Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 ( Bau Rokok )
"Aku mengantuk." Pandan membawa kedua tangannya menutup mulutnya yang menguap.
"A-apa?" Baru juga ia mendekat. Pandan malah sudah mengantuk. Astaga ... cobaan apa lagi ini??? Geram Alex dalam hati.
"Aku mengantuk ...." Pandan mengulang jawabannya dengan menyelipkan seringai kecil diujung bibirnya. Sayangnya, mata awas Alex menangkap jelas seringai kecil itu meskipun begitu samar terlihat.
"Hya Pandan! Apa kamu sedang mempermainkan aku?" Alex menegakkan pososi duduknya, tak dapat menutupi kekesalannya.
"Mempermainkan apa?" tanya Pandan pura-pura tak mengerti.
"Apa ini terlihat lucu bagimu? Melihatku seperti ini ...." Alex menggeser tubuhnya menjauh dengan kekesalannya. Ia tahu Pandan memang sengaja mempermainkannya. Bahkan sejak sore tadi, dengan memberikan harapan palsu padanya.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Pandan mendekat dengan memasang wajah polosnya.
"Tidak ada. Kamu bilang mengantuk bukan? Ya sudah, tidur saja sana ...." Alex membuang muka saking kesalnya. Diambil sebatang rokok, menyelipkannya disela jarinya, menyulutnya dan menghisapnya kuat sebelum menghembuskan asapnya ke udara dengan wajahnya yang jelas menunjukkan rasa kecewa juga kesal secara bersamaan.
"Ya sudah, selamat malam ...." Pandan bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Alex yang semakin dibuat galau karena bukannya membujuknya yang sedang kesal. Pandan malah justru dengan cueknya pergi tidur dan mengacuhkannya.
"Ya-ya sudah katanya?" Alex mengisap nikotinnya lagi dengan perasaan gamang. ASTAGA ... APA DIA WARAS? Aku sedang marah, lalu dia dengan entengnya bilang ya sudah ... ah haha ... Alex-Alex, bukannya kamu yang lebih gila? Sudah tahu Pandan orangnya seperti itu tapi kamu malah jatuh cinta dan tergila-gila padanya. Ingat! Tadi sore saja kamu bahkan menangisinya seperti orang bodoh. Padahal ia hanya ingin berjalan-jalan disekitar kompleks ... siapa yang lebih waras disini. Kamu atau dia?
"Hah ... oke, aku yang gila tentu saja. Kamu sangat waras Pandan ... sangat waras ...." Alex mendumel sendiri.
"Ya ya tentu saja aku yang tidak waras disini. Lihat saja Alex ... kamu bahkan berbicara sendiri seperti orang bodoh. Sudah jelas bukan, kamu itu memang tidak waras ... tapi tentu saja aku begini karena si PANDAN BODOH itu." Alex kembali melanjutkan dumelannya ditemani sebungkus rokok yang setia menemani kegalauannya.
***
Lewat tengah malam. Alex baru masuk ke kamarnya. Ia mengalihkan rasa kecewanya dengan menghabiskan sebungkus rokok sambil mengerjakan beberapa pekerjaannya dikantor. Daripada ia semakin gila memikirkan Pandan, Alex pikir lebih baik mengalihkan otaknya untuk sesuatu yang lebih berguna.
Cahaya remang dari lampu tidur menyambutnya begitu ia memasuki kamar. Ia mengira Pandan sudah tidur, namun ternyata gadis itu masih terlihat asyik memainkan ponselnya.
"Pandan, jangan bermain ponsel dalam gelap. Itu tidak baik untuk kesehatan matamu ...," ucap Alex sembari merebahkan dirinya disamping Pandan.
"Hemm." Hanya itu yang keluar dari bibir Pandan sebelum akhirnya mematikan ponselnya dan meletakkannya pada laci nakas.
Hening.
Alex mendesah, menatap Pandan yang tidur membelakanginya. Ia ingin Pandan memperhatikannya, menunjukkan perasaannya padanya. Alex merindukan tatapan dan senyuman manis yang Pandan berikan sebelum keberangkatannya ke negara X waktu itu. Ia sudah menunjukkan perasaannya sejauh ini pada gadis itu, apa Pandan masih meragukannya?
"Alex ...." Suara Pandan menyadarkan Alex dari lamunannya.
"Iya?" Alex menoleh pada Pandan yang masih membelakanginya.
Masih hening. Alex menunggu dalam diam.
"Apa aku terlalu jelek?" tanya Pandan beberapa saat kemudian.
Alex melebarkan matanya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Pandan.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Jawab saja ...." Pandan membalikkan tubuhnya menghadap ke suaminya. Mata mereka kini bertemu dalam keremangan cahaya dikamar mereka.
"Tidak. Kamu tidak jelek." Jujur Alex yang mengganti posisinya menyamping. Membuat mereka kini tidur dalam posisi berhadapan.
"Apa aku terlalu kampungan?" Pertanyaan kedua, yang membuat Alex kembali melebarkan matanya tak mengerti maksud dari pertanyaan yang Pandan lontarkan padanya.
"Kamu tidak kampungan. Kenapa bertanya begitu?" tanya Alex semakin tak mengerti.
"Apa aku terlalu memalukan?"
"Tidak. Kamu tidak jelek, tidak kampungan juga tidak memalukan," jelas Alex tak suka dengan pertanyaan Pandan.
