NovelToon NovelToon
Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.

Status: tamat
Genre:Romantis / Sci-Fi / CEO Amnesia / Cinta Murni / Pihak Ketiga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:6.1M
Nilai: 5
Nama Author: Biru Samudera

Season 2, lanjutan dari: Pengantin Pengganti untuk Tuan Muda. Disarankan untuk membaca season 1 lebih dulu.

Ini bukan kisah cinta biasa.

Andrew Roux, penerus Phoenix.Co, memilih menolak permintaan ayahnya untuk meneruskan perusahaan keluarga demi mencari gadis yang belum pernah ia temui sebelumnya. Apakah semua ingatan dan mimpi-mimpinya berkaitan dengan kehidupan masa lalunya?

Kehidupan Sakamoto Keiko, seorang putri mafia yang terjerat dalam perjodohan dengan putra rekan bisnis ayahnya mendadak berubah 180° derajat ketika Andrew Roux tiba-tiba muncul di hadapannya.


Takdir apa yang mempertemukan mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak boleh menemuinya

Setelah selesai mengobati luka-luka Keiko, Hiro menuntun meminta

pengawalnya membereskan sisa-sisa kapas yang berceceran di lantai.

“Mau pulang? Biarkan aku mengantarmu,” tawar Hiro.

Pria itu memerhatikan ekspresi tunangannya dengan waspada. Ia takut Keiko

akan kembali menjauh dan memasang jarak karena masalah ini. Susah payah ia

memperbaiki hubungan mereka yang sangat rapuh dan rentan. Pria itu sungguh

merasa tidak rela kalau semuanya menjadi kacau dalam sekejap.

Keiko menggeleng pelan dan menjawab, “Tidak perlu. Aku ingin menginap

di sini saja. Terima kasih.”

Ia sudah menggunakan kartu unlimited itu untuk membayar kamar VIP ini.

Sungguh sia-sia kalau ia harus pulang sekarang. Setidaknya, harga yang telah

dibayar tidak akan terbuang percuma.

“Kalau begitu aku akan menemanimu.”

“Tidak. Tidak usah, Hiro. Aku baik-baik saja,” jawab Keiko cepat. Ia

benar-benar sedang tidak ingin diganggu saat ini.

“Tapi, Sayang ... orang-orang ini, mereka sangat berbahaya dan kejam.

Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.”

Melihat sorot khawatir dalam tatapan Hiro membuat Keiko melunak. Ia mendesah

pelan dan mengulurkan tangannya.

“Berikan sepucuk Baretta padaku. Aku jamin aku akan baik-baik saja. Tadi

aku sama sekali tidak memiliki senjata apa pun yang dapat digunakan untuk

membela diri.”

Hiro menatap Keiko dengan mata menyipit. Kedua alisnya hampir bertaut

di kening.

“Siapa yang menolongmu? Bagaimana kamu bisa sampai di sini?” tanyanya

dengan wajah serius.

Karena terlalu mencemaskan Keiko, ia sampai tidak memikirkan hal itu

sebelumnya. Ia baru tersadar ketika tunangannya itu mengatakan tidak memliki

senjata. Kalau benar gadis itu tidak bersenjata maka kemungkinan untuk lolos

sangat kecil, apalagi bisa sampai di sini dengan hanya mengalami luka ringan. Pasti

ada seseorang yang telah membantunya.

“Aku bertemu seseorang. Dia membantuku melarikan diri dengan mobil

temannya,” jawab Keiko lugas.

“Seseorang?” tanya Hiro dengan tatapan menyelidik, “Apa aku mengenalnya?”

Keiko menggeleng dan menjawab, “Tidak. Kamu tidak mengenalnya.”

“Kamu mengenalnya?” cecar Hiro lagi. Ia memiliki semacam perasaan aneh

mengenai siapa pun yang menolong tunangannya itu.

Lagi-lagi Keiko menggeleng dan berkata, “Tidak, Hiro. Dia hanya orang

asing yang kebetulan lewat. Dia langsung pergi setelah mengantarku ke sini.”

