Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 kematian yang membeku dan Anggrek es di dasar paviliun
Lorong rahasia di bawah Paviliun Hujan Gerimis tidak terbuat dari batu biasa. Dindingnya dipahat dari balok-balok Es Xuan Berusia Seribu Tahun, memancarkan kabut putih yang merayap di atas lantai setinggi mata kaki. Setiap napas yang dihembuskan seketika berubah menjadi kristal es kecil yang jatuh bergemerincing.
Lin Chen melangkah dalam diam di belakang Yin Yue. Pengawas utama paviliun itu berjalan dengan anggun, membelah kabut beku di bawah kakinya. Hawa dingin di tempat ini sangat ekstrem, namun bagi Yin Yue yang merupakan praktisi elemen es, tempat ini adalah elemen alaminya.
Gaun sutra biru es yang dikenakan Yin Yue mencetak siluet tubuhnya dengan sempurna. Udara dingin yang lembap membuat kain tipis itu sedikit menempel pada kulitnya, mengekspos lekuk pinggangnya yang ramping dan garis pinggulnya yang menggoda. Setiap kali wanita itu melangkah, belahan gaunnya menyingkap paha putihnya yang mulus layaknya pualam. Lin Chen berjalan tepat di belakangnya, matanya yang sedingin jurang maut menangkap pemandangan tersebut. Hawa maskulinitas yang pekat dan beraroma darah dari tubuh Lin Chen seolah berbenturan dengan aroma bunga lotus es yang menguar dari tubuh Yin Yue.
"Kita hampir sampai," ucap Yin Yue pelan. Suaranya memantul di dinding es. Wanita itu berhenti di depan sebuah pintu besi hitam tebal yang dihiasi oleh ratusan segel formasi pengunci suhu.
Yin Yue berbalik menghadap Lin Chen. Jarak mereka sangat dekat di lorong yang sempit itu. Wanita itu menatap topeng besi kelabu Lin Chen, lalu pandangannya turun ke dada bidang pemuda itu yang hanya tertutup jubah hitam.
"Di balik pintu ini adalah *Ruang Es Absolut*," jelas Yin Yue, menatap mata hitam Lin Chen lekat-lekat. "Suhu di dalamnya mendekati nol mutlak. Darah, Qi fana, dan bahkan jejak karma akan membeku seketika. Ini akan memutus pelacakan Kompas Darah milik Tetua Kuang dengan sempurna. Namun..."
Yin Yue melangkah setengah langkah lebih maju. Wajah cantiknya yang dingin mendongak menatap pemuda itu. Ia mengangkat tangan kanannya yang lembut, jari-jarinya yang lentik menyentuh dada Lin Chen, tepat di atas jantungnya.
Lin Chen tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Yin Yue merasakan detak jantungnya yang berdegup pelan, kuat, dan stabil.
"Namun, ini sangat berbahaya bagi praktisi yang tidak memiliki fondasi elemen es," bisik Yin Yue, matanya memancarkan kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan pada klien mana pun. Suhu tubuh Lin Chen yang membakar menembus kain jubahnya, menghantarkan kehangatan yang membuat Yin Yue diam-diam menahan napas. "Jika kau membiarkan api di dalam Dantianmu padam sedetik saja, kau akan mati membeku. Tapi jika kau meledakkan apimu terlalu besar, kau akan menghancurkan ruangan ini dan pelacakan itu akan kembali terhubung. Kau harus menyeimbangkannya di ujung pisau."
"Pisau adalah tempat di mana aku biasa tidur, Nona Yin," jawab Lin Chen datar.
Mendengar ketenangan absolut dalam suara pria itu, Yin Yue tersenyum sangat tipis. Jari-jarinya dengan enggan menjauh dari dada Lin Chen. Sensasi kehangatan pria itu meninggalkan jejak aneh di ujung jarinya, membuatnya merasa sedikit kehilangan.
Yin Yue memutar sebuah mekanisme di dinding. Pintu besi hitam raksasa itu terbuka dengan suara derit panjang yang memekakkan telinga. Badai salju mini seketika meledak keluar dari ruangan tersebut, menghantam tubuh mereka berdua.
