NovelToon NovelToon
Love My Enemy

Love My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Menikah dengan Musuhku / CEO / Nikah Kontrak / Romantis / Cinta setelah menikah / Enemy to Lovers
Popularitas:97.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: N Afriyan

Selama 21 tahun hidup, Lera merasa baik-baik saja, tidak ada satupun kesusahan yang ia lami sampai dimana sang Nenek datang untuk menyita semua asetnya, kartu ATM juga diblokir oleh Nenek dan Ayahnya.

Kesialannya bertambah ketika hidupnya digenggam oleh Stephano Bian Atmaja. Entah kesalahan apa yang sudah Lera perbuat pada pria itu, yang pasti pria itu tidak bisa membuatnya melarikan diri.

"Kau pikir aku menikahimu karena aku mencintaimu?" bisik Bian tepat ditelinga Lera.

Lera mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan membiarkanmu merusak keluargaku, Bian! Tidak akan!"

Bian tersenyum, "Maka tetaplah disisiku untuk mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan pada mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Afriyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Menginap?

Lera kembali dengan baju yang tersampir di bahunya dan membawa sebuah wadah berisi air hangat dan juga handuk kecil, ia meletakkan wadah itu di atas meja.

Bian menyeringai saat Lera mulai membuka kemeja bernoda miliknya dengan cukup kasar. “Aku tidak melarangmu untuk menyentuh tubuhku, tapi pelan-pelan, Le, sakit ....” ucapnya bersamaan dengan ringisan di wajahnya.

Dasar mulut kotor sialan! Tidak tahu malu dan tidak tahu berterima kasih! Bisa-bisanya dia mengeluarkan kata-kata tidak senonoh pada seseorang yang menolongnya!

"Tutup mulut kotormu, Bian!" sungut Lera sambil melemparkan baju ke arah pria itu. “Itu baju Emo, kau bisa memakainya.”

Suara yang selalu terdengar ketus setiap berbicara dengannya, nada bicara penuh emosi dan wajah jutek itu seperti obat dalam kehidupannya yang penuh luka. Bian tidak akan pernah bisa berhenti untuk menggoda maupun membuatnya mengomel sepanjang waktu kalau bisa.

Bian membuat ekspresi sangat kesakitan, "Kedua tanganku sakit, bisa bantu aku memakainya?”

Lera kembali berdecak sebal, kedua matanya tengah menyipit curiga. Baginya Bian itu seperti binatang buas, walaupun keadaannya saat ini terlihat tidak berdaya, ia tetap harus waspada.

"Dengar, apapun yang sedang kau rencanakan, itu tidak akan pernah terjadi." Lera memberikan peringatan.

Bian mengangkat satu alisnya, "Memangnya apa yang sedang aku rencanakan, hm?"

"Entahlah, hanya saja aku mencium sesuatu yang tidak beres."

"Lihat aku, dengan keadaanku yang seperti ini memangnya apa yang bisa aku lakukan pada kerbau galak sepertimu huh?"

"Aku bukan kerbau galak!" protes Lera, dia benci sekali dengan julukan itu.

"Kalau bukan kerbau galak lalu apa? Kau mau kupanggil apa, Lera?"

Serius deh, meladeni Bian tidak akan pernah ada habisnya. Pria itu seperti memiliki keahlian khusus untuk membuatnya mengomel sepanjang waktu.

Tanpa banyak bicara Lera segera mengambil baju itu dan membantu Bian memakainya, mengancingkan kancingnya satu per satu. Sepanjang kegiatan tersebut dia menahan diri untuk tidak memelototi dada bidang dan perut milik pria itu yang terpahat sempurna. Dia tidak mau membuat Bian semakin besar kepala.

Setelah selesai dengan memakaikan baju, Lera mulai memeras handuk kecil yang sudah ia celupkan ke dalam wadah lalu mulai mengompres luka lebam di wajahnya.

