NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: tamat
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan / Tamat
Popularitas:315.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Penyesalan Daviko Yang Dalam Di Balik Sikap Dingin Saliha

     ​Sesuai dengan ucapannya kemarin, Daviko benar-benar mewujudkan rencananya untuk membawa Saliha ke acara santai rekan-rekan sekantornya. Acara itu diadakan di sebuah ballroom hotel semi-terbuka dengan konsep pesta kebun yang elegan. Daviko tahu, jika ia membiarkan Saliha bersiap sendiri, wanita itu pasti hanya akan mengenakan pakaian paling sederhana yang ia miliki.

     ​Maka, tanpa sepengetahuan Saliha, Daviko memesankan sebuah gaun berwarna nude dengan aksen brokat halus yang simpel namun sangat mewah. Ia juga mengirimkan seorang penata rias ke kamar Saliha sore itu.

     ​"Ini berlebihan, Pak. Saya hanya pengasuh Kaffara," protes Saliha saat melihat gaun dan penata rias itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

     ​Daviko yang sudah rapi dengan kemeja batik tulis modern yang pas di tubuh tegapnya, hanya menatap Saliha datar. "Kamu membawa nama baik rumah ini, Saliha. Rekan-rekanku bukan orang sembarangan. Aku tidak mau mereka berpikir aku tidak memperlakukan pengasuh anakku dengan layak. Pakailah, ini perintah."

     ​Saliha tidak punya pilihan. Dengan hati yang bergemuruh, ia membiarkan wajahnya dipoles riasan tipis yang natural. Rambut sepinggangnya ditata simpel namun sangat rapi. Saat ia keluar dari kamar, Bi Tita yang sedang menggendong Kaffara sampai melongo. Saliha tampak begitu anggun, kecantikan alaminya yang selama ini tersembunyi di balik wajah pucat dan pakaian sederhana, kini terpancar sempurna.

     ​Daviko yang sedang menunggu di ruang tengah pun sempat menahan napasnya. Ia terpesona. Saliha tampak seperti bidadari yang baru turun dari langit. Ada rasa bangga, tapi juga rasa takut yang mendalam di hati Daviko, takut jika pria lain juga menyadari betapa indahnya wanita ini.

     ​Sesampainya di acara, kehadiran Daviko yang menggandeng Kaffara, dengan Saliha yang berjalan tenang di sampingnya, langsung menjadi pusat perhatian.

     Rekan-rekan Daviko, para perwira dan pengusaha muda, segera mengerumuni mereka.

​"Wah, Kapten! Akhirnya keluar juga dari 'pertapaan'. Ini siapa? Cantik sekali," tanya Mayor Hendra, rekan akrab Daviko, sambil matanya menatap Saliha dengan penuh kekaguman.

     ​Daviko berdehem, tangannya tanpa sadar sedikit lebih dekat dengan posisi berdiri Saliha. "Ini Saliha, dia yang menjaga Kaffara."

     ​"Penjaga Kaffara?" Hendra tertawa kecil, tidak percaya.

     "Jangan bercanda, Dav. Penampilan dan pembawaannya tenang begini, lebih cocok jadi nyonya rumah. Kalian terlihat sangat serasi, beneran!"

     ​Pujian itu mengalir deras dari satu teman ke teman yang lain. Saliha hanya menunduk sopan, memberikan senyum tipis yang sangat formal. Namun, setiap kali seseorang mengatakan mereka "cocok" atau "serasi", Saliha merasa seperti sedang berdiri di atas bara api. Ia merasa tidak nyaman berada di posisi yang seolah-olah mengaburkan statusnya yang sebenarnya.

     ​"Maaf, Pak. Kaffara sepertinya haus, saya izin ke pojok ruangan dulu," bisik Saliha pada Daviko, mencari alasan untuk menghindar dari kerumunan itu.

     ​"Aku antar," jawab Daviko sigap.

     ​"Tidak usah, Pak. Bapak di sini saja bersama teman-teman Bapak," tolak Saliha tegas, lalu segera melangkah pergi membawa Kaffara.

     ​Saliha duduk di area pojok yang lebih sepi, ia menghela napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca besar. Gaun indah ini, riasan ini, semua ini terasa seperti mimpi buruk baginya. Ia merasa Daviko sedang menjebaknya dalam sebuah sandiwara yang indah namun menyakitkan.

