Cahya Kirana gadis berusia 17 tahun, yang hidup dipanti asuhan setelah kedua orang tuanya meninggal, dan hidup dalam derita dan dendam membara, karena kehancuran keluarganya, hidupnya pun berubah setelah berjumpa dengan Leon, seorang Presdir yang sombong, dibumbui intrik dan romantisme yang membuat hidupnya berliku, gimanakah akhir kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vibyza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 kejutan ultah Leo
Leo terduduk dibangku kosong yang berada di tengah taman. Sesekali ia mengusap airmatanya yang jatuh membasahi lengannya.
Tatapannya mengarah pada satu titik dimana kamar Kinan berada, perlahan ia menghela nafas dalam dalam seakan ingin melepas semua beban yang menghimpitnya.
" Apa hukumanmu belum cukup sayang,,, sampai sekarang pun kau belum memaafkanku,,,lima belas tahun sudah kau menyiksa batinku, bahkan kau pisahkan aku dari putriku,,, apa itu belum cukup Kinan, kini kau ingin aku pergi dari hidupmu,,, kenapa kau begitu suka menyiksa hatiku,,,apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku,,, aku merindukanmu sayang,,, Kinan aku sangat mencintaimu,,, taukah rasa ini membunuhku?" bisik hati Leo.
Wajahnya menengadah ke langit dan menyandarkan punggungnya dikursi, dia menutup mata dengan sebelah tangannya,
matanya terpejam mencoba mengistirahatkan hati dan fikirannya yang terlalu lelah dan rapuh saat ini. Sinar hangat sang Surya tak membuatnya bergeming dari tempat itu.
"Pa,,, ayo kita pulang,,, papa perlu istirahat, lihatlah kondisi papa lusuh dan letih kayak gitu, istirahat dulu jika energi papa sudah terkumpul kembali baru berjuang lagi mendapatkan maaf mama Kinan, ayo pa kita pulang!"
Leon mencoba membujuk Leo yang terlihat begitu menyedihkan sekarang, pakaiannya kusut dan rambutnya acak acakan karena ulahnya yang frustasi pasca diusir oleh Kinan.
" Papa masih ingin disini Le,,, papa takut ia akan ninggalin papa lagi, bagaimanapun perlakuannya pada papa, akan aku terima semua, bahkan jika ia minta nyawa papa pun akan papa berikan jika itu bisa membuatnya bahagia.!" ucapnya lirih
"Jika papa ingin tetap disini setidaknya rapikan penampilan papa, pantes aja mama Kinan tidak mau dekat dengan papa karena bau badan papa yang menyengat, lalat aja enggan nemplok di badan papa, memang nya udah berapa hari papa tidak mandi, bau banget!"Leon menutup hidungnya.
" Dasar bocah kurang ajar, beraninya kamu ngehina papa, mau kupecat dari daftar keluarga dan kupisahkan dengan Cahya, jangan macem macem kamu!" hardik Leo.
Leon yang mendengar itu hanya terkekeh karena ia tau Leo hanya bercanda.
" Ok,,, Leon akan pergi dari keluarga Hadiningrat dan kehidupan Cahya jika itu yang papa inginkan, tapi Leon minta jangan biarkan Cahya membunuh anak kami nantinya jika aku tak disampingnya. Dan untuk Oma tolong katakan padanya aku sangat menyayanginya. Dan terima kasih untuk papa yang telah menjaga dan merawatku selama ini, Budi baik ini akan Leon balas suatu hari nanti, Leon pergi pa!"
Leon sengaja berjalan menjauh untuk meyakinkan Leo bahwa dia benar benar pergi. Saat ia Leon akan masuk ke dalam mobilnya langkahnya terhenti karena cengkraman tangan Leo dipundaknya.
"Brrugghh,,, brruugghh!"
Leo memukul wajah Leon berulang kali hingga nampak bibirnya berdarah.
" Beraninya kamu pergi dari keluarga ini, apa Oma kurang benar mengajarimu,,, kalau begitu biar aku yang akan mengajarimu,. dan beraninya kamu ninggalin putriku, jika ia terluka sedikit saja maka nyawamu pun masih kurang untuk membayarnya. Jadi jangan pernah kamu berfikir untuk meninggalkan dia dan juga keluarga ini, karena jiwa ragamu adalah milik keluarga ini kau mengerti anak bodoh!"
Leo marah marah sambil mencengkram kerah baju Leon.
Leon hanya terkekeh melihat mata Leo yang sudah memerah dan menggeram menahan marahnya.
" He,,, he,, papa terlihat lucu jika begini, ternyata papa sangat menyayangiku, aku sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga ini, papa jika belum puas silahkan mengajari Leon sampai papa puas!"
