NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Lorong sempit itu membentuk tangga yang menurun tajam. Dinding beton dinginnya terasa lembap, dengan pipa-pipa tua membentang di sepanjang langit-langit rendah. Cahaya redup secara otomatis menyala satu per satu mengikuti langkah mereka, menciptakan bayangan panjang yang bergerak di dinding.

Nara berjalan pelan di belakang Han. Setiap detak langkah mereka memantulkan menjadi gema kecil dalam lorong itu.

Aliran udara di lorong itu agak berbeda. Lebih dingin dan berat. Dan perlahan, samar-samar mulai tercium aroma asin yang dikenal. Itu bau air laut.

Arga mengernyit sambil menyorotkan ponselnya lagi ke sekitar.

“Oke… gue resmi bingung nih.”

Damar yang berjalan paling belakang tersenyum kecil.

“Wajar.”

“Ini gudang apa bunker villain?” gumam Arga, “…kalau villain, dekorasinya kurang niat,” lanjutnya lagi.

Han tetap diam dan terus melangkah stabil menuruni lorong. Namun semakin jauh mereka masuk, ekspresinya semakin sulit dibaca. Ada sesuatu di wajahnya, bukan rasa takut,  tapi lebih seperti seseorang yang sedang dipaksa membuka luka lama.

Lorong itu berakhir di depan sebuah pintu besi yang tebal.

Han berhenti tepat di depannya. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh permukaan logam dingin itu selama beberapa detik. Seolah memastikan tempat ini benar-benar masih ada.

Damar memperhatikan dari belakang.

“Masih ingat kodenya?”

Han tidak menjawab tapi jarinya langsung bergerak menekan panel kecil di sisi pintu.

Beep.

Beep.

Beep.

Klik.

Pintu terbuka dengan suara hidrolik pendek. Ruangan di baliknya masih gelap gulita. Han melangkah masuk lebih dulu. Tangannya meraih sakelar di dinding.

Lalu…

klik.

Lampu neon panjang di langit-langit ruangan menyala satu per satu. Ruangan itu langsung terang benderang.

Nara berhenti tepat di ambang pintu. Matanya membesar melihat isi ruangan itu.

Ruangan itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Bentuknya memanjang seperti bunker bawah tanah. Dinding beton tebal dilapisi panel logam di beberapa sisi. Di sudut ruangan ada meja kerja besar, rak-rak penyimpanan, komputer lama, dan beberapa kursi lipat.

Semuanya tertutup debu tipis, tapi sangat jelas kalau tempat itu terawat. Tempat itu tidak benar-benar ditinggalkan.

Damar berjalan ke sisi kanan ruangan lalu membuka sebuah jendela baja kecil. Begitu terbuka, hembusan angin dingin langsung masuk. Aroma laut menjadi jauh lebih kuat. Di balik jendela hanya terlihat gelap dan suara ombak kecil yang memukul beton.

Nara mendekat sedikit.

“Ini…”

“….di bawah pelabuhan,” jawab Damar sambil menunjuk keluar.

“Bagian atas gudang itu, cuma kamuflase aja.”

Arga melongo, “…serius?”

Han akhirnya bicara.

“Ruangan ini dibangun sebagai jalur distribusi lama.”

Nara menoleh ke arah Han, “…penyelundupan?”

“Dulu,” jawab Han singkat sambil berjalan ke arah dinding paling ujung.

Di sana berdiri pintu besi besar dengan roda pengunci bundar seperti pintu kapal.

“Kalau keadaan jadi buruk,” katanya pelan, “kita bisa keluar lewat pintu ini.”

Arga menatap pintu itu dengan kagum.

“Itu keluarnya kemana?”

“Lorong servis di bawah pelabuhan.” Han melirik mereka. “Langsung menembus ke kanal luar.”

Damar menutup jendela besi itu lagi.

“Makanya tempat ini aman. Kalau pun ketahuan, kalian masih punya jalur buat keluar.”

Nara mengangguk kecil. Sekarang ia mulai mengerti kenapa Damar memberikan kunci itu. Ini bukan sekadar persembunyian biasa. Ini adalah benteng terakhir.

Han berdiri diam di tengah ruangan. Tatapannya menyapu setiap sudut.

Rak.

Meja.

Dinding.

