Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Rumah yang sangat sederhana, terletak di pinggiran jalan kecil, tidak masalah bagi Shita dan kedua orang tuanya. Hari-hari mereka berlalu begitu bahagia. Ana dan Sammy merasa sangat beruntung memiliki Shita, walau Shita wanita yang sangat penakut, namun dia sosok yang menyenangkan, mudah berteman dengan siapa saja.
Ara sangat penasaran dengan kehidupan Shita, rasanya dia tidak percaya melihat Shita yang tidak pernah terlihat sedih, hanya keceriaan di wajah mantan sahabatnya itu, bahkan saat bekerja saja, Shita tetap terlihat bahagia, walau dia sering di maki-maki pelanggan Club malam tempatnya bekerja.
Ara masih memperhatikan Shita yang berdiri di depan mading, mencatat beberapa pengumuman. Ara berjalan mendekati Shita.
"Hai Ta, lama kita gak bertegur sapa," sapa Ara.
"Ara?! aku nggak mimpi kan?" Seru Shita, selama ini dia berusaha mendekati Ara, namun Ara selalu menghindar darinya dan dia pun menyerah mendekati sahabatnya itu.
"Maafkan aku, aku memang sangat kecewa, tapi aku nggak boleh marah sama kamu, kamu kan nggak salah," seru Ara memasang senyuman yang sangat dia paksakan.
"Boleh aku memelukmu? Aku kangen banget sama kamu Ra," ucap Shita lirih.
"Sini peluk!" Seru Ara membuka kedua tangannya.
"Makasih mau temenan sama aku lagi," ringis Shita yang masih berpelukan dengan Ara.
"Siapa yang mau temenan, aku mau ngehancurin kamu dari dalam!" Gerutu hati Ara.
"Maaf, selama ini aku sibuk pemotretan," seru Ara sambil melepaskan Shita yang masih memeluk dirinya.
"Ra, aku nggak rela banget, kalau kamu dibilang ******, Ra, sayangi diri kamu Ra, sayang wanita cantik seperti kamu hanya jadi simpanan laki-laki hidung belang," ringis Shita.
"Apaan ni anak, baru di baikin juga, sudah bicara macam-macam!" Gerutu kekesalan Ara dalam hati. Namun Ara mengukir senyuman di wajahnya.
"Aku antar pulang ya," tawar Ara pada Shita.
"Jangan Ra, bisa-bisa papa aku kena serangan jantung kalau lihat kamu sama om-om yang biasa antar jemput kamu," seru Shita.
Ara menarik nafas dalam, menahan kekesalannya pada Shita.
"Ya sudah, kita naik taksi saja ke rumah kamu, ini sudah lewat jam empat, yukk," ajak Ara.
Mendengar naik taksi, Shita menyetujui ajakan Ara, tanpa menaruh curiga sedikitpun.
"Ra, kamu tinggal di mana?" Tanya Shita. Mereka berjalan bersama meninggalkan area kampus. Membuat mata para mahasiswa dan mahasisiwi memandangi mereka.
"Aku tinggal di apartemen Ta, nanti aku kasih alamatnya, aku nggak betah di rumah, mama papa selalu saja dinas keluar kota, aku bosan." Rengek Ara.
Tidak lama taksi yang di pesan Ara datang, mereka berdua segera memasuki taksi itu dan taksi itupun melaju perlahan meninggalkan area kampus.
"Gila itu si jal*ng, kayaknya Shita bakal di rekrut deh," seru mahasiswi yang melihat kebersamaan Ara dan Shita.
"Iya, kasihan Shita, dia itu masih polos, pasti si jal*ng itu ngerayu Shita, secara Shita itu nggak ngerti apa-apa." Sahut yang lainnya.
***
Mobil taksi yang di tumpangi Ara dan Shita sampai di kediaman Shita, Ara membayar ongkos taksi tersebut, mereka berdua segera turun dari mobil taksi dan berjalan bersama melangkahkan kaki mereka menuju rumah Shita.
"Sore mamaaa," seru Shita dengan manjanya.
"Sore juga sa---" Ana tidak bisa melanjutkan perkataannya, dia kaget melihat wanita yang datang bersama Shita.
"Ara sayang?" Mata Ana berbinar melihat kedatangan Ara.
"Sore tante Ana," sapa Ara lembut.
"Sore sayang," Ana berjalan cepat menuju Ara dan langsung memeluknya.
"Tante sangat rindu kamu sayang, bagaimana keadaan kamu," ringis Ana yang masih memeluk Ara.
Hati Ara terasa berguncang, selama ini perhatian seperti inilah yang sangat dia rindukan. Namun tidak dia dapat dari kedua orang tuanya. Ara menarik nafasnya kasar, menghembuskan perlahan.
