IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dia
Kulihat Ayah tersinggung dengan ucapan Bunda, karena memang Ayah selalu dibilang doyan banget sama keluarga atau pun teman-temannya.
Tentu saja akau paham, kalau soal itu. Karena setelah menikah dengan Bunda, Ayah selalu berhasil membuat Bunda hamil dalam tiap tahunnya. Kalau saja Bunda tidak di steril, sudah dapat dipastikan, jika dia akan terus memproduksi.
"Ra, kamu kapan? Aby udah mau dua loh..." kata Bunda.
Aku bingung harus berkata apa, Aby sudah mau punya Babby dua. Begitupun dengan Adi, bahkan dia sudah dikaruniai empat orang anak sekaligus.
Huh... haruskah aku jujur sama Bunda perihal rumah tangga ku, namun aku takut keluargaku akan menahan malu. Baru juga lima minggu menikah, masa sudah ada kata cerai.
Kulihat Mas Rudi menghampiriku, dia mengusap lembut kedua bahuku.
"Do'akan secepatnya ya, Bun." Mas Rudi tiba-tiba saja mengecup keningku, mungkin dia sedang berusaha untuk menenangkan hati Bunda.
Atau mungkin dia takut jika ketahuan kalau rumah tangga kami memang tak berjalan dengan normal, entahlah. Aku tak tahu bagaimana isi pikiran Mas Rudi, terkadang dia sangat lembut sekali dan terkadang cuek sekali.
Bersyukur dia tak pernah bermain tangan, kalau itu sampai terjadi, aku pastikan akan langsung menggugat cerai dirinya.
Namun, tak bisa aku pungkiri. Aku selalu merasa nyaman dalam dekap hangatnya, aku selalu nyaman saat di dekatnya. Namun, kelakuannya dan perlakuannya tak jua menggetarkan hatiku.
"Bunda selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian," ucap bunda seraya mengelus lembut punggung tanganku.
"Assalamualaikum, katanya sakit ya, Bun? Sakit apa?" tiba-tiba saja Mas Gading datang menghampiri Bunda.
Dia membawa buah dan juga sebuket bunga di tangannya, dia memang sangat manis.
Aku segera bangun agar posisinya tak terlalu dekat dengannya, perasaanku memang sudah tak seperti dulu. Namun, aku tetap takut jika terus berdekatan dengannya akan timbul rasa suka kembali.
Sengaja aku peluk Mas Rudi dan aku pun menyandarkan kepalaku di bahunya Mas Rudi.
"Bunda sakit perut, magh Bunda kambuh gara-gara adik ipar kamu yang ngidamnya aneh. Masa dia maunya Bunda harus makan makaroni super pedas!" ucap Bunda seraya tertawa.
Ku lihat Mas Gading pun langsung tersenyum, "sabar ya, Bun. Emang begitu kalau orang ngidam, Bunda juga pasti ngerasain kaya apa."
"Iya, mana Icha?" tanya Bunda.
"Lagi periksa pasien, Bunda cepet sehat." Mas'Gading menyimpan Bunga dan buahnya di atas nakas.
Sekilas dia melihat ke arah ku, kemudian dia tersenyum hangat padaku. Aku hanya tersenyum kikuk padanya, aku tak tahu harus apa.
"Oh," jawab Bunda.
"Aku tinggal ya, Bun. Mau lihat Aisyah sama Galang dulu, takut nakal." Mas gading mengelus lembut punggung tangan Bunda.
Aku lihat dia berpamitan pada semua orang yang ada di dalam ruang perawatan Bunda, lalu dia pun menghampiri aku dan Mas Rudi.
"Kakak pamit ya, Dek. Maaf ngga bisa lama," ucapnya padaku.
Aku mengukir seulas senyum lalu menganggukkan kepalaku, kulihat dia juga bersalaman dengan Mas Rudi lalu pergi untuk menemui kedua keponakanku, Aisyah dan juga Galang.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kalau kalian berbulan madu saja?" tanya Bunda padaku.
Aku sedikit kikuk, aku merasa bingung kalau harus benar-benar bulan madu. Bagaimana nanti nasib mahkotaku?
"Memangnya perlu ya, Bun? Nanti perusahaan Grandpa bagaimana?" tanyaku beralasan.
"Jangan khawatir, Sayang. Ada Cristhina yang akan menghandle semuanya, kalau perlu Ayah akan turun tangan." Ayah terlihat menghampiri Bunda, lalu mengecup keningnya.
