pemuda biasa
semua tentang reno
romansa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anable, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Boby dan istrinya yang mendengar itu tentu saja sangat marah.
"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?" bentak Boby kepada para guru yang ada di sana.
"Seharusnya kalian mengawasi para murid dengan sangat telaten, sekarang putri saya yang jadi korban keteledoran kalian,..jika sampai terjadi apa apa dengan putri saya Reva, saya akan menghancurkan kalian semua," raung Boby yang membuat wajah para guru menjadi sangat pucat.
"Tu,..tuan Wijaya, saya akan jamin bahwa putri anda akan baik baik saja," ujar kepala sekolah dengan ketakutan.
"Beritahu saya semua hal tentang anak yang bernama Reno ini,..dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan," giliran Sinta yang meraung.
Doni yang mendengar itu, langsung gemetar ketakutan. Dia takut jika keluarga Wijaya akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, jika sampai kejadian yang sebenarnya terungkap, itu akan membawa masalah untuk dirinya dan keluarganya.
"Panggil orang yang bertanggung jawab terhadap anak yang bernama Reno ini," titah Boby kepada para guru.
Mendengar hal itu, kepala sekolah langsung meminta wali kelas Reno untuk menghubungi orang tua Reno, tetapi sebelum wali kelas itu menghubungi ibu Reno, sebuah suara tiba tiba terdengar.
"Anda tidak perlu melakukan itu, pak Boby."
Semua orang yang ada di sana langsung menolehkan pandangan mereka ke asal suara tersebut.
Di sana terlihat Reza yang datang bersama seorang pria paruh baya, ya. Dia adalah Hary Hartanto, ayah dari Reza.
Reza memanggil ayahnya ketika sang guru pengawas bilang akan memberi tahu keluarga Reva, dia sadar Reno pasti akan terkena masalah, jadi dia meminta ayahnya untuk datang ke sini dan membantu Reno.
Karena Hary sangat menyukai Reno, dia pasti akan datang membantunya, bagaimanapun Reno adalah orang yang membuat Reza berubah.
Setelah bergaul dengan Reno, Reza tidak pernah lagi membantah orang tuanya, dia yang biasanya sangat sombong dan seenaknya, sekarang berubah menjadi anak yang berbakti kepada mereka, itulah yang membuat kedua orang tua Reza menyukai Reno, mereka bahkan menganggap Reno sebagai anak mereka sendiri.
Boby menatap Hary dengan tatapan yang sedikit bingung, dia bingung kenapa seorang Hary bisa ada di sini, dan apa maksud perkataannya tadi.
"Maaf, tapi bolehkah saya bergabung dengan pembicaraan ini, saya adalah orang yang akan bertanggung jawab dengan semua yang telah dilakukan Reno," ujar Hary tiba tiba.
Para guru langsung mengerutkan kening mereka, mereka heran kenapa orang seperti Hary akan mau bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh Reno.
Boby langsung menatap Hary sedikit tajam.
"Ada hubungan apa, antara pak Hary dengan anak yang bernama Reno ini?" Boby mencoba untuk sedikit tenang.
"Akan saya ceritakan nanti, sekarang saya ingin mengetahui apa yang telah dilakukan Reno kepada putri anda, pak Boby," ujar Hary menatap Boby.
Boby dan Hary adalah rekan bisnis, jadi mereka tentu sudah saling mengenal, bahkan sedikit akrab.
Boby pun akhirnya menceritakan tentang Reno yang membawa Reva pergi secara paksa masuk ke dalam hutan, persis seperti yang diceritakan oleh Doni.
Setelah mendengar cerita itu, Hary tanpa sadar langsung mengerutkan keningnya.
"Apakah ada bukti bahwa Reno melakukan hal seperti yang pak Boby bilang?" Ujar Hary.
Boby mengerjap ketika ditanyai begitu oleh Hary, dia benar benar tidak menanyakan buktinya kepada Doni.
Hary yang melihat tingkah Boby, langsung menggelengkan kepalanya, dia tahu jika Boby tidak memiliki bukti apapun.
"Bagaimana pak Boby bisa mempercayai perkataan seorang remaja tanpa bukti yang kuat?" ujar Hary.
"Saya memang tidak mempunyai buktinya, tetapi saya mempunyai saksi di sini," Boby menatap Doni, menyuruhnya untuk menghampiri mereka.
Doni sangat ketakutan, dia mencoba untuk sedikit tenang agar dia tidak salah berbicara nanti.
"Dia adalah Doni, orang yang melihat bahwa Reno membawa putri saya ke dalam hutan," ujar Boby kepada Hary.
Hary menatap Doni, di sampingnya Reza juga menatap Doni tajam.
"Nak Doni, coba ceritakan kepada saya apa yang Anda lihat," Hary bertanya.
