ini adalah karya ke dua ku , aku harap akan ada pembaca yang menyukainya. aku bukan penulis hanya saja aku suka membaca.
jika ada kesalahan dalam cara menulis ku, dengan senang hati aku menerima kritikan dan saran dari para pembaca, dan aku ucapkan terima kasih buat uang berminta membaca karya ku ini,
kehidupan rumah tangga Naya dan Josep sangat lah harmonis, hingga suatu kejadian membuat mereka harus terpisah ,walau saat itu Naya tengah mengandung buah cinta mereka yang pertama .
Josep yang teramat mencintai Naya selaku berusaha untuk kembali rujuk dengan Naya , tapi Naya kokoh tak ingin kembali pada Josep
hingga suatu hari Josep mendengar Naya tengah dekat dengan mantan kekasihnya yang bernama Aldo , Josep tidak terima dan meminta bantuan orang tuanya untuk membujuk Naya
lalu apa kah Naya akan kembali pada Josep , atau melanjutkan kisahnya dengan Aldo, ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfirzik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh empat
Seminggu sudah Naya berada di kediaman Sanusi , namun tak sekali pun Naya dan Josep bertegur sapa, bukan Naya tak ingin menyapa Josep, tapi Josep yang dengan sengaja menghindari Naya.
JOSEP
Aku sangat bahagia saat mendengar kabar kedatangannya , istri yang sangat aku rindukan saat itu kami baru saja turun dari mobil membawa jenazah papa ku saat ku lihat wajah nya memasuki pekarangan rumah. Aku serasa bermimpi antara percaya dan tidak kulihat dia menggendong putra kami , putra yang sangat aku rindukan. Ingin rasanya aku memeluknya saat itu, menumpahkan segala kesedihanku setelah di tinggal papa. Tapi aku takut untuk mendekat aku tak ingin dia pergi lagi. Aku mengunci diri di kamar menahan gejolak rindu yang membara. Saat upacara pemakaman papa aku melihatnya lagi di sana dia melirikku sesaat dapat ku tangkap tatapan penuh kebencian darinya. Aku semakin takut untuk menyapanya.
Aku baru saja pulang ke rumah mamah bersama Melinda , entah kenapa wanita itu ingin ke rumah mama. Kutebak ia ingin mengganggu Naya .
Wanita itu terus saja membujuk putra nya untuk mengangguk dia tau betul kelemahan ku, aku tak sanggup melihat anak itu menangis, serasa Fahri ku lah yang menangis.
Saat sampai di rumah mamah aku tak melihat ke beradaannya di ruang tamu dan di ruang tengah. Mataku menatap sosok bocah yang begitu aku rindukan sedang bermain mobil mobilan seorang diri tiba tiba Tama yang baru saja turun dari gendongan ku merebut mainannya. Aku reflek ku angkat bocah itu. ke cium pipinya seraya aku bujuk. tak kuasa ku bendung air mata di pipi ku, aku begitu terharu saat bocah itu memanggilku PAPA.
"Papa, apakah om ini papaku." Tanyanya padaku. aku mengangguk seraya tersenyum tak mampu berkata apa .
"Aku mau tulun...., rengek nya kemudian." Aku tak mau melepaskannya.
"Aku mau tulun.., aku gak mau cama papa...?" katanya lalu berlari ke mamah ku.
Aku begitu sedih dan terpukul kembali aku mengurung diri di kamarku. sampai aku dengar suara Sandra memanggilku untuk makan siang. Saat memasuki makanan kemulutku. Tak dapat ku pungkiri rasa makanan ini telah lama kurindukan aku makan dengan begitu lahap , tak menoleh padanya sedikit pun. Aku sangat bahagia bisa mencicipi makanan ini lagi.
*****
Naya mengetuk pintu kamar buk Sanusi dengan sangat hati hati ia tak ingin wanita itu terganggu .
"Masuklah " Suara buk Sanusi .
"Apa Naya mengganggu mamah." Tanya nya
"Ada apa nak.?" Tanya buk Sanusi kemudian.
"Mah, sudah seminggu Naya di sini , sudah saat nya Buk Naya kembali. Restoran Naya gak ada yang ngurus mah." Naya berkata dengan sangat lembut dan berhati hati.
"hummmm." Wanita itu mengembuskan nafasnya.
" Tidak bisakah kau di sini bersama mama Nay, mamah kesepian di rumah ini." Pinta buk Sanusi melemah.
" Mah..., kan ada Abang Johan dan kak Wanda , Kaka Maria juga ada, Sandra dan juga Rose." Bujuk Naya sambil menghisap tangan mertuanya itu.
"Tapi gak ada kau dan Fahri." Buk Sanusi tampak sangat sedih.
