NovelToon NovelToon
Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Selingkuh / Tamat
Popularitas:97.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

*** (Disarankan membaca cerita sebelumnya)
Sekuel CINTA UNTUK ARUNA

Gloria, wanita 24 tahun, yang harus menerima kepahitan hidup sejak orang tuanya meninggal dunia. Sering dijadikan suaminya sendiri sebagai wanita penghibur hanya demi uang.

Pertemuannya dengan seorang Richardo, pria 26 tahun, membuat hidupnya berubah. Tak hanya memperlakukannya dengan baik, memberinya perhatian, Richardo bahkan berani menantang badai hanya demi mendapatkan cintanya.

Bagaimanakah kisah Richardo dan Gloria selanjutnya? Akankah Richardo mampu menaklukkan wanita yang sudah menyandang status istri orang tersebut?

Ikuti kisah selengkapnya di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Gloria Cemburu?

Bab 23. Gloria Cemburu?

Gloria masih dalam mode tertegun memandangi Bary yang dengan santainya menikmati makanan yang ia sajikan. Ia hampir tak mempercayai pendengarannya sendiri.

"Ma-maksud kamu?" tanyanya untuk memastikan. Mungkin saja Bary hanya bergurau. Mana mungkin pria itu berubah pikiran. Bukankah yang terpenting bagi Bary dalam hidup ini adalah uang?

Tanpa menghentikan kegiatannya, Bary kembali berkata,

"Kamu tidak perlu lagi melayani pelanggan. Tinggallah di rumah sepulang kantor. Kamu tidak perlu lagi datang ke Club."

"Tapi, bukankah..."

"Itu keputusanku. Tidak ada tapi-tapian lagi." Cepat Bary menyelesaikan makannya. Lalu ia beranjak meninggalkan meja makan itu sebelum Gloria bertanya lebih tentang keputusan yang diambilnya. Yang tentu saja mengandung tanya yang besar bagi Gloria.

Entah mengapa tiba-tiba saja ada perasaan bersalah menggelayuti hatinya. Entah karena ia yang sering meniduri perempuan lain ataukah karena ia yang mulai menyadari kesalahannya.

Entahlah.

Hingga keesokan harinya, perubahan pun mulai terlihat dalam diri Bary. Seperti biasa, ia memakan sarapan yang disiapkan Gloria. Lalu pergi setelah berpamitan dengan Gloria. Bahkan Bary menawarkan tumpangan, ingin mengantar Gloria ke tempat kerjanya. Tetapi Gloria menolaknya. Dan Bary pun tidak memaksakan kehendaknya.

Mungkin memang lebih baik Gloria menolak tawaran Bary. Sebab perubahan Bary yang mendadak, sungguh terasa aneh baginya.

Seperti biasanya, dengan menggunakan ojek online Gloria sampai tepat waktu di tempat kerjanya. Begitu tiba di meja kubikelnya, ia malah mendapati setangkai bunga mawar merah tergeletak di meja itu.

Ia mengernyit, lalu menyapukan pandangan. Mencari-cari siapa gerangan yang menaruh bunga itu di mejanya.

"Rev, siapa yang menaruh bunga di mejaku?" tanyanya pada Reva yang duduk di meja sebelahnya.

"Tidak tahu. Saat aku sampai, bunga itu sudah ada di mejamu."

"Benar kamu tidak tahu?"

"Coba tanya yang lain saja. Barangkali mereka tahu."

Ia pun menyapukan pandangannya. Memandangi rekan-rekan satu per satu.

"Jon, Joni," panggilnya menaikkan sedikit nada suaranya.

"Ada apa, Glori? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Joni.

"Kamu tahu siapa yang menaruh bunga di mejaku?"

Joni mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tahu. Penggemarmu mungkin Glori."

"Penggemar? Penggemar dari mana?" gumamnya kesal.

Baru saja ia mengambil duduk, tiba-tiba ponselnya berdenting. Dirogohnya ponsel dari dalam tas, lalu membuka pesan singkat dari seseorang. Seseorang yang susah payah ia hindari. Namun keadaan seakan enggan berpihak kepadanya.

Bukannya ia berhasil menghindari, orang itu malah semakin berani mendekat. Seolah tidak ada yang membuatnya takut. Bahkan orang itu tak peduli dengan status yang melekat padanya. Entah keberanian darimana yang dimiliki orang itu. Yang membuatnya terkadang merasa ngeri.

Si Pemaksa

Tidak usah mencaritahu dari siapa bunga itu. Yang jelas bunga itu spesial untuk wanita tercantik hari ini

Ia sontak ternganga, lalu cepat membekap mulut dengan satu tangannya. Segera dihapusnya pesan itu. Sekedar untuk berjaga-jaga dari sesuatu hal yang tak diinginkannya terjadi nanti.

Ia pun melayangkan pandangannya ke ruangan yang berdinding kaca tebal itu. Dimana penghuninya sedang tidak berada di tempat. Meski ruangan itu dalam keadaan kosong, entah mengapa tetap saja membuatnya berdebar.

