NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Saat Lorcan sedang merespons sesuatu dengan senyum tipis yang profesional, matanya menyapu ruangan dan berhenti.

Tepat pada Pearl.

Gelas di tangannya tidak jatuh, tapi Pearl bisa melihat jarinya mencengkeramnya lebih erat untuk memastikan itu. Satu detik berlalu. Dua detik. Ekspresi di wajahnya bergerak dengan cara yang ia coba kendalikan tapi tidak sepenuhnya berhasil.

Pearl menarik napas.

Ia tidak lari.

Itu saja sudah merupakan kemajuan yang tidak kecil.

Lorcan meminta izin pada lawan bicaranya dan mulai berjalan ke arahnya. Setiap langkahnya terasa seperti jarum jam yang bergerak, Pearl menghitung semuanya tanpa sengaja.

"Pearl?" Suaranya bergetar sedikit di tepinya. Hampir tidak terdengar di antara musik latar dan percakapan di sekitar mereka.

Pearl menarik napas sekali lagi.

"Tuan." jawabnya. Nada yang sopan, profesional, menjaga jarak yang tepat. "Senang melihat Anda hadir malam ini."

Sesuatu di wajah Lorcan bergerak, singkat, menyakitkan, saat mendengar panggilan formal itu.

"Kamu terlihat..." ia berhenti sebentar, "...kamu terlihat baik, Pearl. Aku mendengar tentang tokomu. Pearl's Bloom. Kabarnya sudah cukup dikenal di sini."

"Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil," jawab Pearl. "Jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan terkait katering malam ini, saya harus segera kembali."

"Pearl, tunggu."

Tangannya bergerak ke arah pergelangan tangan Pearl, tapi berhenti di udara, tidak jadi menyentuh. Ia menyadari dirinya sendiri sebelum melakukannya.

"Maaf," katanya pelan. "Aku hanya ingin bicara. Lima menit. Di balkon."

Pearl menatap matanya.

Di sana ia menemukan hal yang sama yang dilihatnya di taman setahun lalu, penyesalan yang tidak padam, tapi juga sesuatu yang berbeda. Seseorang yang sudah belajar sesuatu dengan cara yang keras, dan membawanya setiap hari sejak itu.

"Lima menit,"* kata Pearl. *"Tidak lebih."

**

Balkon itu menghadap ke cakrawala kota yang berkilau di bawah langit malam. Angin dingin bergerak di antara mereka, membawa aroma musim yang sudah bergeser.

"Aku menepati janjiku," kata Lorcan memecah keheningan. "Aku tidak datang ke apartemenmu. Tidak menghubungi. Tapi aku tidak bisa berbohong bahwa setiap hari aku memikirkan... sup kaldu itu. Dan orang yang membuatnya."

Pearl menatap lampu-lampu kota di bawah mereka.

"Sup itu sudah lama dingin, Lorcan. Dan orang yang membuatnya sudah menjadi seseorang yang berbeda." Suaranya pelan tapi jelas. "Perempuan yang kamu kurung di ruang bawah tanah itu sudah tidak ada. Dia tidak bisa kembali."

"Aku tahu," jawab Lorcan. "Aku tidak datang untuk memintanya kembali."

Ia meraih sesuatu dari saku jasnya sebuah amplop cokelat kecil dan meletakkannya di railing di antara mereka.

"Ini dokumen pelunasan semua hutang keluargamu kepada Darragh Group. Sudah dihapus dari pembukuan. Dan ini--" ia menunjuk bagian lain dari amplop itu, "Kepemilikan penuh atas semua biaya perawatan ibumu dipindahkan atas namamu. Tidak ada lagi keterikatan. Tidak ada lagi alasan untuk merasa berhutang."

Pearl menatap amplop itu.

"Aku bilang aku akan mencicilnya."

"Dan aku bilang kamu sudah membayarnya," kata Lorcan. "Dengan cara yang tidak bisa dikonversi ke angka apa pun."

Hening sebentar.

"Lalu kenapa kamu datang ke sini?"* tanya Pearl akhirnya.

Lorcan menatap cakrawala. Ia tidak langsung menjawab, bukan karena tidak tahu, tapi seperti seseorang yang sudah menyiapkan kata-kata ini lama dan sekarang tidak yakin apakah kata-kata itu cukup.

"Untuk bertanya," katanya akhirnya. "Apakah ada ruang, bahkan ruang yang sangat kecil untuk seseorang yang penuh kesalahan ini, untuk sekadar menjadi pelanggan di tokomu? Bukan suami. Bukan kontrak. Hanya dua orang yang mencoba mengenal satu sama lain dari awal, tanpa semua yang sudah terjadi mendikte bagaimana akhirnya."

Pearl tidak menjawab langsung.

Ia mengingat luka-lukanya, satu per satu, tidak dilewati, tidak dipercepat. Ruang bawah tanah itu. Lantai beton. Tangan yang menariknya dalam kegelapan. Semua kata yang pernah membuat ia merasa tidak ada.

Tapi ia juga mengingat yang lain.

Kursi yang terlalu kecil. Tangan yang menggenggamnya meski tidak seharusnya. Laporan harian yang selalu ada di meja tanpa pernah diminta.

"Tokoku terbuka untuk siapa pun yang ingin membeli roti," kata Pearl akhirnya. Suaranya pelan tapi stabil. "Tapi untuk yang lainnya... itu butuh waktu yang sangat lama. Lebih lama dari setahun."

"Aku punya waktu." Lorcan menatapnya. "Sebanyak yang kamu butuhkan."

Pearl hampir tersenyum, bukan senyum yang penuh, bukan senyum yang memaafkan segalanya sekaligus. Hanya sesuatu yang kecil di sudut bibirnya yang keluar tanpa direncanakan.

"Jangan berlebihan. Kamu punya perusahaan yang harus diurus di Vienna."

"Perusahaan bisa menunggu."

Pearl tidak menjawab itu.

Ia hanya mengambil amplop itu dari railing, menyimpannya di tas kecilnya, lalu berbalik.

"Sampai jumpa, Tuan."

Ia melangkah masuk kembali ke dalam ruangan, langkahnya mantap, tidak terburu-buru, tidak menoleh ke belakang. Tapi tidak juga seperti seseorang yang menutup sesuatu rapat-rapat.

Lebih seperti seseorang yang membiarkan sebuah pintu kecil, sangat kecil, tetap terbuka.

**

Di balkon itu, Lorcan berdiri sendirian di bawah langit malam Berlin.

Angin bergerak melewatinya.

Ia tidak tahu apakah sampai jumpa, itu berarti sesuatu atau tidak.

Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia berdiri di satu tempat dan merasa bahwa menunggu, benar-benar menunggu, tanpa mengancam, tanpa mengendalikan, tanpa menggunakan apa pun sebagai tuas adalah hal yang bisa ia lakukan.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!