Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 24
Mata Viviane melotot, tubuhnya panas dingin dan bergetar. Kenapa Angga, orang yang berusaha dia hindari justru kini ada di depan matanya. Kota J setahu Viviane sangat luas. Lantas kenapa dia masih saja bertemu dengan Angga. Bahkan di depan matanya sendiri.
“ah… sampai segitunya aku saking cintanya sama Viviane. Bisa-bisanya aku berhalusinasi bahwa Viviane ada di depanku dan tinggal di apartemen yang sama denganku” gumam Angga lirih sambil menatap orang yang ada di hadapannya.
Viviane sedikit lega saat mendengar gumaman Angga yang lirih tapi masih bisa dia dengar. Karena Angga menganggap sedang berhalusinasi bertemu dengan dirinya. Dan apa tadi Angga bilang, tinggal di apartemen yang sama. Sumpah demi apapun Viviane tidak menyangka bahwa Angga tinggal di apartemen yang sama.
Viviane menarik nafas dalam. Dia harus segera masuk sebelum kesadaran Angga kembali. Bisa berbahaya jika Angga sudah sadar bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi tapi memang kenyataan. Viviane mencoba memberikan senyuman pada Angga dan mengangguk. Setelah itu masuk ke dalam unit apartemennya dan menutup pintu.
Setelah pintu tertutup dan terkunci, Viviane merasa sangat lega. Dia segera masuk ke kamarnya. Dia akan mandi sebentar kemudian istirahat.
Sedangkan Angga, saat Viviane memberikan senyuman manisnya sebelum masuk ke dalam tadi, Angga sempat tertegun. Dia beranggapan bahwa halusinasinya seperti kenyataan. Kemudian Angga segera melangkah ke unit apartemennya yang berada di lantai yang sama dengan Viviane. Sambil berjalan Angga menepuk-nepuk kedua pipinya.
“awww….. ko’ sakit sih” gumam Angga lirih saat dirinya sudah berada di dalam apartemennya.
“apa?? Jangan-jangan tadi itu beneran Viviane??” Angga baru sadar tentang apa yang baru saja dia alami
Kemudian Angga berlari keluar. Dia melangkah cepat menuju unit apartemen dimana tadi dia berhalusinasi bertemu dengan Viviane. Angga ingin memastikan bahwa yang dilihatnya tadi benar-benar Viviane. Tapi sayang pintunya sudah tertutup. Dan sekarang sudah malam. Angga mengurungkan niatnya yang ingin memencet bel pintu apartemen orang yang dia yakini Viviane.
Angga kembali lagi masuk ke dalam unit apartemennya. Karena memang sudah malam. Jadi mungkin besok pagi dia akan menghampiri Viviane langsung untuk memastikan apakah benar itu Viviane.
Keesokan harinya, Angga sudah siap untuk berangkat ke kantor. dia masih ingat misinya tadi malam sebelum tidur. Dia akan memastikan dan melihat langsung apakah orang yang dia temui semalam adalah Viviane.
Angga menutup pintunya dan segera melangkahkan kakinya menuju unit apartemen Viviane. Namun langkahnya terhenti saat melihat sepasang pria dan wanita sedang mesra di depan pintu. Ya dia adalah Edwin dan Viviane. Angga merasakan sesak di dadanya saat melihat pemandangan di depan matanya. Ini benar-benar nyata. Wanita yang dia temui semalam dan yang dia anggap hanay halusinasi ternyata semalam adalah kenyataan. Kenyataan bahwa benar itu adalah Viviane.
Tapi kali ini yang yang membuat sesak adalah Viviane sedang bersama seorang pria. Angga melupakan kenyataan bahwa Viviane sudah menjadi milik seseorang dan dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahannya. Namun saat mengetahui Viviane tinggal di apartemen yang sama, membuat Angga sedikit merasa senang. Setidaknya dia bisa melihat orang yang dicintainya meskipun mustahil untuk ia gapai.
Angga menatap nanar pada sepasang kekasih yang sudah berjalan menjauhi dirinya dengan Edwin yang melingkarkan tangannya ke pinggang Viviane. Angga sungguh dibakar oleh api cemburu namun dia bisa apa. Tidak ada yang bisa dia lakukan.
Kemudian Angga juga melangkahkan kakinya menuju basement. Dia melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang selalu macet di pagi hari saat jam kerja seperti ini. Namun Angga tidak pergi ke kantornya. Kebetulan juga dia tidak meminta Mario menjemputnya. Dia memilih mengendarai mobilnya sendiri.
Mobil yang dikendarai Angga berhenti sebentar di sebuah took bunga pinggir jalan. Angga keluar dari mobil dengan mengenakan kacamata hitamnya. Angga membeli seikat bunga tulip. Setelah membayarnya, Angga kemabli masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju tempat orang yang sangat dia sayangi.