Apakah fenomena aneh itu akan terjadi lagi? Dimana tubuhnya akan bereaksi bila berada dekat penghuni ruangan itu

Baru saja bayangan orang itu melintasi benaknya, kini sosok orang itu hadir. Dan tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelahnya. Membuat rekan-rekan yang lain keheranan. Bahkan mukai terdengar bisik-bisik tetangga dengan bermacam-macam asumsi tentang atasan baru dan bawahan itu.

"Buatkan aku kopi dan antar ke ruanganku, sekarang," titah Ardo kemudian beranjak ke ruangannya tanpa menunggu tanggapan dari Gloria.

Dengan malas Gloria pun bangun dari duduknya. Serta membawa langkah lesu berjalan menuju pantry sambil mulutnya komat-kamit menggerutu dengan kelakuan atasannya yang suka seenaknya.

Iya.

Seenaknya menaruh bunga di meja bawahan, seenaknya memuji bawahan yang jelas-jelas bukan muhrimnya. Lalu seenaknya pula meminta dibuatkan kopi. Lantas apa gunanya OB jika hanya untuk urusan kopi saja harus ia yang membuatnya?

Ia hanya bisa membuang napasnya kasar. Jelas ia tak bisa membantah perintah atasan.

Ngomong-ngomong soal perintah, seketika ia teringat Bary. Yang memerintahnya untuk tetap berada di rumah saja sepulang kerja nanti. Bary bahkan memintanya untuk tidak melayani pelanggan lagi. Perubahan Bary yang mendadak ini sungguh sangat mengusik pikirannya.

Ia yang telah terbiasa menerima perlakuan buruk Bary jadi merasa canggung bila diperlakukan berbeda oleh pria itu.

Apakah Bary benar-benar sudah berubah? Ataukah itu hanyalah tipu dayanya karena sedang ada maunya saja?

Bisa jadi.

Sebab perilaku seperti itu akan Bary tunjukkan jika pria itu sedang ada maunya.

..

Di ruangannya, Ardo tengah sibuk di depan layar laptopnya. Jemari kokohnya menari lincah diatas keyboard.

Namun perhatiannya terusik manakala seorang wanita cantik berpenampilan sedikit terbuka datang dengan sebuah map di tangannya.

"Biasakan mengetuk pintu dulu sebelum masuk," tegur Ardo melempar pandangan kepada Reina.

Reina mengulum senyum manisnya sembari melangkah menghampiri Ardo. Ia bermaksud memberikan map itu kepada Ardo. Bukannya berdiri di depan meja, Reina malah lebih mendekat kepada Ardo dengan berdiri di sampingnya. Kemudian map itu ia letakkan di depan Ardo.

"Bu Aruna meminta saya memberikan berkas ini kepada Pak Ardo," ucap Reina lembut.

"Oh ya? Berkas apa ini?" Sembari meraih map itu.

"Laporan penjualan bulan lalu."

Ardo manggut-manggut. Setahunya, ibunya adalah seorang kepala desainer yang tidak berurusan dengan laporan penjualan. Ia lalu tersenyum. Perempuan seperti Reina ini sudah terlalu sering ia temui.

"Ada lagi?" tanya Ardo dengan maksud ingin Reina segera meninggalkan ruangannya. Tetapi Reina malah lebih merapatkan diri.

"Pak Ardo membutuhkan sesuatu? Saya bisa membantu." Reina mulai melancarkan rayuannya. Pesona Ardo betul-betul sudah membuatnya mabuk.

"Tidak ada. Aku tidak membutuhkan apa pun."

"Pak Ardo mau saya buatkan kopi?" tawar Reina mencoba lebih mengakrabkan diri.

Ardo menarik sudut bibirnya, ia tersenyum sinis sembari menatap Reina yang memasang wajah semenarik mungkin untuk menarik perhatiannya.

Untuk tipe perempuan seperti Reina ini, Ardo sudah cukup berpengalaman. Perempuan seperti Reina ini selalu silau oleh pesona pria-pria berkantong tebal.

"Tidak perlu. Aku bisa meminta karyawan ku kalau untuk soal itu." Ardo berusaha menghindari Reina. Ia tahu perempuan itu tengah merayunya.

"Em ... Kalau Pak Ardo membutuhkan sesuatu, Pak Ardo bisa kok memberitahu saya. Saya akan selalu siap membantu." Reina masih berusaha meraih perhatian Ardo.

Ardo mengangguk. "Kebetulan, sekarang aku butuh sesuatu."

Seketika Reina menjadi berbinar-binar. Terlebih saat Ardo menyunggingkan senyum kepadanya. Membuatnya terpesona. Dan jatuh hati dalam waktu yang singkat. Secepat ini ia jatuh hati kepada seorang pria. Bukan hanya berkantong tebal, berkelas, Ardo bahkan dikaruniai paras yang rupawan. Yang membuat mata tak jemu memandangnya.