"Mah.. ada Tama dan kak Melinda , ada bang Jo juga. Tama juga cucu mamah, dan Fahri aku akan usahakan untuk sering berkunjung ." Lanjut Naya.
" Mama tak dapat melarang mu nay. Walau mamah sangat ingin kau di sini." Suara buk Sanusi mulai terisak.
"Mamah... "Naya ikut menangis di pelukan buk Sanusi. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.
Setelah acara berpelukan mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka hingga pukul 11 malam waktu Indonesia timur. Naya memijit kaki buk Sanusi hingga wanita tua itu tertidur lelap. Naya keluar dari kamar buk Sanusi dengan hati hati ia tak ingin mengganggu tidur mertuanya itu.
Naya berdiri di balkon kamarnya menikmati angin malam yang terasa sejuk. Ia tatap putra kesayangannya nya yang tertidur lelap lalu ia tersenyum simpul.
"seminggu kita di sini namun ia tak pernah berusaha untuk bicara atau pun hanya berbasa basi. " Bisik hati Naya.
"Aku pikir dengan datang ke tempat ini kau akan semakin dekat dengan papa mu nak." Tak terasa airmata Naya jatuh di pipinya. Ia usap air mata itu lalu berjalan ke arah sang putra.
Namun baru saja selangkah Naya melangkahkan kakinya sebuah tangan kekar mencekal tangan Naya . Naya tersentak . Ia ingin menepis tangan itu namun seseorang itu telah memeluk tubuhnya dari arah belakang sambil berbisik.
"Tolong jangan pergi. " Bulu kuduk Naya merinding hembusan nafas pria itu membuat Naya meremang ia memejamkan matanya menikmati pelukan yang teramat sangat ia rindukan. Air matanya bercucuran rasa rindu, bahagia, ahh entah apa la itu semua bersatu di hati Naya. Dadanya bergemuruh menahan gejolak di hatinya.
Sepersekian detik kemudian Naya tersadar dan ingin melepaskan pelukan hangat itu. Namun tangan kokoh itu semakin mempererat pelukannya.
" Aku mohon jangan pergi." Kalimat itu kembali keluar dari bibir pria itu. terdengar jelas isakan nya di telinga Naya. Naya berusaha sekuat tenaga menahan air matanya , tapi tetap saja tak bisa berhenti , dia anak manusia itu terisak melepaskan segala isi hati mereka tanpa bicara sepatah pun.
Setelah puas dengan drama airmata di antara dua insan itu . Kini pria itu memutar tubuh Naya untuk menghadap ke arahnya.
Di usapnya wajah sayu di hadapannya menyapu airmata yang telah membanjir di pipi Naya.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku." Bisik nya kemudian.
"Kau sangat jahat , aku membencimu " Isak Naya sambil memukul dada pria itu .
"Pukul aku nay, tampar aku, tapi aku mohon berikan kesempatan padaku." Kata pria itu lagi.
" Aku membencimu Josep , kau telah mencampakkan aku dan putra mu. aku sangat membencimu." pekik Naya. Josep merangkul Naya ke pelukannya mencoba menenangkan wanita yang tengah terluka itu. wanita kesayangannya, istri yang sangat di rindukannya.
" Kau yang memintaku ke sini , tapi kau mengabaikan ku." suara Naya telah melemah ia seperti kehabisan tenaga karena menangis.
"Maafkan aku, aku hanya takut kau akan pergi jika aku berusaha mendekatimu." Suara serak Josep .
"Ya aku memang sangat membencimu bahkan aku ingin membunuh mu saat ini juga " pekik Naya kemudian.
Josep kembali memeluk Naya kemudian mengangkat wajah Naya dengan kedua tangannya hingga wajah cantik itu tepat berada di depan matanya. Mata mereka beradu pandang sesaat melepas semua kerinduan di hati .
"Aku mencintaimu Inayah ." Josep mendekatkan wajahnya kemudian mengecup singkat bibir pink merona di hadapannya tak ada penolakan dari Naya . Josep kembali mencium dalam bibir itu dengan lembut mencurahkan segala rindu yang tertahan.
Sejenak kesadaran Naya kembali , ia mendorong tubuh Josep dan berbalik .Namun suara serak itu kembali menahannya.
"Nay.....?" Naya kembali membalik tubuhnya. Ia menghambur ke pelukan Josep. mencium bibir pria itu melepaskan hasrat yang menggebu. mereka saling pagut dan saling memutar lidah dengan nafas yang memburu.
****
jangan lupa selipkan kritikannya buat author amatir ini yah kakak...
author selaku tunggu dukungannya sebagai penambah semangat author untuk belajar menulis....
terima kasih semuanya.🙏🙏🙏.