"Tiga hari," ucap Yin Yue, mundur selangkah. "Aku akan membuka pintu ini tepat setelah tujuh puluh dua jam. Jika kau tidak keluar... aku akan menganggap transaksimu sebagai peti matimu sendiri."
Lin Chen melangkah masuk ke dalam kegelapan yang membeku itu tanpa menoleh ke belakang. Pintu besi raksasa tertutup berdebum, menguncinya di dalam sebuah kuburan es.
Ruang Es Absolut itu kosong melompong. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya ada suhu yang secara harfiah mencabik-cabik kehidupan.
Begitu pintu ditutup, suhu di ruangan itu anjlok gila-gilaan. Pakaian Lin Chen langsung mengeras. Kulitnya mulai tertutup oleh lapisan es tipis. Jejak darah Zhou Yan yang secara astral menempel pada jiwanya seketika membeku, memutus sinyal pelacakan ke dunia luar.
Namun, ancaman sebenarnya baru saja dimulai. Hawa dingin ekstrem ini menembus pori-porinya, berusaha membekukan meridian dan Dantiannya. Paru-parunya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum setiap kali ia bernapas.
Tepat saat Lin Chen hendak memutar *Napas Karang Esensi* untuk melawan dingin, layar cahaya biru transparan meledak di tengah kegelapan, memberikan pijaran cahaya yang kontras dengan es di sekitarnya.
Sistem Pilihan Takdir kembali bekerja, menganalisis krisis internal yang mengancam nyawanya.
**[Situasi Ekstrem Terdeteksi: Invasi Suhu Nol Mutlak.]**
**[Kondisi: Tubuh Fana Anda sedang mengalami nekrosis (kematian jaringan) akibat pembekuan. Jejak Pelacak Darah telah terputus sementara.]**
**[Silakan tentukan metode pertahanan kultivasi Anda:]**
**[Pilihan 1: Pusatkan seluruh energi api bumi (Yang) ke area jantung dan otak Anda untuk bertahan hidup secara pasif. Biarkan anggota tubuh Anda membeku sementara.
Hadiah: Anda selamat selama 3 hari. Lengan dan kaki Anda akan mengalami radang dingin parah, menurunkan kecepatan gerakan Anda sebesar 30% selama sebulan penuh.]**
**[Pilihan 2: Gunakan Lengan Logam Abadi sebagai penyerap eksternal. Alirkan seluruh hawa dingin absolut ini ke dalam logam abadi tersebut, memaksanya berasimilasi dengan elemen es.
Hadiah: Modifikasi Lengan Logam Abadi (Atribut Ganda Api & Es). Risiko: Lengan semi-ilahi itu mungkin akan membeku dari dalam jika kapasitas penyerapannya terlampaui. Rasa sakit pembekuan saraf logam tingkat ekstrem.]**
**[Pilihan 3: Lepaskan seluruh kendali *Napas Karang Esensi*. Biarkan energi api meledak keluar membentuk perisai bola api di sekitar Anda.
Hadiah: Anda merasa hangat dan nyaman. Ruangan ini akan meleleh dalam 10 menit. Tetua Kuang akan langsung mendeteksi ledakan energi Anda dan mendobrak masuk.]**
Lin Chen membaca opsi-opsi tersebut dengan mata menyipit tajam. Sistem kali ini tidak mengurutkan opsi terbaik di nomor tiga. Pilihan ketiga adalah bunuh diri. Pilihan pertama adalah rute pengecut yang menyisakan kelemahan fisik.
Mata hitamnya terpaku pada Pilihan Kedua. Lengan Logam Abadinya telah ditempa menggunakan lava dan api bumi. Jika ia bisa memaksanya menyerap hawa dingin absolut ini, logam itu akan mencapai tingkat kekerasan dan fleksibilitas baru—seperti pedang yang dipanaskan lalu didinginkan secara tiba-tiba dalam proses *quenching* ekstrem.
"Pilihan Kedua," batin Lin Chen tanpa keraguan sedikit pun.
Layar biru memudar. Pemuda itu duduk bersila di atas lantai es yang mematikan. Ia melepaskan jubah hitamnya yang membeku, mengekspos dada perunggunya dan Lengan Logam Abadi di bahu kanannya.
Alih-alih melawan hawa dingin, Lin Chen membuka meridian di bahu kanannya. Ia menjadikan Lengan Logam Abadinya sebagai pusaran magnet.