"Jangan kalah sama Ayah kamu, Sayang. Biar sudah berumur, tapi masih selalu aktif ngajakin Bunda buat pergi ke luar kota. Walaupun cuma dua hari," kata Bunda padaku.
"Memangnya mau ngapa ke luar kota sama Bunda?" tanyaku kepo.
"Bulan madu, Sayang. Tapi bukan buat bikin Dede, biar Ayah bisa makin dekat sama Bunda. Karena dalam sebuah hubungan pun perlu di upgrade," kata Ayah menasehati.
Wajahku rasanya terasa panas mendengar ucapan Ayah, Ayah memang paling enak pandai kalau nasehatin urusan ranjang sama cara manjain wanita.
"Rudi, kode tuh Kayaknya." Ayah menunjuk wajahku yang merona membuat aku salah tingkah dibuatnya.
"Apa sih, Yah?" Aku langsung menyembunyikan wajahku di balik tubuh Mas Rudi, malu sekali rasanya digodain seperti itu.
"Malu dia Di, kamunya yang harus pengertian. Wanita memang suka kaya gitu, dia diem aja padahal ada maunya. Kalau udah dipepet baru deh me--"
"Ayah!" ucapan Ayah langsung terhenti kala Bunda memanggilnya dan langsung memelototinya.
Aku pun tersenyum, ternyata Ayah tak pernah berubah. Dia penyayang dan selalu berusaha untuk menyenangkan Bunda, namun masih saja selalu menurut dan terlihat patuh sama Bunda.
POV Author
Fatimah terlihat sudah kebingungan mau berkata apa, apa lagi saat ditanya-tanya masalah Babby. Rudi yang seakan mengerti pun langsung berpamitan pada Aksa dan Najma.
Dia beralasan jika mereka sudah berencana untuk pergi jalan-jalan, tentu saja Aksa dan Najma langsung mengizinkan.
"Kami pergi ya, Bun, Yah. Cepet sembuh," ucap pamit Rudi.
"Hem, jangan lupa bawa ke tempat yang romantis. Terus, pulangnya ajak ke hotel kalau tidak ke tempat penginapan. Sesekali ajaklah istrimu ke tempat yang membuat suasana hatinya terasa nyaman," ucap Aksa berbisik.
Hal itu membuat Fatimah tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa kepada Rudi.
"Siap, Yah. Do'akan saja, supaya anak Ayah mau aku aj--"
"Apa?" tanya Fatimah yang seakan tahu dengan apa yang tengah dibicarakan anatara menantu dan mertua itu.
Rudi langsung terkekeh lalu mengecup bibir Fatimah di hadapan Aksa, Najma dan juga Aliana. Fatimah terlihat salah tingkah, dia suka diperlakukan seperti itu oleh Rudi.
Namun kalau mengingat akan madunya Audy, sesak kembali menyeruak di dalam hatinya.
"Ehm, aku. lagi libur loh, Kak. Jangan bikin ngiri," celetuk Alina.
"Libur apa? Kenapa bisa libur?" tanya Alina polos.
"Ish, Kakak ini. Aku kan sedang hamil muda, jadi ngga boleh itu dulu." Aliana terlihat mengambil bunga yang diberikan oleh Gading untuk menutupi wajahnya.
"Ya Tuhan, ucapan kamu itu loh, ngga ada filternya." Fatimah langsung mencebikan bibirnya, melihat akan hal itu Rudi langsung mendekatkan wajahnya.
"Ciee..." kata Alina.
Sontak Fatimah langsung mendorong wajah Rudi, dia merasa sangat malu dengan sikap Rudi yang dia rasa terlalu berlebihan.
Entah Rudi sedang memanfaatkan situasi, atau memang dia sedang berusaha untuk mengambil hati Fatimah.
Setelah berpamitan, Rudi langsung mengajak Fatimah untuk berjalan-jalan. Tentu tempat yang pertama kali ingin Rudi kunjungi adalah Mall yang berada di pusat kota. Karena menurutnya, wanita itu suka shoping dan juga mempercantik diri di salon.
Tiba di Mall, Rudi langsung mengajak Fatimah menuju toko baju langganannya jika sedang pergi bersama dengan Audy.
"Rudi! Bagus ya, aku cariin kamu di rumah, kamunya malah asik-asikan di sini sama wanita ngga berguna itu!"