NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 24

Senja merona tipis di ujung persimpangan beradu kerlip lampu jalanan yang berpendar pucat. Bunyi klakson sahut-menyahut dengan kepulan asap hitam knalpot kendaraan yang meraung kelelahan. 

Rizal mengetuk pelan kemudinya, menanti dengan tidak sabar lampu lalu lintas berubah warna, ia lekas tancap gas begitu lampu hijau menyala, menyusuri jalanan yang tak kunjung sepi. 

Senyum miring tersungging di bibirnya yang sedikit kering saat melewati minimarket tempat ia bertemu Nadya, namun seketika pudar begitu mengingat kejadian di rumah sakit beberapa menit yang lalu. 

“Siapa dokter tadi?” Bibirnya kembali bergumam bersamaan pedal gasnya yang terus ia injak perlahan.

Di kursi tunggu ruang NICU, Nadya duduk termenung. Jari lentiknya mengetik beberapa pesan di ponsel sambil sesekali mengedarkan pandang ke sekitar—seolah sedang menunggu sesuatu.

Gadis berambut pendek itu sedikit tersentak saat suara berat seseorang menyeletuk di samping telinganya. 

“Pesan terkirim.” 

Ia menoleh cepat, mata hitam pekatnya mengerjap, bibirnya melongo sesaat sebelum ia kulum pelan. 

“Ngelamun sendirian, ketempelan tau rasa kamu,” lanjut Jeffry sambil menyodorkan segelas kopi berlogo wanita bangsawan. “Nih, minum kopi biar nggak ngantuk, espresso latte tanpa tambahan gula, kesukaanmu.” imbuhnya.

Nadya tertawa pelan sambil menerima kopi yang Jeffry sodorkan. “Thank you,” ucapnya kemudian. 

“Kok sendirian? Kemana suami kamu tadi?” tanya Jeffry, netranya yang tertutup kacamata dengan bingkai hitam tipis melihat sekitar—mencari keberadaan Rizal. 

Nadya berdecak kecil, ujung bibirnya tersungging sedikit. “Dia—” 

“Nadya,” suara Rizal menyela sambil berjalan cepat ke arah Nadya dan Jeffry. 

Melihat kehadiran Rizal, senyum Jeffry meredup, laki-laki berbadan tegap itu lekas menyambut sambil mengulurkan tangan. 

“Oi Bro, kita ketemu lagi. Sorry gue cuma mau nganterin kopi buat bini loe, biar nggak ngantuk nunggu di sini sendirian,” jelas Jeffry seolah takut Rizal salah paham. 

Rizal menyambut uluran tangan Jeffry, bibirnya tergagap saat akan menyanggah ucapan Jeffry, namun ia tahan begitu Jeffry memperkenalkan diri.

“Gue Jeffry, kakak tingkatnya Nadya di kampus. Beruntung banget loe bisa dapetin dia, gue aja udah nunggu tiga tahun, nembak hampir dua puluh kali di tolak mulu, ternyata seleranya sultan punya,” seloroh Jeffry. 

Rizal menunduk sejenak, menyembunyikan wajahnya yang bersemu, sedang Nadya masih terperangah di tempatnya. Gadis itu seolah kehilangan kata-kata mendengar celotehan Jeffry, bibirnya yang sedari tadi ingin memberikan sanggahan tertahan berganti seringai canggung yang membingkai wajah pucatnya. 

Dokter muda itu lalu menepuk pelan pundak Rizal—bersikap bak kawan lama sembari berpamitan.

“Kapan-kapan kalau ada waktu kita ngopi bareng, Bro. Penasaran gue, gimana cara loe naklukin cewek spek singa ini,” ujarnya sambil beralih menatap Nadya.

“Kamu yang sabar, ya, semoga babynya cepet pulih, kalau butuh bantuan cari Kak Jeff di UGD,” imbuh Jeffry lagi, seraya berlalu pergi.

Sepeninggal Jeffry, Rizal dan Nadya masih tertegun di tempatnya berdiri. Sesekali mereka saling melirik sambil menggaruk tengkuk, lalu menunduk sedikit menyembunyikan seringai kikuk di wajah mereka. 

