Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Keadilan Pedang Berat
Angin di Alun-Alun Puncak Utama seolah berhenti berhembus. Puluhan ribu pasang mata menatap tak percaya pada pemandangan di tengah arena yang telah hancur lebur.
Tetua Bai, seorang ahli agung di puncak Ranah Inti Emas, berdiri dengan napas tersengal. Tangan kanannya yang menggenggam pedang giok gemetar hebat, dan setetes darah segar mengalir dari sela-sela jarinya, menetes ke atas lantai Kristal Bintang.
Menahan satu ayunan dari Lin Chen ternyata membuat meridian lengan sang Tetua terluka!
"Cacing?" Wajah Tetua Bai berubah menjadi ungu karena marah dan rasa malu yang luar biasa. Di depan seluruh sekte, ia diolok-olok oleh seorang murid berbau kencur. "Bocah iblis! Kau menggunakan teknik sihir hitam untuk melukai pewaris sekte! Sebagai Tetua Penegak Aturan Inti, aku berhak mengeksekusimu di tempat!"
Tetua Bai mencari alasan. Ia tahu ia melanggar aturan dengan ikut campur, tetapi teror yang ia rasakan saat melihat siluet Sembilan Naga Primordial di belakang Lin Chen memaksanya bertindak. Jika anak ini dibiarkan hidup, faksi Puncak Teratai Es pasti akan musnah!
BOOOM!
Fluktuasi Ranah Inti Emas Tahap Puncak meledak dari tubuh Tetua Bai. Badai Qi yang sangat tajam menyapu arena, menekan Lin Chen dari segala arah. Ia berniat membunuh Lin Chen sekarang juga dengan dalih 'membersihkan sekte dari iblis'.
"Mati kau, Pengkhianat Sekte!" Tetua Bai melesat maju, pedang gioknya membelah udara dengan Niat Pedang Es yang membekukan darah.
Para penonton menjerit tertahan.
Namun, di tengah badai es yang mematikan itu, Lin Chen tidak gentar sedikit pun. Tiga ratus tetes Qi Cair Emas di dalam Dantiannya seketika mendidih, mengalirkan tenaga yang tak ada habisnya ke seluruh serat otot fisiknya.
"Mengeksekusiku? Kau tidak punya kualifikasi!"
Lin Chen mengangkat Bilah Besi Bintang Jatuh dengan kedua tangannya. Otot lengannya menonjol bagai akar pohon purba. Tanpa mundur selangkah pun, ia mengayunkan besi seberat 40 ton itu dari bawah ke atas dalam satu tebasan uppercut yang brutal.
TRANGGG! KRAAAAK!
Dua kekuatan bertabrakan. Kali ini, ledakannya jauh lebih mengerikan.
Mata Tetua Bai membelalak dipenuhi horor murni. Saat pedang giok Tingkat Surga miliknya berbenturan dengan besi hitam tumpul itu, ia merasa seperti baru saja menebas bintang jatuh yang sesungguhnya. Niat Pedang Es-nya hancur berkeping-keping.
Suara retakan nyaring terdengar. Pedang giok kebanggaan Tetua Bai retak di bagian tengahnya!
Gelombang kejut balik menghantam dada Tetua Bai. Pria tua itu memuntahkan seteguk darah dan terlempar mundur sejauh dua puluh meter, pakaiannya robek tak karuan.
"Mustahil!" jerit salah satu Tetua di tribun hingga berdiri dari kursinya. "Tetua Bai berada di puncak Inti Emas! Bagaimana dia bisa didesak mundur dalam adu kekuatan murni?!"
Lin Chen menurunkan besinya, menatap Tetua Bai yang kini berlutut dengan satu kaki sambil terbatuk darah.
"Inti Emas Tahap Puncak?" Lin Chen mencibir. "Ternyata tulang tuamu jauh lebih rapuh dari mulut besarmu."
"K-Kau... Monster!" Tetua Bai menunjuk Lin Chen dengan jari gemetar.
Lin Chen melangkah maju, mengangkat besinya kembali untuk mengakhiri nyawa Tetua busuk tersebut. Namun, sebelum ia bisa mengayunkannya, sebuah kekuatan tak kasat mata yang sangat lembut namun tak bisa ditolak tiba-tiba menyelimuti seluruh arena.
Kekuatan itu menahan Bilah Besi Bintang Jatuh milik Lin Chen di udara, membuatnya tak bisa turun meski ia mengerahkan seluruh tenaga fisiknya.