“Aw, aaaw ... pelan-pelan, Le!” Bian mengerang kesakitan, kali ini dia tidak sedang berpura-pura, gadis itu menekan luka-lukanya jauh dari kata lembut.

Lera mengindahkan protes yang dilayangkan pria itu. “Kalau tahu ini sakit, lalu kenapa kau berkelahi?”

“Aku tidak akan berkelahi kalau mereka tidak memulai. Justru kalau aku tidak melawan, lukanya akan lebih parah atau mungkin aku sudah mati di jalanan yang sepi itu.” Bian memberitahu kebenarannya, perasaan kesal kembali memenuhi hatinya setiap kali teringat perlakuan bajingan sang ayah satu jam yang lalu.

Gerak tangan Lera terhenti seketika. Jika dilihat dari bagaimana kondisi Bian saat ini, Lera yakin bahwa si pelaku tidak hanya satu atau dua orang.

“Mereka siapa?” tanyanya penasaran.

Menghabiskan waktu selama beberapa minggu bersamanya membuat Lera tahu kalau Bian memiliki sifat yang amat sangat menyebalkan, satu ucapan yang keluar dari mulutnya bisa menyulut pertikaian. Jadi rasanya tidak heran kalau dia memiliki musuh.

"Bukan siapa-siapa, hanya seorang bajingan yang harus aku lenyapkan."

Hanya itu?

Ah ... Lera merasa kecewa karena Bian tidak berniat memuaskan rasa ingin tahunya. Bukan, Lera bukan cemas apalagi mengkhawatirkannya, dia hanya ingin mengetahui setidaknya sedikit informasi tentang Bian karena rasanya tidak adil kalau hanya pria itu yang mengetahui banyak informasi mengenai dirinya, sedangkan ia sama sekali tidak tahu apapun. Jangankan informasi pribadi, dimana alamat rumahnya saja Lera tidak tahu.

"Kenapa kau datang ke sini? Harusnya kau pergi ke klinik atau rumah sakit!"

Bian menyunggingkan senyum, "Sudah kukatakan, aku tidak suka rumah sakit, dan pergi ke sana kan harus bayar."

Hah? Alasan macam apa itu?

"Lalu kau pikir rumahku ini panti sosial?” gerutu Lera sambil memasang plester di pelipis dan sudut bibirnya yang robek.

Bian mengubah posisinya menjadi duduk, tangannya mengambil tangan Lera yang baru selesai memasang plester. Sejak pertama kali datang, dia tidak begitu memperhatikan apa yang gadis ini kenakan karena kehilangan fokus.

Oh, Tuhan ... bagaimana bisa Lera keluar membuka pintu dengan berpakaian seperti itu?

Lera masih mengenakan jubah mandi, bahkan gadis itu belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah, jejak-jejak air masih tertinggal di leher jenjangnya yang mulus. Mungkin gadis itu baru selesai mandi saat ia menekan bel rumahnya 15 menit lalu.

Bian rasanya ingin marah karena beberapa alasan.

Sekali tarik gadis yang semula berjongkok di sisi sofa kini sudah berdiri, dia memandu Lera untuk duduk di sampingnya. "Kau baru selesai mandi?"

"Engg ..." respon Lera tak acuh, namun detik berikutnya ia langsung menyilangkan tangan di depan dada. Dia sedang mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh dan bodoh tentu saja.

"Kenapa tidak ganti pakaian dulu sebelum keluar untuk membuka pintu?"

Benar, bagaimana bisa ia tidak mengganti pakaian setelah mengetahui siapa yang datang.

Lera ... dimana akal sehatmu huh?

"Siapa orang sinting yang menekan bel rumahku berkali-kali memangnya? Itu sangat menganggu, tetangga depan bisa membuat pengaduan pada pihak keamanan gedung, tahu!"

Bian mengakui kesalahannya itu, "Maaf." ucapnya. Dia kemudian mengambil handuk kecil yang teronggok di bawah sofa, mungkin itu terjatuh saat Lera menyeret tubuhnya susah payah. "Kenapa rambutmu tidak dikeringkan? Kau bisa masuk angin dan terkena flu."

