"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"
Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."
Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.
"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"
Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.
"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"
"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."
Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.
"Kau tidak akan bisa menemukannya."
"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.
Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?
Membuat penawaran baru?
Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?
Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Lemang
#Edisi Spesial
Awan-awan putih berenang di lautan langit biru, mengarak si Putih yang juga terbang dalam ketergesa-gesaan. Ia melawan arus angin demi menemui satu-satunya sosok yang ada dalam pikiran dan benaknya.
"Hey! Jangan melawan arus dong, bahaya tahu!" tegur seekor burung bangau putih.
"Dasar pelanggar lalu lintas udara!" maki burung bangau putih yang lain.
Cacian, umpatan, dan segala ekspresi kemarahan terus terdengar saling bersahut-sahutan di udara. Akan tetapi, si Putih yang dimaki-maki itu malah tidak menghiraukan keributan yang terjadi akibat ulahnya.
Si Putih tetap melesat meninggalkan kawanan itu. Sampai akhirnya ia kembali menabrak kawanan burung. Kali ini ia menabrak kawanan burung Asy Syuar yang sedang bermigrasi.
"Mamaaaaa!" teriak seekor anak burung Asy Syuar yang terpisah dari induknya akibat terjangan makhluk asing tersebut.
"Anakku!" teriak si Induk seraya mengejar anaknya yang terlempar keluar dari kawanan.
Barisan burung yang tadinya terlihat rapi kini terlihat kocar-kacir. Banyak burung yang berguling-guling di udara sebelum bisa mengendalikan tubuhnya kembali. Ada pula di antara mereka yang berkakak tidak jelas.
"Andai saja saya ini penguasa angkasa. Terciptalah sudah rambu lalu lintas udara," ucap seekor burung Asy Syuar.
"Andai saja diri ini polisi langit, pastilah sanksi telah kuterbitkan kepadanya sang pelanggar tata tertib langit," sahut burung Asy Syuar lainnya.
Tidak ada waktu untuk mendengar semua ocehan itu. Kepanikan yang dirasakannya telah membuatnya kalang kabut. Si Putih tidak lagi memperhatikan jalanan yang ia lewati. Yang ada dalam pikirannya hanyalah sampai di tempat tujuan dengan cepat.
"Ireng!" teriaknya saat ia mulai bisa melihat si Kuda hitam yang dicarinya dari udara.
Ireng yang sedang asyik menikmati rumput segarnya pun berhenti sejenak. Ia mengedarkan pandangan.
"Sepertinya ada suara perempuan memanggilku. Tapi, tidak ada siapa-siapa di sini. HM...ah, sudahlah!" ucapnya lalu kembali makan.
"Ireng, syukurlah kau masih di sini!" si Putih mendarat tepat di depan Ireng.
Ireng pun memperhatikan kaki putih yang ada di hadapannya. Matanya mulai merayap ke atas. Sesosok kuda terbang yang sangat menawan, berbulu mata lentik telah berdiri di depannya.
Kuda terbang putih bersuara merdu itu tersenyum manis kepada Ireng. Ireng terpesona pada pandangan pertama. Kedipan mata yang meluncurkan anak panah cinta itu menembus masuk melalui mata Ireng, hingga bersarang tepat di jantung hati Ireng.
"Jadi, dia yang memanggilku tadi? Cantik juga," batin Ireng.
Mulutnya menganga lebar. Rumput yang ada di mulutnya pun jatuh berguguran.
Tanpa pikir panjang, si Ireng pun langsung berkata, "Menikahlah denganku!"
Si Putih hanya memandang tidak mengerti kepada Ireng, lalu bertanya, "Hah? Siapa yang kau ajak menikah?"
Si Ireng tersenyum dan menjawab, "Tentu saja kau, manis! Siapa lagi kuda cantik yang ada di sini selain dirimu?"
Si Putih memperhatikan sekitarnya. Memang tidak ada kuda lain selain mereka berdua. Ia pun lantas memasang wajah garang.
"Dasar bodoh!" serunya seraya menampar si Kuda hitam dengan sayapnya.
"Aw! Aku tidak keberatan ditampar olehmu, asalkan aku bisa menikah denganmu," Ireng mengerlingkan sebelah matanya menggoda.
Si Putih menggelengkan kepala sambil mendengus. Kemudian ia kembali berkata, "Ini aku, bodoh! Sembrani. Apa kau tidak mengenaliku?"
"Sembrani?" ucap Ireng penuh tanda tanya.