"Cukup."
Satu kata itu diucapkan dengan sangat pelan, namun terdengar jelas di kedalaman jiwa setiap orang yang hadir.
Dari atas podium kehormatan, Pemimpin Sekte Jian Wuji menghilang, dan di detik berikutnya, ia telah berdiri tepat di tengah-tengah antara Lin Chen dan Tetua Bai. Tidak ada fluktuasi Qi yang buas, namun keberadaannya seolah menyatu dengan hukum langit dan bumi.
Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)!
"Pemimpin Sekte!" Tetua Bai buru-buru bersujud. "Anak ini adalah iblis! Dia mempraktikkan seni aliran hitam dan mencoba membunuh Chu Kuangren! Tolong izinkan saya—"
"Tutup mulutmu, Bai Yunhai!"
Suara Jian Wuji seketika berubah sedingin es abadi. Ia tidak menaikkan nadanya, namun Tetua Bai merasa seolah sebuah gunung menghantam punggungnya, memaksanya menempel ke lantai arena hingga tulangnya berderit.
"Kau pikir mataku buta?" Jian Wuji menatap Tetua Bai dengan kekecewaan mendalam. "Turnamen Sekte adalah tradisi sakral berusia seribu tahun. Chu Kuangren setuju untuk bertarung, dan dia kalah dalam adu kekuatan yang adil. Kau, seorang Tetua Inti, melanggar aturan dan menyerang dari belakang untuk menyelamatkan gengsimu? Kau membuat Sekte Pedang Awan Surgawi terlihat seperti sekumpulan pecundang tak bermoral di mata dunia!"
Keringat dingin membanjiri tubuh Tetua Bai. Ia tidak berani menjawab sepatah kata pun.
Jian Wuji kemudian menoleh ke arah Lin Chen. Tatapan sang Pemimpin Sekte berubah dari penuh amarah menjadi penuh penilaian dan ketertarikan. Ia melihat besi hitam seberat 40 ton, lalu melihat fluktuasi Qi di tubuh Lin Chen yang secara luar biasa ditekan di ambang batas Bintang 8 Pengumpulan Qi, namun kepadatan energinya melampaui Inti Emas.
"Monster jenius yang tak terbayangkan..." batin Jian Wuji. Ia sadar, naga purba yang terbangun ini bernilai seratus kali lipat lebih berharga daripada Chu Kuangren.
"Lin Chen," ucap Jian Wuji dengan nada tenang. "Kau telah memenangkan pertarungan ini. Mulai detik ini, gelar Pewaris Utama Sekte dicabut dari Chu Kuangren dan diberikan padamu. Adapun Tetua Bai, sebagai hukuman karena melanggar aturan turnamen dan mencoreng nama sekte..."
Jian Wuji mengangkat jarinya dan menjentikkan seutas cahaya pedang putih ke arah Tetua Bai.
ZRAASH!
"AARGHHH!"
Tetua Bai menjerit histeris. Lengan kanannya terpotong rapi dari bahunya. Darah menyembur mewarnai lantai. Bersamaan dengan itu, cahaya pedang Jian Wuji menembus Dantian Tetua Bai, menghancurkan sepertiga Inti Emasnya secara permanen. Kultivasi Tetua Bai anjlok dari Tahap Puncak ke Tahap Awal Inti Emas, kehilangan harapan untuk maju seumur hidupnya.
"Gelar Tetuamu dicabut. Pergilah ke Tebing Pertobatan dan jangan keluar selama sepuluh tahun," titah Jian Wuji tanpa ampun.
Beberapa penjaga sekte segera berlari masuk dan menyeret Tetua Bai yang kini tampak menua dua puluh tahun lebih miskin, beserta Chu Kuangren yang masih tak sadarkan diri dalam kondisi mengenaskan.
Seluruh tribun terdiam. Keadilan telah ditegakkan dengan cara yang paling brutal, menegaskan hukum besi sekte dan posisi absolut Lin Chen yang baru.
Jian Wuji kembali menatap Lin Chen. "Apakah keputusan ini cukup memuaskan amarahmu?"
Lin Chen menurunkan besi hitamnya dan menancapkannya ke tanah. Ia menatap Jian Wuji, lalu mengangguk pelan. "Pemimpin Sekte bersikap adil. Namun, ada satu urusan sampah lagi yang harus saya bersihkan hari ini."
