SETIAP HARI UP UNTUKMU🤩
Kedatangan lelaki-lelaki muda Eropa yang ganteng-ganteng telah menuai pusat perhatian. Disaat yang bersamaan, lelaki-lelaki dan wanita-wanita muda pun ikut menghilang satu demi satu secara misterius.
Holsi dan teman-temannya menyadari hal itu dan tahu rahasia dibalik itu semua. Namun, mereka semua berhasil dibungkam oleh dua tokoh yang menawan namun iblis. Holsi dan teman-teman nya berhasil di usir dan di hina kan banyak orang.
Dua tokoh menawan itu semakin dipuja-puji bak dewa-dewi. Peminatnya dari kalangan remaja yang begitu tergila-gila pada dua tokoh itu.
Lalu, jelas nya seperti apa? Baca Sekarang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Firmo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 24
Noah begitu indah, Noah begitu luas, Noah begitu mirip dengan July.
Eli lalu berkata. "Noah adalah daerah yang kami temui dari sebuah gua yang ada di hutan Noah. Dan di Noah juga kami jadi teringat dengan daerah July yang sangat mirip dengan daerah Noah ini. Namun, yang membedakan adalah rasa dan aura yang ada disini dengan July."
Kemudian Erik celingukan mencari sesuatu yang tengah ia pikirkan. "Lalu, dimana makam ketiga remaja itu dimakamkan?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Erik, membuat Eli kebingungan. "Astaga, iya yah. Dimana ya? Aku baru menyadari hal itu! Sial! Dimana?"
Melihat Eli yang tiba-tiba panik, membuat Tommy dan Halzet pun ikut panik.
"Astaga, aku juga bahkan lupa!" Kata Tommy yang juga merasa kesal dengan keadaan ini.
Lalu Halzet yang masih menyerupai serigala putih kebiruan, berlari-lari ke segala arah. Untuk mencari makam ketiga remaja yang pernah menjadi pahlawan di seratus tahun yang lalu.
Kemudian Eli yang melihat Halzet berlari-lari mencari pemakaman itu, berteriak. "Halz, cepat cari! Aku khawatir jika mahkluk Desember itulah yang telah mencurinya!"
Nuel dan Holsi hanya bisa saling menatap satu sama lain.
"Apakah kau menyadari sesuatu?" Ungkap Nuel pada Holsi.
Holsi hanya bisa memberontak dari pertanyaan Nuel yang begitu mendesak hati. "Sadar akan hal apa? Aku nggak menyadari sesuatu."
Halzet yang masih berlari-lari mengelilingi daerah Noah ini, semakin dibuat tidak karuan. Hatinya semakin bimbang, tatapannya semakin khawatir, dan rasa bersalah pun semakin menyerang dirinya.
Kemudian Eli terus menyeru ke Halzet. "Cari! Cari! Cari ketiga makam teman kita itu. Aku sangat khawatir, hiks..."
Lalu Erik pun ikut dibuat pusing dengan keadaan ini. "Kenapa makam nya bisa nggak ada? Apakah mungkin Desember-desember itu telah mencurinya?"
Tiba-tiba, di atas bukit. Halzet mengaung keras layaknya serigala jantan.
*Aaaaaaaakh!*
"Halzet?" Seru Eli yang prihatin.
Kemudian Tommy menghampiri Eli. "Sudahlah Eli, mungkin ini saatnya kita menerima kenyataan ini."
Namun Eli berusaha mengelak dari keadaan yang harus memaksanya pasrah begitu saja. "Tidak! Tidakkah kau lihat ketiga remaja ini, Holsi, Erik, Nuel. Sedang menunggu jawaban dari pertanyaan mereka selama ini? Mereka perlu melihat pemakaman itu! Karena mereka juga butuh itu! Ayolah Tommy..."
Lalu Tommy berkata. "Tapi tidakkah kau lihat ketiga makam teman-teman kita itu sudah menghilang?"
Kemudian Eli membuang muka. "Lalu kita harus gitu ajja pasrah dan melupakan nya? Padahal ketiga teman kita yang dahulu itu telah berjasa. Aku nggak akan seperti mu!"
