"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Miliki dia lahir dan batin!
Pukul dua belas malam lewat beberapa menit.
Seorang laki-laki masih berseragam, bertubuh tegap, tidak terlalu tinggi tapi proporsional sedang melewati anak tangga satu persatu. Atas perintah Jimmy dia dipersilahkan masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di depannya. Jimmy menatap dengan wajah serius, seolah-olah ada hal penting atau hal genting yang akan ditanyakan.
"Ada apa panggil aku ke atas malam-malam begini?" tanya Ryan. "Itu kenapa wajahmu jadi menyeramkan begini. Apa aku atau salah satu diantara kami melakukan kesalahan?"
Jimmy menggeleng. "Nggak ada yang berbuat kesalahan."
"Lalu?"
"Aku hanya minta pendapat kamu,"
"Hanya ingin meminta pendapat saja wajah kamu se-serius itu. Menyeramkan!"
"Iya ini memang masalah serius."
"Ya sudah, pendapat apa dulu nih, maksudnya tentang apa?"
"Tentang rumah tangga." jawab Jimmy singkat.
"Jangan gila kamu Jim, pacaran saja aku belum pernah malah suruh kasih pendapat tentang masalah rumah tangga. Aku nggak tahu apa-apa tentang itu!" Ryan mencebik kesal. "Aku lagi capek banget Jim, jangan bercanda. Malam-malam begini malah nanya-nanya tentang rumah tangga. Memangnya kamu mau menikah? Hebat sekali seorang jomblo akut sepertimu menikah? Siapa wanita hebat yang berhasil meluluhkanmu?" Ryan berkata sambil terkekeh.
"Aku memang sudah menikah."
"Sudah lah aku mau turun, pengen mandi, gerah banget." Ryan beranjak dari duduknya.
"Tunggu, Yan!" Tubuh Ryan tertahan pada saat Jimmy berkata meninggi.
"Aku sudah menikah satu bulan yang lalu."
Ryan menatap Jimmy tak percaya.
"Aku sudah menikah satu bulan yang lalu, aku bersumpah dan nggak sedang bergurau." Jimmy mengatakannya lebih meyakinkan lagi.
Jadi fakta ini benar? Ryan pikir, apa yang selama ini Emon katakan itu hanya sebuah candaan. Ya Tuhan, kenapa Ryan baru menyadarinya?
"Iya, sudah Jim aku percaya. Aku sudah percaya jika kamu yang mengatakannya sendiri."
"Syukurlah."
"Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini? Dengan siapa kamu menikah? Yang aku tahu, kamu nggak pernah dekat dengan perempuan. Apa kamu di jodohkan?"
"Iya, aku di jodohkan." jawab Jimmy.
Ryan mengkerut "dengan siapa?"
"Kamu mengingat seorang perempuan yang menyusulku?"
Ryan langsung mengingat perempuan itu. "Iya, aku ingat. Cewek yang jutek itu-kah Jim?"
Jimmy menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Apa dia menyakitimu?" tanya Ryan.
"Setiap hari." jawab Jimmy.
"Kalau begitu ceraikan saja. Dia nggak pantas memilikimu. Kamu terlalu baik untuk disakiti."
"Ada banyak hal yang membuatku tidak bisa menceraikannya."
"Kamu mencintainya?" tanya Ryan meninggi.
"Sangat. Tapi lebih tepatnya cinta sendirian."
"Kamu bodoh Jim! Bodoh, bodoh sekali!!" Ryan menyalahkan Jimmy, sekonyong-konyongnya. "Kamu mencintai orang yang sudah menyakitimu?"
"Iya, bisa di bilang begitu. Cinta adalah fitrah dari Tuhan Yan. Nggak salah kalau aku mencintai istriku sendiri. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa aku ketahui sebab dan jawabannya kenapa aku bisa cinta sama dia."
Jimmy menghela nafasnya sebelum dia menyambung kalimatnya lagi. "Aku sudah terlanjur menaruh hati sebelum mengetahui semuanya. Kenyataan terburuknya, dia sudah mempunyai seorang kekasih, lebih mapan dan lebih kaya. Lebih dari segala-galanya dariku."
"Brengsekkk!! Bajingan!!" Umpat Ryan mengepalkan tangannya. "Kenapa dia menerima lamaran kamu Jim?!"
"Takut dengan Papanya, keluarga kami bersahabat semenjak lama. Ada juga faktor lain yang membuatnya harus menerima perjodohan ini. Yaitu Papa mertua saya yang mempunyai riwayat penyakit jantung."
"Dasar perempuan nggak tahu di untung!!"
"Dia nggak kunjung menyadari kesalahannya dan nggak mau berusaha mencoba mengutuhkan rumah tangga ini, itu yang aku sesalkan."
"Jika berbagai cara tak bisa serta merta membuatnya mencintaimu, miliki lahir dan batinnya!!"
Jimmy terdiam beberapa saat dan menatap Ryan penuh arti.
"Aku bukan laki-laki pengecut yang merenggut hal itu dari sebuah paksaan."
"Hanya itu salah satunya cara."
"Jika seandainya cara itu tak juga bisa membuatnya menjadi milikku, apa ada cara lain?"
"Menikahlah lagi, cari wanita baik-baik. Masih banyak didunia ini wanita yang baik akhlaknya yang bisa kamu pilih Jim. Jangan terpaku pada satu harapan kosong. Sakit Jim, hidup itu cuma sekali. Jangan kamu sia-siakan dirimu untuk menanti hal yang nggak pasti."
Jimmy terdiam lagi, sebab sedang menyimak perkataan Ryan dengan seksama.
"Kenapa kamu nggak memberitahuku. Aku ini sahabatmu. Selama ini kamu simpan rapat-rapat dariku? Kenapa Jim?" tanya Ryan lagi.
"Dia yang meminta agar aku merahasiakannya."
"Aku nggak rela kamu diperlakukan seperti ini, kamu nggak layak disakiti, nggak layak!!"
Ryan berapi-api, tangannya mengepal dan dadanya naik turun sebab emosinya yang memuncak. Sayang, wanita yang berani menyakiti sahabatnya tak berada di hadapannya saat ini, jadi kepalan itu tidak bisa mendarat.
"Istirahatlah, Yan... terima kasih pendapatmu. Aku sedikit lebih lega setelah berbagi denganmu. Solusi darimu, aku terima dan aku pertimbangkan."
Ryan mengangguk, kemudian memeluk Jimmy. Sakit yang Ryan rasakan saat Ryan mencoba berada di posisi Jimmy sekarang ini.
"Jangan menyembunyikan apa-apa dariku Jimm, jujur aku kecewa sama kamu." Ryan merenggangkan pelukan, mengikis jarak diantara mereka, kemudian kembali berucap sambil menggelengkan kepala. "Kamu nikah, dan aku nggak tahu? Benar-benar gila kamu Jim! Kamu anggap apa aku ini?"
Ya, persahabatan mereka sudah sangat lama. Dari masa putih abu-abu hingga saat ini.
"Aku menikah di rumah Mutia, hanya mengundang beberapa keluarga saja."
Pembahasan mereka masih berlanjut sampai ke akar-akarnya.
***
To be continued.
Banyak pengunjung baru, promo "My beloved wife" yang belum baca mampir dulu kesana yaa.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