Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murahan
Xarena melangkah dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. Tangannya yang membawa tumpukan piring dan gelas kosong gemetar hebat, bukan karena berat beban keramik itu, melainkan karena beratnya hinaan yang baru saja ia telan bulat-bulat.
"Sabar, Xarena. Ini demi Ciara. Hanya demi Ciara," gumamnya berkali-kali seperti mantra.
Ia memasuki area koridor menuju dapur hotel yang lebih sepi. Suara musik klasik dari ballroom mulai meredup, berganti dengan denting peralatan makan dari arah belakang. Saat ia menaruh gelas-gelas itu di atas meja stainless steel dekat wastafel, ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya.
Namun, saat ia hendak berbalik untuk kembali ke pesta—kembali ke nerakanya—langkahnya terhenti. Seseorang sudah berdiri di sana, menutup jalan keluar.
"Rian?" Xarena mundur selangkah hingga punggungnya menabrak pinggiran wastafel yang dingin.
Rian menyandarkan tubuhnya ke pintu, menatap Xarena dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum sinis yang tadi ia pamerkan di meja makan kini berubah menjadi tatapan penuh nafsu dan ambisi.
"Apa yang ingin kau lakukan, Rian? Acara belum selesai, kan?" tanya Xarena, berusaha menjaga nada suaranya tetap tegas.
Rian melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. "Gila ya, Ren. Aku masih nggak habis pikir. Primadona sekolah, putri tunggal Biantoro, sekarang jadi pembawa piring kotor? Tragis banget."
"Hidup memang berputar, Rian. Kamu sendiri bilang tadi," sahut Xarena ketus. "Minggir, aku harus kembali bekerja."
Rian bukannya minggir, ia justru mengunci posisi Xarena dengan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh wanita itu. "Beginikah kehidupan yang kau inginkan, Xarena? Kerja jadi babu si Alan yang jelas-jelas cuma mau balas dendam sama kamu? Dihina-hina di depan publik?"
Xarena memalingkan wajah, tidak sudi menatap mata pria di depannya.
"Dengar, Ren. Aku bisa memberikan seluruh kemewahan untukmu. Apartemen di pusat kota, mobil, kartu kredit tanpa limit... semuanya. Asal kau masih mau menerima tawaranku yang dulu," ucap Rian serius, suaranya merendah, nyaris berbisik di telinga Xarena.
Xarena tertawa. Sebuah tawa hambar yang terasa menyakitkan. Ia menatap Rian dengan senyum miring yang penuh penghinaan.
"Kemewahan? Dengan menjadi simpananmu, maksudmu?" Xarena menggeleng pelan. "Bahkan jika aku harus dijadikan pelayan hina dan terus dipermalukan seperti yang tadi kalian lakukan padaku, aku akan tetap pada pendirianku, Rian. Aku nggak ingin menjadi pelakor untuk istrimu. Sehina apa pun kehidupan aku saat ini, harga diriku masih utuh buatku."
Wajah Rian memerah, bukan karena malu, tapi karena egonya yang terluka. Ia menyeringai kasar. "Harga diri? Di saat anakmu butuh makan dan biaya sekolah, kamu masih bicara soal harga diri? Jangan munafik, Xarena!"
Tanpa peringatan, Rian mencengkeram pergelangan tangan Xarena dengan sangat erat hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Lepaskan, Rian! Sakit!"
"Kamu itu butuh sandaran, Xarena. Dan Alan? Dia nggak akan pernah memaafkanmu. Dia cuma mau melihatmu hancur. Kenapa nggak pilih yang pasti-pasti saja sama aku?" Rian semakin mendekatkan wajahnya, mencoba memaksakan sebuah ciuman ke bibir Xarena yang terkatup rapat.
"Lepaskan Rian, aku akan berteriak!" ancam Xarena dengan suara serak.