"Sa..saya melihat Reno membawa A...Reva ma..masuk ke dalam hutan de..dengan paksa," jawab Doni terpotong potong karena ketakutan.
"Apakah kamu punya bukti untuk membenarkan ucapan kamu itu?" Hary kembali bertanya dengan sedikit menekan suaranya.
Doni diam, dia tidak ada bukti karena yang dia ceritakan adalah sebuah kebohongan.
"Yah, aku lihat dia berduaan sama Reva sebelum Reva dan Reno menghilang," ujar Reza kepada ayahnya.
Mendengar itu semua orang yang ada di sana langsung menatap ke arah Doni.
"Apakah itu benar nak Doni?" tanya Hary.
"Me..memang be..nar Se.. sebelum Reno membawa Reva ke dalam hutan dia sempat bersama saya, ta..tapi R..Reno tiba tiba mendatangi Reva dan menggodanya," ujar Doni yang tidak masuk akal.
"Bukan cuma saya yang melihat, tetapi mereka juga melihatnya," Doni.
mengedipkan matanya kepada Bowo dan Yudi.
"I..iya tuan, kami melihat Reno membawa Reva masuk ke dalam hutan," bohong Bowo.
"Kalian adalah murid dari kelas lain, jadi kalian tidak perlu ikut campur dengan masalah ini," ujar Reza menatap mereka tajam.
"Tapi kami adalah saksinya," ujar Doni tak mau kalah.
Reza mengeraskan rahangnya emosi,
Tetapi Hary mengerutkan keningnya, dia menemukan ada sesuatu yang salah dengan cerita Doni.
"Tunggu,..bukannya tadi kamu bilang bahwa kamu berhenti mengejar Reva dan Reno ketika kamu melihat teman teman kamu ini sedang dikejar sekelompok babi hutan, terus bagaimana anak ini bisa menjadi saksi bahwa mereka melihat Reva dan Reno kalau dirinya sendiri saat itu sedang dikejar oleh para babi?" Ujar Hary.
Detak jantung Doni seakan berhenti saat itu, bagaimana dia bisa salah berbicara ketika sedang seperti ini.
"I..itu ka...karena......" doni tidak bisa menjawab.
Boby dan Hary merasa curiga terhadap penjelasan Doni. Mereka merasa ada yang disembunyikan oleh Doni.
"Perkataan kamu tidak bisa dipercaya kalau tidak ada bukti," ujar Hary tegas.
Doni sangat ketakutan.
"Sa..saya berani bersumpah om," ujar Doni masih berbohong.
Hary hendak berbicara lagi, tetapi Sinta menyelanya.
"Pak Hary, anak ini sepertinya tidak masuk akal, jadi kita kesampingkan dulu masalah ini, yang terpenting sekarang adalah mencari putri saya dan anak yang bernama Reno itu," ujar Sinta mengkhawatirkan putrinya.
"Baiklah, saya akan membantu kalian mencari putri kalian sembari saya mencari Reno," jawab Hary akhirnya.
"Kalian,..tahan anak dan orang orang ini sampai putriku ditemukan," titah Boby kepada para anak buahnya, lalu beranjak pergi.
"Tu,..tunggu tuan, saya tidak bersalah di sini, saya adalah pacar putri anda, tidak mungkin saya punya niat yang jahat kepadanya," Doni berteriak.
Langkah Boby berhenti, dia membalikkan tubuhnya lalu menatap Doni tajam.
"Kami akan tahu kebenarannya setelah putri kami ditemukan," ujar Boby lalu pergi bersama istrinya, Hary, dan Reza.
Doni menggigil ketakutan ketika melihat tatapan tajam Boby, dia benar benar berharap Reva dan Reno tidak pernah kembali.
Setelah itu Boby dan Hary memerintahkan banyak orang untuk mencari Reno dan Reva, seluruh anak buahnya disebar ke seluruh penjuru hutan.
**
**
Di sisi lain, Reno sudah selesai memijat kaki Reva, tiga jarinya yang patah mulai membengkak dan terasa sakit, tapi Reno tidak memperlihatkan itu kepada Reva, dia takut jika Reva mengetahui itu Reva akan merasa bersalah dan itu akan membuat Reva terus berurusan dengannya.
Reno menutupi jari tangannya dengan kain agar Reva tidak bisa melihatnya.
"Gimana kaki Lo?" Tanya Reno kepada Reva.
"Hmm, udah lumayan mendingan, makasih ya Rey," jawab Reva tersenyum manis.
Kriukkk
Wajah Reva memerah karena malu, bisa bisanya perutnya berbunyi di hadapan Reno, ah rasanya dia ingin menghilang saja.
Reno tertawa terbahak-bahak mendengar suara dari perut Reva.
"Ihh jangan ketawa," Reva benar benar malu.