"Aku tidak punya hairdryer, kau kan tahu kalau semua barang-barangku telah disita."

Bian mengeringkan rambut Lera dengan handuk kecil tadi, dia menggosok bagian kepala gadis itu dengan lembut. "Oh, kasihan sekali tuan putri Estanbelt ini." suaranya terdengar penuh ejekan.

Lera berdecak, "Lebih kasihan dirimu yang hampir mati itu." balasnya tak kalah sarkas. "Mana ucapan terima kasihmu?"

Bian tidak menghentikan kegiatannya, dia suka saat melakukan hal ini karena mengingatkan dirinya pada masa lalu. Frike juga sama seperti Lera, adiknya itu malas mengeringkan rambut kalau tidak menggunakan bantuan mesin pengering.

"Lera, terima kasih." ucap Bian tulus dan hal itu justru membuat Lera kehilangan kata-kata. "Dengar, mungkin tidak hanya sekali aku akan pulang dengan keadaan seperti ini. Jadi, berapa yang kau minta untuk satu kali pengobatan?” ia kemudian bertanya dengan menggunakan seluruh egonya.

Apa sih maksudnya? Kenapa dia mengatakan hal-hal yang menyeramkan begitu? Seolah seseorang akan membuatnya babak belur setiap malam. Ah, apa itu hanya modus agar dia bisa datang ke tempatnya setiap hari?

"Lima ratus ribu untuk satu kali pengobatan?" Lera menggumam tak yakin, "tidak, bagaimana kalau satu juta?"

"Oke, tapi bonus cium sekali." ucapnya seraya menyeringai, "Aw!" yang kemudian dihadiahi tendangan pada tulang kering dan cubitan pada lengannya oleh gadis itu.

"Makan tuh cium!”

"Kau mau ke mana? Rambutmu belum benar-benar kering...." Bian bertanya saat melihat Lera beranjak pergi.

"Tidur, memangnya mau apa lagi?"

"Lalu aku tidur di mana?" Bian kembali bertanya.

"Bian kau punya rumah, pulang dan tidurlah di rumahmu sendiri!" jawab Lera seraya pergi menuju kamarnya.

Bian tergelak, "Lera, ganti bajumu sebelum tidur, kau bisa masuk angin!"

"Dasar om-om bawel! Bereskan semua itu lalu pulang sana!"

1
forain
Gamau dilanjut nih thor, seru bgt ini 😻😻
Yuni: nanti aku lanjut tapi bukan di sini say
total 1 replies
Hilma Rizqina
lanjut dong kaaa
Salwa
lanjutt kakk
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
woooo,, slow kenan 😂😂
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
yg usil memang bikin kangen ya Le 🤭
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
makasih updatenya thor 🤗
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
laahhh B boong dong, katanya dirumah 😛
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
muat Lee.. muaatt kok 🤭🤭
Salwa
lanjut aja kak cerita alur ceritanya bagus kak
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
dikenalin atuh pelan² ama Lera ularmu Bi 😂😂
Yuni: wkwkw nggak bahaya tah?
total 1 replies
Salwa
lanjut kak
Salwa: jangan lama" kak update aku nungguin kyk nunggu kepastian wkwkwk
total 2 replies
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
poor Bian 🥲
Bagus, alurnya rapi dan enak dibaca. Karakter tokohnya juga hidup, jadi pengen nampol si Bian ini
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
cerita yang menarik
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
jiiaahhh.... gumusshh gak sih mereka berdua ini 😃
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
gak mungkin lah Bi kamu metong secara kamu pemeran utamanya, yaa paling babak belur lagi sedikit 😂
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
savage 😂😂
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
poor keenan 😥
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
tom en jerry gak tuh mereka berdua 😁😁
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
jiiaahhh... preman kok pingsan sih 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!