Kemudian Ireng pun mengitari tubuh Kuda putih itu. Ia memperhatikan setiap inci bagian tubuh si Putih dengan teliti. Dan, ia pun tertawa lepas setelah pengamatannya selesai.
"Di lihat dari mana pun, kau ini tetap terlihat seperti kuda betina. Kau tidak punya itu. Hihihi. Mana mungkin kau ini Sembrani. Dia kan kuda jantan!" ujar Ireng sambil terus tertawa terbahak-bahak.
"Aku ini memang Sembrani. Ada suatu hal yang membuat fisikku berubah seperti ini," terang si Putih berusaha meyakinkan.
"Apa buktinya kalau kau Sembrani? Aku akan percaya bila kau bisa membuktikannya," ucap Ireng basa-basi.
Sebenarnya Ireng tidak serius mengatakan itu. Tapi, ia tetap ingin mendengar jawaban dari si Putih.
"Kau hanyalah seekor kuda dengan harga diri setara sebuah pisang," ucap si Putih memberi jawaban.
Ireng terperangah mendengar jawaban itu. Hanya Sembrani yang mengatainya seperti itu. Namun, Ireng masih menolak bukti nyata yang baru saja ia dengar.
"Sembrani pasti yang sudah memberi tahumu itu. Jangan-jangan kau ini saudara kembarnya Sembrani ya?" tukas Ireng.
"Aku ini memang Sembrani, dasar Otak Pisang!" geram si Putih.
"Lalu, bagaimana mungkin fisikmu bisa berubah? Jangan-jangan kau ini kuda setengah-setengah yang akan berubah menjadi betina kalau disiram air hangat?!" tukas Ireng lagi, lalu berlalu dari hadapan si Putih.
"Kok malah pergi?" ucap si Putih.
"Padahal kupikir aku akan mendapatkan pertolongan dengan datang kemari," lanjutnya tertunduk lesu.
Kini ia seperti kehilangan seluruh harapannya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menerima takdir barunya. Meskipun ia tidak menyukainya.
Tiba-tiba Ireng datang kembali dengan membawa seember air. Ia menggigit penaut ember dengan giginya. Ia menggerakkan kepalanya untuk melempar ember tersebut ke arah si Putih begitu jarak mereka telah dekat.
"Yes, berhasil!" seru Ireng.
Rencananya sukses membuat si Putih basah kuyup dengan guyuran air dingin. Si Putih pun kembali memandang Ireng dengan tatapan mata kesal.
"Loh? Tidak terjadi apa-apa ya?" Ireng memperhatikan tubuh si Putih yang masih sama seperti sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan, Otak Pisang?" geram si Putih.
"Kupikir kau akan berubah menjadi pejantan begitu kusiram dengan air dingin. Ternyata tidak. Berarti kau ini betina sejati, kan? Atau seharusnya aku menyirammu dengan air hangat? Ah, mungkin benar begitu? Sebentar ya!" cerocos Ireng.
Ireng mulai membelokkan badannya hendak pergi lagi. Namun, si Putih menghentikannya.
"Kau tidak perlu melakukan itu! Percuma saja. Itu tidak akan bekerja!" seru si Putih.
Si Ireng menoleh. Ia tersenyum sambil berjalan mendekat.
"Jadi, kau mengakui jati dirimu sebagai kuda betina sekarang? Kau menerima lamaranku?" cerocos Ireng lagi sambil mendengus-dengus bahagia penuh semangat.
"Harus berapa kali kukatakan supaya kau percaya? Aku ini Sembrani. Ah! Mungkin setelah kuceritakan kau akan percaya. Baiklah...," ucap si Putih menenangkan diri.
Ia pun mulai menceritakan hal yang membawanya dalam kondisi saat ini. Kisah ini bermula sejak dua hari sebelumnya. Hari itu tiba-tiba Gege membawakan banyak rerumputan segar yang lezat ke kandangnya. Porsi makan yang lebih dari hari-hari sebelumnya.
"Makan yang banyak ya, Sembrani! Habiskan! Setelah ini antarkan aku ke desa Kutukan!" Ucap Gege tersenyum sambil mengelus rambut kepala Sembrani.
"Oh, Iya! Sesampainya di desa Kutukan nanti, jangan makan apapun ya! Sekarang penuhilah perutmu sampai kenyang!" lanjutnya memberi pesan lalu pergi.
Sembrani pun mulai makan. Ia tidak bisa menghabiskan makanan yang disediakan untuknya. Karena porsinya terlalu banyak.
