Di Daejeon, dua polisi dengan masa lalu rumit dipertemukan kembali sebagai partner kerja. Kim Da Eun yang dingin dan tegas harus bekerja sama dengan Lee Hyejin yang ceroboh namun cerdas.
Di tengah hubungan mereka yang penuh pertengkaran dan rahasia masa lalu, muncul kasus pembunuhan berantai misterius dengan jejak sepatu pendaki bertanda api sebagai petunjuk utama. Saat penyelidikan semakin berbahaya, keduanya mulai kembali dekat dan menyadari bahwa perasaan lama belum benar-benar hilang.
PARTNER OF JUSTICE adalah novel kriminal romantis tentang misteri, kepercayaan, dan dua polisi yang harus menghadapi penjahat sekaligus perasaan mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eun_Byeol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANGKAP DI DAEDUNSAN
Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit ketika seluruh anggota tim investigasi Kepolisian Daejeon telah berkumpul di halaman kantor.
Kabut tipis masih menggantung di udara.
Kim Da Eun berdiri di depan mobil operasional dengan kedua tangan bersedekap.
"Semua sudah siap?"
"Siap!" jawab Wakil Kepala Nam, Petugas Park, dan Petugas Choi serempak.
Lee Hyejin datang beberapa detik kemudian sambil membawa map berisi hasil analisis rekaman CCTV dan data yang dikirim Kang Dae Hyun semalaman.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Da Eun melirik kaki Hyejin.
"Bagaimana kakimu?"
"Sudah jauh lebih baik."
"Kau yakin?"
"Kalau saya tidak kuat berjalan, saya akan memberi tahu."
Da Eun mengangguk pelan meski wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran.
"Baik. Tapi jangan memaksakan diri."
Petugas Park dan Petugas Choi saling menyenggol sambil tersenyum kecil.
"Wah... perhatian sekali."
"Ck, mereka benar-benar berubah."
Mendengar bisikan itu, Da Eun langsung menoleh.
"Kalian berdua."
"Iya, Pak!"
"Kalau masih sempat bergosip, berarti pekerjaan kalian masih sedikit."
"Maaf!"
Semua tertawa kecil sebelum akhirnya rombongan berangkat menuju Gunung Daedunsan.
Sekitar satu jam kemudian...
Mobil mereka berhenti di kaki gunung.
Daerah itu jauh lebih sepi dibandingkan Gunung Gyejok.
Hanya terdengar suara burung dan desir angin yang melewati pepohonan.
"Aneh..." gumam Hyejin.
"Apa?"
"Kalau benar pelaku sering ke sini, pasti ada jejak."
Da Eun mengangguk.
"Park, Choi. Periksa jalur pendakian sebelah timur."
"Baik!"
"Wakil Kepala Nam, ikut aku."
"Siap."
"Lalu saya?" tanya Hyejin.
"Kau bersamaku."
"Baik."
Mereka mulai menyusuri jalur yang dipenuhi dedaunan kering.
Beberapa menit berlalu tanpa hasil.
Sampai akhirnya...
"Hm?"
Hyejin berhenti.
"Ada apa?" tanya Da Eun.
Ia berjongkok sambil menyingkirkan tumpukan daun.
Di bawahnya tampak bekas pijakan sepatu.
"Jejak pendaki."
Da Eun ikut memperhatikan.
"Masih baru."
"Bukan hanya itu."
Hyejin menunjuk tanah di sampingnya.
Ada bercak merah yang sudah mulai mengering.
Da Eun segera memakai sarung tangan.
Ia menyentuh sedikit noda itu.
"Darah."
Hyejin mengangguk pelan.
"Dan jumlahnya sedikit."
"Artinya..."
"Seseorang terluka di sini."
Da Eun segera menghubungi tim.
"Nam, Park, Choi! Kumpul di koordinatku sekarang!"
Tak lama kemudian seluruh anggota tim berkumpul.
Petugas forensik yang ikut bersama mereka langsung mengambil sampel darah.