Angga sudah menghentikan mobilnya tepat di depan pemakaman. Hari ini Angga ingin sekali berkunjung ke makam mamanya setelah semalam bertemu dengan Viviane. Entahlah, mungkin Angga ingin curhat di depan makam mamanya.
“apa kabar ma? Apa mama bahagia disana?” Tanya Angga saat dirinya meletakkan bunga tulip yang tadi dibawa.
“mama tetap harus bahagia disana meskipun disini Angga sendiri belum bahagia. Maafkan Angga ma. Selama hidup mama Angga belum bisa berbakti pada mama. Angga lebih memilih tinggal sendiri daripada tinggal bersama mama” Angga melepas kacamata hitamnya dan mengusap kedua ujung matanya yang sudah berair
“Ma, Angga sangat menyayangi mama. Semoga mama disana bisa melihat kesungguhan Angga. Termasuk kesungguhan Angga yang mencintai seorang wanita yang bernama Viviane. Meskipun mama saat itu belum sempat bertemu dengannya. Angga sangat mencintai dia ma tapi sebentar lagi dia akan menikah dengan orang lain. Dia benci Angga ma. Viviane membenci Angga karena ulah papa ma. Apakah Angga tak pantas mendapatkan kembali cinta Viviane ma???” ucap Angga sambil terisak di atas makam mamanya.
Baru kali ini Angga menumpahkan semua isi hatinya tepat di atas makan mamanya. Dia sangat tersiksa menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya akan menikah dengan pria lain. Mungkin yang selama ini orang lihat bahwa dirinya adalah pria angkuh dan dingin. Tapi itu semua hanyalah kamuflase. Semua itu untuk menutupi kelemahannya. Hanya mamanya lah yang bisa melihat sisi rapuh seorang Angga.
Tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan, Angga segera beranjak berdiri meninggalakn makam mamanya. Dia harus kembali melanjutkan rutinitasnya. Cukup sudah dia menumpahkan segala perasaannya di depan makam mamanya. Angga berharap mamanya tetap tenang disana meskipun dirinya tadi sangat sedih.
Angga melajukan mobilnya menuju kantor. dia kembali menunjukkan sisi angkuh dan dinginnya di hadapan para karyawannya. Dia tidak mau terlihat lemah. Cukup dirinya sendiri yang mengetahuinya.
Seperti biasa sesampainya Angga di ruangan kerjanya, Mario sudah mempersiapkan berkas-berkas yang akan ditanda tanganinya. Mario yang melihat tuannya berangkat telat tidak seperti biasanya tidak ingin menanyakan apa alasannya. Karena Mario sudah tahu jika tuannya baru saja dari makam mamanya.
Angga sudah disibukkan dengan beberapa berkas yang pelu dicek dan ditanda tangani. Dia tidak sadar kalau sudah jam makan siang karena saking sibuknya.
Tok tok tok
“permisi tuan. Ada nona Laura yang ingin menemui anda” ucap Mario
Angga sangat malas sekali dengan Laura. Meskipun om Wilson sudah menjodohkannya tapi samapi saat ini Angga tidak pernah menolak dan mengiyakan permintaan om Wilson. Bagi Angga itu sangat tidak penting. Jadi biarkan saja Laura mau berbuat apa. Dirinya tidak akan peduli.
Angga mengangguk memberi isyarat pada Mario agar mempersilakan Laura masuk.
“siang mas Angga” sapa Laura yang sudah berani dan terbiasa memanggi Angga bukan dengan sebutan tuan lagi. Toh Angga juga tidak protes.
“siang juga nona Laura” jawab Angga dingin dan masih sibuk dengan pekerjaannya
“ehm… mas kita makan siang bareng yuk”
“maaf saya akan makan siang dengan kolega bisnis sekaligus akan meeting” tolak Angga dan berhasil membuat Laura kecewa.
Tapi Laura sudah terbiasa dengan penolakan Angga seperti ini. Tapi dia tidak pernah putus asa. Selalu saja ad acara bagaimana agar Angga tidak terus menolaknya. Angga yang melihat raut wajah Laura yang kecewa sebenarnya tidak tega. Tapi dia juga malas sekali dengan Laura.
“bagaiman kalau nanti malam saja kita makan malam mas. Kebetulan aku akan kenal-“
“baiklah nanti malam kita dinner. Sekarang saya harus segera pergi” potong Angga cepat karena sudah sangat malas melihat Laura.
Kemudian Laura keluar dengan hati yang sangat bahagia. Nyatanya Angga tidak terus menerus menolaknya. Dia sangat yakin kalau suatu saat Angga akan luluh dengannya.
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