Gadis itu tidak berniat menceritakan secara detail mengenai pertemuannya

dengan Andrew, atau pun mengenai *unlimited*access yang diberikan padanya. Kalau

Hiro sampai salah paham dan mencelakai Andrew, maka ia akan merasa berdosa

seumur hidup. Kalau bukan karena bantuan Andrew tadi, mungkin ia sudah

tertembak dan terkapar di jalanan, atau diculik dan dibawa entah ke mana.

“Sudah sangat larut. Aku ingin beristirahat,” ujar Keiko sebelum Hiro

mengajukan pertanyaan lagi. Ia bangun dan memberi tanda agar para pria dalam

ruangan itu segera keluar.

Hiro memasukkan tangan dalam saku celananya. Ia tahu Keiko sedang berusaha

menyembunyikan sesuatu, tapi ia juga sadar gadis itu pasti sangat lelah setelah

mengalami rentetan kejadian yang memacu adrenalin. Jadi akhirnya yang bisa ia

lakukan adalah mengalah dan menuruti keinginan Keiko.

“Aku akan mengirim beberapa pengawal untuk berjaga di pintu masuk.

Jangan khawatir, mereka tidak akan terlihat mencolok,” ujar Hiro seraya berdiri

di dekat kekasihnya.

Pria itu mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jasnya dan meletakkan

benda itu di tangan Keiko. Ia juga memberi isyarat pada salah seorang

pengawalnya agar mendekat.

“Berikan pada Nona Muda!” perintahnya dengan suara pelan tapi tegas.

Pengawal itu membungkuk dengan sopan saat menyerahkan kantong belanja

di tangannya pada Keiko. Setelah itu, ia dan dua orang rekannya langsung

berjalan keluar dan menunggu di lorong. Mereka tahu Tuan Muda Kobayashi

memerlukan waktu berdua bersama tunangannya.

“Apa ini?” tanya Keiko seraya mengintip isi kantong belanja itu.

“Ponsel baru. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu,” jawab Hiro seraya

menatap Keiko lekat-lekat.

Tiba-tiba, taanpa aba-aba pria itu menyentuh dagu Keiko dan menarik

wajahnya mendekat. Gadis itu belum sempat bereaksi atau pun menyadari apa yang

sedang terjadi ketika dirasakannya sesuatu yang lembut dan basah menempel di

bibirnya.

Seluruh tubuh Keiko mendadak menegang, kaku bak sepotong kayu oak

yang mati di tengah hutan.  Hiro menyesap

bibirnya selama beberapa detik sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya.

“Jaga dirimu baik-baik,” ujar pria itu seraya tersenyum lembut.

Keiko terlalu shock untuk merespon. Ia terus mematung di tempat semula

meski pintu telah ditutup rapat. Gadis itu masih tetap terdiam ketika terdengar bunyi “klik” ketika daun pintu

terkunci secara otomatis. Ia benar-benar tidak menduga Hiro akan berbuat

senekat itu. Ia tidak memiliki persiapan sama sekali, bahkan untuk menampar

pria itu saja ia tidak sempat memikirkannya.

Ia ingin berteriak dan memaki, tapi kemudian sadar bahwa Hiro berhak

menciumnya. Mereka akan segera menikah, bukan? Saat hal itu terjadi, Hiro

bahkan berhak melakukan apa pun yang diinginkannya. Memikirkannya saja langsung

membuat wajah Keiko memerah dan terasa panas.

Gadis itu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran

dan menadahkan tangan di bawahnya untuk menampung aliran air yang terasa dingin. Cairan itu terus mengalir

hingga memenuhi telapak tangannya yang menyatu dan membentuk cekungan. Keiko menatap nanar pada pantulan wajahnay di cermin. Entah ... untuk alasan

yang ia sendiri tidak mengerti, ia merasa kotor. Hal itu membuatnya sangat

frustasi.