"Pak Ardo membutuhkan apa? Saya sanggup memenuhinya." Bukan Reina namanya bila tak berani merayu. Bary saja berhasil digaetnya.

"Aku butuh sendiri. Tolong kamu tinggalkan ruanganku."

Senyum yang merekah di bibir Reina pun layu seketika. Padahal ia sudah berharap lebih jikalau Ardo benar-benar membutuhkan bantuannya. Dengan hati kecewa ia pun mengiyakan.

"Baiklah. Tapi, lain kali, kalau Pak Ardo membutuhkan bantuan saya, jangan sungkan-sungkan menghubungi saya. Saya adalah asisten pribadi Bu Aruna. Sepanjang waktu saya menemani Bu Aruna."

Sekali lagi Ardo mengangguk. "Silahkan keluar," titahnya sembari melirik ke arah pintu.

Reina pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hendak melangkahkan kakinya saat tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Pandangannya terasa berputar-putar. Ia mulai kehilangan keseimbangan. Lalu tubuhnya perlahan oleng. Saat keseimbangan tubuh itu semakin hilang, saat itu pula tubuhnya jatuh. Bukan jatuh ke lantai, melainkan jatuh di atas pangkuan Ardo.

Dan disaat yang bersamaan, Gloria datang dengan secangkir kopi di tangannya. Ia terkejut mendapati pemandangan tak biasa tersaji di depan matanya.

"Glori, jangan salah paham dulu. Ini tidak seperti yang kamu kira," ucap Ardo untuk meyakinkan Gloria.

Reina masih saja duduk di pangkuan Ardo sambil meringis dan memijit-mijit kedua pelipisnya.

"Kenapa tiba-tiba saya merasa pusing?" gumam Reina. Entah ia benar-benar merasa pusing atau hanya berpura-pura saja.

Namun anehnya, pemandangan itu malah menerbitkan raut berbeda di wajah Gloria. Bergegas ia letakkan secangkir kopi itu di meja. Lalu cepat ia membawa langkahnya keluar dari ruangan itu.

"Glori ..." panggil Ardo, tetapi tak ditanggapi oleh Gloria.

Gloria memilih bersembunyi dibalik meja kubikelnya. Sementara rekan-rekan yang lain tengah saling berbisik.

Ardo mendorong tubuh Reina hingga perempuan itu turun dari pangkuannya. Ditatapnya tajam penuh emosi perempuan yang sudah menghancurkan moodnya seketika.

"Walaupun aku sedang sangat membutuhkan sesuatu, aku tidak akan meminta bantuan mu. Aku tidak suka dengan perempuan yang suka berpura-pura. Tinggalkan ruanganku sekarang juga." Tegas Ardo berkata dengan menekan setiap kalimatnya. Hingga Reina pun gentar. Lalu bergegas keluar dari ruangan itu.

Ardo teringat raut wajah Gloria yang tampak begitu berbeda. Seperti orang yang sedang ...

Merasa penasaran, Ardo ingin memastikannya segera. Kali ini ia memilih menghubungi ponsel Gloria. Namun Gloria malah mereject panggilannya. Kedua kalinya ia hubungi, ponsel Gloria malah tidak aktif.

Oh came on!

Ardo sungguh penasaran dengan raut wajah Gloria. Yang terlihat kesal, seakan tak suka melihat pemandangan itu.

Apakah Gloria CEMBURU?

Bersambung

1
Cinta Rodriques
langsung PD intix thour jngn mutar2 nanti yg baca bosan...
Cinta Rodriques
ya g taulh kmkn tukang CELUP mnjijikn
redmi Notetujuh
😂😂😂😂😂
Aisyah farhana
yaaahhh sudah end aja kak adakah boncap nya ???
lovely
yangyang pacarrr gue😍
Aisyah farhana
gaa sabar nunggu baby launching
Syahrul
jangan lupa mampir ya
💖 NAMA Q CINTA 💖
DASAR... CABUL" HHH
Aisyah farhana
hhhhmmmmm dasar pengantin baruuuuu
Aisyah farhana
hayoooo udah sah yahh Ardo loly
💖 NAMA Q CINTA 💖
TABUR TUAI KAN HHHH...GABISAH DI ELAK PASTI TERJADI
Syahrul
mampir dong ke novelku
Aisyah farhana
kirain kemana kak lama ga up up sehat selalu kak semangaaaaaatttttt
mama Al
Semesta merestui kami hadir
Syahrul
like
Syahrul
hai thor aku mampir nih
jangn lupa berkunjung ya
Elisabeth Ratna Susanti
keren 😍
Rani mdvpriangan
yah gagal deh mau mesra"an nya. mmah mlh nongol 😁
Aisyah farhana
aahhhh mamah ganggu ajah
💖 NAMA Q CINTA 💖
DASAR OTAK BOCA...BISAH2 NYA MIKIRIN MAKAN LGI URJEN HHHHH
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😁😁emang dasar bocah ya, pikirannya gak jauh² dr mknan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!