Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vian POV ( Pandangan Itu Bukanlah Untukku)
Aku masih setia mendengarkan curahan hati ibu dari Pak Nino, begitupun dengan Anna. Namun, aku beberapa kali melihat Anna memandang ke arah lain meski sesekali. Sebenarnya apa sih yang menjadi pengamatannya, mengapa wajahnya menjadi memerah, apa ia sakit? Kalau aku tahu dia sedang tidak enak badan, lebih baik aku tidak mengajaknya saja.
Karena aku merasa penasaran setengah mati, kuikuti arah pandang Anna, dan ternyata dia tengah memandangi Pak Nino yang tengah terbaring itu. Namun, yang membuatku sedikit tidak nyaman adalah cara Anna memandangnya. Terlihat sedikit ... memuja. Ya Tuhan, mengapa rasanya sakit sekali, apa ini hanya perasaanku saja, ataukah memang Anna menyimpan perasaan pada Pak Nino?
Akan tetapi, jika itu benar, mengapa aku baru mengetahuinya sekarang? Ah, tidak semoga saja ini hanya perasaanku saja. Dia tidak mungkin memiliki perasaan terlarang seperti itu.
Eh tunggu, terlarang?
Anna pernah mengatakan bahwa ia memiliki perasaan terlarang pada orang yang dicintainya, apakah mungkin?
Tidak ... itu tidak mungkin, mungkin saja itu orang lain, bukan Pak Nino. Aku pasti sudah gila jika memiliki pikiran seperti itu.
Akan tetapi pandangan mata Anna ke Pak Nino benar-benar membuatku tidak nyaman.
Kami masih berbincang dan kulihat Anna menyahut sesekali ketika ditanya.
“Aku merasa senang kalian menyempatkan diri untuk membesuk Nino, meski sampai saat ini Nino belum bangun dari tidur panjangnya, entah mau sampai kapan ia terbangun."
Aku hanya bergeming mendengar penjelasan Bibi, dia pasti rindu sekali dengan Pak Nino. Ah, omong-omong aku juga tak tahu kapan ia minggat dari tubuhku ini.
Yang kutahu Bibi masih mengungkapkan kesedihannya karena Pak Nino belum sadar juga.
“Bibi yang sabar, aku yakin Pak Nino pasti akan segera sadar tidak lama lagi," ucapku memberikan penghiburan untuk ibu dari Pak Nino ini. Kasihan juga melihatnya seperti raga tanpa jiwa.
“Terima kasih kalian selalu ada dan menguatkan Bibi," ucap Bibi tulus.
“Sama-sama Bibi."
Bibi lanjut mengobrol dengan Anna, mereka terlihat akrab. Namun pemandangan itu semakin membuat hatiku merasa teriris, karena pandangan Anna tadi, dan karena Anna tipe orang yang cepat mengakrabkan diri, membuat pemandangan ini seperti obrolan mertua dan menantu saja.
Jika Anna kuajak berkunjung ke rumah, apa dia bisa akrab dengan Papa dan Mama, ya?
Saat sedang hanyut dalam sebuah perbincangan, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
“Maaf aku tidak tahu jika ada tamu," ujarnya.
“Nina, lain kali ketuk dulu jika membuka pintu, jangan seperti itu!"
“Aku sungguh tidak tahu, sekali lagi maaf, Mom," jawab Kakak cantik yang kuketahui bernama Nina itu.
Eh, bicara apa aku tadi, apa aku baru saja memuji seseorang selain Anna, omong-omong, siapa kakak cantik ini, apa dia adik Pak Nino, atau malah kekasih Pak Nino?
Semoga saja tebakanku yang kedua yang benar.
“Oh, iya. Perkenalkan dia Nina, adik dari Nino," ucap Bibi.
Ah, Shibal, kenapa Dewi Fortuna selalu tidak berpihak padaku!? Padahal aku berharap sekali dia itu adalah kekasih dari Pak Nino.
“Nina, kenalkan ini Anna dan Vian murid kakakmu," ucap Bibi.
Kami berjabat tangan dan memperkenalkan diri satu sama lain, dia hanya tersenyum tipis, mirip sekali dengan Pak Nino yang pelit untuk tersenyum.
Kulihat Anna juga tersenyum tipis saat berjabat tangan dengan adik Pak Nino, hanya sekedar formalitas, aku tahu.
“Apa Kakak menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar?" tanya Kak Nina, Bibi hanya menggeleng.
Kak Nina hanya menghela napas pasrah. Meski wajahnya nampak tak bersahabat, tapi aku mampu melihat gurat kesedihan di wajah dinginnya.
“Hei Beruang jelek, apa kau tidak bosan tertidur terus seperti itu?" ucap Kak Nina dengan sorot mata sendu.
Dari sini aku bisa merasakan kesedihan mendalam yang membuat suasana menjadi sedikit kelabu.