Keiko menahan napas ketika  genangan

air dalam  tangannya membasahi wajah. Ia melakukan

hal itu beberapa kali, menggosok bibirnya dengan cukup keras, lalu membilasnya

lagi hingga ia merasa bibirnya telah cukup bersih.

Ini adalah ciuman pertamanya.

Sialan!

Alih-alih merasa berbunga-bunga

dan dihinggapi jutaan kupu-kupu, ia justru merasa kesal dan tidak rela

... juga sedikit merasa berdosa karena memiliki perasaan seperti itu.

Apakah itu artinya aku belum bisa menerimanya? Belum bisa mencintainya?

Keiko menghela napas dalam-dalam dan memejamkan mata, berusaha

mengingat perasaan apa yang timbul dalam hatinya ketika Hiro menyentuhnya tadi.

Tidak ada. Kosong. Semuanya terasa kosong dan hampa.

Gadis itu mendengkus putus asa. Ia meraih handuk untuk mengeringkan

wajah, lalu kembali ke dalam kamar. Saat matanya menangkap pantulan kartu

silver yang menyembul dari balik bantal, ia tiba-tiba teringat pada pria asing

yang menolongnya.

Tubuh pria itu yang kokoh tapi lembut, memberi rasa nyaman yang belum pernah ia

rasakan sebelumnya. Sorot matanya yang tenang dan teduh. Suara yang terdengar

tulus dan penuh perhatian ... semuanya terasa benar-benar berbeda.

Padahal Hiro pun memiliki kharisma yang sama, tapi Keiko seolah tidak

bisa merasakan hal itu darinya.

Sementara Andrew ....

Keiko mengangkat tangan dan menyentuh bibirnya, membayangkan bagaimana

jika Andrew yang menciumnya. Memikirkannya saja sudah membuat jantungnya

berdentam tak beraturan.

“Ini benar-benar gila. Aku tidak boleh bertemu dengannya lagi. Benar-benar

tidak boleh!”

1
Fiora Vyan
kak bii gak mau buat novel lain kah . part anak Hiro_ Cecil mungkin ??? seru tuh mafia cantik mata biru yg terobsesi sama cowok . aku suka karya mu cewek ny gak lembek menye. yg cuma bisa nangis
Fiora Vyan
masih rindu Kinara Alex . ya biarpun sudah di obati tapi tetep pputm di pikiran
Fiora Vyan
balik lagi baca pputm ngingetin ucapan Alex
Fiora Vyan
masih gak rela akhir Kinara
Fiora Vyan
aaaaa ....... so sweet /Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper//Whimper/ akhirnya Keiko ingat Kinara lee
Fiora Vyan
dag Dig dug👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Fiora Vyan
/Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke//Puke/
Fiora Vyan
huh hah huh hah huh/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Fiora Vyan
makasih kak masih mikirin pembaca . kalau di tamatin seadanya aku pasti kecewa . apalagi gak ada novel lain yg aku suka . cuma kak biru .
Fiora Vyan
janganlah capek kakbirunya bikin cerita apalagi
Fiora Vyan
dia ingat kebodohannya waktu Alex menjadikan dia umpan untuk nangkep nathan
Fiora Vyan
nakal ya kak biruu.,./Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/
Fiora Vyan
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Fiora Vyan
setiap kata" baby" bawan sedih terus Ingan perjalan novel Alex - kinara
Fiora Vyan
cuma dua nevel yg aku baca novel kak biru sama Cherry blossom
Fiora Vyan: yg lain lewat
total 1 replies
Marhaban ya Nur17
kinara Lee anaknya tiplet y
Marhaban ya Nur17
yaahhh ahirnya sadar
Marhaban ya Nur17
udh cile insaf jan jd ulet keket deh
Marhaban ya Nur17
tuh kan bener bapaknya yg lebih heboh wkkwkw
Marhaban ya Nur17
gmn klo bapaknya Andrew tau wkwkwk pasti lebih heboh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!