     ​"Kenapa melamun?"

​Saliha tersentak. Daviko sudah berdiri di sana, membawa segelas minuman untuknya.

     ​"Terima kasih, Pak," ujar Saliha sambil menerima gelas itu.

     ​"Saliha, kamu dengar apa yang mereka katakan tadi?" Daviko duduk di kursi sebelah Saliha, jarak mereka cukup dekat hingga Saliha bisa mencium aroma parfum Daviko yang maskulin. "Mereka bilang kita cocok. Dan jujur, malam ini kamu benar-benar cantik."

     ​Saliha meletakkan gelasnya kembali. Ia menatap Daviko dengan sorot mata yang dingin namun bergetar. "Bapak sengaja melakukan ini, kan? Memberi saya baju mahal, membawa saya ke depan teman-teman Bapak agar mereka memuji saya. Untuk apa, Pak? Untuk memuaskan ego Bapak?"

     ​"Bukan begitu, Saliha...."

     ​"Dengar, saya, Pak," potong Saliha. "Pujian mereka itu hanya karena mereka tidak tahu siapa saya sebenarnya. Kalau mereka tahu saya adalah wanita yang dulu Bapak usir dan Bapak sumpahi, mereka tidak akan bicara seperti itu. Jangan buat saya merasa terbang ke langit hanya untuk Bapak jatuhkan kembali ke tanah."

     ​Daviko terdiam. Kalimat Saliha selalu saja kembali pada luka lama itu. "Aku melakukan ini karena aku ingin kamu merasa berharga, Saliha. Aku ingin dunia tahu bahwa kamu istimewa."

     ​"Saya sudah merasa berharga dengan menjadi ibu susu Kaffara, Pak. Saya tidak butuh pengakuan dari teman-teman Bapak," sahut Saliha. Ia bangkit dan berdiri. "Sepertinya kita harus pulang, Pak. Kaffara sudah mulai gelisah."

     Daviko tidak menolak, apalagi Kaffara memang terlihat kurang nyaman berada di tempat itu.

     ​Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil jauh lebih mencekam daripada keberangkatan tadi. Daviko menyetir dengan rahang yang mengeras, sementara Saliha membuang muka ke arah jendela, memandangi lampu-lampu kota yang buram karena air mata yang ia tahan.

     ​"Kamu benar-benar keras kepala, Saliha," ucap Daviko memecah kesunyian.

     ​"Maaf, saya hanya mencoba realistis, Pak. Kontrak saya dua tahun. Saya tidak ingin kontrak dua tahun ini menjadi beban bagi saya karena Bapak terus-menerus mencoba melewati batas," jawab Saliha tanpa menoleh.

     ​"Batas? Batas apa? Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita!"

     ​"Tidak ada yang perlu diperbaiki dari hubungan kita, Pak. Biarkan saya menyelesaikan tugas saya dengan tenang. Setelah itu, biarkan saya pergi mencari kehidupan saya sendiri, seperti yang saya katakan pada Bi Tita."

     ​Mendengar kata-kata itu lagi, Daviko mendadak menginjak rem dengan cukup keras hingga mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi.

     Saliha tersentak, untungnya ia mendekap Kaffara dengan erat.

     ​Daviko memutar tubuhnya menghadap Saliha. Matanya berkilat marah namun juga penuh kerapuhan. "Mencari kehidupan sendiri? Maksudmu mencari pria lain? Setelah semua yang aku lakukan, kamu masih tetap ingin pergi dan mencari orang asing untuk menggantikanku?"

     ​Saliha menatap Daviko dengan berani. "Bapak tidak pernah ada untuk digantikan, karena Bapak memang sudah tidak ada di hati saya sejak lama. Jadi, siapapun yang saya pilih nanti, itu bukan urusan Bapak."

     ​"Saliha!" bentak Daviko tertahan.

​Tangisan Kaffara tiba-tiba pecah karena kaget mendengar suara ayahnya. Saliha segera menimang bayi itu dengan penuh kasih sayang, mengabaikan Daviko yang sedang didera amarah dan cemburu yang membakar jiwa.

     ​"Lihat? Bapak hanya membuat anak ini takut," bisik Saliha dingin. "Tolong, kita harus segera pulang. Kaffar ingin segera sampai rumah."