Tommy pun berusaha merangkul Eli. "Eli, dengarkan lah aku."
Dengan paksa, Eli memberontak dan sedikit menjauh dari Tommy. "Menjaulah! Aku tetap akan mencari ketiga makam teman-teman ku itu."
Kemudian, Holsi melihat Halzet berlari menjauh ke sebuah hutan yang dipenuhi bunga-bunga putih indah di setiap daun pepohonan yang ada.
"Hei, Halzet pergi. Lihat!" Seru Holsi yang begitu nyaring.
Eli lalu berkata. "Dia sedang pergi ke hutan White. Biarkan dia sendiri..."
Dan Erik pun hanya bisa duduk di rerumputan yang daun-daun nya sangat pendek. "Kenapa semuanya jadi gini ya? Nggak faham deh."
Sedangkan Nuel, dirinya itu berjalan meninggalkan teman-teman nya itu yang sedang dalam suasana sedih, kesal, tidak karuan.
Nuel malah berjalan ke arah timur, seorang diri, tanpa disadari Eli dan yang lainnya.
Justru, hati dia sendiri yang membawa nya untuk berjalan ke arah timur itu. Dan pemikiran dia sangat aneh, sangat misterius, sangat berbeda dengan Erik & Holsi yang hanya bisa diam dengan keadaan ini.
Nuel terus berjalan dan berjalan. Teman-teman nya pun yang ada di tengah-tengah lapangan, semakin jauh dan tidak terlihat.
Ia mendaki sebuah bukit kecil, lalu sampai ke atas puncak bukit ini. Sesampainya diatas puncak bukit, Nuel memandang ke arah teman-teman nya yang jauh disana. Bahkan hutan White yang ada di barat pun, Nuel pandang dengan penuh.
Setelah ia menginjakkan kakinya di puncak bukit, ia menuruni nya dan terus berjalan jauh ke timur sana. Entah apa yang membawa nya, tetapi hatinya yakin ia akan menemukan sesuatu yang menurut dirinya menjadi jawaban kenapa ketiga makam teman-teman nya Eli, Tommy, Halzet menghilang begitu saja.
|
Ditempat yang tadi, Erik akhirnya menyadari jika Nuel sudah tidak ada di sini.
"Hah? Kemana si Nuel?" Kata Erik yang celingukan mencari keberadaan Nuel.
Namun anehnya, hilangnya Nuel dari pandangan Erik, tak Erik katakan kepada Eli dan Tommy.
Ia malah berjalan ke arah timur untuk mendaki bukit, yang tadi sempat Nuel daki seorang diri.
Kemudian, Holsi melihat Erik mendaki bukit kecil itu seorang diri.
"Kenapa sama si Erik? Eh kok Nuel juga nggak ada sih?" Kata Holsi pada dirinya sendiri.
Tanpa menoleh kembali ke arah Eli dan Tommy. Holsi justru malah berlari menyusul kepergian Erik yang sedang mendaki bukit di arah timur sana.
Eli dan Tommy yang sedang berdiam diri memandang hutan White di barat sana. Anehnya, tak menyadari sedikit pun kepergian Nuel, yang disusul oleh Erik dan Holsi.
|
Holsi yang sudah semakin dekat dengan Erik, menyeru. "Erik, kamu mau kemana?"
Erik yang tidak menoleh sedikit pun ke arah Holsi, terus melanjutkan pendakian bukit kecil ini. "Cari Nuel, dia hilang gitu ajja tahu."
Pada akhirnya, Holsi berhasil menyusul Erik. "Memangnya kamu tahu dia pergi kemana?"
"Hatiku bilang sih, dia pergi ke arah timur." Tutur Erik dengan singkat namun jelas.
Lalu Holsi berjalan bersama dengan Erik untuk mendaki bukit kecil ini. "Oke, aku juga ikut kalau kaya gitu."
Kemudian, puncak bukit berhasil diinjaki oleh Erik dan Holsi.
"Akhirnya, kita sampe di puncak bukit." Kata Erik dengan bahagia.