"Sekitar dua atau tiga hari," ucap petugas forensik setelah memeriksanya sekilas.
"Tidak terlalu lama."
Da Eun menganggukkan kepala.
"Berarti kita berada di jalur yang benar."
Mereka kembali melanjutkan pencarian.
Semakin masuk ke dalam hutan, suasana semakin sunyi.
Hingga tiba-tiba...
"Kya!"
Suara Hyejin memecah keheningan.
Da Eun langsung berlari.
"Hyejin!"
Ternyata Hyejin berdiri membeku di depan sebuah pohon besar.
Di batang pohon itu...
Terukir simbol api.
Simbol yang sama persis dengan ukiran pada jam tangan Kim Beom Seok.
"Wah..."
Petugas Choi bergidik.
"Pelaku benar-benar pernah ke sini."
Namun Hyejin justru menggeleng.
"Tidak."
"Ya?"
"Ini bukan sekadar tanda."
Da Eun memperhatikan lebih dekat.
Benar saja.
Ukiran itu masih sangat baru.
Kayunya bahkan belum berubah warna.
"Pelaku sengaja membuat ini."
"Untuk apa?"
Hyejin menarik napas panjang.
"Untuk memberi tahu bahwa kita berada di jalur yang dia inginkan."
Semua langsung saling berpandangan.
"Perangkap..." gumam Wakil Kepala Nam.
Belum sempat mereka bergerak...
Brak!
Suara ranting patah terdengar dari arah semak.
"Siapa di sana?!" bentak Da Eun.
Tidak ada jawaban.
Da Eun memberi isyarat.
"Park, putar dari kiri."
"Choi, kanan."
"Nam, ikut denganku."
"Ya!"
Keempat polisi itu langsung mengepung semak tersebut.
Sementara Hyejin tetap berdiri mengawasi dari belakang.
Tiba-tiba...
Seseorang berlari keluar.
"Berhenti!"
Pria bertopi hitam itu langsung berlari menuruni lereng.
"Itu dia!" teriak Hyejin.
"Kejar!"
Da Eun berlari secepat mungkin.
Jarak mereka hanya sekitar dua puluh meter.
Pria itu sangat mengenal medan.
Ia melompati batu-batu besar tanpa ragu.
"Berhenti!"
Da Eun hampir berhasil menangkap kerah bajunya.
Namun...
Pria itu tiba-tiba melemparkan bubuk putih ke arah belakang.
"Hati-hati!"
Hyejin spontan menarik Da Eun mundur.
Bubuk itu beterbangan di udara.
Petugas Park yang terlambat menghindar langsung batuk keras.
"Khuk... khuk..."
"Apa ini?!"
Hyejin menutup hidungnya.
"Lada!"
"Dia memakai bubuk lada!"
Saat pandangan mereka kembali jelas...
Pria bertopi hitam itu sudah menghilang.
Da Eun mengepalkan tangannya.
"Sial..."
Ia memukul batang pohon dengan kesal.
Hyejin menatap ke arah jalur pelarian pelaku.
"Lihat."
"Apa?"
Pelaku meninggalkan sesuatu.
Sebuah kalung kecil berbentuk api tergeletak di tanah.
Da Eun mengambilnya dengan hati-hati menggunakan kantong barang bukti.
"Tidak mungkin dia menjatuhkannya secara tidak sengaja."
Hyejin mengangguk pelan.
"Dia sengaja meninggalkannya."
"Artinya..."
"Dia ingin kita terus mengejarnya."
Da Eun menatap hutan yang kini kembali sunyi.
"Kalau begitu..."
"Kita akan menangkapnya."
Hyejin mengangguk mantap.
"Apapun risikonya."
Di kejauhan, dari balik pepohonan lebat, sepasang mata mengawasi mereka.
Pria bertopi hitam itu tersenyum tipis.
"Lumayan..."
"Kalian memang lebih cepat dari yang kuduga."
"Tapi permainan ini baru dimulai."
Bersambung ke Bab 24...