SEASON 6!
*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^
SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.
Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?
Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================
GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action
COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!
JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)
[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]
IG: @pipit_otosaka8
Terima kasih telah mampir ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23– Zainal (2)
[ Ya jelas aku khawatir. Apalagi kalau dia jauh dariku. Dia sahabatku dari kecil, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai adikku! ]
Ethan menegaskan. Nashira dan Rashino menuruni tangga depan teras rumah panggung itu untuk menjauh dari Zainal sedikit agar pembicaraan mereka tidak terdengar dan Ethan juga tidak bisa mendengar suara Zainal yang sedang mengobrol sedikit-sedikit dengan yang lainnya di dalam sana.
Si kembar memutuskan untuk membicarakannya di bawah pohon tengah halaman rumah itu. Nashira duduk di bawah dan Rashino duduk di ayunan yang tergantung di sana.
Rashino sedikit membungkuk untuk berdekatan dengan ponsel Zainal yang masih dipegang Nashira. "Ooh. Tapi Ethan, maaf kalau aku bertanya lagi. Kau kan sangat dekat dengan Zainal, jadi ... emm ... apa menurutmu dia punya kepribadian ganda?"
Itu adalah pertanyaan yang sudah lama sekali ingin Rashino ketahui. Setelah mendengar pertanyaan dari kakak beda lima menitnya itu, ia jadi teringat dengan sesuatu.
Tujuan Rashino yang sebenarnya adalah ingin mengetahui lebih banyak tentang Zainal. Sikap anak itu sulit ditebak. Entah tergantung mood atau emosi, terkadang nada bicaranya, ekspresinya selalu berubah-ubah. Apalagi kalau sedang marah saat itu. Sekalinya marah, Zainal terlihat mengerikan bahkan sampai mengeluarkan aura pembunuh. Padahal wajahnya terlihat polos.
Walau Rashino tidak melihat langsung kemarahan Zainal saat ia menyiksa ibu Villa yang dulu, tapi setelah mendengar cerita Mizuki, ia jadi mendapat gambaran betapa mengerikannya sikap Zainal saat itu.
*Jika lupa, cek novel Chika, eps 204 :)
[ Eh ... kepribadian ganda? Kenapa bertanya seperti itu? ] Tak lama terdiam, Ethan pun membalas dan ia malah bertanya balik.
"Ah, sebenarnya ..." Rashino akan berkata jujur. Tapi ia tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. "Aku pernah diceritakan Mizuki kalau ia pernah melihat Zainal marah dan sampai membunuh Ibu Villa yang dulu itu, loh!"
"Oh." Nashira akhirnya mengingat jelas tentang kejadian dulu. "Walau Ethan tidak melihatnya, tapi kau pasti tahu kalau Zainal lah yang membunuh ibu Villa, ya, kan?"
[ Oh, soal yang dulu itu. Hmmm ...]
"Nah, iya. Kau tahu, kan?" Rashino menegaskan. Ia pun kembali mengulang pertanyaan yang sama. "Apa Zainal punya kepribadian ganda? Apa sebelum dia membunuh ibu Villa itu, Zainal pernah melakukan kekerasan yang keji dulunya lagi?"
[ Ah, emm ... ] Ethan terdengar ragu untuk menjawabnya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu dalam batinnya, tapi entah apa itu. Tapi tak lama, ia pun menjawabnya. [ Sebenarnya aku juga terkejut saat mendengar kabar kalau si Zain yang telah membunuh Ibu Villa. Sebelumnya ... dia tidak pernah seperti itu. Zainal itu anaknya lembut dan terlalu baik. Sampai membuat aku kesal kebaikannya itu. Tapi ya ... hal keji yang pernah dia lakukan hanya ... membunuh seekor anjing peliharaannya sendiri. ]
"Sebenarnya ... apa yang terjadi padanya?" tanya Nashira. "Kenapa orang yang lembut itu bisa berubah jadi kasar?"
"Kalau yang seperti itu biasanya terjadi karena dia terlalu tertekan atau trauma dengan suatu kejadian." Dennis mendadak muncul dari balik pohon dan mengejutkan di kembar. Ternyata lelaki itu mendengar pembicaraan mereka dari tadi.
Si kembar kembali menghembuskan napas lega karena bukan Zainal lah yang datang. Karena hanya Dennis, jadi Dennis boleh ikut berbincang bersama Ethan lewat telepon.
Sebelumnya tujuan Dennis adalah untuk mencari si kembar yang mendadak hilang dari rumah. Tapi setelah ketemu, dan ternyata mereka sedang membicarakan Zainal, Dennis jadi penasaran dan ia juga ingin mendengarkannya.
Dennis masih berdiri di samping ayunan yang diduduki Rashino. Tadinya ia ingin ikut duduk di samping Nashira. Tapi Rashino sempat berbisik, "Eh, apa yang dilakukan Zainal dan yang lainnya di dalam rumah itu? Dan bagaimana keadaan si pendek?"