Menyadari kecanggungan itu, Nadya menampol lengan Rizal hingga laki-laki itu bergeser satu langkah. 

Bugh!

“Seneng Abang di kira suami saya! Bukannya berkilah malah senyum-senyum aja,” gerutu Nadya. 

Rizal terkekeh pelan, satu tangannya mengusap lengannya. “Ya temen kamu, ngomong nyerocos aja, gimana Abang bisa berkilah. Kamu juga, kenapa diem aja?”

“Tau, bingung juga mau jawab apa, masak mau bilang saya bantu netekin anaknya Abang ini. Nggak lucu,’kan?” balas Nadya. 

Ia kemudian menatap sekeliling—mencari tahu keberadaan Bu Sartini. 

“Mertua kesayangan Abang …?” tanya Nadya terputus oleh tangan Rizal yang mengusap kepalanya. 

“Neneknya Adam,” sela Rizal. “Abang titipin mobil yang habis setor sawit di pabrik. Cari makan, yok, laper Abang dari siang belum makan,” lanjutnya sambil menarik tangan Nadya.   

Nadya menahan tarikan Rizal hingga alis laki-laki itu mengerut dalam. 

“Pamit ama suster dulu, main tarik-tarik aja,” celetuk Nadya, lalu berjalan ke ruang NICU.  

.

.

Aroma antiseptik menyeruak tajam, lampu merah berkedip lembut—di layar monitor angka-angka berganti perlahan menunjukkan detak jantung serta kadar oksigen dalam darah Adam. 

Sudah tiga hari bocah gembul itu dirawat di rumah sakit, meski sudah tidak berada di ruang NICU, Adam masih belum diperbolehkan pulang sampai kondisinya benar-benar stabil. 

Nadya memandang lembut wajah anak susunya yang mulai kembali merona, sesekali ia menciumi perut gembul Adam yang sudah kembali normal, hingga bocah baru saja tertidur itu menggeliat pelan. 

Sesekali ia menatap ponselnya—menunggu telepon dari Rizka yang ngotot ingin menemuinya begitu tau Nadya sudah kembali berada di kota. 

“Gue udah di parkiran, loe di kamar nomor berapa,” suara Rizka memekik di seberang panggilan. 

“Kamar kamboja, nomor 143,” sahut Nadya. 

Tak selang berapa lama pintu kamar Nadya diketuk kasar, di susul umpatan Rizka begitu pintu terbuka. 

“Nikeu lawang, Nadya. Api siwat di pikiran nikeu, mak haga angin, mak haga ujan, tahu-tahu wat anak bayi!” serbu Rizka. (Kamu gila, Nadya. Apa yang ada di pikiran kamu, nggak ada angin, nggak ada hujan tau-tau punya bayi)

Nadya terkekeh pelan, lalu menepuk lembut paha Adam yang kembali menggeliat begitu mendengar suara Rizka. 

“Jangan teriak-teriak, setan. Baru tidur pula anak gue,” protes Nadya. 

Rizka menggeleng pelan, tatapannya tertuju pada Adam yang tertidur pulas serta sang sahabat yang begitu telaten menenangkan kembali bayi itu. 

“Gue tau, Nad, loe itu suka bikin gebrakan, tapi kali ini gebrakan loe di luar nalar tau nggak? Menyalahi kode etik persahabatan kita.” oceh Rizka, lagi. “Sekarang jelasin ke gue, gimana ceritanya loe tiba-tiba bisa beranak,” lanjut gadis berambut merah burgundi itu.

“Itu bocah emaknya meninggal waktu ngelahirin dia. Dia juga lahir prematur dan punya kelainan di pencernaannya. Loe ‘kan tau tetek gue eror, pas kebetulan gue ketemu ama bapaknya itu bocah, ya dah kita kerja sama deh,” jelas Nadya santai. 

“Kerja sama? Loe jadiin tetek loe ladang bisnis?” sindir Rizka ia lalu melangkah menuju sofa yang ada di sisi ranjang. 

Nadya mengikuti langkah Rizka, lalu duduk di kursi seberang gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak di bangku SMA.

“Seberapa kaya bapak itu bocah ampe berani mempekerjakan seorang Amara Nadya? Sultan batubara, cukong, pejabat, sugar daddy?” cerocos Rizka.

