NovelToon NovelToon
Senior & Junior

Senior & Junior

Status: tamat
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Cinta setelah menikah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: firefly99

Di puncak gunung dengan ketinggian 2874 MDPL, seorang gadis mendongak menatap lelaki yang berdiri di depannya.
"Mari kita akhiri semuanya." ucap gadis tersebut.
Lelaki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum, "apa yang harus diakhiri? Kita tidak pernah memulai apapun."

Mata gadis tadi berkedip dua kali, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk, "terima kasih."

Jadi kedekatan yang telah mereka lewati selama setahun belakangan tidak berarti apa-apa bagi si lelaki. Sementara lain hal dirasakan oleh si gadis, ia menganggap dirinya spesial.

Namun rupanya takdir punya caranya sendiri untuk menyatukan dua manusia, tidak peduli sejauh apa usaha keduanya untuk saling menjauh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Celebration

Alunan lagu Jamrud - Selamat Ulang Tahun menggema di dalam cafe kekinian yang menjadi tempat nongkrong para remaja. Jam dinding sudah menunjukkan angka 8 malam, waktu yang telah disepakati untuk merayakan ulang tahun Naya.

Erwin dan Kevin berdiri mendampingi Naya yang akan meniup lilin. Kenapa bukan pak Nadim dan Naka? Karena ini adalah perayaan khusus untuk teman-teman Naya.

"Make a wish Nay!" Wina mengingatkan.

"Wish nya jadi juragan, eyaaak!" seru Anggi.

"Juragan apa Nggi?" kepo Ima.

"Yaa juragan." Anggi terkekeh.

Naya memejamkan matanya, "Semoga Naya dan kalian semua selalu hidup bahagia, jalinan persahabatan kita langgeng terus." harapnya lalu meniup lilin di depannya.

"Yeaayy!"

"Naya sudah besar euyy!"

"Kue pertama untuk siapa Nay?"

Naya memegang dua sendok, lalu menyuapi Erwin dan Kevin bersamaan.

"Yaa pastilah untuk dua bodyguardnya." cibir Fajar.

Yang lain tertawa.

Naya berjalan ke panggung untuk memberikan sapaan sederhana kepada teman-temannya. "Hello everyone! Pertama-tama, Naya tentu ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua yang telah meluangkan waktunya untuk hadir di tempat ini. Teman kelas, teman OSIS dan terkhusus kepada Erwin dan Kevin yang selalu saya repotkan. Bersama ini saya juga ingin mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. So, let's start our Saturday night, and have fun!!!"

"Yeaay!!"

Yang lain bertepuk tangan.

"boleh makan Nay?" teriak Haris.

"Boleh, makan yang banyak." Naya mengangguk.

Selain live music, Naya juga meminta tolong kepada pihak cafe untuk menyiapkan foto booth untuk mengabadikan momen malam ini.

"Brondongnya gak kau undang?" bisik Nadia.

"Diundang, Nad. Tapi doi lagi ada kesibukan lain." jawab Naya. "Kenapa dah pada cari dia?"

"Yaa heran aja, masa' kau ultah baru dia nda datang." jawab Ima. "Hitung-hitung cuci mata sih."

"Karena brondong premium yaa Ma?" Wiwi menaik turunkan alisnya menggoda Naya.

Ima mengangguk, "brondong bukan sembarang brondong."

Ketika genre musik berganti dari pop ke lagu timur, seketika Naya berdiri diikuti oleh yang lain. Suasana seketika berubah menjadi lebih seru. Bukan hanya suara vokalis yang terdengar, tapi juga sahutan-sahutan dari Naya dan teman-temannya.

✨✨✨

Jika semalam Naya menghabiskan waktunya bersama teman-temannya, maka hari ini Ryan meminta bagiannya untuk menghabiskan waktu hari ini dengannya.

"Papa dan kakakmu gak ada?" tanya Ryan.

"Kenapa?"

"Mau izin."

Naya menggelengkan kepalanya, "Papa dan kakak berangkat tadi subuh ke luar kota." katanya.

Ryan mengangguk paham, "Okay, let's start our adventure today."

Hari ini Ryan membawa mobil. Entah bagaimana bisa padahal umurnya belum cukup untuk mendapatkan SIM. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, bergabung dengan kendaraan lain dijalan raya ibu kota madya. Mall yang memiliki bioskop di dalamnya menjadi tempat pertama yang akan mereka kunjungi hari ini.

"Ra, tadi sudah sarapan?"

Naya menoleh dan mengangguk, "sudah, tadi." jawabnya. "Kamu gak sarapan tadi?"

"Sudah, Ra. Kan tadi sempat PAP." jawab Ryan. "Hanya memastikan saja, takutnya kamu belum sarapan."

"Jadi hari ini kita mau kemana?"

"Seperti muda-mudi lainnya, mari kita nonton dulu." Ryan mengelus rambut Naya sekejap, lalu kembali fokus dengan jalanan di depannya.

Naya tertawa kecil, "Okee." ia setuju.

"Kamu ada rekomendasi film?"

"Nggak." jawab Naya. "Hari ini kamu yang jadi panitianya."

Gantian Ryan yang tertawa kecil, "Siap, tuan putri."

Ryan langsung saja memegang pergelangan tangan Naya begitu mereka turun dari mobil. "Nanti kamu hilang."

