Mencintai akan di sakiti.
Di cintai akan menyakiti.
Saling mencintai akan tersakiti
Sang anak Athena bersinar bak surya.
Merubah konsonan takdir dunia.
Kekasih takdir yang saling memberontak.
Membuat jurang kebodohan.
Sang anak Athena yang terus merintih sakit.
Yang melihatnya adalah saksi-saksi kekejaman takdir.
Sinopsis: Seorang dara yang masuk ke dalam sebuah novel Dektektif dengan segudang misteri. Namun tidak pernah terpikirkan bahwa dia memiliki peran di bawah pena takdir.
Terbagi menjadi pikiran dan emosi, sang jiwa luntang-luntung mencari jiwa yang asli. Paus yang bertemu putri duyung di pinggir laut lepas, serta sang Dewi yang terus mencari sang dara.
Mengikat janji di bawah lembayung biru bumantara dan berkeliaran di dunia yang menurutnya fiksi. Sang dara yang terus mencari apakah ia pikiran atau emosi, sampai ia mengetahui ekspresinya adalah 'kebohongan'.
—BLUE ROSE—
Tak peduli bahwa ia merubah takdir, takdir tetaplah takdir. Ia tidak akan bisa menebus semua dosanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olivia junia f., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22: Di Mana Hiro? (2)
Kiseki—LuckLife
00:08 ————————————— • ——————01:06
⏭ ▶ ⏮
“**Semua senyumku memang kebohongan, tapi hatiku tidak bisa berbohong bahwa aku tidak ingin meninggalkan dunia.” —Negoisawa Erosi**.
♣♪
Lelaki berambut hijau lumut—Negoisawa Erosi—bersandar di dinding samping rel kereta dengan tatapan jengkelnya. Nego mengotak-atik ponselnya, mencari artikel tentang organisasi SevenSix.
Matanya sedikit melirik ke samping, melirik sosok Hiro yang terikat di tengah rel kereta dengan banyak bom di tubuhnya. Jika kereta datang, Nego akan menekan tombol untuk meledakkan bom di tubuh Hiro.
“Sial, semuanya mati. Hanya tersisa diriku.” gumam Nego kesal.
Sampai tak lama ia tertawa geli, “Tapi, apakah itu yang mengganggu keseimbangan jepang? Menarik,” gumamnya lagi.
“Informasi tentang kereta bawah tanah sudah di tutup.”
Suara dengan nada robot itu membuat Nego kaget. Ia melihat sekelilingnya, tidak ada seorangpun di sana kecuali dirinya dan Hiro yang terikat.
“Lihat ponsel, lihat ponsel!”
Pandangan Nego mengarah ke layar ponselnya. Lalu tiba-tiba muncul virus dengan gambar robot di layarnya. Membuat Nego mengernyit bingung.
“Siapa kau?” tanya Nego.
“Kau pasti orang kampungan. Aku adalah robot. Peretas nomor satu di dunia siap membantu. Jika kau ingin mengalahkan SevenSix, kau membutuhkan pria jenius yang cemerlang! Diriku di tambah otakmu, pasti akan ber—”
Belum selesai robot itu mengoceh, Nego menekan tombol merah yang ada di layar ponsel. Membuat gambar robot itu hilang dari sana.
Nego memutar-mutar ponselnya, “Kalau begitu, tiketnya harus lebih besar agar mereka tidak bisa menutupinya.” ucapnya pelan, lalu ia berhenti memutar ponselnya.
“Baiklah, ini di mulai.” ucapnya lagi lalu menatap ke arah Hiro yang sudah terbangun.
Hiro menatap nyalang dirinya. Tatapan datar dan tajam itu di layangkan pada Nego. Sedangkan Nego, ia berjalan menghampiri Hiro lalu menjambak kuat rambut Hiro.
Membuat Hiro mendongak menatapnya dan sebuah ringisan pelan keluar dari mulut Hiro. Nego tersenyum remeh.