Nadya terkekeh kecil lalu melemparkan bantal sofa tepat ke muka Rizka. “Ngoceh aja, loe.” sahutnya kemudian. 

Rizka mendengus kesal, sudut bibirnya terangkat tipis. tatapannya menyelidik ke wajah sang sahabat yang nampak lebih berbinar.

“Masih muda apa udah aki-aki?” tanya Rizka kemudian. 

Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka. 

“Itu.” 

Bersambung.

Itu ... Rizal Wijaya.🌴

1
Vera Dewiaryani
iya double dong thor kali²
Anna: Sedang di usahakan kak 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho lho baru baca kok sdh bersambung..pelit niqn ni kak thor up dikit kali..sekali kali double up lah kak biar puas dirini baca
Anna: Kakak terima kasih sudah selalu mensupport karya saya.
Sejujurnya saya pun ingin up banyak-banyak, tapi apa daya.
Saya sedang berusaha merevisi karya lama sebab malu dengan penulisannya, semoga minggu ini selesai Saya revisi agar bisa up banyak dan membahagiakan pembaca.

Sehat selalu untuk kakak pembaca yang baik.
🫶🫶🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
wkwkwk
.. aku kmrn suudzoon.... 🤣🤣🤣
Anna: Siap-siap di sentilll Bang Rizal. 😒
total 1 replies
Rehan Atar
kaget saya kira bales chat hasna taunya bales si'kaki tangan leganyaa...😄😄😄
Anna: prankkkkkk 🤣🤣🤣
total 1 replies
haci
aku akuu😭
haci: nangiss 😭
total 2 replies
haci
ooo yasirr maaf ya bang udah sooudzoonnn 😩
Anna: Kata saya juga supresss🥳🤣
total 1 replies
Erlina Yakin
bagus
Anna: Kakak terima kasih banyak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
sebenarnya yang kamu cintai tuh sapa baaangg...... Nadia atau Hasnaa...
Anna: Tonjok aja, Kakl 🤣
total 3 replies
haci
kenapa kasii harapan terus siii
di tinggal nadya baru tauk rasa😭
Anna: baca up terbaru 🥳
total 3 replies
haci
jangan mauuu bang Rizal awasss aja😩
Anna: kita gundulin, ya kali Rizak tergoda
total 1 replies
haci
helehh bantuan apa to hasann 😭
Anna: menggitil dia 😗
total 1 replies
Yessi Kalila
itu si Hasna kurang kerjaan betul.... drama teroosss...
Anna: Modus, sapa tau berhasil. begitu kira-kira isi pikiran Hasna
total 1 replies
Vera Dewiaryani
up lagi dong thor😁
Anna: barusan up, Kak. 🫶
total 1 replies
haci
gak kebalikk ya 😭
ilyas yang manipulatif bgtt sombong 😩
Anna: kan memang hobi nya Ilyas memutar balikkan fakta. 😗
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
saya suka ceritanya, latqr belekang perkebunan suasana pedesaan dualek lokal
Anna: Makasih suportnya, Kak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
ceritanya bagus kaa.... lanjut aja.... 😍😍😍
Yessi Kalila: wooww... mantap ka Anna... semangat... semangat oke.. oke... aku setia selalu.... padamuuu... 😄😄😍😍😍
total 2 replies
Ita Nuryani
lho kok sudah tamat, tak kira panjang crtax
Anna: belummmmm masihh panjang. kan bang Rizal sama Nadya belum ahh ahhh 😭🤣🤣🤣
total 1 replies
Rehan Atar
izin..gosip papa kandung yg ngerudal anaknya sendiri ?? sadiss thorr 😡😡
Ratih Tupperware Denpasar: ada beberapa kali berita ayah menghamili anqk kandung
total 2 replies
haci
ya Allah 😭
kasian bgt mit amit ihhh 😭
Sriekyu: kak..cerita mu bagus.. thanks ya..cm klo bs nadya gk usahlah panggil ilyas papi..udah ketauan bejat gitu
total 5 replies
haci
kapan siii dia tumbang ihh nyebelin bgt😩
Anna: Habis ini masuk bui.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!