Naya mencebikkan bibirnya, tapi tidak melepaskan diri dari Ryan. Bioskop berada di lantai teratas bangunan, membuat keduanya berjalan lebih lama.

"Duduk di sini yaa." Ryan mendudukkan Naya di sofa panjang. "Jangan kemana-mana."

"Siap, panitia." Naya hormat. Pandangannya tidak terlepas dari Ryan yang sedang antri popcorn. Sesekali laki-laki itu menatap ke arahnya, seolah memastikan jika ia baik-baik saja.

"Maaf, lama." Ryan duduk di sebelah Naya. "Mau minum dulu?"

Naya mengangguk, ia mengambil satu cup minuman dari tangan Ryan. Alih-alih mengarahkan ke mulutnya, ia malah mendekatkan ke Ryan.

Sebelah alis Ryan terangkat, tidak paham dengan arah tindakan Naya.

"Minum ih." ujar Naya. "Kamu pasti capek, hampir antri setengah jam."

"Xie-xie." Ryan mengelus rambut Naya begitu ia selesai minum.

"Sepatunya geser dikit ke sepatuku." Naya kini sibuk dengan kamera ponselnya. Ia mengarahkan ke lantai, dimana sepatu mereka berpijak.

"Madep sini." pinta Naya lagi. Ia mengangkat minuman yang dipegangnya untuk menutupi sebagian wajah Ryan lalu memotretnya.

"Sudah?"

Naya mengangguk."Ayo!" ajaknya begitu pintu bioskop terbuka. Ia merasakan telapak tangan Ryan pada puncak kepalanya. Lelaki itu benar-benar memanfaatkan tinggi badannya.

Alih-alih memilih film romance, Ryan malah memilih film kartun. Hal itu mengundang tanya dibenak Naya, membuatnya menatap Ryan.

"Kenapa?" tanya Ryan. Ia tahu jika Naya sejak tadi menatapnya.

Senyum Naya tertahan, "umur ternyata gak bisa bohong."

Mata Ryan membulat mendengarnya, "Baru juga ulang tahun, udah sombong aja." katanya. "Mau ngajak nonton film romance, umur kita masih dibawah 17 tahun soalnya."

"Dipahami." ucap Naya. Ia kembali fokus pada film yang sedang tayang. Sesekali tangannya mengambil popcorn.

Sepanjang nonton, Ryan lebih banyak melihat Naya daripada film yang sedang tayang. Sebisa mungkin ia merekam segala ekspresi perempuan disebelahnya.

"Kenapa sih liatin saya terus? Belepotan yaa?" Naya memegang pipinya, mengira jika ada remahan popcorn.

Ryan memegang tangan Naya, lalu membawanya ke pangkuannya. "Gak ada." jawabnya singkat. "Nonton lagi, filmnya udah mau habis." katanya ketika menyadari Naya melamun.

Setelah filmnya selesai, keduanya meninggalkan bioskop. Langkah Naya terhenti ketika mendengar dering ponsel Ryan, dimana lelaki itu juga ikut berhenti dan mengecek ponselnya. Sekilas ia melihat id caller dengan nama Raya.

"Jawab saja." ucap Naya saat menyadari jika Ryan menatapnya, seolah meminta izin.

Ryan mengajak Naya duduk di sofa yang tersedia, kemudian menjawab telpon Raya. Tangannya tentu tetap memegang pergelangan tangan Naya.

"Kenapa, Ya?"

"...."

"Lagi di luar."

"...."

"Sama Ara."

"...."

"Okee, sip. Aman."

"...."

"Okee." Ryan kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya begitu panggilannya terputus. Ia menoleh dan mendapati Naya lagi-lagi melamun. "Kenapa lagi hmm?"

Naya menelisik wajah Ryan, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tadi Raya bertanya, free atau nggak? Terus minta dianterin ke rumah pamannya." Ryan menjelaskan tanpa diminta.

"Gak nanya." cibir Naya.

Ryan terkekeh mendengar cibiran Naya, "Saya yang mau jelaskan, Ra. Tanpa kamu minta. Takutnya otak kecil kamu dipaksa berpikir yang tidak-tidak." ia berdiri, sehingga Naya juga ikut berdiri.

"Tahu apa soal otak saya?"

"Ya kan tadi cuma ketakutan saya, Ra. Bukan karena tahu."

1
Herawaty Herawaty
luar biasa kak cerita nya👍.. di tunggu karya barunya
Rita Rita
massa sih suami istri masih saya dan saya bahasanya. gimana gitu kesannya 🤔🤔🤭🤭
Rita Rita
bahasa nya kaku banget Thor,,, antara anak, orang tua, saudara,,, suami istri. pake saya. ga pake aku,, terlalu formalitas
Rita Rita
ini cerita nya lagi musim covid kemarin ya Thor, memang mengerikan sekali waktu itu, disetiap waktu ada yg terjangkit
LindaLW
Cerita nya bagus, suka sma persahabatan Naya, Erwin dan Kevin yg udh sprti keluarga. Awal ny senang dgn kisah Naya dan Ryan, krna Naya sllu diperlakukan bak Princess oleh Ryan. Tp tiba² Ryan hrs menuruti keinginan ayah ny. Smga ending ny Naya dan Ryan kembali bertemu dan bersatu lg.
LindaLW
suka sma cerita nya bagus dan keren bgt...
sedih dgn kisah Naya dan Ryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!