“Kau tahu? Ada beberapa laki-laki yang berusaha mendekatiku lagi, kali ini bahkan lebih banyak daripada yang biasanya, mereka semua menyatakan perasaan mereka padaku, memberikanku seikat mawar merah, romantis sekali, aku hebat bukan bisa menaklukkan mereka? Bahkan aku membawa bunga yang mereka berikan." ujar Kak Nina sambil mengeluarkan seikat mawar dari dalam tasnya, “Ini aku membawakannya untukmu, karena aku tahu kau juga menyukai bunga mawar."
Kak Nina meletakkan seikat mawar di sisi pak Nino. Mawar? Aku baru tahu jika Bapak Killer Bear itu menyukai bunga mawar.
“Mana suaramu yang bernada posesif itu? Biasanya kau akan menceramahiku dengan suaramu yang memekakkan telinga, mengatakan ini dan itu, tentang bibit, bebet, dan bobot seorang pria," kata Kak Nina.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut karena fakta yang kuketahui, ternyata dibalik sifat ketusnya, dia adalah orang yang penyayang dan posesif.
“Kenapa kau masih betah memejamkan matamu, apa kau sudah tidak sayang padaku?" ujar Kak Nina dengan air mata yang mengalir deras sederas air terjun.
“Sayang, sudahlah kau harus banyak bersabar," ujar Bibi sembari mengusap pundak, seolah menyalurkan kekuatan pada Kak Nina.
“Akan tetapi, sampai kapan? Aku khawatir mereka akan melepas semua alatnya, Mom," jawab Kak Nina sambil terisak.
Anna menundukkan kepala sorot kesedihan sangat terlihat jelas di matanya yang jernih. Sepertinya ia juga tengah merasa kelabu untuk Pak Nino. Uh, aku sungguh iri.
“Kita harus percaya jika kakakmu akan terbangun dari tidurnya, Daddy sudah melakukan sesuatu untuk kakakmu pada rumah sakit ini, Nina!"
Kak Nina terdiam, setelah mendengar penjelasan Bibi.
“Maafkan aku yang terlalu emosional, aku hanya merasa khawatir pada Kakak saja yang sampai saat ini masih betah memejamkan matanya," cicit Kak Nina.
“Lebih baik kau makan dahulu. Vian dan Anna membawakan lemon meringue tart tadi. Sudah Mommy potong. Kau bisa mengambilnya, kau terlihat kacau, Sayang!" suruh Bibi pada kak Nina.
Mau tak mau Kak Nina menurut. Dia mengambil sepotong kue yang kami bawa sebelum berkunjung kemari.
“Apa yang kau katakan itu benar?" tanya Bibi.
“Tentang apa?" jawab Kak Nina balik bertanya.
“Apa ada yang menyatakan perasaannya padamu lagi?"
Kak Nina mengangguk, “Iya, memang ada, tapi aku menolak mereka semua."
“Kau tak perlu menutup hatimu, hanya karena kakakmu. Sesekali bukalah hatimu untuk laki-laki yang mencintaimu, asal laki-laki itu harus berkepribadian baik, dan latar belakang keluarganya juga harus baik pula," nasehat Bibi.
“Aku ... instingku tidak sekuat milik kakak. Maka dari itu aku menolaknya, aku takut kalau aku memilih pilihan yang salah, seperti yang dulu, membuat Kakak murka dan akhirnya melakukan sesuatu pada laki-laki itu sebagai balasannya karena telah menyakitiku," jelas Kak Nina.
Aku tidak tahu jika perempuan secantik Kak Nina pernah disakiti oleh pria. Dan Pak Nino melakukan sesuatu untuk pria itu, jadi penasaran apa yang Pak Nino lakukan untuk pria itu.
“Semua pria tidaklah sama, Sayang. Jangan sampai kau menutup hatimu, kau berhak menemukan seseorang yang mampu membahagiakanmu," ujar Bibi lagi.
“Mungkin saat ini aku belum menemukan seseorang yang cocok untukku, Mom."
“Seseorang yang seperti apa yang kau mau?"
“Yang mampu mencintai dan menyayangiku dengan tulus, tanpa memandang harta keluargaku, dan yang terpenting adalah dia mampu berhadapan dengan kak Nino. Mommy tahu bukan, sudah banyak pria yang mundur ketika berhadapan dengan Kakak ...?"
Dapat kulihat senyuman semanis madu terbit di wajah Bibi. Pasti semasa beliau masih muda, Bibi pasti menjadi Primadona kompleks, kecantikan Bibi yang seperti bidadari Surga, menurun pada putrinya.
Aduh, kenapa kau malah memuji orang lain, Vian. Ingat Anna!? Ah, akan tetapi Anna saja tidak pernah melihatku sebagai seseorang yang spesial di hatinya.
Kulihat Anna masih betah memandang wajah rupawan Pak Nino. Meski terlihat pucat, tetapi ketampanan guruku ini masih terlihat dengan jelas. Andai aku seperti dirinya, apakah Anna akan melirikku?
Mengapa jatuh cinta itu sesakit ini, Ya Tuhan. Tidakkah kau mengizinkan cintaku bersambut bersama gadis pujaanku?
Kalau seperti ini, aku sudah kalah sebelum berperang, serta bagai pungguk merindukan bulan.
Ah, malangnya nasib percintaanku.
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak