Menceritakan tentang seorang gadis Cantik bernama Kiran, ia jatuh Cinta pada Seorang Pria tampan yang Arogant bernama Dhefin.
Perjuangan Kiran mengejar Cinta Dhefin, tidak semudah yang dibayangkannya. Saat rasa cinta semakin menggebu dihatinya, saat itu pula Kiran Harus membuang Rasa Cintanya tersebut.
Berhasilkah Kiran?
Jika ingin tahu kelanjutan cerita nya, Ikuti terus dan jangan lupa dukungan nya ya.
Follow Ig: Nonafi0609
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Dhefin
Kiran yang sedang bercanda tawa dengan Papa dan Mama nya mendengus kesal setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Dhefin kepadanya.
Kiran benar benar Tidak menyangka Sosok Dhefin yang ia kenal selama ini sangat Dingin dan Arogant itu akan berubah menjadi seperti ini.
Tingkah Dhefin yang tak kenal lelah mengusiknya benar benar tidak seperti Dhefin yang ia Kenal.
"Sayang. Kenapa? Kok keliatan kesal?" Tanya Papa yang menyadari kekesalan Putrinya.
"Nggak apa apa Pa. Cuma kesal aja baca pesan dari orang aneh." jawab Kiran asal
"Apa orang aneh itu Pria yang kamu Usir kemarin?"Tanya Mama penasaran
"Kok Mama bisa tau?" Tanya Kiran balik
"Ya Tau lah, selama ini Putri mama tidak pernah bertingkah kasar, dan tidak sopan kepada siapapun kecuali pria yang kemarin kamu usir. Tampan loh Ran." Jelas Mama tersenyum pada Kiran
"Lebih tepat nya Tampan dan Mapan Ma." Sahut Papa menimpali menggoda Kiran, yang terlihat tersipu malu mendengarnya.
Rio dan Marlina jelas tau kalau dibalik tingkah kasar Putrinya tersebut, ada rasa yang ia miliki untuk Pria yang mereka kenal adalah pengusaha muda tampan dan sukses itu. Siapa yang tidak mengenal Dhefin, apalagi Papa Rio sebelumnya sudah lama terjun kedunia Bisnis. Jelas Rio sangat mengenal sosok Dhefin.
"ihhh Apaan Sih Mah, Pah. Pacar orang itu."
"Lah, Kami nggak tanya kok. Masih pacar, belum jadi suami. Kan cuma Bilang tampan dan mapan. Lagipula kalaupun dia beneran udah punya kekasih nggak mungkin dia segigih itu mengejar Putri cantik Kami." ujar Mama kembali menggoda Kiran
"Kiran naik ke atas ya. Ngantuk." Ucap Kiran mengalihkan pembicaraan, lalu bangkit meninggalkan Mama dan Papa nya yang tertawa karena berhasil menggoda Putri kesayangan mereka.
Ting nong ting nong....
Langkah Kaki Kiran yang menaiki anak tangga terhenti, saat mendengar suara Bel rumahnya yang Kiran yakin pasti kiriman Bunga lagi dari Dhefin.
Ya, Sedari pagi siang dan Sore Dhefin tak henti mengirimi Kiran Bunga. Walaupun kesal, Namun jauh dilubuk hatinya Kiran merasa bahagia mendapat bunga dari Pria yang dicintainya.
Kiran memutar tubuhnya untuk membukakan Pintu rumah.
Rio dan Lina yang melihat tingkah labil putrinya hanya bisa tersenyum.
"Biar Kiran yang buka Bi." Ucap Kiran Pada Pelayan yang akan membukakan Pintu Rumah.
Ceklek.... Pintu dibuka oleh Kiran dan terlihat lah sosok Pria tampan yang sedang membawa sebuket Bunga ditangan nya. Bukan kurir pengirim paket, melainkan Pengirim nya langsung yang datang dengan membawa bunga di tangan nya.
"Dhef....." Ucap Kiran Gugup menatap Dhefin.
"Iya Sayang, aku disini." Jawab Dhefin dengan senyum mengembang diwajah nya memberikan buket bunga pada Kiran.
"Hemmm hemm." Suara deheman dari dalam rumah menyadarkan Kiran dari Lamunan nya yang masih setia berdiri didepan pintu, bersama Dhefin. Yang juga terlihat setia tersenyum, seraya mengulurkan bungan kepada Kiran yang belum juga menerima nya.
"Assalamualaikum... Om, Tante." Ucap Dhefin Ramah dan sopan melewati Kiran lalu masuk menyalami Kedua orang tua Kiran.