Dennis tersenyum samar. Ia merasa tersindir karena tinggi badannya hanya beda 5 cm dengan Zainal. "Zain baik-baik saja. Kata Mizuki, dia cuma kelelahan dan dehidrasi. Baru bangun saja langsung minta minum. Jadi mereka membiarkan dia istirahat sebentar di dalam rumah itu." Jelas Dennis.
"Oh, syukur, deh. Aku jadi tidak enak padanya." Rashino masih merasa bersalah karena telah menumpahkan airnya Zainal tadi. Tapi sekarang, lanjut mendengarkan Ethan yang ternyata sudah duluan cerita pada Nashira.
Rashino dan Dennis yang tidak sempat mendengarnya pun meminta Ethan untuk mengulangnya. Karena ceritanya belum panjang, maka Ethan akan mengulanginya.
[ Ooh ... Itu Dennis, kah? ] Tanya Ethan. [ Suaranya mirip. ]
"Ah, iya ... aku baru datang dan tertarik mendengar tentang Zainal juga." Jawab Dennis. "Jadi ... bisa kau ceritakan secara singkatnya tentang Zainal yang selalu mengubah-ubah suasana hatinya?"
[ Emm ... ya intinya dia tuh sebenarnya baik. Sangat baik. Dia juga orangnya lembut, suka menolong dan kuat. Kuat dalam arti bukan tahan fisiknya, tapi hatinya. ]
"Ah, iya aku paham." Dennis mengangguk pelan, lalu kembali bertanya. "Kalian teman dekat, kah? Dari kecil? Bagaimana kalian bisa bertemu?"
[ Iya memang dari kecil. Dulu orang tua kami bekerja sama dalam satu perusahaan dan kami pun dipertemukan. Awal-awal, Zainal terlihat seperti tidak ingin menemaniku karena dia masih malu-malu. Tapi yah ... karena aku memaksanya untuk ikut main, dia pun jadi terbiasa. Kami semakin dekat saat keluarga Zain pindah di samping rumahku. Kami tetanggaan. ]
[ Dari SD, Zainal yang terpintar di kelas, dan aku beda jauh darinya. Tapi prestasinya selalu membuatku bangga. Sampai saat kami masuk ke SMP yang sama juga, Zainal mulai mengalami banyak masalah. Walau kami satu sekolah, tapi beda kelas sayangnya. Di kelas Zainal ada murid yang paling pintar di sana. Tapi semenjak kehadiran Zainal, ia pun terkalahkan dan hal itu membuat orang itu kesal lalu terus-terusan mengajak satu kelas untuk membully Zain dan mengancamnya untuk jangan belajar saat ujian akhir semester. ]
[ Zainal juga benar-benar polos dan culun banget anaknya. Malah dia selalu pendek terus dari kecil karena tubuhnya mengalami masalah pertumbuhan. Ya dengan polosnya, dia merasa biasa saja walau dijauhi oleh teman sekelasnya. Dibully pun tidak mau pernah ngomong dan ngadu padaku gitu, kalau nggak sama orang tuanya, dan bahkan disuruh gak belajar, dia mau saja. ]
"Kenapa semua orang mau amat ngikutin anak nakal itu, sih?!" tanya Nashira dengan penuh emosi.
[ Anak kepsek. Biasalah. ]
"Cih! Masih bocah amat kelakuan anak-anak kayak gitu."
"Lalu ... sampai kapan Zainal terus menderita seperti itu?" tanya Dennis.
[ Sampai awal setelah penaikan kelas. Aku melihat dia dijahili dan semenjak saat itu aku baru sadar kalau selama satu semester, Zainal terus dikerjain sama teman sekelasnya. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa karena kami hanya bersama saat jam istirahat dan pulang sekolah saja. Dia juga gak pernah mau ngomong sama aku. Bahkan kalau aku ingat-ingat ... senyumannya membuatku kesal. Dia sedang menderita dan masih saja sempat-sempatnya tersenyum seperti anak kecil. ]
[ Yah karena kesal, aku pun ngelabrak orang-orang yang berani kasar pada Zainal. Tapi ... aih ... Bodohnya Zainal malah melarangku untuk membalas perbuatan teman-temannya itu. ]
"E–eh eh ... Ethan, Ethan. Jangan kasar sama mereka. Kasihan."