Lin Chen menolehkan kepalanya, matanya menyapu tribun VIP hingga terkunci pada satu sosok gadis berbaju putih yang berdiri gemetar di area Puncak Teratai Es.
Liu Meng'er.
Menyadari tatapan Lin Chen tertuju padanya, kaki Liu Meng'er kehilangan tenaga. Ia merosot jatuh ke lantai tribun. Wajah cantiknya tak lagi memiliki warna.
"Liu Meng'er," suara Lin Chen bergema, memanggil namanya untuk pertama kalinya sejak insiden pembatalan pertunangan di Kota Awan Merah. "Bukankah kau dulu bilang bahwa kita berada di dua dunia yang berbeda? Bahwa kau adalah naga yang akan terbang ke sembilan langit, sementara aku adalah cacing lumpur yang tak pantas menyentuh ujung gaunmu?"
Setiap kata yang diucapkan Lin Chen bagaikan tamparan tak terlihat yang menghantam wajah Liu Meng'er berulang kali di depan puluhan ribu pasang mata.
"Tiga pil rendahan... sebongkah emas... dan segudang penghinaan di depan ayahku," Lin Chen melangkah pelan mendekati sisi arena yang menghadap ke tribun Liu Meng'er. "Kau membuangku demi mencari 'Naga Sejati' di sekte besar ini. Lalu kau berlindung di balik ketiak Chu Kuangren dan menyuruh anjing-anjingmu untuk membunuhku."
Lin Chen mengangkat tangannya, menunjuk ke arah genangan darah tempat Chu Kuangren berlutut sebelumnya.
"Inikah naga yang kau banggakan itu? Dia berlutut dan hancur bahkan sebelum aku menggunakan seluruh kekuatanku."
Air mata penyesalan yang sangat pahit mengalir deras dari mata Liu Meng'er. Rasa sesal itu mencabik-cabik jantungnya. Ia akhirnya sadar betapa buta dan bodohnya dirinya. Ia telah membuang permata ilahi yang sesungguhnya demi memungut sepotong kaca murahan. Jika saja ia tidak membatalkan pertunangan itu, hari ini ia akan berdiri di samping pria terkuat di generasi muda benua ini.
"L-Lin Chen... A-Aku..." Liu Meng'er tergagap, suaranya pecah oleh isak tangis. Ia tidak punya kata-kata pembelaan. Rasa malunya menenggelamkan seluruh harga dirinya.
"Jangan menangis. Tangisanmu membuatku jijik," potong Lin Chen dingin, tanpa sedikit pun belas kasihan di matanya.
"Aku tidak akan membunuhmu," lanjut Lin Chen, suaranya memancarkan arogansi absolut. "Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku. Mulai hari ini, aku ingin kau hidup dengan menyadari satu fakta: setiap kali kau mendongak ke langit, kau akan melihat punggungku melangkah semakin tinggi, melampaui bintang-bintang... sementara kau akan tetap membusuk di dasar lumpur tempatmu seharusnya berada."
Pernyataan itu mengunci takdir mental Liu Meng'er. Pondasi kultivasi gadis itu hancur secara psikologis. Ia tak akan pernah bisa bermeditasi lagi tanpa bayang-bayang ketakutan dan penyesalan terhadap Lin Chen menghantui lautan kesadarannya. Ia telah menjadi cacat dari dalam.
Lin Chen berbalik. Ia meraih gagang Bilah Besi Bintang Jatuh dan menariknya keluar dari lantai arena. Ia tidak membuang pandangan lagi ke arah Liu Meng'er yang kini menangis histeris di lantai tribun layaknya orang gila.
Ia menatap Pemimpin Sekte Jian Wuji dan sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
"Turnamen ini terlalu membosankan. Jika tidak ada lagi yang ingin mencari mati, saya akan kembali ke Puncak Pedang Patah untuk tidur."
Dengan lempengan besi seberat 40 ton di pundaknya, Lin Chen berjalan perlahan membelah alun-alun, meninggalkan panggung kehancuran yang ia ciptakan. Ribuan murid secara otomatis menundukkan kepala mereka saat ia lewat, memberikan penghormatan mutlak kepada sang Raja Iblis baru dari Sekte Pedang Awan Surgawi.
Matahari bersinar terang di atas Gunung Awan Surgawi, namun semua orang tahu, era baru telah dimulai di bawah bayang-bayang pedang berat Lin Chen.