Layani aku kapan pun di mana pun aku mau sebagai mana layak nya seorang istri yang baik sampai waktunya tiba aku akan menceraikan mu.
Arinda Maharani gadis 18 tahun, yang terpaksa menggantikan mempelai wanita untuk menikah dengan anak majikan ibu nya.
Bagas Airlangga Kusuma 30 tahun pria arogan ,keras kepala dan juga tempramen. Mau tidak mau ia harus menikah dengan anak dari pembantu karena di tinggal kan kekasih nya di saat pernikahan mereka kurang dua hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhauna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
demi kedudukan
"Gas, itu kayak nya calon makmum gue lagi nunggu angkutan umum, sekalian gue ajak ,ya. Kasihanilah gue kali ini ,Gas." Risky memohon agar Bagas mau memberi tumpangan kepada Sindy yang kini sedang berada di halte di berikan tumpangan.
"Terserah lo."
"Alhamdulilah ,gue doain lo bahagia sama si anak kelinci."
Ck... Bagas hanya berdecak malas, ia memang sedang malas berdebat dengan sahabat sekaligus orang kepercayaan nya tersebut. Lagi pula tidak ada salah nya toh Sindy juga selain wanita incaran Risky ,dia juga sekertaris Bagas.
"Selamat pagi, jodoh." sapa Risky saat membuka kaca mobil nya.
"Selamat pagi juga pak Risky, pak Bagas." sahut Sindy sembari menundukkan kepala nya hormat.
"Mas Risky ,jangan pak. Ayo naik keburu telat nanti nya."
"Gak usah ,mas. Sindy nunggu bus aja."
"Gak papa ,neng. Ayo buruan masuk."
Karena takut kesiangan akhir nya Sindy mau menerima tawaran Risky. Kemudian ia duduk di samping Risky yang sedang mengemudi, sementara Bagas tetap setia di bangku belakang yang masih setia berkutat dengan pikiran nya sendiri.
"Neng, kalau neng Sindy udah jadi istri mas Risky, kita bisa setiap hari pulang pergi bersama seperti ini, lho kalau mau berangkat kerja."
"Mana boleh ada hubungan salam satu perusahaan ,mas."
"Tenang aja ,neng...Masalah pak Bos kita biar mas Risky yang atur. Iya ,kan bos?"
Lagi pula Risky adalah orang kepercayaan papa Danu dan juga Bagas, bukan hal sulit bagi nya jika harus menikah dengan Sindy dan tetap berada dalam satu perusahaan. Namun tentunya Sindy tak enak hati dengan karyawan yang lain merasa seperti di spesial kan di perusahaan.
"Udah lah ,mas. Jangan bahas itu mulu. Masih pagi juga."
"Ya udah kita bahas nya di jam istirahat aja aja ,ya neng. Nanti kita makan siang bareng."
Bagas hanya menggelengkan kepala nya ,mana ada bawahan yang berani merayu perempuan di hadapan boss nya, jika bukan si kampret Risky.
Sesampainya di loby perusahaan Risky biasa meminta tolong kepada Scurity yang berjaga untuk memarkir kan kendaraan nya.
"Bos, lo sendiri aja ya di lift sono, gue mau nemenin Sindy pake lift karyawan."
"Terserah!"
Kemudian Bagas memasuki lift khusus diri nya dam oramg penting perusahaan. Sementara Risky dan Sindy menggunakan lift karyawan dan berdesakan dengan karyawan lain.
"Mas ,kok gak nemenin pak Bos aja sih?"
"Gak papa ,neng sekali-kali mas ngelindungi neng Sindy dari himpitan karyawan lain."
"Yaudah lah serah." pasrah Sindy, lagi pula gak ada guna nya juga berdebat dengan Risky , pagi-pagi begini. Walau pun sebenarnya ia risih dengan beberapa pasang mata yang melihat nya kurang nyaman.
Baru saja Risky keluar dari lift karyawan, lantas ponsel nya berdering "Buran ke ruangan ,gue. Lo di bayar bukan biat ngencanin sekertaris gue mulu. Tapi buat bantu pekerjaan gue."
Tutt.....Dan panggilan pun berakhir.
"Lagi senewen ,gue lagi yang kenak mulu. Nasib-nasib ,jadi bawahan sahabat sendiri." gerutu nya kesal. Namun sekesal apa pun ia terhadap Bagas , tetap lah ia memenuhi peritah bos nya tersebut. Bagai manapun Bagas adalah sahabat nya ,dan ia banyak berhutang budi terhadap keluarga Danu Kusuma yang banyak membantu nya termasuk jika kekurangan uang sekolah maupun kuliah dulu.
Sebenarnya Risky juga di tawari oleh Danu utuk kuliah bersama dengan Bagas di amerika dengan biaya penuh di tanggung oleh Danu, namun mengingat ibu nya yang hanya seorang diri, akhirnya Risky menolak tawaran tersebut dan memilih kuliah di dalam negri melalui jalur beasiswa, namun walaupun Risky mendapatkan beasiswa tak sepenuhnya biaya kuliah di tanggung oleh pihak kampus. Maka dari itu jika ada kekurangan biaya maka Danu lah yang akan meng-cover semua kebutuhan Risky.
Ceklek....
Kepala Risky nongol ke dalam ruangan Bagas, sementara badan nya masih setia berada di luar nya.