Tidak lama kemudian, Gege yang berpenampilan rapi dengan tas ransel tersandang di bahu pun kembali datang. Mereka pun memulai perjalanan menuju desa Kutukan.
Perjalanan tujuh jam di udara benar-benar membuat Sembrani sangat lelah. Medan udara yang sangat tidak bersahabat membuat tenaganya semakin terkuras. Sesekali ia harus menerjang angin topan yang menerpa, melawan arus angin berlawanan yang sangat kencang.
Sesampainya di desa Kutukan, Sembrani mengistirahatkan tubuh letihnya di bawah pohon besar rindang berlumut. Sementara Gege pergi menemui seseorang untuk menuntaskan urusannya.
Sembrani duduk, ia mencoba tidur namun perutnya keroncongan. Ia pun mengamati sekitarnya. Ia berdiri saat melihat rerumputan segar tumbuh di sisi lain pohon tempatnya istirahat.
Sembrani mulai berjalan pelan menghampiri rerumputan tersebut. Rasa lapar membuatnya melupakan pesan sang Tuan sebelum berangkat. Ia pun melahab rumput itu tanpa berpikir apapun.
"Suamiku!" jerit sebuah suara wanita.
Suara itu sukses membuat Sembrani terperanjat. Bahkan ia mendadak menghentikan acara makannya. Karena suara tersebut terdengar sangat keras sampai gendang telinganya terasa seperti mau pecah.
"Hua suamiku! Kembalikan suamiku!" jeritan tangis wanita itu semakin menjadi.
"Siapa? Siapa itu yang berteriak?" Sembrani celingukan mencari sumber suara.
"Muntahkan suamiku, dasar kuda tidak tahu tata krama! Jangan dimakan!" pekik suara wanita itu sesenggukan.
Sembrani menelan rumput yang dikunyahnya, lalu bertanya, "Kuda? Maksudnya aku?"
Tidak ada kuda lain selain Sembrani di sana. Tidak ada pula orang di sana. Sembrani pun bingung dibuatnya. Suara siapakah itu, darimana kah, itu, ia tidak tahu.
"Tentu saja kau! Memangnya siapa lagi, hah?" jawab suara wanita itu.
"Oke. Aku tidak merasa memakan makhluk hidup. Mungkin kau salah paham," balas Sembrani.
"Kau pikir kami ini bukan makhluk hidup, lantas kau bisa memakan kami seenaknya, dan memisahkan cinta sejati kami? Sungguh penghinaan. Lihatlah! Rerumputan yang bergoyang diterpa semilir angin ini pun hidup. Kami tumbuh dan berkembang biak. Kau masih memandang kami sebagai benda mati?!" ujar suara wanita itu yang ternyata adalah rumput Kalajana di depan Sembrani.
"Tunggu dulu...," Sembrani mencoba mencerna kata-kata yang ia dengar sambil mencerna makanannya.
"Jadi, yang berbicara denganku sekarang adalah rumput?" tanya Sembrani memastikan pemahamannya.
"Ya, aku rumput hidup. Dan yang kau makan adalah suamiku. Ia telah mati di mulutmu. Huhuhu," rumput tersebut kembali tersedu.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud memisahkanmu dari suamimu. Aku tidak bisa menghidupkan suamimu. Tidak pula bisa memuntahkannya. Tapi aku bisa mengembalikannya dalam wujud lain. HM...apa kau punya obat pencuci perut? Mungkin dengan itu aku akan segera bisa membawanya ke sisimu kembali," ucap Sembrani.
"Maksudmu membawa kotoran ke sisiku? Aku tidak butuh hasil dari defekasimu!" tolak si Rumput Kalajana kesal.
"Tapi, fesesku bisa menyuburkanmu, dan kau pun bisa tumbuh sehat bersama suamimu yang telah menjelma menjadi pupuk," ucap Sembrani dengan tampang kuda polosnya.
"Cukup! Kau memang tidak mengerti hati wanita saat kehilangan belahan jiwa tercintanya. Kukutuk kau jadi betina!" seru si Rumput Kalajana penuh amarah.
Seketika itu, akar-akar tanaman mulai menyembul dari tanah. Akar-akar itu mengikat keempat kaki Sembrani. Sembrani pun menggerak-gerakkan kepala panik. Ia meringkik, menggerakkan kakinya, mencoba melepaskan diri dari jeratan akar. Namun tidak bisa.