*ZRRRTTT!*
Hawa dingin dari seluruh penjuru Ruang Es Absolut seketika tersedot dengan rakus ke dalam lengan perak kehitaman tersebut. Rune-rune purba yang terukir di permukaan logam itu, yang biasanya menyala biru redup atau merah pijar, kini berkedip liar sebelum akhirnya berubah warna menjadi putih kristal yang sangat terang.
Penderitaan yang luar biasa menghantam sistem saraf Lin Chen. Lengan logamnya terhubung langsung ke sumsum tulangnya. Menyedot hawa nol mutlak ke dalam logam tersebut terasa seperti mengalirkan cairan nitrogen ke dalam nadinya. Urat-urat di leher dan dahi Lin Chen menonjol keras. Ia menggigit bibirnya hingga robek.
Di dalam Dantiannya, sisa-sisa energi api bumi (Yang) memberontak melawan invasi energi es (Yin). Lin Chen menggunakan *Napas Karang Esensi* sebagai jembatan penengah, memaksa kedua energi yang saling bertolak belakang itu untuk berputar dalam siklus Taiji yang brutal di dalam satu tubuh.
Logam di lengannya mengeluarkan suara retakan halus yang mengerikan. Lapisan es menyelimuti permukaan lengannya, lalu mencair oleh panas internal, lalu membeku lagi. Siklus siksaan ini terus berlanjut. Waktu berhenti memiliki makna di dalam kegelapan yang sunyi tersebut.
Sementara itu, di udara di atas Kota Gerbang Awan.
Sebuah tekanan spiritual yang luar biasa besar turun menimpa kota, membuat ribuan kultivator di jalanan seketika menghentikan langkah mereka dan menatap langit dengan ketakutan.
Seorang pria tua berjubah putih bersulam awan perak melayang di udara tanpa menggunakan pedang terbang. Rambut dan janggutnya yang memutih berkibar tertiup angin. Matanya memancarkan kilat kemarahan yang bisa membakar lautan. Ia adalah Tetua Kuang, ahli Tahap Inti Emas Awal (Golden Core) dari Sekte Pedang Berkabut.
Di tangannya, ia memegang sebuah kompas perunggu berukir naga. Jarum kompas itu, yang berlumuran setetes darah Zhou Yan, berputar liar mengeluarkan cahaya merah.
Tetua Kuang baru saja tiba dari Oase Tulang. Pemandangan kelima murid elitnya yang tewas dengan kondisi tubuh hancur lebur telah merobek harga diri sekte. Ia menggunakan darah murid kesayangannya, Zhou Yan, untuk mengaktifkan pelacakan karma, mencari pembunuh yang berani menantang Sekte Pedang Berkabut.
Kompas itu telah membawanya lurus ke Kota Gerbang Awan.
"Kau tidak bisa bersembunyi dariku, Binatang Pengecut!" raung Tetua Kuang. Suaranya diperkuat oleh Qi Inti Emas, menyapu seluruh kota layaknya badai guntur. Pasukan penjaga kota di bawah sana gemetar ketakutan, tidak berani menghalangi seorang tetua sekte besar.
Tetua Kuang memusatkan energinya ke dalam kompas. Jarum merah itu berputar lambat, lalu menunjuk tajam ke arah pusat kota. Ke arah distrik di mana Paviliun Hujan Gerimis berada.
Sang Tetua menyeringai kejam. Ia melesat menembus awan, bersiap meratakan distrik tersebut.
Namun, tepat saat jaraknya kurang dari satu mil dari Paviliun Hujan Gerimis, jarum kompas merah di tangannya tiba-tiba berhenti bergetar. Cahaya merahnya berkedip redup, lalu dengan suara *TAK* yang pelan, jarum kompas itu retak menjadi dua bagian dan kehilangan seluruh energinya.
Aura karma pembunuh yang ia lacak... lenyap sepenuhnya dari alam semesta. Seolah-olah orang tersebut tiba-tiba melompat keluar dari siklus kehidupan dan kematian, atau mati membeku di luar jangkauan hukum langit.
Tetua Kuang menghentikan lajunya di udara. Wajahnya berkerut penuh amarah dan kebingungan.
