Samuel Kelt adalah pria tampan, kaya, dan playboy. Ia adalah putra pemilik kampus ternama. Walaupun memiliki sikap seperti itu, ia tetap menjadi pria terpopuler di kampus Universitas Indonesia. Setiap wanita selalu mengejarnya disana.
Clara Aldrey adalah wanita kaya yang sangat cantik. Ia putri tunggal dari pemilik perusahaan Sungai Budi, namun kekayaan dan kecantikannya ia tutupi dengan cara berdandan seculun mungkin di kampusnya agar tidak diganggu pria pria playboy di Universitas Indonesia tersebut.
Namun siapa sangka sikap acuh tak acuhnya membuat Samuel Kelt sangat penasaran, ia adalah wanita satu satunya yang tak mau mengejarnya bahkan selalu menghindarinya. Setiap hari, Samuel selalu mengganggu Clara di kampus dan membuat wanita itu tak nyaman.
Suatu hari di acara pertemuan keluarga, keduanya dipertemukan sebagai pasangan yang sudah dijodohkan. Namun hanya Clara yang mengenali pria itu sedangkan Samuel tak mengenalinya karena penampilannya yang berbeda.
Akankah keduanya menjadi jodoh???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Violin Kesal
Clara disambut oleh bu Lani saat ia kembali ke rumahnya.
"Ya ampun non, mengapa baru pulang. Non baik baik saja kan, tidak terjadi apa apa kan?" tanya bu Lani.
Clara menghela nafasnya lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. "Aku baik baik saja bu, tolong jangan katakan pada mami dan papi soal aku pulang terlambat." pintanya.
Bu Lani mengambil tasnya. "Bu Lani akan menyiapkan air hangat untuk mandi, setelah itu non makan malam lalu ceritakan apa yang terjadi pada ibu."
Bu Lani memang sangat menyayangi Clara, wanita tua itu sangat khawatir seperti ibunya sendiri.
"Bu, tolong ambilkan telepon." pinta Clara.
Bu Lani mengambilkannya lalu memberikannya pada Clara.
"Bu tolong cas ponselku di kamar, aku akan menghubungi Violin. Terima kasih." ujar Clara lagi.
"Baik non." jawab bu Lani.
Clara menekan nomor telepon Violin, beruntung ia bisa mengingat nomor ponsel sahabatnya. Akhirnya Violin mengangkat teleponnya.
"Halo Vio..."
"Mengapa kau membuatku khawatir, mengapa ponselmu mati, dan katakan padaku siapa yang melakukannya padamu..." teriak Violin membuat Clara menjauhkan teleponnya dari telinganya.
"Ya Tuhan Vio, kau membuat telingaku sakit. Aku benar benar minta maaf untuk hari ini. Aku..."
"Aku akan ke rumahmu sekarang, kau harus ceritakan semuanya padaku. Aku tak bisa tidur jika belum mendengarnya." potong Violin.
"Tunggu Vio..." tut... tut.. tut... suara telepon dimatikan terdengar, Clara menarik nafasnya dalam dalam. "Ini sudah larut, Vio benar benar nekad." gumamnya.
Clara menghubungi sekuriti agar menyambut kedatangan Violin dengan segera.
"Non Clara, air mandinya sudah siap." ujar bu Lani.
"Baik bu Lani, Vio akan datang lagi. Siapkan makan malam untuk kami. Terima kasih." jawab Clara seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Baik non." jawab bu Lani.
Clara naik ke atas menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya lalu bersiap siap untuk makan malam yang terlambat.
*****
Satu jam kemudian,,,
Clara turun dari kamarnya dan ternyata sahabatnya sudah menunggunya di ruang santai.
"Vio..." ujar Clara seraya mendekati Violin dan memeluknya.
Violin melepaskan pelukannya, ia justru membalik balikkan tubuh Clara untuk memeriksanya. "Kau tidak terluka kan, kau baik baik saja kan?"
Alih-alih menjawab, Clara justru tertawa.
"Tidak lucu..." ujar Violin kesal.
Clara kembali memeluknya. "Maafkan aku Vio, jangan marah lagi."
"Kau tak tahu seberapa khawatirnya aku saat mencarimu." jawab Violin.
"Maaf, aku terlalu bodoh dan kurang waspada."
Violin mendekati telinga Clara. "Siapa yang mengurungmu di dalam gudang itu?" bisiknya.
"Ssssttt... nanti saja. Aku takut bu Lani dengar dan mengatakannya pada orang tuaku." jawab Clara. "Oh ya terima kasih kau mau berbohong soal aku pada Samuel." sambungnya.
Violin mengangkat alisnya lalu ingat soal kebohongannya. Wanita itu tertawa. "Aku memang gila, kau anak Sultan tapi aku bilang kau anak pelayan."
"Terima kasih untuk itu Vio, dan Samuel benar benar menyelamatkan aku hari ini. Ia bahkan mengantarkan aku pulang. Untung saja, ia benar benar percaya aku anak pelayan."
"Non, makan malam sudah siap." ujar bu Lani.
"Oke bu." jawab Clara. "Ayo Vio kita makan dulu." ajaknya.
"Aku sudah makan, kau saja." jawab Violin.
"Oh ayolah, jika kau menolak, aku tak akan bercerita." ancam Clara.
"Sialan..." umpat Violin lalu mengikuti Clara ke ruang makan.
Violin tadinya benar benar tak niat untuk makan, tapi setelah melihat makanan yang di buat bu Lani sangat menggiurkan, ia pun akhirnya antusias untuk kembali makan. Clara hanya terkekeh melihat sahabatnya itu. Keduanya pun menikmati makan malam mereka.
