Jihan Kharisma gadis SMA yang tergila-gila dengan seorang pria berseragam. Lebih tepatnya dengan tentara, dia begitu mengidolakan seorang tentara untuk menjadi suaminya karena ia ingin seperti kakaknya yang perempuan yang menikah dengan tentara. Apalagi kakaknya yang laki-laki adalah seorang tentara sehingga menambah keinginannya yang begitu dalam untuk memiliki suami tentara.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria yang tanpa sengaja membantu Jihan saat gadis itu jatuh dari sepeda, pertemuan itu membuat jihan terpesona setengah mati berharap ingin bertemu kembali dan mentakdirkan mereka.
Apakah nanti Jihan akan bertemu kembali dengan pria itu, baca disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 23
Saat Bara tanpa sengaja melihat Jihan yang berjalan dipinggir jalan menggendong tasnya sambil menangis tidak menunggu lebih lama lagi Bara langsung menepikan mobilnya dipinggir jalan tersebut.
Dan dia langsung keluar dari dalam mobil melihat Jihan yang berjalan diseberang sana.
Bara melihat kanan dan ke kiri untuk menyebrang jalan. Saat dirasanya kendaraan mulai sepi Bara langsung saja berlari menghampiri Jihan yang masih berjalan
"JIHAN!!" Panggilnya untuk menghentikan langkah Jihan.
Jihan langsung menoleh kebelakang, melihat siapa yang telah memanggilnya itu.
Saat sudah melihat siapa orang itu, tangisnya berhenti dan langsung berlari kearah Bara memeluk pria itu erat. Bukannya berhenti menangis Jihan malah semakin menangis saat ini ia terisak.
Membuat semua orang yang berjalan melihat kedua orang itu dengan bertanya-tanya. Bara melihat ke sekelilingnya yang dimana saat ini mereka telang menjadi tontonan orang-orang pejalan kaki.
"Jihan, tolong berhenti menangis" Bara mencoba melepaskan pelukan Jihan yang begitu erat.
Jihan tidak mendengarkan permintaan Bara itu ia masih terus menangis sambil memeluk Bara.
"Jihan saya mohon jangan menangis, cerita sama saya ada apa. Dan ayok ikut saya ke mobil jangan menangis disini" ucap Bara sambil memegang bahu Jihan mengelus pelan bahu itu dengan maksud agar Jihan tenang.
Namun tiba-tiba saja Jihan berhenti menangis dan seketika ia tidak sadarkan diri. Beruntung saja Bara sudah menangkapnya terlebih dahulu sehingga Jihan tidak sempat terjatuh ketanah.
Bara melihat wajah Jihan yang basah karena menangis tadi, tentunya saat ini Bara merasa khawatir karena tiba-tiba saja Jihan pingsan.
Secepat kilat Bara langsung membopong Jihan ala Bridal Style, Bara berlari menyeberangi jalan dan menuju mobilnya. Menaruh Jihan perlahan di kursi penumpang yang ada disebelahnya. Tidak perlu menunggu lama Bara langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Bara mengemudikan mobilnya sambil sesekali melihat kearah Jihan yang masih belum sadarkan diri. Bara sangat heran sebenarnya apa yang terjadi pada Jihan sehingga perempuan itu menangis di pinggir jalan.
………………
Bara sudah sampai di rumah sakit ia langsung membopong Jihan berlari masuk kedalam rumah sakit itu.
"SUSTER, SUSTER!!!" teriaknya cemas.
Seorang perawat datang menghampiri sambil membawa brankar Bara langsung menaruh Jihan di brankar itu dan susternya langsung mendorong brankar itu menuju IGD. Bara mengikuti dibelakangnya sambil terus memperhatikan Jihan penuh kecemasan.
Saat Di IGD dokternya langsung datang dan segera memeriksa Jihan yang masih belum sadarkan diri. Bara mendekati dokter itu yang sedang memeriksa Jihan, saat di periksa Jihan perlahan membuka matanya dan membuat Bara langsung menggeser dokter itu agar ia bisa melihat Jihan lebih dekat.
"Jihan, Jihan, kamu sudah sadar" ucap Bara saat Jihan perlahan membuka matanya.
Jihan perlahan mulai membuka matanya, saat matanya sudah terbuka lebar pandangannya menyapu keseluruhan ruangan yang bernuansa putih, melihat apa saja yang berada disitu.
Saat menoleh kesamping kanan didapatinya Bara yang tampak bertanya kepadanya tetapi suaranya tidak begitu jelas.
"Jihan apa kamu mendengar apa yang saya ucapkan" Bara mencoba bertanya sekali lagi pada Jihan karena tadi Jihan hanya diam saja.
"Mas Bara" Lirih Jihan saat Bara memegang wajahnya lembut.
"Kamu mendengar saya" ucap Bara sambil memegang pipi Jihan.
Jihan mengangguk pelan, membuat Bara menghembuskan nafasnya lega.