"Mustahil!" geramnya, meremas kompas perunggu itu hingga hancur menjadi debu logam. "Jejak darah tidak bisa dihapus kecuali orang itu berada di dimensi lain atau mati dibakar api surgawi! Siapa bajingan ini?!"
Hilangnya jejak ini memukul mundur rencananya. Ia tidak bisa meratakan sebuah kota sebesar Kota Gerbang Awan tanpa alasan yang jelas, karena kota ini dilindungi oleh aliansi pedagang yang kuat. Tanpa kompas, mencari satu orang di antara jutaan kultivator di kota ini sama dengan mencari jarum di tumpukan jerami.
Tetua Kuang turun ke alun-alun kota, menekan aura Inti Emasnya. Ia memanggil komandan penjaga kota yang langsung bersujud di depannya.
"Kunci seluruh gerbang kota! Segel formasi udara!" perintah Tetua Kuang dengan mata merah menyala. "Cari seorang pria yang mencurigakan yang baru saja masuk kota ini hari ini! Periksa setiap penginapan, setiap bursa intelijen, setiap rumah bordil! Jika aku tidak menemukan pembunuh muridku dalam seminggu, aku akan memenggal kalian semua!"
Perintah itu memicu kekacauan total. Kota Gerbang Awan seketika masuk ke dalam status darurat perang. Ribuan penjaga berpatroli, menggeledah setiap sudut kota. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani memaksa masuk ke ruang bawah tanah tingkat tinggi milik Paviliun Hujan Gerimis, tempat di mana sang Iblis membekukan eksistensinya.
Tiga hari berlalu di tengah ketegangan dan kekacauan kota.
Di lantai bawah tanah Paviliun Hujan Gerimis, Yin Yue berdiri di depan pintu besi hitam raksasa itu. Wajah cantiknya yang biasa tanpa ekspresi kini dihiasi sedikit ketegangan.
Selama tiga hari ini, ia telah mendengar kegilaan Tetua Kuang di luar sana. Mengetahui bahwa pria bertopeng di dalam ruangan ini adalah pembunuh yang sedang dicari oleh seorang ahli Inti Emas membuat nyalinya bergetar. Paviliunnya sedang melindungi buronan nomor satu.
Namun, yang lebih mengkhawatirkannya adalah ketenangan absolut dari dalam Ruang Es Absolut. Tidak ada ledakan, tidak ada jeritan. Jika kultivator api biasa masuk ke sana tanpa menggunakan perisai api, mereka pasti sudah menjadi patung es dalam waktu kurang dari enam jam.
"Waktunya habis," gumam Yin Yue, melirik jam pasir kristalnya.
Ia memutar mekanisme di dinding.
Pintu besi tebal itu berderit terbuka dengan sangat lambat. Asap es yang jauh lebih tebal dari sebelumnya tumpah keluar. Udara di sekitarnya begitu dingin hingga membuat bulu mata Yin Yue seketika tertutup kristal es kecil.
Yin Yue melangkah maju, memicingkan mata biru safirnya ke dalam kegelapan ruangan.
"Tuan Bertopeng?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Yin Yue merasa jantungnya mencelus. Jika klien VVIP-nya mati di dalam fasilitasnya, itu akan menjadi noda bagi paviliun.
Ia melangkah masuk, menyapu kabut es dengan tangannya.
Di tengah ruangan, sesosok tubuh duduk bersila tanpa bergerak. Sekujur tubuhnya, dari ujung rambut hingga pinggangnya yang telanjang, tertutup oleh lapisan es setebal satu inci. Ia tampak seperti arca yang diukir dari bongkahan es abadi. Tidak ada dada yang naik turun. Tidak ada detak jantung yang terdengar.
Mata Yin Yue membelalak. "Dia... dia benar-benar membeku? Orang bodoh, mengapa kau menahan apimu?!"
Wanita es itu berlari mendekat. Naluri aneh mendorongnya untuk menyelamatkan pemuda ini. Ia berlutut di depan patung es tersebut, mengulurkan kedua tangannya untuk memecahkan lapisan es di atas dada Lin Chen dan menyuntikkan Qi pelindung jantung.
Namun, tepat saat jemari Yin Yue menyentuh lapisan es di dada Lin Chen...
