Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24: Mendaftar Sekolah-2
Selanjutnya..
(Masih Di Ruang Kepala Sekolah)
Setelah mempertimbangkan dan mengerti akan posisi Bunda Risma, kepala sekolah akhirnya menyetujui permintaan Bunda Risma.
"Baiklah Bu, anak Ibu kami terima sekolah di sini. Tetapi, tolong segera dilengkapi dan diantar data-datanya nanti," kata kepala sekolah. Bunda Risma pun senang mendengar perkataan kepala sekolah.
"Siapa nama anak Ibu?" tanya kepala sekolah.
"Andi, Pak," jawab Bunda Risma.
"Silahkan dibayar biaya administrasinya, Bu. Biasanya kami memberikan kelonggaran kepada anak seperti Andi. Yatim atau Piatu dan tidak mampu diskon 25%, Yatim Piatu dan tidak mampu diskon 50%, begitu juga dengan uang sekolahnya nanti. Jadi untuk biaya administrasi, Ibu cukup bayar (menyebutkan nominalnya/50%). Tetapi, Ibu harus mengurus surat keterangan bahwa Andi benar-benar tinggal di panti asuhan dari (setingkat) lurah atau kepala desa dan diserahkan bersamaan dengan data-datanya nanti," kata kepala sekolah menjelaskan.
"Terima kasih, Pak," kata Bunda Risma dengan senang. Kemudian Bunda Risma mengambil sejumlah uang dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada kepala sekolah. Setelah itu, kepala sekolah memberikan kwitansi khusus dari sekolah.
"Andi, besok kamu sudah bisa masuk sekolah," kata kepala sekolah sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Pak," kata Bunda Risma sambil menyalam kepala sekolah.
"Silahkan Bu, silahkan," balas kepala sekolah. Bunda Risma, Andi, dan Indah beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju luar.
Di luar halaman sekolah, Bunda Risma jongkok menghadap Andi dan Indah.
"Nak, kita beli: seragam, tas, buku, dan sepatumu ya," kata Bunda Risma sambil memegang sebelah pundak Andi.
"Iya, Bunda," balas Andi.
Bunda Risma kemudian menoleh kepada Indah yang memakai kerudung dan baju resmi kepercayaannya atau gamis ciliknya (sama seperti yang dipakai Bunda Risma) sehingga menambah keimutannya, lalu tersenyum sambil memegang kepalanya.
Setelah itu, Bunda Risma kembali berdiri dan mereka melangkah menuju parkiran motor.
Sesampainya diparkiran, Bunda Risma menghidupkan motor lalu Andi seperti biasa duduk di belakang dan Indah duduk di depan. Mereka pergi ke pusat pasar untuk beli perlengkapan sekolah Andi.
Pusat pasar dari sekolah tersebut cukup lumayan jauh, lebih-kurang 1 Jam perjalanan. Tanpa hambatan selain lampu merah, mereka pun sampai dengan selamat. Bunda Risma memarkirkan motor di tempat parkiran khusus yang sudah disediakan.
Dengan keramaian pusat pasar Bunda Risma harus hati-hati dengan barang kecil bawaannya, juga dengan Andi dan Indah, jangan sampai lengah, karena biasanya dalam keramaian banyak sekali yang cari-cari kesempatan.
Bunda Risma yang sambil berjalan dan memegang sebelah tangan Andi dan Indah mulai melihat-lihat toko yang menjual perlengkapan anak sekolah. Begitu juga dengan Andi, sambil berjalan dia menoleh kiri dan kanan seolah (berkata) sudah pernah dari pusat pasar tersebut.
Bunda Risma kemudian melihat sebuah toko yang menjual perlengkapan anak sekolah. Mereka pun mampir, lalu Bunda Risma melihat-lihat baju, celana, dan sepatu sesuai ukuran tubuh dan kaki Andi, juga sesekali mencocokkannya.
Mengingat perjalanan cukup lumayan jauh, Bunda Risma tidak ingin berlama-lama di pusat pasar. Dia hanya membeli perlengkapan sekolah Andi, jajan untuk Andi dan Indah dan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Merasa tidak ada lagi yang mau dibeli dan tidak ada lagi yang tertinggal, mereka kembali keparkiran.
Sesampainya diparkiran, Bunda Risma naik dan menghidupkan motor, lalu menggantungkan barang-barang di stang. Setelah itu, Andi dan Indah naik, kemudian Bunda Risma membayar uang parkir kepada petugas parkir, lalu berangkat. Mereka pulang ke panti asuhan.
Indah yang duduk di depan merasa sesak karena barang-barang didekatnya. Dia seperti gelisah atau tidak nyaman dan sesekali menggeser tubuhnya sambil kedua tangannya berpegangan di tangkai kaca spion.
Lebih-kurang 1 Jam perjalanan, mereka pun sampai di panti asuhan. Salah seorang anak yang bermain di halaman langsung menghampiri dan mengambil barang-barang dari stang motor, lalu membawa masuk keruangan.
Andi dan Indah yang sudah turun langsung berlari menuju ruangan sehingga Bunda Risma tertinggal di belakang sambil berjalan.
Tiba di depan pintu dan sebelum melangkah masuk, Bunda Risma mengucapkan salam kepercayaannya.
"Bagaimana Ris, diterima Andi sekolah?" tanya Bunda Rita langsung yang melihat Bunda Risma sudah pulang.
"Diterima Bun, itu sebabnya agak lama pulang karena sekalian beli perlengkapan sekolahnya. Tetapi, masih ada lagi yang mau diurus Bun yaitu data-datanya," jawab Bunda Risma.
"Iyalah, Ris. Ya sudah, makan atau istirahatlah dulu," kata Bunda Rita.
"Capek Bun, aku istirahat dulu," balas Bunda Risma sambil tersenyum lalu meninggalkan Bunda Rita.
BERSAMBUNG..
Hai para READER, jangan lupa Vote, Like dan Komen ya. Juga dilike setiap episodenya..🙏🌹