Lalu pandangan Holsi mengarah kelapangan yang tadi ia dan Erik berada di sana. "Lihat, Eli dan Tommy masih di lapangan itu."
Erik pun ikut memandangi lapangan yang jauh dibawah bukit ini. "Biarkan saja mereka disana, aku nggak mau ganggu mereka."
Kemudian Holsi menoleh jauh ke arah timur. "Apakah kau yakin arah timur ini menunjukkan bahwa Nuel pergi ke arah timur?"
Erik pun memandangi jauh ke arah timur sana. "Yakin banget."
Setelah berkata demikian, Erik yang di susul Holsi berjalan menuruni bukit ini.
Mereka berdua berjalan dengan secepat yang mereka bisa, arah timur yang seperti tidak ada ujungnya tengah mereka tempuh dengan penuh semangat.
Setelah menempuh perjalanan menuruni bukit ini, sampailah Erik dan Holsi di daratan rendah yang tak berbukit.
Daratan yang membentang ke arah timur ini, terlihat dengan jelas bahwa tidak ada lagi bebukitan yang berdiri sejauh mata memandang. Hanya tanah datar berumput indah yang membentang sejauh mata memandang.
Holsi yang melihat pemandangan langka ditambah indah ini, berkata. "Wow, aku pikir dibalik bukit ini akan semakin banyak bebukitan. Tapi nyatanya, pemikiran ku salah besar."
Erik tengah menjelikan pandangan nya. "Hmm... dimana si Nuel itu berada?"
Lalu Holsi bertanya. "Apakah kau yakin Nuel telah berjalan sebegitu jauh nya ke timur sana?"
Tiba-tiba, tak jauh dari Erik dan Holsi. Seseorang menyeru dengan bahagia. "Erik, Holsi."
Erik dan Holsi menoleh ke sumber suara itu.
"Nuel!" Seru Erik dengan penuh bahagia.
Kemudian Holsi berjalan menghampiri Nuel yang tengah berdiri. "Nuel, kemana saja dirimu itu?"
"Semuanya, aku telah menemukan apa yang selama ini Eli, Tommy, & Halzet cari!" Tegas Nuel kepada Erik dan Holsi.
Dengan penuh keraguan, Erik berkata. "Ketiga pemakaman remaja yang sangat mirip dengan kita itu?"
"Iya, mau lihat?" Seru Nuel penuh antusias.
"Iya dong, pengen lihat. Udah itu, kita kasih tahu Eli." Tutur Holsi pada Nuel.
Kemudian, mereka bertiga berjalan ke sebuah daerah yang terlihat dipenuhi bangunan kuno berbatu. Bangunan itu menyerupai rumah namun terbuat dari batu. Disekitaran rumah kuno ini juga, banyak sekali tanaman-tanaman bunga-bunga putih kebiruan, lalu ada beberapa pepohonan tinggi menjulang yang berbuah apel. Dan ada sebuah pagar berkayu yang diselimuti rerumputan hijau indah.
Erik yang melihat pemandangan indah ini, berkata. "Udah nggak bisa diragukan lagi."
Kemudian Holsi juga ikut berkata. "Indah banget ya, rasanya kaya masuk ke zaman romawi kuno."
Lalu Erik bertanya. "Apakah kau yakin pemakaman nya ada di dalam rumah itu?"
Kemudian Nuel berdiri didepan pintu rumah yang tidak ada pintunya itu. Ia berdiri dengan tatapan penuh kepada kedua temannya itu.
Holsi yang merasa aneh dengan tatapan Nuel yang penuh haru itu, berkata. "Kamu kenapa? Drama banget lihatnya."
Nuel terlihat menarik nafasnya itu, kemudian berkata. "Kitalah anak remaja yang dahulu pernah hidup, yang dahulu pernah menjadi pahlawan, yang dahulu pernah menjadi temannya ketiga manusia masa lalu itu, yang dahulu dimakamkan di Noah ini!"
tunggu ya
Author.....lanjut, tuntaskan ceritanya
cling gitu
Apakah dia murid baru