Air mulai merembes dari tanah yang dipijak Sembrani. Anehnya, rembesan air tersebut membentuk cekungan yang mulai menenggelamkan tubuh Sembrani. Sembrani pun mencoba untuk beralih ke mode api. Sayangnya itu tidak berhasil. Ia tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Air terus meninggi hingga menenggelamkan seluruh tubuhnya. Kemudian, beberapa rerumputan memanjang, membungkus rapat bola air yang menjebak Sembrani.
Sebuah alunan irama mencekam mulai terdengar. Permukaan gumpalan rerumputan yang membungkus Sembrani itu memunculkan tonjolan-tonjolan tidak beraturan yang timbul/hilang secara terus menerus. Seolah terdapat letupan energi di dalamnya.
"Apakah aku akan mati sekarang?" pikir Sembrani.
Sembrani sudah tidak bisa menahan napas lebih lama lagi. Ia pun mulai tersedak. Ajaibnya, setelah tersedak, gumpalan rerumputan itu meledak dan ambyar, air pun tumpah ruah kemana-mana.
Sembrani selamat. Ia terbatuk-batuk dan mulai mengatur napas kembali. Hidungnya terasa pengar karena air yang tanpa sengaja masuk.
"Syukurlah, aku masih hidup," Sembrani menghela napas Lega.
"Eh?!" sentaknya saat menyadari ada yang berbeda dari dirinya.
"Ehem. Yo, Yo, Yo, namaku Sembrani, Sembrani si Kuda tampan dari surga!" Sembrani berlagak seperti seekor rapper untuk mengetes suaranya.
"Hah?...," Sembrani pun mendadak gemetaran lemas saat mendengar suaranya sendiri yang terdengar cantik.
"Tidaaaaaaak! Kenapa suara tampanku berubah menjadi suara perempuan?!" teriak Sembrani syok.
"Tentu saja karena kau sekarang adalah kuda betina," sahut si Rumput Kalajana perempuan.
"Kau pasti bercanda...i-iyya, kan?" tanya Sembrani dengan suara bergetar.
Ia tidak ingin mempercayai semua ini. Tapi, didengar bagaimana pun juga, suaranya tetap terdengar feminim. Ia pun memberanikan diri untuk menunduk, mengintip satu-satunya bukti yang menjadi penanda bahwa dirinya telah berubah.
"Tidaaak...ini tidak mungkin," Sembrani terduduk lemas.
Anatomi tubuhnya telah berubah. Bahkan hatinya pun sepertinya turut berubah. Berubah lebih feminim hingga ia tidak bisa menahan air mata yang berlinang.
"Ireng...," itulah satu nama yang terlintas dalam benak Sembrani.
"Aku harus meminta bantuannya. Hanya dia yang benar-benar mengenalku. Mungkin hanya dia juga yang bisa membantuku!" Sembrani kembali bangkit.
Ia memantabkan hatinya. Dan bergegas terbang ke tempat Ireng sampai ia melupakan Gege yang masih berada di desa Kutukan. Itulah akhir dari cerita Sembrani.
Ireng manggut-manggut ala kuda mendengar kisah itu. Sementara Sembrani yang lebih emosional kini menangis menceritakan kisah yang memilukan itu.
"Sabar ya, bro! Eh, sis maksudku!" ucap Ireng menghibur.
Ireng tidak tahu harus percaya kisah itu atau tidak. Jujur di lubuk hati terdalamnya, Ireng tidak keberatan bila kuda putih di hadapannya sekarang sebenarnya memang Sembrani. Dan, ia berharap agar Sembrani tidak akan pernah berubah menjadi kuda jantan kembali. Karena Ireng terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Maafkan aku, Sembrani! Mungkin aku telah mengharapkan sesuatu yang sangat tidak kau sukai saat ini. Bagaimana lagi? Dirimu yang sekarang terlihat sangat menawan. Aku tidak punya pilihan lain selain berdoa agar tetap seperti ini," batin Ireng tersenyum iblis.
"Jadi apa yang bisa kubantu?" tawar Ireng, meski ia tidak serius ingin membantu.
Si Putih alias Sembrani pun berhenti menangis. Dengan suara yang dibuat supaya terdengar tenang ia berkata, "Bantu aku agar aku bisa kembali berubah menjadi pejantan!"
Sebuah jawaban yang sudah diketahui Ireng. Bahkan sebelum Sembrani mengatakannya. Klise memang. Tapi Ireng tetap melakukannya untuk formalitas.
Mari saling mendukung