Luciana hanya mampu terbelenggu mengikuti aturan tak kasat mata dari kedua orang tuanya. Terlalu banyaknya aturan yang tercipta membuat luciana merasa dunianya seketika menjadi mati. Hingga luciana bertemu dengan pria yang memilih kehidupan bebas tanpa memikirkan apa itu aturan yang membuat hidup seperti dipenjarah. Setidaknya Luciana sedikit bernapas lega bisa bertemu dengan pria yang berkehidupan bebas. Apakah mampu Luciana menghancurkan pagar tak kasat mata yang membuat hidupnya selalu terkekang, atau mungkin mungkin Luciana akan terbendam dalam ikatan yang akan membuatnya terbunuh secara perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echa Wathy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
♥️♥️♥️
"Sial kenapa kau meninggalkanku untung tak ada yang melihat aku bicara sendiri barusan" Richard memukul kepala Alvin yang sedang sibuk memperhatikan motor pilihan Vano.
"Aduh salah kau sendiri bengong seperti orang tak pernah melihat orang sedang jatuh cinta" Alvin mengusap kepalanya yang dipukul Richard.
"Eetss tapi kau memang tak pernah jatuh cinta ya karna terlalu sibuk dengan game itu" kata Alvin yang membuat Richard kembali ingin memukul kepala Alvin.
"Sudahlah cepat bereskan yang Vano suruh aku sudah lapar" Alvin pun meneruskan perintah dari Vano dan apa yang dikatakan Vano harus benar-benar detail dilakukan Alvin Karena sedikit saja melenceng dari bayangan Vano sudah pasti dia akan membuangnya begitu saja.
Richard pun kembali berkeliling melihat motor yang lainnya karena sedari tadi tak ada satu motor pun yang menarik hati dan pas dengan keinginannya.
"Ok terima kasih nanti kita sambung lagi dan tolong apa yang saya mau semua sesuai dengan yang sudah saya jelaskan barusan jangan sampai ada detail yang salah" kata Alvin pada penyelenggara kontes itu.
"Baik pak saya akan usahakan memberikan yang terbaik terima kasih pak" jawab penyelenggara kontes itu.
"Akhirnya beres juga sekarang tinggal info ke Vano" Alvin pun berjalan sembari memainkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Vano bahwa tugasnya sudah selesai dikerjakan.
Tugas berasa Alvin asisten pribadi Vano ya main perintah saja dan anehnya Alvin sama sekali tak pernah tak mengerjakan apa yang dikatakan Vano beda dengan Richard yang benar benar susah diminta tolong dalam hal-hal kecil begini. tapi bukan berarti Richard tak mau menolong setiap dalam keadaan kesusahan dan ada yang mengancam keselamatan Alvin dan Vano, Richard adalah orang pertama yang akan datang membantu.
Karena Richard memang paling jago dalam hal bela diri dan juga Richard paling sadis dalam hal kekerasan dibandingkan Alvin dan Vano.
"Aduh" karena terlalu fokus dengan ponselnya Alvin tak sadar bahwa dia berjalan sampai menabrak.
"Maaf aku terlalu fokus dengan ponsel hingga menabrakmu" Alvin dengan cepat membantu berdiri orang yang ditabraknya hingga terjatuh.
"Tak apa aku juga salah jalan tak melihat kedepan" ucap wanita itu. Alvin merasa tak asing dengan suara itu seperti Alvin pernah mendengar suara wanita itu.
"Kau" ucap Alvin yang melihat wajah wanita itu.
"Siapa ya apa kita pernah bertemu" kata Caroline yang mencoba mengingat apa dia pernah bertemu dengan pria yang kini ada dihadapannya.
"Kau Caroline kan" kata Alvin karna tak mungkin dia melupakan wanita yang pernah dia senggol hinggap kakinya terkilir.
"Iya benar maaf apa kita pernah bertemu" Carolin mencoba mengingat tapi nampaknya dia belum bisa mengingat siapa pria dihadapannya saat ini. karena setiap harinya Caroline banyak bertemu dengan pasien dan orang di rumah sakit.
"Aku Alvin yang membuat kakimu keseleo " Caroline mencoba mengingatnya lagi.
"Oya aku ingat maaf aku tak begitu ingat karena hanya bertemu sekilas"
"Bagaimana kakimu apa sudah membaik"
"Kalau belum membaik tak mungkin aku berada disini sekarang" seketika Alvin terdiam tak bisa berkata apa lagi yang membuat Caroline merasa salah bicara.
"Maaf aku hanya bercanda kakiku baik-baik saja hanya luka kecil" seketika senyuman manis muncul dari bibir indah Alvin.
