Nayla Arthama seorang yang lugu, lemah, dan terlalu baik. Menjalani kehidupan yang begitu tragis, dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Kedua orang tua, harta, bahkan nyawa yang satu-satunya ia miliki direnggut secara paksa.
Ia terbangun, dan kembali pada 3 tahun yang lalu sebelum menikah dengan suaminya. Kesempatan itu ia gunakan untuk merubah keadaan dan melakukan balas dendam.
Akankah Nayla berhasil merubah keadaan? Dan bagaimanakah cara dia membalas dendamnya?
***
Baca juga cerita My Son Is My Strength' yang sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naaila Qaireen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Berdua
Suana hati Abimayu menjadi buruk setelah melihat pemadaman adiknya bersama laki-laki yang entah siapa, apalagi sekarang adiknya itu tidak mengangkat telepon darinya.
Bukan apa-apa, ia hanya takut adiknya terjerumus ke dalam pergaulan tidak baik. Anak laki-laki tadi terlihat sangat berani memegang Ayu.
"Apa kau tidak suka dengan makannya?" dari tadi yang Nayla lihat Abimayu hanya mengaduk-aduk buburnya. Sedikit pun belum disentuh oleh pria itu, sedangkan miliknya sedikit lagi hampir habis.
Mendapatkan teguran dari Nayla, Abimayu pun mulai menyuapi bubur itu masuk ke dalam mulutnya. "Lumayan," gumam laki-laki itu.
"Cih, bilang saja enak. Tidak usah sungkan-sungkan." Cebik Nayla.
Abimayu menanggapinya dengan anggukan kecil, ia lebih memilih mengalah. Karena sebenarnya bubur ini memang enak, baru pertama kali ini ia memakan bubur ayam seenak ini.
Nayla menyodorkan air minum yang langsung diterima oleh laki-laki itu, Abimayu pun mengucapkan terima kasih.
Setelah sarapan, Abimayu memutuskan untuk bekerja. Ia mendorong kursi rodanya menuju meja kerja. Nayla ia biarkan membaca majalah di sofa yang memang berada di ruangan itu.
Di tempat lain, Barra dan Maya saling menyalahkan atas kegagalan misi mereka. Keduanya tidak ada yang ingin mengalah, dan mempertahankan argumen masing-masing.
"Coba saja kau memastikan tidak ada jejak lagi, Abimayu tidak akan menangkap basa diri ku. Dan perempuan itu akan hancur saat itu juga." Geram Maya pada Barra yang tidak becus menjalankan tugas yang sudah mereka bagi dengan matang.
"Itu bukan inti permasalahannya! Nayla masih bisa kita hancurkan pada kesempatan lain, dan kesempatan itu kau hancurkan. Juga dengan kesempatan mendekati Abimayu." Barra tak ingin kalah.
"Apa maksud mu, hah?! Kau menyalahkan ku!" suara Maya naik satu oktaf.
"Tentu saja, karena siapa suruh kau tidur dengan laki-laki itu. Coba itu tidak terjadi, masalah kita tidak akan serunyam ini. Mereka kini sudah berhati-hati. Rencana kita semuanya hancur, dan itu karena kau." Barra tak bosan-bosannya menyudutkan Maya membuat perempuan itu naik pitam.
"Aku juga tidak ingin melakukan itu bodoh, aku dijebak." Seru Maya.
"Dijebak, tapi laki-laki itu sendiri yang mengakui kalau kau yang memintanya." Saat Maya ditiduri oleh laki-laki itu, Barra tentu tidak terima. Ia sebagai kekasih sah merasa harga dirinya diinjak, maka dari itu ia mendatangi laki-laki untuk perhitungan. Tapi pengakuannya membuat Barra tercengang, apalagi video yang ditampilkan. Dimana Maya yang memang dalam pengaruh obatnya sendiri saat itu meracau agar sang laki-laki memuaskannya.
Satu bogem mentah yang merobek bibir laki-laki itu tak membuatnya marah, ia malah tersenyum mendapati wajah Barra yang tampak frustrasi.
"Cukup. Diam." Maya mengangkat tangannya, meminta laki-laki itu untuk diam. "Itu bukan masalah utama kita, lagi pula tidak penting membahas hal itu." Lanjutnya.
Barra tercengang, matanya membola sempurna. "Tidak penting membahasnya?!" ulang laki-laki itu, tidak habis pikir. Entah dimana otak perempuan ini sekarang sampai hal seperti itu dianggap sepele. Ia saja yang sebagai laki-laki merasa malu, merasa diinjak-injak. Berbeda jauh sekali dengan Maya yang tampak biasa saja, seolah semua itu hanya lah hal biasa.
"Sudahlah, kau jangan menjadi sok alim." Maya bukannya tidak tahu maksud Barra sejak tadi. "Kau sendiri juga menggilir dirimu di tante-tante girang itu, asal kau ingat dengan pekerjaan mu." Sarkas nya membuat Barra mengepalkan tangan, ia diam tidak bisa membalas karena itulah kenyataannya.
Barra pergi tidak mampu berkata-kata lagi, meninggalkan Maya yang terus mencebik nya. Ia memutuskan pulang ke rumah.
"Kau jangan terus-terusan bermain, pikirkan cara agar perusahaan kita tidak bangkrut." Baru saja pulang, ia sudah disambut oleh cercaan dari ayahnya.