*KRAAAAK!*
Sebuah suara retakan tajam bergema di seluruh ruangan.
Bukan lapisan es itu yang retak karena sentuhan Yin Yue, melainkan dari dalam.
Mata Lin Chen, yang tersembunyi di balik lapisan es bening, tiba-tiba terbuka. Sepasang pupil hitam yang sedingin maut menatap lurus ke mata Yin Yue.
*BZZZZZZZ!*
Seketika, gelombang panas yang luar biasa mengerikan meledak dari dalam tubuh Lin Chen, namun anehnya, panas itu bercampur dengan hawa dingin absolut. Energi dua kutub yang telah menyatu dengan sempurna.
Es yang membungkus tubuhnya hancur menjadi jutaan serpihan debu kristal yang berkilauan di udara.
Ledakan aura tersebut—Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tujuh yang sangat padat—menghempaskan Yin Yue. Meskipun Yin Yue berada di Tahap Pendirian Yayasan Menengah, ia tidak siap menerima benturan energi ganda sedekat itu. Wanita itu terpelanting ke belakang, kehilangan keseimbangannya.
Dengan refleks yang melampaui kecepatan suara, Lengan Logam Abadi Lin Chen melesat ke depan.
Logam perak kehitaman itu tidak lagi kaku. Permukaannya kini memancarkan kilau putih sedingin es di ujung jarinya, dan merah pijar di pangkal lengannya.
Lengan perak itu melingkar sempurna di pinggang ramping Yin Yue, menangkap tubuh wanita itu di udara sebelum ia sempat menghantam dinding es yang keras.
Dengan satu tarikan halus, Lin Chen menarik tubuh Yin Yue mendekat.
Yin Yue tersentak pelan. Punggungnya bertabrakan dengan dada bidang Lin Chen yang panas membakar, sementara pinggangnya ditahan oleh pelukan Lengan Logam Abadi yang memancarkan hawa dingin menyejukkan. Kontras suhu yang ekstrem ini menciptakan sensasi sensorik yang membuat seluruh tubuh Yin Yue meremang.
Napas wanita es itu terhenti sesaat. Ia mendongak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lin Chen. Tanpa topeng besi yang telah ia lepaskan, wajah pemuda itu terlihat jelas. Garis rahangnya keras dan maskulin, hidungnya mancung, dan matanya memancarkan ketenangan dominan seorang raja penakluk. Ada ketampanan yang kejam di sana, jenis ketampanan yang ditempa oleh darah, bukan oleh kemewahan istana.
Hati Yin Yue, yang selama dua puluh tahun kultivasinya tidak pernah tergoyahkan oleh pria mana pun, mendadak berdetak tidak beraturan. Ia merasakan otot-otot dada Lin Chen yang berkontraksi saat menahannya. Aroma maskulin yang murni, campuran antara keringat dan dominasi, menyapu wajahnya.
"Kau... kau membiarkan dirimu membeku?" bisik Yin Yue, suaranya kehilangan ketenangannya yang biasa, terdengar sedikit serak. Ia tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan lengan perak tersebut.
"Aku menelan esnya," jawab Lin Chen dengan nada datar yang menggoda kewarasan.
Ia perlahan melonggarkan pelukannya, membiarkan Yin Yue berdiri tegak kembali. Pemuda itu menggerakkan Lengan Logam Abadinya. Suara dengungan energi Yin dan Yang bersahut-sahutan di dalam logam tersebut. Asimilasi nol mutlak telah berhasil. Lengan iblisnya kini memiliki kemampuan menyerap dan menembakkan energi es yang menembus tulang.
**[Pilihan 2 Diselesaikan dengan Sempurna.]**
**[Modifikasi Lengan Logam Abadi: Atribut Ganda (Api Bumi & Es Absolut). Terobosan kultivasi: Tahap Kondensasi Qi Tingkat 7.]**
**[Status Ancaman: Pelacakan Kompas Darah berhasil dihancurkan secara permanen.]**
Yin Yue melangkah mundur setengah langkah, mengalihkan pandangannya untuk menstabilkan detak jantungnya. Rona merah tipis yang sangat langka muncul di pipi pucatnya. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba kembali menjadi pengawas paviliun yang profesional.