Tersenyum pada Leo dan mengusap bibirnya yang berdarah. Leo yang masih emosi ingin memukul Leon lagi namun baru saja tangannya terangkat untuk memukul Leon Cahya sudah menghadang tangannya.
"Pa,,, apa yang papa lakukan pada Leon, apa ingin membunuhnya,,, Cahya nggak nyangka jika papa akan menyakiti orang yang aku cintai, jika papa ingin melihatku hancur maka lakukan semua yang papa suka, aku tidak akan menghalanginya!"
Cahya meninggikan suaranya dan dengan nada marahnya.
" Jika papa ingin menyuruhnya pergi maka Cahya juga akan pergi dari hidup papa, karena Leon sekarang adalah imam Cahya dan kemanapun imamku pergi aku akan ikut dengannya. Karna syurga Cahya terletak dari keridhoan suami Cahya papa, kuharap keputusanku ini bisa papa terima!"
Tubuh Leo terasa lemah bahkan kakinya tak sanggup menopang badannya hingga ambruk terkulai di tanah.Belum sempat ia mencerna semua yang terjadi Oma dan Kinan juga datang dan marah marah sama Leo.
" Jika Leon dan Cahya pergi maka aku dan Kinan juga akan pergi, kami tak mau terpisah dari cucu dan anak kami. Silahkan kau menikmati semua kekayaan ini Oma dan yang lain tak memerlukannya. Kami akan pergi dari hidupmu!"
Oma melangkah dengan mendorong kursi Kinan bergabung dengan Leon dan Cahya. Sedang Leo sudah bersimpuh di kaki bundanya itu,
"Bunda maafkan Leo jika aku sudah bersalah pada bunda dan Kinan, aku mohon jangan tinggalkan aku, jika kalian pergi untuk apa hidupku ini, karena kalianlah aku bertahan, jika memang ini keputusan kalian tak ingin hidup bersamaku maka biarkan aku yang pergi dari keluarga ini, Cahya lah yang berhak untuk semuanya bukan aku. Maafkan aku Kinan,,,untuk semua yang terjadi, satu yang pasti aku sangat mencintaimu. Dan rasa ini tak pernah hilang dari hatiku walau waktu memisah kita, Leon jaga semua taruhan nyawamu, putri papa yang cantik" sambil mengusap rambut Cahya" maafkan papa untuk semua penderitaanmu selama ini.Papa menyayangimu nak, lindungi bunda dan Oma itu pinta papa.
Leo pun mencium kening Cahya lalu berjalan menuju mobilnya, airmatanya menitik di pipinya. Saat ia membuka pintu mobilnya matanya tertuju pada kue yang ada di kursi mobil, ia pun menoleh ke belakang,,, Cahya berlari menghambur ke pelukan Leon dengan berlinang airmata.
" Papa jahat,,, hikkss,,,, hikkss,,, hikksss,, kenapa dengan mudah ninggalin aku dan mama,, kenapa tak berjuang dulu, kenapa cepat menyerah,,, aku benci papa,, hiikkss,,, hikksss,, hhiikkss,,!" Cahya menangis dipelukan Leo.
" Happy Birthday Leo!" ucap Kinan lirih.
"Maaf jika kami mengerjaimu tadi,, kami sayang padamu dan nggak mungkin ninggalin kamu sayang!"
Kinan membawa kue itu dan mendekati Cahya dan Leo.
" Happy Birthday papa!" ucap Leon dan Cahya bersamaan,
"Maafkan kami pa, udah bikin hati papa sakit, ini semua ide mama Kinan, ingin mengerjai papa, katanya udah lama nggak ngerjai papa beliau jadi kangen dan usilnya pun keluar.
" Maaf Le,,, bunda juga nggak bisa nolak!"
" Ha,,, ha,,, ha,,, !" semua tertawa melihat Oma yang bertingkah lucu.
Leo pun mencium kening Cahya, lalu mendekati Kinan.
" Jadi semua ini ulahmu,,, bagus,,, baru aja sadar sudah bikin onar,,, kamu ingin aku menghukummu!"
Dengan cepat Leo mencium bibir Kinan, dan semua yang melihat bertepuk tangan.
Leon segera mengangkat tubuh Kinan dan memasukkannya ke dalam mobil.
" Pa, mama mau dibawa kemana pa,,?" teriak Cahya
" Papa mau menghukum mama sayang,,, bikin dedek buat kalian!"Serunya tanpa berdosa.
Spontan semua yang mendengar tertawa terbahak bahak, sedang Kinan hanya menundukkan wajahnya yang bersemu merah karena malu.
" Udah sayang,,, papa pulang dulu,, ntar kamu sama Leon kerumah Oma aja ya sampai kami menjemput kalian,,, boleh sayang?"
"Ok pa,,,?"
Cahya membentuk huruf O dan tiga jarinya yang lain sejajar.
Mereka semua tersenyum bahagia.
bersambung💖💖💖💖💖