"Ada apa'an sih? gue mau nyiapin berkas buat meeting sebentar lagi sama perusahaan angkasa. Lo malah nyuruh gue kesini ,ngelihat elo yang lagi uring-uringan gitu."
"Bacot! buruan masuk."
"Ck....." Risky berdecak kesal, karena ia harus meninggalkan pekerjaan nya yang sudah melambai minta segera di selesaikan.
"Kenapa sih ,lo Gas. Galau mulu ,beda sama Bagas yang dulu gue kenal. Yang ati galau-galau klub."
"Ris, lo bisa yakin dari mana kalau Intan bohongin gue masalah kehamilan ini?"
"Duh, anak Om Danu Kusuma kok begok gini sih? jangan-jangan yang sebenarnya anak nya itu gue bukan elo." sahut Risky sembari menarik nafas perlahan lalu menghembuskan dengan kasar.
"Gini ,ya Gas...Emang orang suruhan gue belum dapet bukti yang kuat tapi logika aja, Dia itu model papan tulis, maksud gue papan atas." Bisa-bisa nya saat Bagas tengah aerius mendengar kan nya ,justru ia berkelakar. "Mana mau dia hamil. Kalau dia hamil itu pasti akan menganggu karir nya, kalau pun dia hamil gue yakin itu bukan anak elo."
Bagas masih mencoba mencerna ucapan Risky . "Kok elo bisa seyakin itu."
"Gas, gue tau elo gak sebegok itu. Bahkan gue sendiri yang selalu memastikan beli sarung pengaman buat elo. Saat elo mau berperang dengan para perempuan-perempuan elo, maupun sama si Intan. Yang nyediain ,yang beli itu pengaman ,gue."
"Tapi bisa aja bocor ,kan?"
"Lo jangan begok-begok banget napa. Itu hanya akal-akalan si Intan aja. Tapi gue sendiri masih belum paham kenapa dia lakuin itu ke elo."
"Ya udah ,lo cepet kerjain berkas meeting gue. Bosen gue lihat muka lo." ucap Bagas terhadap Risky.
"Dasar , temen gak ada ahlak, kerjaan gue sampai gue tinggalin. Giliran udah kelar ,gue langsung di usir. Sialan!" gerutu nya kesal ,namun Bagas tidak perduli akan hal tersebut.
*****
"Gas, aku tuh sayang sama kamu, aku cinta sama mamu. Kamu gak bisa giniin aku dong , di sini ada anak kamu." teriak Intan sembari terus terisak.
Saat Bagas selesai meeting dan hendak memasuki ruangan nya tiba-tiba saja Intan datang dan menyelonong ikut masuk ke ruang kerja Bagas.
"Tapi kamu yang udah ninggalin aku ,Tan. Kamu ninggalin aku di saat pernikahan kita kurang dari dua hari." Bagas kembali menegaskan kelakuan Intan saat itu yang membuat nya panik ,kesal dan kecewa.
"Itu kesalahan aku ,Gas...Aku akui aku memang salah. Tapi aku mau memperbaiki semua nya ,aku mau kita kembali. Kita bakal jadi keluarga yang bahagia dengan hadir nya anak kita."
"Ck, berhenti lah beromong kosong , Tan. Aku sudah menikah."
"Terus anak ini bagaimana nasib nya ,Gas? kamu mau anak kita lahir tanpa ayah nya?"
"Itu kita pikirkan lagi ,lebih baik sekarang kamu keluar dari ruangan ku. Aku lelah ,Tan. kerjaan ku banyak."
"Kenapa sih Gas ,kamu berubah derastis seperti ini, kamu tuh bukan seperti Bagas yang aku kenal dulu." ucap nya menggebu-gebu.
"Aku tau ,kamu berubah gara-gara bocah ingusan itu ,kan?"
"Diam kamu."
"Aku tau kamu menikahi gadis sialan itu hanya karena orang tuamu. Hanyak karena kedudukan di perusahaan ini ,iya kan?"
"Kalau iya, kamu mau apa? memang benar aku menikah dengan nya karena perusahaan ini. Dan tentu nya aku tidak mau hidup miskin sia-sia karena harus kehilangan posisi tersebut"
Tanpa Bagas sadari saat ia mengatakan hal tersebut Arin sudah memasuki pintu ruangan nya.
Dan ucapan Bagas tadi membuat Arin kenbali merasakan kenyataan yang tidak mampu ia terima.
Bagas dan Intan terkejut saat mendengar sesuatu terjatuh di lantai dengan keras. Yaitu bekal makan siang untuk Bagas yang telah Arin bawakan terjatuh karena tangan Arin bergetar saat mendengar ucapan Bagas.
"M-maaf mengganggu kalian. Arin permisi." lantas Arin berlari sembari air matanya terus berlinang membasahi wajah cantik nya.
Ternyata memang benar , akhir-akhir ini dia pura-pura baik hanya karena perusahaan. arin kira pak bagas tulus berubah. nyatanya arin terlalu bodoh menilai kebaikan nya ,hiks.
"Rin ,tunggu, kamu salah paham." ucap Bagas sembari mengejar Arin. Setelah berhasil ia pun menarik tangan Arin.
"Maaf, Arin gak sengaja ganggu , bapak. Arin mau pulang dulu ,pak."
"Enggak, kamu gak boleh pulang."
"Maaf ,pak Arin mau pulang aja." sembari berusaha melepas cekalan tangan Bagas.