Ethan kembali mendengar suara Zainal yang dulu melarangnya untuk membalas si tukang Bully. [ Cih, pertama kalinya aku geram dengan sikap anak itu. Dia selalu bersikap baik-baik saja, padahal tubuhnya yang lemah selalu dipukuli. Tapi semua itu telah berlalu semenjak aku melindungi Zainal lebih dalam lagi. ]
[ Tak lama setelah kenaikan kelas 9, Zainal pergi berlibur bersama keluarganya untuk merayakan ulang tahunnya. Aku senang dia bisa bahagia. Tapi di hari itu juga, tiba-tiba terjadi badai. Aku mulai cemas dengan keadaan Zainal di luar sana dan saat malam harinya, orang tuaku mendapat kabar kalau mobil keluarga Zain mengalami kecelakaan akibat badai tersebut. ]
"Eh?" Dennis tersentak mendengar cerita Ethan. Soal orang tua Zainal. Saat Zainal datang ke rumahnya, ia cerita kalah orang tuanya berpisah dan ibunya meninggal. Tapi sekarang yang diceritakan Ethan agak lain dan hal itu membuat Dennis bingung.
"Sebentar, Tan!" Dennis menyela ceritanya. Ethan pun berhenti bicara dan akan mendengarkan Dennis. "Zainal pernah cerita padaku kalau orang tuanya bercerai dan bukan karena kecelakaan. Yang benar, yang mana?"
[ Ooh ... Sebenarnya karena kecelakaan. Maap ya kalau Zainal suka berbohong. Itu karena ia tidak ingin mengingat kembali kejadian yang dialaminya. Ditanya tentang keluarganya oleh orang lain adalah hal yang paling tidak ia sukai. ]
"Eh, iya, kah? Aduh ... sepertinya aku salah bicara pas itu." Dennis bergumam sambil menggaruk kepalanya.
Setelah mendengar gumaman Dennis, Nashira ingin bertanya sesuatu. "Eh berarti ... jangan bilang kalau–"
Namun Ethan menyelanya. [ Ya, orang tua Zain meninggal dan yang selamat hanya Zain. Tapi mata kanannya menjadi korban. Ya, dia mulai kehilangan mata kanannya dari kecelakaan itu. ]
[ Mata kanannya yang telah tidak ada terlihat menyeramkan saat dipandang. Zainal tidak suka dengan penampilan barunya itu. Tidak ada mata donor yang cocok untuk Zainal. Makanya sang dokter memberikan mata palsu seperti mata boneka yang mengkilap untuk dijadikan mata barunya, tapi tetap tidak bisa berfungsi untuk melihat. Hanya sebagai penampilanya saja. ]
[ Walau begitu, Zainal tetap tidak terlihat senang. Ia selalu menutupi mata kanannya dengan kain atau penutup mata khusus sampai akhirnya ia bisa memanjangkan poni sebelah hanya untuk menutupi matanya itu dan sampai sekarang lah Zainal berpenampilan seperti itu. ]
[ Setelah kematian orang tuanya, Zainal berubah menjadi anak yang pendiam dan sering menyendiri. Setelah pulang dari rumah sakit, ibuku memintanya untuk merapihkan baju-bajunya dari rumahnya untuk pindah ke rumahku. Keluarga kami akan merawatnya. ]
[ Namun, Zainal tak kunjung kembali sampai siang. Aku yang khawatir pergi ke rumah untuk memeriksanya, dan betapa terkejutnya aku melihat Zainal terudduk membelakangi pintu. Tangannya dipenuhi darah. Ia baru saja menusuk leher anjingnya sendiri sampai mati. ]
[ Aku masih terdiam di depan pintu. Tapi saat Zainal mulai menyadari kehadiranku, ia menoleh ke belakang lalu tak lama mulai menangis. Tangisannya sangat keras dan saat itu ia benar-benar sengaja mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini. Dia melampiaskan kekesalannya terhadap anjingnya sendiri, lalu mulai merasa sedih karena ditinggal orang tuanya. ]
"E hiks ... ayah ..."
Dennis hanya berkaca-kaca mendengar cerita itu. Tapi ia terkejut saat melihat si kembar sudah duluan banjir air mata. Si kembar kembali mengingat dengan ayahnya yang sudah lama tiada karena kecerobohan mereka sendiri. Lalu ibu mereka yang masih kerja di Indonesia, sendirian di rumah tanpa kehadiran anak-anaknya. Mereka rindu sekali dengan orang tuanya.
Ethan mulai berhenti bercerita. Ia juga sedang memendam rasa sakitnya sendiri karena belum lama ini juga, orang tuanya baru saja meninggal dan saatnya ia yang bekerja untuk memenuhi hidupnya dengan Zainal.
Ethan menginginkan dirinya saja yang bekerja keras karena ia tau kalau tubuh Zainal itu lemah dan kecil, ia tidak tega untuk membiarkannya ikut kerja bersamanya sebagai tukang bangunan.
Dennis ikut sedih melihat teman-temannya yang rindu dengan orang tua mereka. Ia bersyukur orang tuanya panjang umur sampai sekarang. Tapi ia sempat berpikir, "Apakah ... saat aku dalam masalah, Brian akan mengkhawatirkanku bahkan sampai menangisiku atau tidak, ya?"
*
*
*
To be continued–
di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭
Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭
biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