"Kalau begitu ... kenapa kamu tidak mengakuiku sebagai istrimu didepan semua orang? Apa karena aku hanya gadis kampung, maka aku tak layak berada diposisi itu ...." Alex tercekat mendengar kalimat yang begitu menohok untuknya itu. Apalagi Pandan mengatakannya dengan sorot sedih dimatanya. Ia tak menyangka Pandan akan berpikir demikian. Karena selama ini meski ia memperkenalkan Pandan sebagai asisten rumah tangganya tapi ia tetap memperlakukan Pandan layaknya seorang istri. Bahkan ia tidak membebankan pekerjaan rumah sepenuhnya pada Pandan dan membaginya berdua.
"Pandan, bukan seperti itu ...." Alex bergeser mendekat dan meraih tangan Pandan dalam genggamannya.
"Lalu karena apa?" Pandan menunggu penjelasan Alex. Ia sungguh ingin tahu apa yang membuat Alex merahasiakan pernikahan mereka. Jika dulu karena memang pernikahan mereka yang mendadak dan tak tahu bagaimana kedepannya. Lalu kini, setelah laki-laki itu menangis tak ingin ditinggalkan olehnya tapi masih saja merahasiakan statusnya sebagai istri sahnya. Apakah ada alasan lain yang mendasarinya.
"Itu ... aku punya alasan tersendiri, yang pasti bukan seperti yang kamu pikirkan. Masalahnya semua ada padaku," terang Alex tak ingin membuat Pandan salah paham.
"Boleh aku tahu itu apa?" Pandan sungguh penasaran.
Alex diam sejenak.
"Kalau kamu tidak ingin menceritakannya tidak apa." Pandan jadi merasa tak enak hati. Karena Alex malah diam seolah terbebani oleh rasa ingin tahunya. Bisa saja itu hal yang terlalu pribadi yang tidak bisa ia ceritakan ke sembarang orang. Apalagi kepadanya yang hanya seorang istri rahasia.
"Bukan begitu. Ceritanya panjang, aku tidak tahu harus mulai darimana menceritakannya. Besok saja ya ... ini sudah malam, tidurlah ... jangan berpikiran yang macam-macam." Alex memperbaiki posisi tidurnya menjadi telentang tanpa melepas genggamannya pada tangan Pandan.
"Hemmm." Pandan menyetujui, meski masih saja ia penasaran. Ia merasakan Alex semakin mengeratkan genggaman ditangannya. Membuatnya menoleh pada jalinan jemari mereka lalu berpindah pada Alex yang sedang berusaha untuk tidur.
Hening.
Pandan masih membuka matanya, menatap pada Alex yang memejamkan matanya. Namun entah apakah ia sudah tidur atau belum.
Waktu berjalan melambat. Pandan menatap langit-langit kamar, ia belum juga bisa tidur. Tubuhnya bergerak perlahan, ingin merubah posisi tidurnya dan berusaha melepaskan genggaman tangan Alex ditangannya tapi Alex langsung menahan pergerakan tangannya. Tak ingin melepaskannya.
Dia ternyata belum tidur, meski matanya terpejam semenjak tadi. Pandan batal merubah posisi tidurnya.
"Alex ...." Pandan menggeser, memandang wajah damai itu dari dekat.
"Hemm?" Alex membuka matanya. Ia cukup terkejut karena wajah Pandan begitu dekat dengan dirinya. "Kenapa?"
"Ku kira kamu sudah tidur," ucap Pandan dengan senyumnya. Senyum yang ingin Alex lihat.
"Aku sedang berusaha untuk tidur," jawab Alex kembali memiringkan tubuhnya. Sebenarnya rasa kecewa akan penolakan secara halus Pandan tadi masih menggelayuti dirinya. Membuatnya sedikit susah untuk memejamkan mata.
"Ada yang kamu inginkan?" tanya Pandan masih dengan senyumnya. Kenapa sekarang kamu terlihat begitu manis, Pandan ... dan ... normal, begitu mudah berekspresi, tidak seperti biasanya, batin Alex.
Alex mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Pandan seolah mengisyaratkan sesuatu.
"Apa yang aku inginkan?" Alex malah balik bertanya. Aku ingin mencium istriku. Aku juga ingin memeluk istriku. Itu saja. Tidak lebih. Batin Alex bersuara.
"Aku tahu kamu gelisah ...," lirihnya. Pandan semakin mendekatkan wajahnya, hingga kini jarak mereka hanya menyisakan beberapa centi saja. Alex merasakan ritme jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Ia bisa merasakan nafas hangat Pandan menerpa wajahnya, mengalirkan desiran aneh yang begitu menggelitik didalam dada.
"Pandan?" Suara Alex bagai tercekat ditenggorokan.
"Kamu pasti banyak merokok tadi. Nafasmu bau rokok ...," ucap Pandan terkekeh lirih.
"Apa terlalu bau rokok?" Alex menghembuskan nafasnya tepat didepan wajah Pandan.
"Tidak apa. Aku suka baunya ...." Dan untuk kedua kalinya. Kembali Pandan yang memulai, memulai ciuman mereka. Meski pada akhirnya Alex yang lebih banyak mendominasi. Karena tentu saja, ia sebenarnya lebih berpengalaman dari Pandan yang bahkan ini adalah ciuman keduanya, dari orang yang sama, suaminya sendiri.
***
Aku gak baca ulang ... jadi kalau agak janggal dan typo ... I am sorry ...
Jangan lupa LIKE KOMEN VOTE 🐥🐥🐥