*****
"Kau harus menginap, baru aku akan menceritakannya." ujar Clara setelah mereka selesai makan malam.
Violin menatap jam tangannya lalu mengangguk. "Baiklah..."
"Ayo ke kamarku." ajak Clara.
"Tunggu non, bu Lani juga ingin tahu apa yang terjadi."
Clara menatapnya. "Clara tersesat tadi bu saat mencari buku ke toko, untunglah ada teman kampus yang lewat." jawabnya berbohong.
"Non kan bisa menghubungi pak Syukur."
"Lah bu Lani kan tahu ponselku kehabisan baterai."
"Ya ampun non, lain kali jangan sampai kehabisan baterai ya. Bu Lani tak ingin tuan dan nyonya sedih."
"Siap bu, kami akan ke kamar sekarang." pamit Clara dan mendapat anggukan dari pelayannya.
Clara menatap bu Lani sebelum ia ke kamar. "Maaf bu Lani, aku tak ingin membuat kalian khawatir." pikirnya sedih.
"Sepertinya kau menyesali kebohonganmu." ujar Violin sambil mengikuti Clara menuju kamar.
Clara mengangguk. "Bu Lani seperti ibuku sendiri, ia pelayan yang mengurusku sejak kecil di Jepang. Bahkan saat orang tuaku kembali ke Indonesia, bu Lani tak mau ikut. Ia terus menjagaku dan tinggal bersama om dan tanteku disana. Dan saat aku kembali kemari, bu Lani mengikutiku. Aku membohonginya karena tak ingin membuatnya khawatir, lalu mengatakan pada mami dan papi, lalu aku harus pindah kampus. Membayangkannya saja, aku sama sekali tak mau."
"Kau pantas disayangi siapapun Clara, kau hidup dalam kemewahan tapi kau tetap rendah hati. Kau tak pernah memamerkan kekayaanmu. Walaupun barang barang yang kau gunakan semuanya mahal, tapi kau tetap berpenampilan sesederhana mungkin."
"Itu karena aku sedang menyamar." jawab Clara sambil tertawa.
Mereka masuk ke kamar lalu duduk di atas ranjang bersama.
"Tapi siapa yang mau melakukannya sepertimu. Kau menutupi kecantikanmu dan juga kekayaanmu."
"Ya tentu cuma aku." jawab Clara lagi.
"Ciiiih, dasar wanita bodoh. Jadi siapa yang melakukannya? Aku akan memberi mereka pelajaran." tanya Violin.
"Sebelum aku mengatakannya, berjanjilah padaku untuk tidak mengatakannya pada Samuel." pinta Clara.
Violin menatapnya tajam. "Aku tahu kau akan mengatakannya, tapi aku bisa menebak siapa dibalik semua ini."
"Vio, please."
"Mengapa kau begitu baik pada orang lain Clara, kau akan terus diinjak injak jika seperti itu." ujar Violin kesal.
"Aku percaya Tuhan masih bersamaku, biarkan hanya Tuhan yang membalasnya." jawab Clara.
Violin mencubit kedua pipi Clara. "Baiklah nona baik, aku akan merahasiakannya. Tapi aku yakin, Samuel akan mencari tahu soal ini. Pria itu sangat perduli padamu saat aku meminta bantuannya."
Clara melepaskan tawanya. "Oh ya ampun, dimana aku harus mencari Violin yang sangat membenci Samuel." godanya.
"Sialan, aku tetap membencinya tapi aku juga berterima kasih padanya karena menyelamatkanmu."
"Oke, oke jangan kesal lagi Vio. Aku hanya bercanda."
"Jadi benarkan ini perbuatan Celia the Genk?" tanya Violin.
Clara mengangguk.
Umpatan umpatan kotor keluar dari mulut Violin tanpa henti membuat Clara tertawa lagi.
"Hentikan Vio, kau mengotori mulutmu sendiri." ujar Clara setelah ia menghentikan tawanya.
"Aku harus menghajar mereka, empat wanita itu harus aku kurung juga di dalam gudang. Bagaimana jika kau tidak ditemukan Clara, kau bisa mati disana. Kau jangan terlalu lemah." ujar Violin.
"Tapi aku bahagia..."
"Apa maksudmu?" tanya Violin.
Clara mengingat kembali saat Samuel bernyanyi lagu you are my sunshine untuk menenangkannya, entah kenapa ia sangat bahagia saat itu. Ia bahkan lupa rasa takutnya saat berada di dalam gudang yang gelap itu.
"Hei...kau malah melamun." ujar Violin lagi membuyarkan lamunannya.
"Aku bahagia karena kau sangat mengkhawatirkan aku. Aku bahagia memiliki sahabat sepertimu Vio." jawab Clara.
"Dasar wanita aneh, kita harus melakukan sesuatu besok untuk menghajar mereka."
Clara menggeleng. "Jangan lakukan apapun, karena itu sama saja akan mengatakannya pada Samuel siapa yang mengerjaiku. Please..."
"Kau benar benar membuatku kesal Clara."
"Jangan kesal lagi nona cantik, ayo kita tidur. Aku benar benar lelah, kita harus tidur dengan benar. Jangan seperti kemarin malam yang tak jelas arah tidurnya." ajak Clara seraya terkekeh.
Violin menyerah, ia sama sekali tak bisa menolak keinginan Clara. Ia pun mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya dengan benar di samping Clara. Mereka pun lama kelamaan terlelap bersamaan.
*****
Happy Reading All...😘😘😘