"Kau tidak hanya bertahan hidup... kau menggunakan fasilitas tersulit kami sebagai tungku kultivasi," ucap Yin Yue takjub. Ia melirik ke arah dada telanjang Lin Chen sekali lagi sebelum mengalihkan tatapannya ke lantai. "Pakailah jubahmu. Kotanya sedang dilanda kekacauan karena dirimu."
Lin Chen memungut jubah sutra hitamnya yang tergeletak di lantai, mengibaskan sisa es, lalu mengenakannya kembali. Ia juga memakai topeng besi kelabunya, kembali menjadi sosok misterius yang tak tersentuh.
"Tetua Kuang?" tanya Lin Chen tenang, menyimpul sabuk jubahnya.
Yin Yue mengangguk. "Dia mengamuk karena kompas pelacakannya rusak saat ia berada tepat di atas kota ini. Ia menyegel seluruh gerbang udara dan darat. Formasi kota telah dikunci. Tidak ada satu pun lalat yang bisa keluar tanpa pemeriksaan Inti Emas-nya."
Lin Chen berjalan melewati Yin Yue, melangkah keluar dari Ruang Es Absolut. "Penguncian fisik tidak ada artinya bagi seseorang yang memegang kunci dari dalam."
Yin Yue berbalik mengikuti langkah pemuda itu, mengamatinya dari belakang. "Kau tidak memiliki jalan keluar, Lin Chen. Sekte Pedang Berkabut memiliki pengaruh yang besar. Bahkan aliansi pedagang kota tidak akan mengambil risiko melindungimu dari kemarahan seorang tetua Inti Emas."
Lin Chen menghentikan langkahnya di ujung lorong es. Ia menoleh sedikit, menatap Yin Yue dari balik topengnya.
"Aku tidak bersembunyi untuk melarikan diri, Nona Yin. Aku bersembunyi untuk mengasah pedangku," suara Lin Chen terdengar rendah dan sangat mematikan. "Kota ini akan membuka gerbangnya untukku hari ini."
"Bagaimana caranya?" tanya Yin Yue, terpesona oleh kepercayaan diri yang nyaris arogan namun sangat dapat dipercaya itu.
"Kau menguasai jaringan informasi paviliun ini. Beritahu aku, di mana pelelangan tingkat bumi terbesar akan diadakan siang ini?" tanya Lin Chen.
"Di Balai Awan Emas, tepat di pusat kota. Tetua Kuang sendiri yang akan menjadi tamu kehormatan di sana untuk meminta dukungan logistik pencarian dari klan-klan besar," jawab Yin Yue tanpa ragu.
Bibir Lin Chen melengkung membentuk senyuman iblis yang kejam. "Sempurna. Siapkan undangan VVIP untukku. Aku akan menghadiri lelang tersebut."
Yin Yue terbelalak. "Kau gila! Kau akan berjalan lurus ke dalam ruangan yang sama dengan orang yang sedang memburumu?!"
"Kematian selalu datang dari titik buta yang tidak terduga," bisik Lin Chen. Ia mengulurkan tangan kirinya, menyentuh dagu Yin Yue dengan sangat lembut, mengangkat wajah cantik wanita es itu. Ibu jari Lin Chen mengusap pipi Yin Yue yang dingin, meninggalkan jejak panas yang membakar kulit wanita itu.
"Temani aku ke lelang itu, Yin Yue," perintah Lin Chen, bukan sebagai klien, melainkan sebagai seorang penakluk. "Aku akan menunjukkan padamu bagaimana caraku meruntuhkan arogansi seorang ahli Inti Emas di depan seluruh elit kota."
Yin Yue tidak menepis tangan itu. Mata biru safirnya menatap lurus ke mata hitam Lin Chen. Akal sehatnya menjerit bahwa pria ini adalah jurang kehancuran, namun jiwa kultivasinya yang haus akan kekuatan tak bisa menolak pesona kegelapan absolut ini.
"Baik," bisik Yin Yue, suaranya nyaris seperti embusan angin. "Aku akan menjadi pemandumu."
Sang Iblis Satu Tangan, yang kini bersenjatakan api dan es, melangkah naik dari ruang bawah tanah, bersiap mengubah bursa lelang termegah di Kota Gerbang Awan menjadi panggung pembantaian baru yang akan mengguncang pondasi Dunia Tengah.