"Waalaikumsalam.... Silahkan masuk." Jawab Kedua orang tua Kiran tak kalah Ramah.
Kiran berjalan menghentakkan kakinya mengikuti Dhefin dan orang tuanya yang menuju ruang Tamu.
"Pah, mah. Kok disuruh masuk sih?" Rengek Kiran kesal menatap sinis Dhefin yang masih setia tersenyum padanya.
"Nggak boleh begitu Ran. Sana Minta Bibi buatkan Minum untuk Dhefin gih." Suruh Mama yang mau tak mau Kiran turuti.
Kiran kembali keruang tamu dengan nampan berisi minuman serta cemilan ditangan nya. Kiran dapat melihat Dhefin yang sangat cepat terlihat akrab dengan kedua orang tua nya.
Is... pandai sekali dia cari perhatian.
"Silahkan diminum." Tawar Kiran ketus meletakan nampan diatas meja.
"Mah, Pah. Kiran keatas ya." Pamit Kiran namun tangan nya ditarik Mama sehingga Kiran kembali duduk di Sofa.
"Temani tamu kamu dulu. Mama sama Papa mau ke atas." Ucap mama tegas pada Kiran lalu meninggalakn Kiran dan Dhefin berdua diruang tamu.
"Mereka kelihatan cocok ya Pah. Mama rasa nak Dhefin adalah Pria yang waktu itu ditangisi Kiran." Ucap Lina Pada Rio setelah tiba dikamar mereka.
"Papa juga merasa mereka cocok. Walaupun tidak terlalu dekat. Tapi Papa mengenal Orang tua Dhefin, karena dulu kami sempat sekolah di tempat yang sama. Orang tua nya orang yang baik dan Papa yakin Dhefin juga seperti kedua orang tuanya. Walaupun diluar tersebar berita dia sangat Arogant. Tapi Buktinya dia sangat lembut dan sabar menghadapi sikap Putri kita." Jawab Rio panjang yang Lina setuju dengan ucapan suaminya.
Sedangkan di ruang tamu, Terlihat Kiran masih enggan menegur Dhefin. Kiran terlihat sibuk dengan Handphone nya.
Dhefin bangkit dan pindah duduk disamping Kiran.
"Sayang..." Ucap Dhefin lembut namun Kiran masih tetap mengacuhkan nya
"Ran..." Ucap Dhefin lagi merebut Phonsel Kiran.
"Apalagi sih Dhef?" Tanya Kiran kesal menatap Dhefin dan coba merebut kembali Handphone nya yang diambil Dhefin
"Aku disini kenapa diacuhkan?"
"Aku rasa kamu beneran gila Dhef. Siapa yang suruh kamu datang? Satu lagi tolong jangan panggil aku sayang." Seru Kiran kesal
"Aku datang karena merindukan kekasihku. Aku juga memanggil kekasih ku sayang, apa itu salah?" Tanya Dhefin berlagak bodoh membuat Kiran semakin jengah dibuatnya.
"Dhef.... harus berapa kali aku bilang kalau kita tidak mungkin bersama. Kamu kekasih dari Saudariku Dhef. Tolong mengertilah." Ucap Kiran dengan mata berkaca kaca menatap Dhefin.
"Sayang. Harus berapa kali juga aku katakan Bahwa aku mencintaimu, hanya dirimu. Maafkan aku, aku salah telah menggunakan Manda atau Risa siapalah itu sebagai Kekasihku. Aku melakukan itu semua hanya untuk membuatmu pergi menjauh dariku Ra. Aku tidak benar benar mencintai Risa, jujur Aku hanya memanfaatkannya." Jelas Dhefin pada Kiran, Bukannya mendapat simpati. Kiran merasa bertambah kesal mendengar penjelasan Dhefin.
"Kamu sudah berhasil membuatku menjauh. Kamu juga jahat sudah mempermainkan perasaan wanita. lalu apa lagi yang kamu inginkan Hah?" Bentak Kiran emosi
"Aku sadar aku salah telah melakukan semua itu. Maafkan aku Ran, Aku tidak bisa jauh darimu. Tidak melihatmu benar benar membuatku merasa gila. Aku tidak bisa tanpamu, Aku terlambat menyadari bahwa aku mencintaimu. Tolong beri aku kesempatan Ran. Aku mohon." Dhefin duduk berlutut dilantai menggenggam tangan Kiran, meletakkan kepala nya di lutut Kiran.
Ya Tuhan, Bukankan ini yang aku harapkan selama ini. Aku ingin sekali memberinya kesempatan, jujur aku masih sangat mencintainya. Tapi bagaimana dengan Manda. Batin Kiran