"Kenapa kau ada disini apa kau suka otomotif juga"
"Aku dokter yang bertugas di kontes ini tapi aku juga suka otomotif walau belum banyak yang aku tahu tentang otomotif" seketika pikiran Alvin berputar ternyata ada juga wanita cantik yang berpenampilan rapi dan elegan tapi memiliki jiwa tomboi.
"Ini sudah jam makan siang bagaimana jika kita makan siang bersama tapi jika kau tak sibuk" karena merasa tak nyaman bicara ditempat ini dan sangat berisik Alvin memilih mengajak Caroline ketempat lain.
Uhuuk modus sekali kau boy mau makan siang atau mau lebih dekat dan mau tahu lebih jauh tentang Caroline boy.
"Boleh kurasa tugasku sudah selesai juga,tapi aku ambil tas dulu"
"Ok aku tunggu diparkiran ya" Carolin pun hanya membalas dengan senyuman dan berjalan meninggalkan Alvin.
"Apa kau sudah selesai" kata Richard.
"Sudah" jawab Alvin singkat dengan senyum senyum tipis menatap kejauhan yang membuat Richard memukul lagi kepala Alvin.
"Hei kenapa kau senyum senyum gak jelas ayo cepat aku sudah lapar" mungkin kini jadi hobi baru Richard memukul kepala Alvin.
"Apa kau tak bisa tak memukul kepalaku apa jangan-jangan kau ingin aku lupa ingatan makanya kau memukul kepalaku lagi" tapi seperti biasa Richard tak menghiraukan perkataan Alvin.
"Ayo cepat aku sudah lapar atau kau ingin menjadi santapan siangku hari ini" bisik Richard tepat ditelinga Alvin.
"Sial... tapi kurasa kali ini kau harus makan sendirian boy aku ada perlu sedikit" kini tangan Alvin mulai mengelus-elus pundak Richard.
"Apa maksudmu" Richard menepis tangan Alvin.
"Santai dulu boy kurasa kau harus mulai mencari pasangan hidup agar ada yang menemani dan mengurusi mu" Alvin pun langsung pergi meninggalkan Richard.
"Mau kemana kau" teriak Richard tapi sekita Alvin menjadi tuli tak mendengar teriakan Richard.
"Sial kenapa aku jadi sendiri begini ahh lebih baik aku pulang dan makan siang sendiri sambil main game tak ada beruang kutub dan asisten pribadi Vano itu tak akan ada yang menggangguku main game sepuasnya" guman Richard dan berjalan menuju parkiran.
Karena parkiran disini sangat luas akhirnya Alvin memilih untuk menunggu Caroline di depan pintu keluar, karena Alvin juga tak ingin wanita terkena paparan sinar matahari yang terik membuat paras cantik wanita luntur. karena mencarinya diparkiran yang luas ini.
Belum juga lima menit Alvin menunggu akhirnya wanita yang ditunggunya datang juga. Alvin menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Caroline agar melihatnya yang berada didalam mobil. Caroline pun menghampiri Alvin yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Maaf membuatmu menunggu lama"
"Untuk menunggu gadis secantik dirimu selama apa pun akan tetap terasa sebentar" guman Alvin dalam hati.
"Tidak aku baru sampai juga, kita jalan sekarang ya" Caroline hanya memberikan senyuman. tapi tiba-tiba Alvin mendekatkan wajahnya ke dekat Caroline tapi dengan cepat Caroline menyadari bahwa dia belum memaki seatbelt.
"Aku bisa memakinya sendiri" Caroline pun langsung menarik seatbelt dan memakainya.
"Maaf baiklah kita jalan sekarang ya" Alvin pun melajukan mobilnya dengan dengan kecepatan sedang padahal jalanan kota tak begitu ramai.
Dasar Playboy ada saja tingkahnya biasanya juga ngebut gak karuan seperti jalanan milik sendiri. sekarang lajunya seketika lambat hati-hati, mungkin jika berlomba dengan kura-kura kau pasti kalah boy. karna dunia serasa milik berdua.
♥️♥️♥️
ditunggu kunjungannya ke karyaku TERJEBAK DALAM DERITA
Mampir juga yuks thorr ke " Bersemi Kembali " Dan jangan lupa untuk menngggalkan jejak
Salam Hangat
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰
jgn lupa mampir jg ke karya ku 👐
jangan lupa beri vote di lapakku saat mampir nanti yaa😉terima kasih
like mendarat untuk episodemu❤️
semangat selalu😊
dan mampir juga ya ke cerita aku
🌸Stole Audrey's Heart🌸
🌸Hate His Touch🌸
cemungut ya... 🤭🤭