Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tamu (2)
Sesampainya di tempat Rehan langsung menjelaskan bagaiman keadaan di luar, "Yah bisa di katakan gawat sih, soalnya beberapa pihak mulai tertarik akan hal ini, kau tahu kan Laura? dia sebenarnya pedang bermata dua yang mana bila di manfaatkan bisa menghunus siapa saja yang menghalanginya, tapi kembali lagi kalau kalian tidak melakukannya maka semuannya aman terkendali" ujar Rehan sedikit menggambarkan keadaan di luar.
"Tapi ini agak sedikit membingungkan" gumam Aldo, "Kau anak kecil jangan ikut campur keluar saja Sanah" ledek Rehan pada adiknya yang tentunya membuat Nana mengulum senyum, padahal ia tahu betul kalau anak kecil di sini adalah Nana dan bukannya Aldo, "Apa maksud mu hah? kau tahu kan aku hanya tiga tahun di bawahmu dan lagi pula tinggi kita tidak beda jauh" berdiri dengan bangganya, "Oh ya?" ikut berdiri, dan benar saja tinggi keduanya memang tidak jauh berbeda namun lebih tinggi Rehan kakaknya, "Nah siapa anak kecil heh?" tersenyum bangga.
Perselisihan yang tak kunjung rampung antara kedua kakak beradik itu memberikan sedikit hiburan untuk sosok yang kini mulai santai saat melihat kakak beradik itu berdebat, "Hahaha kalian sama saja, ayolah jangan begitu" gumam Nana tak tahan menahan senyum.
Kini sikap Nana lebih ke arah dewasa ketimbang anak kecil, semua itu berkat ajaran dari Aldo sekaligus para rekan-rekannya yang jauh di atasnya, bukan hanya sikap bahkan pola pikirnya pun menjadi jauh ke depan di banding kan dulu.
"Kak hentikan ini, sekarang katakan yang sebenarnya apa yang terjadi" kata Aldo di sela-sela perdebatannya dengan Aldo.
"Eh? kan sudah ku bilang anak kecil keluar saja sana" memberikan isyarat pada Aldo untuk meninggalkan mereka berdua, Nana yang menyadari hal tersebut juga menyuruh Aldo untuk pergi, "Lima menit saja" kata Nana memberikan perintah pada Aldo.
Agak kesal rasanya jika di perlakukan seperti itu, tapi Aldo juga sadar diri kalau mungkin saja ia tidak perlu mengetahui hal ini, "Hah baiklah lima menit" gumam Aldo pergi meninggalkan mereka.
Tepat setelah Aldo pergi Rehan yang semu bersikap santai langsung berubah menjadi serius, "Kau tahu kan kalau ini sama sekali tidak baik? apa kau g*ila? bisa-bisanya kau mengajak mereka untuk membagi wilayahnya ini sama saja mengajak perang antar kelompok! apa kau sama sekali tidak mengerti juga!" bentak Rehan dengan nada bicara yang masih bisa di tolerir.
"Apa maksudmu?" tanya Nana yang agak kaget melihat perubahan reaksi Rehan tersebut.
"Ikut aku sebentar" ajak Rehan, "Hem" mengikuti dari belakang.
---
Tak lama kemudian Rehan membawa Nana menuju sebuah lemari yang cukup lebar di hadapan mereka, "Kenapa?" tanya Nana, Rehan hanya diam sembari membuka pintu lemari tersebut namun saat membukanya tidak terdapat apapun di sana, yang ada hanyalah ruang yang cukup lebar untuk tiga orang manusia.
"Sini!" menarik Nana masuk ke dalam lemari baru ia menutupnya rapat, "A-apa-apaan ini" pekik Nana kaget saat posisi nya kini berada di pangkuan Rehan.
"Ini akan memperkecil peluang mereka yang ingin menguping" bisik Rehan yang tentunya menimbulkan sensasi tersendiri saat ini, "T-tapi ini terlalu berlebihan" balas Nana menjaga jarak namun di tahan eh Rehan, "Hanya tersisa empat menit, tahanlah sebentar saja".