"Aku baik tante, selama ini aku sibuk jadi model," jawab Ara, berusaha santai menahan ledakan emosinya.
"Mamaa, kasian Ara nggak bisa nafas," seru Shita.
Ana melepaskan pelukannya pada Ara. "Sayang, maafkan kami, semua ini di luar kendali kami," ringis Ana sambil membelai wajah Ara.
"Aku tidak apa-apa tante," seru Ara.
"Yah jelas Ara merasa beruntung, secara bambang itu laki-laki brengs*k!" Seru Shita.
"Selamat sore semua," sapa Sammy yang baru datang.
"Sore juga," jawab Ara, Shita dan Ana bersamaan.
"Ara?! Bagaimana kabar kamu sayang, kami sangat memikirkan kamu," seru Sammy yang langsung mendekati Ara dan memeluknya sebentar.
Hati Ara kembali merasakan ledakan yang begitu hebat, kenapa kedua orang Shita sangat menyayangi dan memperhatikannya, bahkan sejak dulu. Ara melamun, mengingat masa kecilnya dengan Shita. Ana dan Sammy sedari dulu sangat memperhatikan dirinya.
"Ara ...." seru Sammy.
Ara tersentak dari lamunannya. "Maaf om, aku sangat merindukan kalian semua." jawab Ara berusaha santai kembali.
"Ini kebahagiaan yang sangat luar biasa, Shita bisa kuliah, papa dapat kerja, kalian tahu? Papa akan naik jabatan!" Seru Sammy.
"Beneran pah?" Seru Ana.
Sammy mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Asyiiikkkk!" Teriak Shita, dia dan Ana langsung memeluk Sammy bersamaan.
"Ini tidak adil! Kenapa Shita mendapatkan banyak cinta! Mereka hidup miskin, mengapa mereka tetap bahagia? Ini tidak Adil! Awas kau Shita." Ringis hati Ara.
"Shita, aku permisi ya, aku lupa malam nanti ada pemotretan," seru Ara.
"Yaah, cuma sebentar," rengek Shita.
"Aku sudah tahu rumah kamu, gampang nanti aku main lagi," seru Ara. Dia mengetik ponselnya menghubungi taksi yang akan menjemputnya.
"Hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan kamu Ara, om berharap kamu bisa bahagia kedepannya."
"Aku bahagia kalau kalian semua menderita!" Gerutu Ara dalam hati, namun wajahnya mengukir senyuman yang manis.
"Aku pamit semua," seru Ara. Dia tidak tahan lagi melihat kebahagiaan dalam rumah itu. Setelah mobil taksi pesanannya datang, Ara langsung pergi meninggalkan rumah Shita dan langsung pulang ke Apartemennya.
*****
Bunyi bermacam pecahan sangat jelas terdengar dari apartemen Ara, belum lagi pekikan teriakan dari mulut Ara yang amat memilukan.
"Arrgggggttt!" Teriak Ara, dia melempar apa saja yang dia mau. Apartemen yang tadinya bersih dan rapi, kini langsung berantakan, pecahan kaca berserakan dimana-mana.
Mark tadinya berjalan santai menuju Apartemen Ara, setelah berada tepat di depan pintu Mark terkejut mendengar bermacam bunyi dan teriakan dari dalam sana. Mark segera membuka pintu kamar itu. Setelah berhasil membuka pintu, Mark sangat terkejut melihat keadaan yang porak-poranda. Mark berjalan sangat hati-hati, karena banyak pecahan kaca berserakan di lantai.
"Aaarrggggttt!" Teriak Ara lagi sambil menjatuhkan semua botol minuman yang bersusun di mini bar yang ada dalam ruangannya.
"Beib ...." ucap Mark lembut sambil memeluk Ara yang nampak sangat kacau.
"Ini tidak adil! Kenapa mereka bahagia? Sedang aku?" Ringis Ara yang menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Mark.
"Keluarga Gildan?" Tanya Mark.
"Jangan sebut nama bajing*n itu! Kenapa mereka semua bisa bahagiaaa, aku tersiksa melihat mereka bahagia!" Teriak Ara yang masih berada dalam pelukan Mark.
"Sabar beib, aku sudah mempersiapkan balasan untuk kesayangan Gildan, aku perlu waktu, ku harap kamu puas!" Seru Mark.
"Benarkah?"
Mark melepaskan pelukannya. "Tunggu tanggal mainnya beib," Mark langsung mencumbu bibir Ara dan melahapnya habis tanpa ampun.
***
Karya ini slow up dulu ya, Author lagi pengen belajar ngedubbing. Hari ini juga up cuma 1 eps. Mohon maaf ya 🙏🙏🙏
Apa ya rencana Mark?
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark