Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.
Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.
Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.
Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.
Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
~ SKYLIGHT GROUP ~
Perusahaan itu tengah kacau sekarang, sistem mereka dijebol dan banyak data perusahaan yang hilang. Saham mereka juga menurun drastis entah apa penyebabnya, semua karyawan disana sibuk sendiri guna meredam amarah pemilik perusahaan ini yang sudah menjadikan beberapa karyawan korban kemarahannya hari ini.
" Apa kalian tidak bisa bekerja hah? kalian adalah orang IT dengan pengalaman tinggi, kenapa semua data perusahaan bisa bobol begitu saja!! " teriak Dean marah, dirinya seperti kesetanan melihat saham perusahaannya anjlok begitu saja.
" Maaf tuan kamu juga sudah berusaha, apa yang terjadi diluar kendali kami. Semua data perusahaan sebelumnya terjaga dengan sangat baik tak mungkin bobol begitu saja " kata salah satu staff IT disana.
" Cari tahu siapa pelakunya dengan segera, jika sampai sore ini kalian belum bisa menemukan pelakunya jangan harap Skylight Group memberi tempat untuk kalian " setelah mengatakan itu Dean langsung keluar dari ruang khusus IT perusahaannya.
Sementara orang yang menjadi penyebab kekacauan Perusahaan milik Dean tengah tersenyum lebar memandang hamparan hijau dari balik jendelanya.
" Sayang, apa yang kamu lakukan tidak akan berdampak bagi Sabrina? " tanya seseorang.
Orang itu kemudian menoleh dan menatap lawan bicaranya, dia kemudian tersenyum lebar sambil meraih tangan wanita itu dan menariknya kedekapannya.
" Putri kita sangat tangguh, masalah ini tidak akan menimbulkan dampak baginya. Dan ada orang yang selalu melindunginya kapanpun jadi aku hanya bisa membantunya menyingkirkan kerikil kecil dari jalannya " ucap pria itu.
" Kau benar, putri kita tumbuh menjadi gadis yang sangat tangguh '' balas wanita itu.
'' Aku jadi semakin merindukannya " sambung wanita itu disertai bulir bening yang mengalir dari kedua matanya.
" Maafkan aku, karena ketidakmampuanku kita harus terpisah dengan putri kita " balasnya.
Mereka adalah Winata dan Devira, mereka berdua masih hidup. Kini mereka tinggal di sebuah Villa mewah diatas bukit yang tidak orang tahu keberadaannya. Dulu Winata terpaksa melakukan sandiwara dengan mengusir dan menceraikan Devira karena Renata yang mengincar nyawa istri dan anaknya. Tanpa Sabrina ketahui kedua orangtuanya masih berhubungan baik bahkan kecelakaan Devira waktu itu adalah rencana mereka.
Selama Winata menikah dengan Renata mereka tak pernah berada dalam satu kamar bahkan Winata tak pernah sekalipun menyentuh Renata. Itu juga yang menjadi alasan mengapa selama ini dia tidak pernah mendaftarkan pernikahannya agar sah dimata hukum dan negara.
Kematian Winata beberapa waktu lalu juga mereka yang merencanakan, di dalam peti itu bukan tubuh Winata seperti yang orang-orang lihat. Winata telah membuat patung yang sangat mirip dengannya agar memudahkan rencananya.
Setelah melakukan kunjungan ke para korban yang masih dirawat serta menemui keluarga korban yang meninggal, Sabrina secara pribadi meminta maaf kepada mereka dan juga keluarga korban. Walaupun bukan dia penyebab kecelakaan itu terjadi namun sebagai seorang pemimpin perusahaan dia sadar betul insiden ini bisa terjadi karena kelalainnya dalam memantau kinerja dilapangan hingga membuat celah yang bisa dijadikan alat untuk menjatuhkan dirinya. Sebagai bentuk tanggung jawab Sabrina akan menanggung seluruh biaya rumah sakit sampai mereka sembuh juga bantuan yang lainnya sedangkan untuk korban yang meninggal Sabrina akan menanggung seluruh hidup keluarganya.
'' Apa kamu tidak ingin menemui para pelakunya terlebih dahulu? " tanya Hendra yang mengantar Sabrina ke bandara, ia tidak ikut pulang karena harus menyelesaikan beberapa masalah disini.
" Tidak ada manfaatnya aku melihat para pengkhianat itu '' balas Sabrina.
" Kalau begitu aku kembali dulu paman, kembalilah setelah semuanya selesai. Aku tidak bisa berada disini lebih lama lagi kedua perusahaan itu sangat membutuhkanku " kata Sabrina meskipun urusan disini sebenarnya belum selesai tapi dia tidak bisa meninggalkan Amortage dan Alvarendra lebih lama lagi.
" Pergilah paman yang akan urus semuanya disini '' balas Hendra. Dia tahu kesulitan Sabrina mengurus dia perusahaan sekaligus maka sebisa mungkin dia akan membantu Sabrina.