Semua seperti serpihan masa lalu yang kembali menyerangnya sekaligus. Nara memperhatikannya.

“Apa kamu pernah tinggal di sini?”

Han terdiam cukup lama, lalu menjawab pelan, “…pernah.”

Hanya satu kata. Tapi cara ia mengucapkannya membuat ruangan terasa lebih sunyi. Damar mendekat ke salah satu lemari besi besar di sudut ruangan.

“Masih utuh.”

Ia menepuk permukaannya.

Han berjalan mendekat. Dengan kombinasi cepat, ia membuka kunci putarnya. Bunyi logam berat terdengar saat pintu lemari terbuka.

Isi di dalamnya membuat Arga langsung terdiam.

Di dalamnya tersusun dengan rapi: sebuah pisau berburu besar, beberapa pistol modern lengkap dengan magazen, dua senapan serbu terbungkus kain anti-lembap, satu sniper panjang yang masih terawat sempurna, kotak-kotak amunisi, dan map-map dokumen tebal berlogo Helios.

Arga menatap semuanya dengan mulut sedikit terbuka.

“…gue rasa kita resmi masuk ke level konspirasi berat.”

Nara melangkah mendekat. Dokumen-dokumen itu terlihat tua, tapi jelas sangat penting.

“Ini semua milik Helios?”

Han mengangguk kecil.

“Sebagian.”

“Kenapa ada di sini?”

Han menatap map-map itu, wajahnya berubah muram.

“Karena aku yang mencurinya.”

Sunyi.

Nara menatapnya tak percaya.

“Kamu… apa?”

“Dulu.”

Han mengeluarkan salah satu map. Debunya berterbangan tipis ketika Han meniupnya pelan.

“Aku mencuri dokumen ini malam itu, dan aku kabur dari sana.”

Kalimat itu menggantung lama. Arga bahkan lupa buat bercanda. Nara menatap lemari itu lagi. Semua ini berarti Han bukan hanya sekadar mantan orang lapangan. Ia sangat dekat dengan inti organisasi untuk bisa mengambil dokumen rahasia mereka, dan berhasil kabur hidup-hidup.

“Kenapa kamu ngga pernah pakai ini?” tanya Nara pelan.

Han terdiam, lalu menjawab tanpa melihat siapa pun.

“Karena setelah malam itu…”

Ia berhenti dan rahangnya terlihat menegang. Damar menunduk, seolah ia tahu bagian cerita yang tidak terucap ini.

“…aku kehilangan seseorang,” lanjut Han dengan nada sedikit berat.

Ruangan langsung terasa lebih dingin dan Nara tidak ingin bertanya lebih jauh. Ia bisa merasakan luka itu masih terlalu nyata buat Han.

Han menutup map itu perlahan lalu mengembalikannya ke dalam lemari. Tatapannya beralih ke sniper panjang di dalam lemari. Tangannya sempat menyentuh laras dingin senjata itu. Sangat singkat. Namun cukup membuat Nara melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah Han.

Rasa penyesalan.

Damar akhirnya memecah kesunyian.

“Untuk malam ini, kalian aman.”

Ia menunjuk sekitar ruangan.

“Tempat ini ngga terdeteksi jaringan luar, hanya sedikit orang yang masih hidup yang tau tempat ini.”

Arga langsung menghela napas lega.

“Puji Tuhan dan arsitek kriminal.”

Han mengabaikannya. Ia memandang seluruh ruangan sekali lagi. Tempat ini adalah memorinya. Tempat ia pernah merencanakan pelarian dan tempat semuanya berakhir. Dan sekarang, di tempat ini, mungkin semuanya akan dimulai kembali.

Nara melangkah mendekat tanpa sadar lalu berdiri di sampingnya. Tangannya menyentuh bahu Han.

“Han….”

Pria itu menoleh sedikit.

“Kamu ngga sendirian sekarang.”

Kalimat sederhana itu membuat Han terdiam selama beberapa saat. Lalu ia mengangguk pelan. Beban di wajahnya terlihat sedikit berkurang. Sementara Di atas sana, jauh di permukaan, kota masih tetap bergerak seperti biasa. Tanpa tahu kalau di bawah pelabuhan tua itu, sebuah rahasia lama Helios baru saja dibuka kembali.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!