"Bagaimana pun, ini semua adalah salah mu. Kenapa kau bodoh sekali meninggalkan Nayla yang sudah menyuntikkan dana untuk perusahaan kita hanya demi perempuan murahan itu. Sekarang apa yang dia berikan padamu?" sambung ayahnya lagi.
"Sudah, Pah. Cukup." Kata mamanya membela sang anak.
"Dia memang tidak bisa melakukan apa-apa. Seorang Barra, tanpa keluarga ini bukanlah apa-apa. Dan andai dia bukan satu-satunya penerus keluarga Munandar sudah pasti tidak ku pedulikan sejam lama. Anak kalian itu hanya bisa membuat onar dan masalah. Mana kalimat sombongnya yang bisa mandiri tanpa keluarga ini. Mana? Coba suruh katakan lagi." Omanya datang ikut menimpali obrolan mereka.
"Sudah, Mah. Barra sedang berusaha." Kata mamanya menanggapi perkataan mama mertua. Ia merasa kasihan pada anaknya yang selalu dicerca dan dituntut untuk ini dan itu.
Barra mengepalkan tangannya, bahkan kuku-kuku jarinya sampai menembus kulit meninggalkan bekas merah. Inilah alasan kenapa ia jarang pulang akhir-akhir ini, dan terpaksa melakukan bekerja menjijikkan itu.
"Aku keluar." Katanya singkat, lalu menutup pintu dengan lantang meninggalkan suara bedebam.
Mamanya ingin menahan, karena anaknya baru saja pulang. Tapi langsung ditahan oleh sang suami dan juga mertua membuat ia kembali menelan niatnya.
"Jika mengantuk bisa tidur dikamar ku yang berada di sebelah sana." Kata Abimayu tanpa mengalihkan pandangan pada layar komputer.
Nayla menguap dengan mata sayu, membaca majalah ternyata sangat membosankan, membuat dirinya mengantuk.
"Yah, dimana kamarnya?" tanya Nayla sembari melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.
Di sana, tunjuk Abimayu. Melihat perempuan itu sudah sangat mengantuk. Nayla mengangguk sembarangan, rambutnya naik turun tidak beraturan. Abimayu jadi gemas sendiri melihatnya, ingin merapikan rambut perempuan itu. Tapi urung, karena tidak berani. Dan takut perempuan itu menjadi salah paham.
Tibanya di kamar, Nayla langsung disambung oleh kesejukan ruang kamar ber-AC itu. Suasana pendukung tidur siangnya. Gumam Nayla, sebelum ia terkapar di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap.
Tidak lama dari itu Abimayu pun ikut masuk, rasa haus yang menyerang membuat ia menyempatkan waktu untuk mencari minum pada mesin pendingin yang berada di kamar.
Ia menggeleng pelan melihat cara tidur Nayla yang kini salah satu kakinya tidak sempurna mendapati kasur. Rambutnya menutupi semua area wajah.
Setelah meneguk minuman ia menghampiri Nayla untuk memperbaiki posisi tidur perempuan itu, dengan gerakan pelan dan penuh susah payah. Akhirnya Nayla bisa tidur dengan posisi yang lebih baik, Abimayu menyelimutinya sampai dada. Rambutnya yang menutupi wajahnya ia singkirkan perlahan.
Ada rasa aneh yang menjalar di dadanya, rasa itu seolah menggelitik. Apalagi wajah Nayla yang tampak natural dengan polesan make up tipisnya. Membuat ia betah memandangi, sungguh menenangkan. Tampak sadar ia ikut terlelap dengan memeluk perempuan itu.
Alex masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu berulang kali yang tak kunjung direspon. Ia pun memberanikan diri untuk melihat apa yang dilakukan sang bos sampai tidak mendengarkan ketukan pintunya darinya. Setelah masuk dari ruangan itu ia tidak mendapati orang yang dicarinya.
Ia pun mencarinya lagi sampai ke ruangan khusus pria itu, dan barulah mendapati dua manusia yang saling berpelukan. Tidur dengan nyenyak nya.
Mulutnya melebar tidak percaya, ia seperti melihat keajaiban dunia ke delapan. Karena baru kali ini melihat sang bos tidur siang, biasanya tidur malam saja ia sering mengeluh pada dirinya. Membuat ia harus mengirimkan data perkembangan saham tiap malamnya.
Alex menutup kembali pintunya, ia keluar dengan tanpa membuat suara. Takut tidur kedua orang itu terganggu.
"Astaga, kau mengagetkan ku." Alex ingin menyentil dahi Elis namum malah tangannya yang dipelintir oleh perempuan itu, gerakannya yang cepat dan tak terduga membuat asisten Abimayu kini mengeluh kesakitan.
"Dimana nona Nayla?" tanya Elis dingin, tak memedulikan Alex yang tengah mengadu kesakitan.
"Lepaskan." Pinta Alex.
"Jawab!" Elis malah semakin mengencangkan pelintirannya, Alex tidak bisa berbuat apa-apa selain berkomat-kamit memberikan jawaban yang diinginkan perempuan itu. Dan barulah Elis melepaskannya setelah mendengar jawaban kalau nona nya sedang tidur. Sebenarnya ia ingin menyampaikan sesuatu hal yang amat penting.
*****
Bersambung...