Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Belum Jelas Arahnya
"Nowel....? Nowela......" ketuk Asido memanggil Nowela.
Asido menunggu beberapa saat lalu mengetuk lagi.
"Nowela?"
Tetap sunyi, tak ada jawaban.
"Nowela Kemana.....?" tanya Asido sendiri. Dia sudah mulai sedikit khawatir sambil memperhatikan sekelilingnya.
Asido kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras.
"Nowela!?"
Tidak ada sahutan dari dalam. Tangannya gemetar sambil tetap menahan memegang kantong makanan tadi.
Perasaannya mulai tidak enak. Ingatannya langsung melayang pada kejadian itu. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. Berbagai kemungkinan buruk mulai memenuhi pikirannya.
Semakin lama pintu itu tak terbuka, semakin sulit baginya untuk tetap tenang.
"Nowela....?!" Asido mengetuk pintu itu berkali-kali lebih keras.
Beberapa penghuni kos mulai melirik dari kejauhan.
"Siapa sih itu.....?"
"Biasa......." sahut yang lain santai.
Jawaban itu sudah sering terdengar hingga mereka semua sudah saling mengerti. Mereka yang sempat keluar tadi langsung masuk kembali ke kamar masing-masing.
"Cari Nowela??" Suara perempuan terdengar dari belakang Asido. Dia langsung menoleh cepat.
"Iya." jawabnya cepat.
Perempuan itu penghuni kos itu juga di lorong paling ujung. Dia mengenal Nowela, dia juga tau kalau Nowela sering jadi bahan ejekan di sana. Tapi dia sendiri jarang terlalu terlibat di dalamnya.
"Tadi saya melihatnya." Perempuan itu sepertinya baru pulang dari pasar, karna di tangannya beberapa kantong plastik belanja berisi bahan-bahan dapur.
"Dimana?!"
"Tadi kami papasan, dia keluar dari pintu samping yang ada di sana." jelas perempuan itu.
"Bisa keluar dari sana?" Asido heran, karna dia hanya tau pintu utama kos itu dari depan saja.
"Iya.... Mungkin karna itu kalian tadi tak berpapasan."
"Berarti baru?" Asido memastikan. Rasa panik yang sejak tadi mencengkeram dadanya perlahan mereda.
"Baru kok....."
Asido melepaskan napas panjang tanpa sadar.
"Syukurlah......" Setidaknya ia tau bahwa Nowela tidak berada di dalam kamar dalam keadaan mengkhawatirkan.
"Terimakasih ya, Ka......" Asido langsung pergi ke arah yang ditunjuk tadi, pintu samping. Tangannya masih tetap memegang kantong makanan itu.
"Ternyata ada taman di sini......"
Pintu samping tadi langsung terhubung ke sebuah taman kecil di belakang area kos. Asido pun berjalan menyusurinya. Taman yang tidak terlalu luas, tapi cukup asri.
Beberapa bunga bermekaran di sepanjang jalan setapak. Pohon-pohon kecil membuat suasananya teduh dan tenang.
Tidak banyak orang disana. Hanya satu dua penghuni kos yang duduk di bangku taman.
"Dimana.....?" Asido menyapu kelilingnya, mencari sosok yang sejak tadi membuatnya khawatir. Hingga akhirnya ia menemukannya.
Nowela duduk sendirian di salah satu bangku taman. Ia memandang hamparan bunga di depannya. Tidak memetiknya, tidak menyentuhnya. Hanya memandanginya dengan tenang, seolah seseorang yang sedang tenggelam dalam pikirannya.
"Nowela," Asido seperti tak yakin untuk memanggilnya. Langkahnya perlahan melambat. Dari belakang, ia memperhatikan sosok itu beberapa saat.
Jika dilihat sekedar, Nowela sedang baik-baik saja. Duduk dengan tenang.
Asido mendekat dan meletakkan kantong tadi di kursi samping Nowela. Dia bahkan tak menyadarinya, pandangannya masih tetap tertuju pada bunga. Tangannya mulai terangkat menyentuh kelopaknya.
"Cantik......" gumam Nowela.
Asido berdiri sangat dekat tanpa disadari Nowela. Asido memetik bunga yang sedang disentuh ujung jari Nowela.
"Jangan....!" Nowela refleks menepis tangan itu.
"Kenapa dirusak.....?" suara Nowela semakin lama semakin pelan. Saat ia berbalik, matanya membesar melihat siapa yang berdiri disana.
"Abang.....?"
"Segitunya sampai main tepis?"
Wajah Nowela sempat menunjukkan rasa canggung, lalu beralih rasa bersalah hingga kini pipinya memanas.