     ​Daviko memukul setir mobil dengan kesal, lalu kembali menjalankan kendaraannya. Di dalam hatinya, Daviko merasa sangat kalah. Penampilan cantik Saliha malam ini justru menjadi bumerang baginya. Semakin cantik Saliha, semakin ia merasa tidak pantas memilikinya. Dan semakin Saliha menunjukkan kedinginannya, semakin besar keinginan Daviko untuk mengurung wanita itu dalam hidupnya selamanya.

     ​"Dua tahun... kamu pikir aku akan membiarkanmu mencari pria lain dalam dua tahun ini? Kamu salah besar, Saliha," batin Daviko penuh obsesi dan penyesalan yang mendalam.

1
Cerlia Wati
suka banget cerita tentang TNI kakek q dulu seorang TNI AU
Nasir: Wahhh... makasih banyak ya Kak sudah mampir. Semoga suka sampai tamat.... 🙏🙏🙏🥰🥰🥰
total 1 replies
Hana
bangun tidur td masih panggil ibu, di skolah jd ganti mama
kpn ganti nya thor🤭🙏
Nasir: Hehehe... iya Kak, saya lupa revisi. Mksh ya udah mengingatkan.... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Hana
harusnya usia 2th dah bisa jln thor🙏
Nasir: Iya Kak, tapi Kaffara blm dua tahun... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Hana
bidadari turun dari langit thor😍
Nasir: Wwkkwkwkw.... terlalu... kata Haji Rhoma.... 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Kata aku mah di kurang2in julid nya 🙏 takutnya nanti balik ih ke anak sendiri gara2 ngatain perempuan lain mandul dll
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Jangankan kaffara gua aja kalo ga nyaman juga ga mau deket2 kok nek wkwk 🙏🤣
Nasir: Hehehe.... betul... 👍👍👍
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Tenang liha aku udah 33 juga belum, sejauh ini baru ngurusin anak mertua doang 🤣
Nasir: Masya Allah Kak. Smg disegerakan oleh Allah jodohnya. 🤲🤲🤲
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
emang sebelum nya pas kalian masih pacaran dulu dia manggil kamu ga pake sayang ya liha 🤣
Nasir: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
namanya juga ibu susu mbak ya menyusui langsung wkwk kalo cuma boleh di pumping trus lewat dot ya sama aja, mending susu formula aja sekalian 🙂
Nasir: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Camera Gaming
kapan bahagianya saliha ini ,sepanjang baca tiap part yo wes ngucur ni air mata
Nasir: Udah tamat Kak Say, happy ending...
total 1 replies
⋆.˚Khaira🦋
aku baru menyadari ternyata perempuan serumit itu yaak... di bujuk katanya gak pantes, pengennya jauhin... eeh giliran di cuekin katanya udah gak sayang... hmmm tanpa sadar apa aku juga kaya saliha yaak, ribet 🤭🤣🤣
Nasir: Banyak yg begitu Kak.... 🤭🤭🤭😄😄
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻
Nasir: Mksh byk Kak...
total 1 replies
Maya Ratnasari
bebeg thor
Nasir: Kalo di Sunda tulisan dan bacanya bebek Kak, tapi cara bacanya beda sama pengucapan bebek yg itik itu.
total 1 replies
Maya Ratnasari
lah, jadi ibu lagi panggilannya.
Nasir: Iya.....
total 1 replies
Maya Ratnasari
sekarang jadi mama panggilannya
Nasir: Udah direvisi jadi Ibu.....
total 1 replies
Maya Ratnasari
kalo masih galaktorea emang susah hamil
Maya Ratnasari
ijin thor, ASI exclusive hanya 6 bulan. lanjutannya sampai 2 th, disebutnya pemberian ASI saja, tanpa kata "exclusive"
Nasir: Ohhh... begitu ya Kak... baiklah. Nanti diperbaiki.. trmksh koreksinya.
total 1 replies
Maya Ratnasari
sebenernya maunya apa si? kok w bingung. dikasih perhatian, nolak. dicuekin, merasa kehilangan.
tri nugrahani
setau aku klo dilingkup militer udah bukan mba Saliha lgi panggilannya tpi ibu Daviko
Nasir: Iya Kak, nanti diperbaiki ya. Mksh. sudah koreksi.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!