"Kamu disini sebentar, saya mau bicara sama dokter dulu" Bara melepaskan tangannya dari wajah Jihan lalu menghadap kearah dokter saat masih disitu.
"Dokter, kita bisa bicara sebentar" ucap Bara.
"Bisa, mari ikut saya" ajak dokter itu berjalan agak jauh dari tempat Jihan saat ini terbaring.
Bara berjalan dibelakang dokter laki-laki itu mengikuti sang dokter berjalan.
"Adik saya sakit apa dok?" tanya Bara, menyebutkan kata adik di sana.
"Adik aanda tidak sakit pak, dia hanya syok saja makanya tadi membuatnya tidak sadarkan diri karena terlalu syok" jelas dokter tersebut.
"Syok?" ucap Bara terkejut. Jihan syok? Syok kenapa? Bara terus bertanya pada dirinya sendiri soal Jihan.
Gadis itu syok, karena apa?apa yang sebenarnya terjadi pada Jihan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak" pamit dokter tersebut lalu pergi meninggalkan Bara yang masih kebingungan sambil melihat kearah Jihan yang terbaring di brankar.
Bara langsung berjalan mendekati Jihan yang saat ini melihatnya.
"Mas Bara, jangan tinggalin Jihan disini sendiri" ucap Jihan lemah meraih tangan Bara.
Bara melihat itu membiarkannya saja, lalu ia mengambil kursi yang berada di bawah brankar dan mendudukkan dirinya disitu sambil memperhatikan Jihan yang masih gemetaran.
"Kamu kenapa?cerita sama saya?" tanya Bara penasaran.
"Aku takut mas, mas ganteng aku takut"
"Nggak usah takut, ada saya disini. Ayo cerita sama saya" bujuk Bara agar Jihan mau berbicara mengenai dirinya kenapa bisa ketakutan seperti ini.
"Ta..tadi aku dicopet mas, aku didorong ke tanah terus aku mau ngelawan itu copot eh malah copet itu nyodorin pisau ke leher ku. Makanya ini ada luka gores nya, habis itu aku tendang copet itu terus aku lari kenceng mas" jelas Jihan takut-takut sambil bangkit dari tidurannya dan memeluk Bara yang duduk disebelahnya. Air matanya turun lagi membasahi wajahnya.
"Udah nggak usah takut, ada saya disini" ucap Bara sambil membalas pelukan Jihan mengelus lembut pundak perempuan itu.
"Aku masih takut mas, ta..tadi aku hampir mati gara-gara pisau itu" ucap Jihan terbata-bata disela-sela isakan tangisnya. Bara semakin erat memeluk Jihan menyalurkan ketenangan untuk perempuan itu.
°°°°°
Bara mengantar Jihan kembali kerumahnya setelah dari rumah sakit. Mobilnya kini terparkir tepat didepan rumah Jihan. Ia melihat kesamping lebih tepatnya melihat Jihan yang tertidur di mobilnya.
"Jihan, bangun sudah sampai di rumahmu" ucap Bara mencoba membangunkan Jihan.
Jihan tidak bergeming, masih terlelap dalam tidurnya.
Bara menggoyang tubuh Jihan pelan, mencoba agar gadis itu terbangun. Tetapi tetap saja Jihan tidak bangun-bangun.
Bara turun dari mobilnya berjalan keluar kearah pintu masuk rumah Jihan. Ia akan memanggil ayah Jihan agar Pandu saja yang menggendong Jihan masuk kedalam rumah.
Bara mengetuk perlahan pintu itu, berkali-kali mengetuk tidak ada sahutan dari dalam. Membuat Bara melangkah kembali kearah mobilnya tapi Baru beberapa langkah terdengar suara pintu yang terbuka.
Bara segera berbalik melihat orang yang membuka pintu, di sana ada asisten rumah tangga keluarga Jihan yang melihat Bara.
"Iya ada apa ya den?" tanya Art tersebut.
"Om Pandu sama tante Maya ada bi?" tanya Bara.
"Waduh, baru saja Nyonya sama Tuan berangkat ke Sulawesi buat menemui non Fira den"
"Memang ada perlu apa ya den?"
"Itu saya mengantarkan Jihan bi, tadi dia kecopetan terus sekarang sedang tidur di mobil saya"
"Yaallah non Jihan kecopetan, dia tidak apa-apakan tapi den" Bik nah tampak khawatir dengan kondisi Jihan.
"Tidak apa-apa bi, dia hanya syok saja."
"Kalau begitu saya gendong Jihan buat ke kamarnya dulu ya bi. Soalnya dari tadi saya bangunin tidak bangun-bangun. Tolong bibi kasih tahu ya kamarnya dimana"
Bara langsung berlari ke mobilnya kembali stelah Biknah mengiyakannya. Ia membuka pintu mobil Jihan lalu menggendong Jihan masuk kerumahnya. Bik nah berjalan didepan Bara menunjukkan arah kamar Jihan.
°°°
T.B.C
muncul