Reno sedikit menghentikan tawanya lalu masuk ke dalam tenda, sesaat kemudian dia keluar dari tenda dengan membawa dua bungkus roti.
"Nih makan," Reno memberikan roti itu kepada Reva.
"Eh,,gu..gue gak lapar kok," Reva tersipu.
"Lo mau makan sendiri atau mau gue suapin?" ujar Reno tanpa basa basi.
"E..emangnya Lo mau, suapin gue?" ujar Reva.
"Nggak," jawab Reno singkat.
"Ishh Reno, Lo itu suka banget ya bikin gue kesel," Reva cemberut.
Ketika bersama Reno, dia benar benar merasa tenang, dia tidak bisa mengkhawatirkan apapun ketika bersama Reno, dia bahkan lupa jika mereka kini sedang berada di tengah hutan.
Reno memberikan Reva dua bungkus roti itu secara paksa.
"Makan sendiri, Lo udah gede," ujar Reno.
"Emm,makasih Rey," Lagi lagi Reva berterima kasih kepada Reno.
Reva membuka 1 bungkus roti lalu memakannya, dia sangat lapar sekali.
Reva memandang Reno yang sedang membesarkan api unggun.
'apa Reno memang setampan ini?,..ko gue baru sadar sekarang ya' batin Reva ketika memandang Reno.
"Rey, Lo gak makan?" Tanya Reva kepada Reno.
"Gue gak laper sekarang," jawab Reno.
Reva menyisakan roti itu sebungkus untuk nanti.
"Lo masuk gih ke tenda, terus tidur, besok kita bakal jalan lagi," titah Reno.
"Gue tidur ditenda?..terus Lo tidur di mana?" Ujar Reva.
"Eh iya Rey, hape gue kan di atas tadi pas ngelempar babi, kalau hape Lo bisa digunain gak?" Tanya Reva.
"Kalau bisa digunain udah gue gunain dari tadi," jawab Reno.
Reno mengeluarkan hapenya yang sudah hancur akibat pertarungannya dengan babi hutan tadi.
"Itu rusak pas tadi Lo nahan babi itu ya?" ujar Reva.
Reno hanya mengangguk sebagai jawaban.
Reva merasa bersalah terhadap keadaan hape Reno.
"Sorry Rey, nanti gue ganti hape Lo," ujar Reva tulus.
"Gak usah, ini masih bisa diperbaiki kok," tolak Reno.
"Gak, itu udah rusak banget, nanti gue ganti hape Lo sama hape keluaran terbaru," Reva masih tetap ingin membelikan Reno hape baru.
"Gak usah Rev," Reno terus menolak.
"Ckk, sekali aja Lo terima pemberian Gue ini, kalau gue gak ganti hape Lo, gue bakal ngerasa bersalah," Reva tetap keras kepala.
Reno menghela napasnya, dia tidak bisa membantah Reva yang benar benar keras kepala.
"Mendingan Lo tidur sekarang," titah Reno kepada Reva.
Reva memandang Reno,
"Lo juga tidur sekarang," Reva balik memerintah.
"Gue mah nanti aja, tenang aja gue gabakal apa apain Lo kok, gue bakal tidur di luar," ujar Reno.
Sebenarnya Reva tidak mengkhawatirkan itu, tetapi Reva khawatir Reno akan meninggalkannya setelah dia tertidur.
"Kenapa tidur di luar?" Tanya Reva sedikit melotot.
"Terus Lo maunya gue tidur di mana?" ucap Reno.
"Di dalam aja sama gue," jawab Reva enteng.
Reno membelalakkan matanya tidak percaya, apakah Reva memang seceroboh ini? Pikir Reno.
"Lagian Lo gak tertarik kan sama gue, jadi gak mungkin Lo bakal apa apain gue," Reva tersenyum menyeringai.
Reno tidak bisa menjawab perkataan Reva. Reva tersenyum merasa menang ketika melihat Reno terdiam.
Dia mengulurkan tangannya kepada Reno.
"Rey, gendong," ujar Reva manja.
Reno berdecak kesal, tetapi dia tetap menggendong Reva masuk ke dalam tenda, lalu merebahkan tubuh Reva dengan hati hati, Reva tersenyum manis kepada Reno, Reno hendak beranjak pergi keluar tetapi Reva menahan tangannya.
"Tidur di sini aja, gue takut kalau sendirian," mohon Reva memelas.
"Lo takut apaan?" Reno sedikit kesal.
"Gue takut Lo bakal ninggalin gue di sini," mata Reva mulai berkaca-kaca yang membuat Reno mau tidak mau mengikuti permintaan aneh Reva.
"Yaudah gue tidur di sini aja. Lagian di luar juga dingin," ujar Reno akhirnya.
Reva tersenyum sumringah ketika mendengar itu.
Bersambung