Sementara itu saat mendengar perusahaan Dean sedang ada masalah besar Renata sedang menunggu seseorang di sebuah restoran dia menyewa tempat privat disana.
Tak berapa lama orang yang ditunggu akhirnya datang juga, nampak pria yang sudah berumur itu masuk dan langsung duduk dihadapan Renata.
'' Ada apa? " tanya pria itu tanpa basa-basi.
" Johan, aku butuh bantuanmu " balas Renata.
" Apa kamu masih sanggup membayarku? " Johan memandang remeh wanita dihadapannya itu. Bukan lagi rahasia kalau Renata dan Elena telah diusir dari kediaman Alvarendra.
" Kamu tenang saja, kita tidak akan bekerja berdua ada orang baru yang akan membayarmu dengan sangat besar " ucap Renata dengan nada yang cukup menyakinkan.
" Dean, kamu pasti tahu siapa dia " sambung Renata.
" Apa yang bisa aku lakukan? " tanya Johan dengan serius.
" Bunuh Sabrina " dua kata itu meluncur begitu saja dari bibir Renata.
" Devira dan Winata sudah mati, jadi bukankah bagus jika kita mengirim putri mereka bersama mereka " ucap Renata.
Mendengar kalimat itu Johan terkekeh pelan sebelum menatap mata Renata dengan pandangan yang sulit diartikan.
" Renata...... Renata...... apa kau kira menghabisi Sabrina adalah persoalan mudah? '' kata Johan.
" Bukankah ini waktu yang tepat? Sabrina tidak memiliki perlindungan. Dia tinggal dirumah besar seorang diri, jadi sangat mudah untuk menembus keamanannya apalagi kalau dia sedang berada di rumah " Renata berucap karena setahu dia selama ini Sabrina hanya hidup seorang diri tanpa pengamanan yang ketat.
'' Pengamatanmu sungguh buruk, kau tidak tahu siapa laki-laki yang selalu berada di dekatnya saat ini " balas Johan.
" Zayn dan Kirana mereka berdua adalah orang-orang Sabrina selama ini " kata Renata.
" Bukan mereka, tapi laki-laki yang selama beberapa minggu ini ada di samping Sabrina tanpa pernah meninggalkannya " tutur Johan.
'' Siapa yang kau maksud? " tanya Renata.
" Zevano Selio Askar " jawab Johan.
Johan sangat tahu siapa pemilik nama itu, tatapan tajamnya mampu membekas diingatan siapapun yang tanpa atau dengan sengaja bertatapan dengannya.
'' Dia adalah bodyguard Sabrina, dan perlu kau ketahui. Saat Zevano menjaga seseorang dia bahkan tidak segan-segan untuk menyerahkan nyawanya sendiri. Dia tidak meninggalkan sedikit celah untuk musuh bisa melukai orangnya yang menjadi tanggung jawabnya " jelas Johan.
" Sejak kapan Sabrina memakai jasa bodyguard? " kata Renata.
" Dari sekian banyak orang aku bisa katakan kalau kau adalah orang terbodoh yang pernah aku temui '' ucap Johan yang sejak tadi menatap remeh kearah Renata.
'' Jaga bicaramu, apa kau lupa dengan siapa selama ini kau bekerja. Jika bukan karena aku yang mempekerjakanmu kau hanya akan berakhir di panti jompo '' Renata sangat tersinggung dengan perkataan yang Johan lontarkan padanya.
'' Apa gunanya tersinggung jika memang itulah kebenarannya " balas Johan.
" Jika kau merasa sangat pintar, sudah pasti Alvarendra sudah jatuh ketanganmu. Bukan seperti sekarang kau sibuk mencari kawan untuk mengambil kembali Alvarendra yang sayangnya tidak akan pernah kau dapatkan sampai kapanpun '' kata Johan.
'' Kau kupanggil kesini untuk bekerja sama bukan untuk menghinaku seperti itu " balas Renata yang merasa sejak tadi Johan selalu menyudutkannya.
" Dengar baik-baik, Sabrina bukan lawan yang mudah. Kau pikir dengan kematian orang tuanya dia akan lemah? tidak, dia bahkan bertambah kuat. Ingat Renata kematian Devira dan Winata penyebab utamanya adalah kau sendiri. Aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk menjadi alatmu, cari orang lain karena aku tidak mau berhadapan dengan Zevano " kata Johan dia pun bangkit dan meninggalkan Renata di tempat itu.
" Zevano Selio Askar, siapa dia sebenarnya bahkan Johan pun tidak ingin melawannya. Aku harus tenang bagaimana pun caranya Sabrina harus segera disingkirkan, pasti ada orang yang bisa melakukannya jika Johan tidak bisa satu-satunya orang yang bisa membantuku adalah dia " Renata berbicara sendiri sambil memikirkan sosok yang ia yakin bisa membantunya.
next semngt sukses selalu