“Bleidmu tidak berguna untuk bertarung, kan? Tapi kudengar tendanganmu itu kuat.” ucap Nego dengan nada sinis.
Hiro tersenyum miring, “Kau takut? Ingin merasakan tendanganku?”
Nego yang mendengar itu menatap datar, lalu melepaskan jambakannya. Namun sebuah tendangan di layangkan ke pipi Hiro, membuat Hiro tersungkur.
“Kau tahu, apa salah organisasimu?” tanya Nego dengan nada datar, “Organisasimu membuat ayahku mati.” lanjutnya.
Nego menendang perut Hiro dengan kuat beberapa kali. Lalu ia menginjak perut Hiro, menekan kakinya dengan kuat.
“Karena organisasimu, ayahku di tangkap polisi dan bunuh diri di penjara karena depresi!” bentak Nego dengan aura kemarahan, “Semua salah salah kalian!”
Hiro yang mendengar itu terkekeh geli, “Negoisawa Barou? Ayahmu? Haha! Salah kami? Salahkan ayahmu yang mengebom gedung kami!”
Nego semakin kuat menginjak perut Hiro. Hiro menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Namun senyuman remeh tidak lepas dari bibirnya.
“Kau pecundang, lebih baik diam!” bentak Nego lalu mengeluarkan pisau dari saku.
“AKKH!”
Teriakan itu keluar dari mulut Hiro saat bahunya merasakan sakit luarbiasa. Darah menggenang di bahunya akibat pisau yang tertancap. Hiro meringis, namun ia malah tertawa geli.
“Rencanamu sangat buruk,” ucap Hiro tanpa ada rasa takut.
Api kemarahan Nego sudah mencapai puncak. Ia mencabut paksa pisau di bahu Hiro, membuat Hiro kembali meringis. Nego mengeluarkan benda pipih dengan tombol merah di tengahnya.
“Aku muak, ucapkan selamat tinggal pada dunia.” ucap Nego sambil melangkah mundur.
Hiro mengerutkan kening, lalu matanya membulat saat mengerti arti tombol itu. Ia melihat ke dadanya, sebuah bom dengan waktu beberapa menit lagi terpampang di sana.
“Sialan!” seru Hiro.
Nego tertawa melengking, membuat telinga Hiro berdenging. Jari Nego sudah siap menekan tombol. Hiro menutup mata erat, ia terus merutuki nasibnya karena Bleidnya tidak cocok untuk pertarungan.
Buagh!
Kepala Nego di jadikan samsak tendangan oleh seseorang. Membuat genggaman tangan Nego pada benda yang menjadi kunci bom terlepas. Benda itu terlempar lumayan jauh.
Nego meringis pelan, namun sebelum dia bisa melawan dia kembali di tendang sampai tersungkur. Tangan Nego di kunci oleh beberapa polisi dan dia tidak bisa kabur.
Tiga orang penjinak bom menghampiri Hiro, membuat Hiro terkesiap kaget. Siluet dua gadis dan dua laki-laki terlihat samar. Matanya menyipit untuk mencoba melihat lebih jelas. Siluet itu berjalan mendekat ke arah Hiro membuat Hiro terkejut saat tau siapa itu.
“Ara~ ternyata seorang Hiro Ashimura bisa di culik.” ucap Noe sambil tersenyum miring.
Setelah menendang kepala Nego, Noe merasa sangat puas entah kenapa. Sedangkan Akami di sebelahnya berkacak pinggang.
“Dasar ceroboh, bagaimana bisa kau diculik?” tanya Akami dengan tanda kemarahan di pelipisnya.
Hiro yang sudah keluar dari jeratan bom berdiri, “Bagaimana kalian bisa menemukanku di sini?”
“Kami menemukan tanda pengenal Hiro-San tak jauh dari pintu masuk kereta bawah tanah Yokohama.” jawab Hashira sambil memperlihatkan tanda pengenal Hiro.
Hiro terkekeh pelan, masih sempat ia hidup setelah apa yang ia dapat. Tarasama yang berada di dekat Hashira berjalan ke arah Hiro dengan seringai tipis.