Rian seolah tuli. Ia justru semakin mengeratkan cengkeramannya, membuat kuku-kukunya hampir menancap di kulit pergelangan tangan Xarena. Saat wajah Rian hanya berjarak beberapa senti, Xarena mengerahkan sisa tenaga yang ia miliki.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di koridor dapur yang sunyi. Rian tertegun, kepalanya tertoleh ke samping. Memanfaatkan keterkejutan pria itu, Xarena mendorong tubuh Rian dengan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke belakang.
Tanpa menoleh lagi, Xarena berlari meninggalkan area dapur. Jantungnya berpacu kencang, air matanya hampir pecah namun ia tahan sekuat tenaga. Ia harus kembali ke ballroom, ia harus menyelesaikan tugasnya jika tidak ingin Alan punya alasan lebih untuk memecatnya.
Namun, baru beberapa meter ia keluar dari lorong dapur, ia nyaris menabrak sosok tinggi yang berdiri bersandar di pilar besar.
Alan.
Pria itu berdiri di sana dengan gaya tenang, menyesap sisa sampanye di gelasnya. Dari posisinya, ia jelas melihat Xarena yang berlari keluar dengan rambut sedikit berantakan dan napas tersengal. Meski ia tak bisa mendengar percakapan di dalam tadi, pemandangan seorang wanita yang baru saja keluar dari tempat sepi bersama pria lain sudah cukup untuk membangun asumsi di kepalanya.
Alan melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Xarena yang masih berusaha mengatur napas.
"Murahan sekali kamu," ucap Alan pelan, namun setiap katanya terasa seperti belati yang menusuk langsung ke jantung Xarena. "Baru beberapa menit aku lepas, kamu sudah dengan berani menggoda Rian yang jelas-jelas sudah memiliki keluarga utuh."
Xarena mematung. Ia menatap Alan dengan mata yang berkaca-kaca. Ingin ia berteriak bahwa ia baru saja dilecehkan, bahwa ia baru saja membela harga dirinya dari teman Alan sendiri. Tapi melihat tatapan Alan yang penuh kebencian, ia tahu pembelaan apa pun tidak akan ada gunanya.
"Kenapa diam? Benar kan kata Monique tadi? Kamu memang punya bakat alami untuk menggoda pria demi uang," lanjut Alan lagi, suaranya kini terdengar sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Xarena berdiri.
Xarena tetap diam. Ia memilih untuk menutup rapat bibirnya. Baginya, menjawab tuduhan Alan hanya akan menambah luka baru. Ia hanya menatap lantai marmer di bawah kakinya, seolah-olah pola lantai itu jauh lebih menarik daripada wajah pria yang pernah ia cintai setengah mati itu.
Sikap diam Xarena justru membuat emosi Alan tersulut. Ia merasa diabaikan, dan itu membuatnya semakin murka. Alan mendekat, mengikis jarak hingga Xarena bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan aroma alkohol tipis dari napas pria itu.
Alan mengeratkan giginya hingga rahangnya mengeras. "Jangan tunjukkan wajah sok suci itu di depanku, Xarena. Aku tahu betul siapa kamu. Kalau sampai aku dengar istri Rian membuat keributan di kantorku karena asistenku bertingkah seperti pelacur, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari sini."
Xarena memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa bisa dicegah. "Sudah selesai bicaranya, Pak Alan? Jika sudah, saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya."
Tanpa menunggu jawaban, Xarena melangkah melewati Alan. Ia tidak peduli lagi jika ia terlihat menyedihkan di mata orang-orang. Yang ia tahu, malam ini ia masih memegang harga dirinya, meski Alan dan dunia berusaha merampasnya berkali-kali.
Di belakangnya, Alan berdiri kaku. Tangannya yang memegang gelas kristal mencengkeram begitu kuat hingga jemarinya memutih. Ada rasa sesak yang aneh muncul di dadanya saat melihat air mata Xarena tadi, namun ia segera menepisnya. Kebencian ini adalah bahan bakarnya untuk bertahan hidup selama lima tahun terakhir, dan ia tidak akan membiarkan setetes air mata wanita itu memadamkannya begitu saja.
"Permainan ini baru dimulai, Xarena," bisik Alan pada kegelapan koridor, suaranya parau oleh emosi yang ia sendiri tak mengerti.