Liam saat badai datang. Dia ingin menjadi orang yang ikut menarik Liam keluar dari kegelapan.

​"Maafkan aku, Liam. Tapi aku tidak bisa hanya diam saja," gumamnya.

​Cassie memutuskan untuk pergi. Sebagai bentuk keberanian atau mungkin rasa bersalah yang tidak ia sadari, ia sengaja meletakkan kartu nama alamat restoran yang diberikan Ethan di atas meja maka. Jika Liam pulang sebelum dia, dia ingin Liam tahu ke mana dia pergi.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!