Tarasama memegang bahu Hiro yang terdapat bekas tusukan, “Wah, sepertinya sakit, akhirnya aku mendapat pasien.”
Wajah Hiro seketika pucat ...
“TIDAAAAAAK!?”
Noe, Akami, dan Hashira berada di kantor polisi. Tarasama dan Hiro langsung pulang ke agensi untuk penanganan luka Hiro.
Di depan mereka terdapat pria itu, Nego. Lelaki itu menatap datar ketiga orang di depannya.
“Jadi? Ada kata-kata terakhir sebelum kau masuk penjara?” tanya Akami.
Nego terdiam, ia tidak menjawab satu patah katapun. Membuat Akami mengangkat tangan, memberi isyarat agar Nego langsung di masuk ke penjara.
Nego di antar oleh dua polisi, membuat Noe dan kedua rekannya beranjak dari duduk untuk keluar dari kantor.
“Ah, aku tidak menyangka ada yang nekat menculik salah satu anggota Dektektif,” monolog Hashira pelan.
Noe terkekeh pelan, “Beruntung kita semua pintar—”
Kata-kata Noe terhenti, matanya membulat sempurna ketika ada seseorang berperawakan polisi melewatinya. Rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya, seperti ada sengatan listrik membuat tubuhnya bergetar.
'Aku lupa scene ini, harusnya aku tetap di sana dan tidak membuatnya mati,' batin Noe panik.
“AKKHH!?”
Teriakan itu berasal dari ruang penjara. Telinga Noe terangkat, kakinya langsung berlari kembali masuk ke kantor polisi. Noe merutuki dirinya sendiri yang ceroboh, dia lupa.
Hashira dan Akami berlari mengikutinya. Noe melihat mayat polisi di mana-mana, membuat hatinya bergetar. Noe berhenti di kala melihat jeruji penjara sudah di buka.
Mayat seorang lelaki bersurai hijau lumut tergeletak dengan genangan darah dan pisau tertancap tepat di jantungnya. Noe mendekat dengan panik, lalu berjongkok dengan kakinya menumpu tubuhnya.
“Nego! Nego! Negoisawa Erosi!” seru Noe mencoba memberhentikan pendarahan.
'Sialan! Aku lupa scene ini! Aku bodoh!' umpat Noe dalam batinnya.
Akami mencoba membantu Noe dengan memasang perban dan mencabut pisau. Hashira terdiam di pintu, hatinya gelisah. Sayup-sayup mata Nego terbuka, membuat Noe sedikit memiliki harapan.
“Matamu sangat bagus, lihatlah ... Itu berkilau. Tetap di buka, oke?” ucap Noe pelan.
Nego terkekeh geli, lalu tangannya yang bersimbah darah memegang tangan Noe, “Jangan pernah ...”
Noe menggigit bibir bawahnya saat mendengar suara serak Nego. Nego sudah di ambang batas. Noe merasa bodoh, padahal dia tahu ini akan terjadi.
“Jangan pernah bertemu Whi—”
Sebelum kata-kata itu terucap, mata milik Nego tertutup Membuat semua hening. Akami hanya bisa mengerutkan kening, ia terlambat. Seandainya Tarasama di sini, mungkin tidak akan terlambat.
Noe meremas ujung bajunya geram, seharusnya Nego tidak ia biarkan mati, Nego adalah bagian dari rencananya. Polisi yang melewati Noe, Noe harus menghabisinya.
“Panggil divisi keamanan Yokohama.” ucap Noe mutlak dengan nada datar.
Ia beranjak dan pergi dari sana meninggalkan Hashira dan Akami. Akami langsung melaksanakan perintah Noe. Bagaimanapun Noe adalah anak dari Sachounya—anak angkat.
'Akulah karakter utamanya sekarang. Siapapun dalangnya dan bagaimanapun alurnya yang sedikit berubah. Akan hancur di tanganku.'
... Entahlah.