"Maaf....." Nowela sedikit menunduk.
"Nggak boleh dipetik?" tanya Asido kembali menatap bunga itu.
Nowela menggeleng pelan. Ia melirik bunga itu lagi.
"Disini dia cantik. Kalau dipetik, paling besok sudah layu....."
Asido terdiam mendengar jawaban sederhana itu. Baru ia mengangguk. Jawaban yang sangat masuk akal dan penuh cinta.
Asido memperhatikan Nowela yang masih menunduk. Jika terlalu lama dibiarkan, Nowela akan dipenuhi rasa bersalah yang semakin tak masuk akal hanya karna menepis tangannya tadi.
"Oh ya...?" suara Asido langsung berubah lebih ceria. "Lihat, aku bawa apa??" Asido mengangkat kantong makanan yang diletakkan tadi.
"Itu apa?" tanya Nowela langsung mengangkat wajahnya.
"Tadaa..... Ini makanan."
"Makanan?" Nowela terlihat heran.
"Sini.... sini......" Asido menarik tangan Nowela untuk duduk di kursi dekatnya.
"Kita makan siang bareng ya...." ajak Asido dengan senyum lebar.
Dengan cepat, Asido membuka makanan itu satu per satu. Meletakkannya di samping Nowela.
"Kamu mau makan yang mana terlebih dahulu?" tanya Asido.
Nowela masih bingung akan kedatangan Asido tiba-tiba bisa sampai di taman itu hingga dia tak memberi jawab.
"Coba yang ini dulu," Asido menyumpit sepotong sushi lalu mengangkatnya ke depan Nowela.
Nowela yang masih sibuk memperhatikan makanan itu hanya berkedip bingung.
"Ini...... "
Nowela akhirnya membuka mulut. Ekspresinya tampak serius, seolah sedang menilai makanan itu.
"Gimana?"
"..... " Nowela masih mengunyah.
"....."
"E.. nak. " jawabnya.
Jawaban itu membuat Asido merasa senang. Karna ia bisa memastikan bahwa ada makanan yang masuk pada Nowela untuk siang ini. Kini mereka duduk bersama menikmati beberapa jenis sushi. Dan terlihat kalau Nowela menikmatinya.
Selesai makan, Asido mengumpulkan satu per satu kotak sushi yang sudah kosong.
"Sini....."
Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil semuanya, lalu berjalan menuju tempat sampah yang tidak jauh dari bangku taman.
Nowela memperhatikannya dari tempat duduknya. Melihat laki-laki itu sibuk membuat ia merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
"Akhirnya, dia mau makan...." gumam Asido merasa lega, senang. Ia bahkan beberapa kali menahan senyum saat melihat Nowela mencoba berbagai jenis sushi dengan ekspresi yang berubah-ubah.
"Biarlah..... Tak ada yang mendesak juga." Asido melihat jamnya dan ternyata jam makan siang sudah habis.Tapi karna di kliniknya juga tak terlalu sibuk baginya, ia memilih untuk bersama Nowela.
Asido berjalan kembali ke arah bangku tadi. Ia tak langsung duduk lagi, ia membungkuk dan mengambilnya. Bunga yang hampir tadi dipetiknya tak lagi disana. Rupanya bunga itu sudah terjatuh.
Asido memutar bunga itu di antara jari-jarinya dan menyembunyikan di belakangnya.
"Nowel?" Perempuan itu masih duduk menghadap taman.
Nowela menoleh. Dan tak sempat bertanya, Asido menyelipkan bunga itu pelan di dekat telinganya. Gerakannya begitu santai, seolah tak memikirkan apapun. Namun bagi Nowela...... Dunia seakan berhenti. Tubuhnya langsung membeku. Matanya membelalak. Bahkan napasnya terasa tertahan.
"Nah....." Asido mundur sedikit melihat hasilnya.
Sementara Nowela belum berkata apa-apa. Detak jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Ia hanya menatap Asido dengan pipinya yang terasa memanas.
"Eh.... bukan aku yang petik kok," Asido mengangkat tangannya. Dia pikir Nowela marah dan salah paham padanya.
"Itu tadi jatuh sendiri, aku ambil dan kasih sama kamu....." jelasnya. Asido tak tau bukan karna itu, Nowela berekspresi seperti itu.
"Daripada jatuh di bawah begitu saja, lebih indah jika ada di telinga kamu." lanjut Asido menjelaskan.
Mendengar itu, Nowela semakin merasa tak karuan. Rasa senang itu tak bisa ia tutupi. Akhirnya ia tersenyum indah.
"always stay with me." batin Nowela.